Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
55. Bertemu Bang Kadir


__ADS_3

"Astaghfirullah hal adzim, Nyonya? Kenapa Nyonya tega mengusir menantu Nyonya sendiri? " ucap Bi Sur dengan tidak percaya.


"Heh! Tutup mulut kamu! Kamu cuma babu di rumah ini! Awas kalau kamu bilang dengan Riko ketika dia pulang nanti! Aku tidak segan-segan menyakitimu! " bentak Ibu Ratih dengan mata melotot.


Bi Sur hanya bisa berdoa dan menatap pilu kepergian Anika yang hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa walaupun ia di hina oleh mertuanya.


Ibu Ratih mendorong kasar Bi Sur agar segera masuk ke dalam rumah dan memasakkan makan yang enak-enak dan banyak untuk makan siang mereka.


Delia tersenyum senang ketika memasuki kamar yang selama ini di tempati Anika dan Riko. Kamar yang agak besar dari kamar yang ada di rumah ini.


Ia bahkan dengan semangat menyusun pakaiannya di lemari tempat biasanya Anika menaruh pakaian nya. Ia juga membuang semua peralatan kosmetik milik Anika yang ada di atas meja rias dan menggantinya dengan kosmetik milik nya.


Anika berjalan kaki sambil menyeret kopernya di saat panas terik seperti sekarang ini. Ia berkali-kali mengusap peluh yang membasahi wajah hingga lehernya. Ia tidak mau ke rumah Mama nya karena rumah itu juga bukan milik Mama nya, tapi milik kakak iparnya, Tata.


Karena tidak ada tujuan mau kemana, Anika hanya menyeret kopernya berjalan kaki tanpa tahu arah. Ia hanya mengandalkan feeling dan terkadang berhenti sebentar jika sudah agak lelah.


Sementara itu, Riko bekerja melayani pembeli yang datang dengan setengah hati. Entah kenapa dari ia meninggalkan Anika berbelanja di pasar bersama Bi Sur perasaan dia sudah tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu tapi ia tidak tahu itu apa.


Karena tidak ingin berasumsi sendiri, Riko langsung pulang tanpa memberitahu Papa nya. Ia pulang ke rumah dua jam sebelum waktu pulang.


"Anika sayang? Kami di mana? Anika, sayang?? " teriak Riko memanggil Anika ketika baru saja memasuki rumah.


Ia terus memanggil istrinya, namun tidak ada jawaban. Ia lalu ke kamar mereka dan ia tersenyum lega ketika mendengar suara gemercik air di kamar mandi.


"Alhamdulillah, ternyata Anika lagi mandi! Tapi tumben Anika mandi jam 3, seingat ku tidak pernah selama ini mandi jam 3 sore. " gumam Riko dengan heran.


Karena haus ia keluar dari kamar mereka dan pergi kebelakang mengambil air minum.

__ADS_1


"Sepi banget! Kemana pula Bi Sur? " ucap Riko ketika melihat dapur sepi tanpa aktivitas.


Ia lalu kembali ke kamarnya, alangkah terkejutnya ia ketika membuka pintu kamar terlihat Delia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk dan hanya memakai bathrobe di tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan di kamar kami, Delia? " hardik Riko dengan wajah garang.


"Kamu baru pulang, Mas? Aku baru selesai mandi, Mas? Mas mau mandi sekarang? Biar aku siapkan! " tanya Delia pura-pura tidak mengerti apa ucapan Riko.


"Apa kau bilang? Ja-jadi yang mandi tadi itu kau! " teriak Riko lagi dengan menunjuk ke wajah Delia.


Delia hanya mengangguk dan tersenyum manis yang mana membuat amarah Riko langsung berkobar dan naik ke ubun-ubun.


"Lancang kau Delia! Siapa yang mengizinkan kau masuk kamar kami dan mandi dengan seenaknya di sini! " ucap Riko berjalan mendekati Delia dan mencengkram dagunya dengan keras sehingga Delia mengaduh kesakitan.


"Aww, sa-sakit Mas! Le-lepaskan aku! " ucap Delia dengan wajah ketakutan.


