
Kadir geleng-geleng kepala melihat reaksi Mama nya akan kedatangan mereka. Tidak ada pelukan, ataupun ucapan penuh rindu terhadap anak-anak yang jarang ia temui.
"Aku kira dengan masuknya Mama ke tempat ini bisa membuat Mama sedikit berubah, setidaknya untuk anak-anak nya. Tapi nyatanya dugaan ku salah, Mama malah seperti nya bangga bisa masuk ke tempat ini! " ucap Kadir dengan miris melihat sikap Mama nya.
"Tau apa kamu dengan sikap Mama! Kalau kalian cuma mau menasehati Mama, gak usah datang ke sini! Bikin jengkel saja! " jawab Mamanya dengan ketus.
"Anika gak nyangka Mama bisa melakukan hal rendah seperti itu! Ingat Ma, malu sama umur? Seharusnya di usia Mama saat ini sedang menikmati sisa-sisa umur dengan berkumpul bersama anak dan cucu, bukan berada di tempat seperti ini! " ucap Anika dengan nada kecewa.
"Kamu nyumpahin Mama cepat mati ya Anika! Anak kurang ajar kamu! " hardik Nyonya Retno dengan wajah marah.
"Astaghfirullah hal adzim Mama! Kapan Anika bilang seperti itu? Anika hanya ingin membuka mata Mama dan pikiran Mama, kalau yang Mama lakuin itu salah! Apa Mama tidak mau menghabiskan masa tua Mama berkumpul bersama kami? Apa Mama tidak kasihan dengan nasib Abang Dika yang hidup dan keluarga nya hancur karena ikut campur Mama! " ucap Anika dengan geleng-geleng kepala.
"Gak usah sok menasehati Mama kamu! Urus saja urusanmu sendiri! Anak manja seperti kamu itu tahu apa tentang hidup Mama. " jawab Nyonya Retno dengan ketus.
"Seperti nya sifat Mama yang tidak mau introspeksi diri itu sudah mendarah daging rupanya. Asal Mama tau saja, semua hal buruk yang Mama lakukan terhadap Tata, Nana dan Ayah Jamal semuanya berbalik meninpa kami, anak kandung Mama! Ayo Anika kita pergi dari sini! Percuma saja bicara dengan orang yang hatinya sudah di kuasai setan, tidak akan di dengarkan apalagi di renungkan agar mau berubah. " ucap Kadir dengan nada kecewa dan langsung menarik tangan Anika supaya berdiri dari duduknya.
Anika pun mengikuti langkah Abang nya meninggalkan ruang jenguk tersebut tanpa berpamitan sama sekali. Mereka pun keluar dari kantor polisi dengan perasaan yang bercampur aduk.
🎍🎍🎍
Subuh-subuh Riko tiba-tiba saja memuntahkan isi perutnya hingga tubuhnya lemah karena semua nya keluar. Ia berjalan keluar kamar nya dengan wajah pucat dan tubuh yang sedikit lemah. Ia pergi ke dapur, namun ketika baru saja menginjakkan kakinya di dapur ia kemudian berlari ke kamar mandi yang ada di dapur untuk memuntahkan kembali isi perutnya.
Ia mendadak mual ketika mencium uap nasi yang keluar dari lubang kecil penanak nasi merk Miyako.
"Astaghfirullah hal adzim , Tuan?? " pekik Bi Sur yang kaget mendapati Riko terduduk di depan pintu kamar mandi dengan wajah pucat.
"Ayo Tuan duduk dulu di sana! " ucap Bi Sur dengan membantu Riko untuk berdiri dan membawanya ke meja makan kemudian mendudukkan nya di kursi.
__ADS_1
Bi Sur mengambilkan air hangat untuk Riko agar perut nya agak enakan. Riko menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan mata terpejam.
"Tuan, sebaiknya tuan istirahat saja! Wajah tuan pucat sekali! Seperti nya tuan sakit! " saran Bi Sur dengan nada khawatir.
"Gak papa Bi, tubuh saya hanya lemas saja karena muntah terus sehabis subuh tadi. " jawab Riko dengan nada pelan.