Riko melepaskan cengkeraman nya di dagu Delia dengan sekali hentakan sehingga Delia sedikit terhuyung kebelakang. Ia membuka lemari pakaian dan melihat tumpukan pakaian yang tidak pernah ia lihat, karena ia tahu bagaimana selera berpakaian Anika.


"Jelaskan padaku apa maksud semua ini! Baju-baju siapa ini? Itu bukan bajunya Anika karena aku tahu selera pakaian istriku! Jawab Delia! Jangan diam saja! " teriak Riko dengan suara kencang.


"I-itu se-semua pakaian aku, Mas! Ma-mama yang su-suruh aku pindah ke kamar ini! " jawab Delia dengan ketakutan.


"Apa kau bilang!! Mama?? Brengsek, ternyata Mama sudah mulai mengatur-ngatur hidup aku! " bentak Riko dengan wajah merah padam.


Ia lalu meninju kaca meja rias hingga hancur dan jemari nya berlumuran darah dan ia juga menghancurkan apa yang ada di dalam kamar tersebut hingga tampak seperti terkena badai.


"Katakan pada ku dengan jujur, Delia! Dimana istriku Anika? Dimana? " ucap Riko dengan pelan tapi syarat dengan kemarahan.

__ADS_1


"A-aku tidak ta-tahu! Ta-tadi aku pergi se-sebentar, ketika pulang cuma ada Mama di rumah. " ucap nya terbata-bata dengan menundukkan kepala.


"Awas saja kalau kau membohongi ku, Delia! Kau akan menerima akibatnya! " ancam Riko lalu pergi dari kamar tersebut dengan tangan berlumuran darah.


Ia pergi dari rumah bermaksud untuk menemui Mama nya yang sudah terlalu dalam ikut campur urusan rumah tangga nya. Ia tiba-tiba melihat Bi Sur di dekat pangkalan ojek dengan menangis. Riko pun menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil menemui Bi Sur.


"Bi, Bibi kenapa ada di sini? Kenapa Bibi menangis? " tanya Riko ketika berada di hadapan Bi Sur.


Bi Sur yang melihat Riko ada di hadapan nya semakin mengeraskan suara tangisannya sehingga membuat beberapa tukang ojek melirik dirinya dengan pandangan yang tidak enak di lihat.


"Bi, ayo kita duduk di sana! Gak enak berdiri di sini dengan Bibi menangis seperti ini! " ajak Riko duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Setelah duduk, Riko kembali menanyakan tentang dimana Anika, dan Bi Sur menceritakan dengan jujur kejadian ketika mereka pulang dari pasar tadi tanpa ada yang di tutupi. Riko mengepal tangan nya dengan erat menahan gejolak emosi kepada Mama nya yang sudah dengan lancang mengusir Anika dari rumah kontrakan mereka.


Ia menyuruh Bi Sur pulang dan ia akan menemui Mama nya untuk membuat perhitungan karena sudah berani mengusir Anika istrinya di saat Anika tidak melakukan kesalahan apapun.


Sedangkan Anika masih berjalan tidak tahu arah dengan menarik kopernya dengan berjalan kaki. Entah berapa kali ia di dekati tukang ojek yang menawarinya untuk di antar pulang, namun Anika menolaknya karena ia tidak tahu mau pulang kemana.


Ia sudah sangat lelah sekali karena setengah hari ini ia berjalan dan hanya berhenti jika lapar ataupun haus. Ia melihat masjid di seberang jalan dan ia bermaksud untuk menyeberang jalan, namun naas ia tersenggol motor sehingga jatuh terduduk di pinggir jalan.


Anika menangis tersedu-sedu, ia menangis nasib nya yang luntang lantung di jalanan sehingga ia menghentikan tangisannya ketika ada seseorang menegur dirinya. Anika langsung mendongak kan kepalanya melihat orang yang menegurnya. Ia terbelalak kaget ketika melihat siapa orang yang telah menegurnya itu.


"Abang... "


"Anika... "


Bersambung...

__ADS_1


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan...


__ADS_2