Terdengar suara langkah kaki menuju dapur dari arah depan, yang mana membuat Bi Sur menoleh dan Riko masih di posisinya memejamkan mata seraya memijat pelan keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Bi, saya mau istirahat saja! Rasanya badan saya rasanya lemas kayak gak ada tulang. Nanti bawakan cake brownies ke kamar saya ya Bi! " pinta Riko dengan bangkit dari duduknya dengan sedikit sempoyongan.
"Mas, mas kenapa?Kenapa wajah Mas pucat begitu? " tanya Delia dengan wajah khawatir.
Entah itu khawatir beneran atau cuma pura-pura, Riko tidak memperdulikan nya. Ia hanya berjalan tanpa menoleh sedikit pun kepada Delia yang mana membuat Delia mengepal tangan nya dengan erat dengan wajah menyimpan dendam.
Bi Sur diam-diam mengamati ekspresi Delia yang tampak menahan marah dan ia pura-pura tidak melihat semua itu dengan membuka lemari penyimpanan bahan-bahan makanan untuk membuat pesanan Tuan nya.
"Mau buat brownies pesanan Tuan, Mbak! " jawab Bi Sur singkat tanpa menoleh sedikit pun.
"Emangnya Mas Riko suka ya Bi makan brownies? " tanya nya lagi dengan duduk di kursi tanpa sedikitpun berkeinginan basa basi membantu Bi Sur.
"Setau saya sih gak pernah suka dengan makanan yang manis-manis. Yang suka makanan yang manis-manis itu Nyonya muda. Dia paling doyan bermacam-macam cake, apalagi brownies. Itu paling suka banget di antara yang lainnya. " jawab Bi Sur dengan wajah sumringah bercerita tentang Anika.
Bi Sur tidak tahu jika omongan nya barusan membuat wajah Delia semakin masam dan tampak kesal.
"Sialan itu babu! Bisa-bisanya dia memuji si Anika itu! Pokoknya aku harus cepat-cepat menyingkirkan si Anika itu menjadi menantu di keluarga Riko! Hanya aku lah yang akan menjadi satu-satunya istri Riko. Aku harus melakukan rencana ku secepatnya. " Batin Delia dengan seringai liciknya.
Tanpa berkata apa-apa, Delia pergi meninggalkan Bi Sur di dapur kembali ke kamarnya. Di dalam kamar, ia mondar-mandir sambil memikirkan cara bagaimana ia membuat Bi Sur pergi dari rumah ini tanpa mencurigainya.
__ADS_1
Ia berencana untuk melakukan rencananya mumpung Riko sedang dalam keadaan sakit. Jika ia sehat, ia akan semakin sulit melakukan rencananya karena Riko pasti waspada.
Sedangkan Riko sedang tertidur akibat kelelahan efek muntah terus menerus yang mana membuat nya begitu lemas. Ia tidak menyadari jika bahaya sedang mengintai hidupnya dan rumah tangga nya.
Bi Sur tersenyum bahagia melihat brownies buatannya matang dengan sempurna. Ia membuka lemari karena ingin membuat topingnya namun bahan yang ia cari-cari tidak ada.
"Ya ampun.. Sepertinya aku harus ke mini market di ujung jalan utama sana! Bagaimana aku bisa lupa jika bahan topingnya sudah habis. Mudah-mudahan Tuan Riko gak marah karena kelamaan nunggu brownies nya. " gumam Bi Sur pelan sambil mengambil dompet dan ponselnya agar tidak kelupaan.
Ia pun segera menyimpan brownies buatannya di dalam lemari pendingin dan pergi ke kamar Delia agar menjaga Riko di rumah apalagi ia sedang sakit sekarang ini.
"Mbak, tolong jagain Tuan Riko di rumah ya? Saya mau ke mini market untuk beli toping brownies. Tolong ya Mbak, takutnya nanti Tuan Riko butuh sesuatu! " ucap Bi Sur pamit tanpa melihat wajah Delia yang langsung berbinar ceria.
"Yes! Akhirnya si babu pergi juga dari rumah ini dengan sendirinya! Tuhan memang baik banget sama aku! Ia memudahkan rencana ku untuk menjadi istri satu-satunya Riko dan menantu satu-satunya Mama Ratih! " Batin Delia dengan wajah bahagia.
"Ya Bi, Hati-hati Bi di jalan. " jawab Delia pura-pura acuh
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍..
Othor Up 2x hari ini readers...
Semoga kalian suka ya...
Selamat weekend readers...
__ADS_1