Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
Berkunjung...


__ADS_3


Mak..eee... Othor udah kasih undangan resepsi nya Tata nih, besok jangan lupa datang dan bawa kado banyak-banyak ya πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„..


🌿🌿🌿


"Hei Butet... ! Kenapa mukak mu di tekuk seperti itu?? Kusut kali ku tengok kau! " tegur Sandra yang baru datang memasuki kamar Tata.


"Iya... Kau kenapa?? Mau manten kau bentar lagi, masa di lipat gitu mukak mu! " sahut Susan ikut menimpali.


"Bete aku, Bestie... ! Masa seminggu ini gak boleh kemana-mana, hanya di rumah aja! Itu juga cuma di kamar, mau ke restoran aja juga gak boleh! " jawab Tata dengan tidak bersemangat.


"Kruk... Kruk... Kruk... "


"Kau juga Bon-Bon.. ! Makan keripik gak ada mau bagi-bagi, makan aja kau sendiri! " ucap Sandra dengan langsung merogoh mengambil keripik pisang yang ada di tangan Susan.


"Gak perlu aku tawarin juga kau pasti nebeng nya.. ! " cibir Susan sambil terus mengunyah.


Mereka berdua asyik ngemil keripik pisang tanpa memperdulikan Tata yang semakin dongkol dengan ulah sahabatnya itu.


Ia tengkurap sambil menenggelamkan kepalanya di dalam bantal yang sengaja ia tumpuk tinggi-tinggi.


"Dasar tidak berperi ke sahabatan , bukannya cari solusi bantu temannya mereka malah asyik sendiri! " ucap Tata dengan kesal.


Ia benar-benar suntuk semingguan ini hanya di rumah saja, makan tidur itu yang ia lakukan.


🌿🌿🌿


Teguh Kusuma berangkat ke Jakarta dengan di temani oleh Putri bungsunya Utari. Ambar dan Ningsih istrinya menolak mentah-mentah saat ia minta di temani ke Jakarta untuk menemui Galang yang ada di penjara.


Utari dengan rela pergi ke Jakarta menemani ayahnya untuk bertemu dengan kakak nya saudara se ayah dengan menumpang mobil Pickup milik tetangga mereka yang hendak membawa sayuran ke Jakarta.


"Terimakasih Kang, udah memberikan kami tumpangan! " ucap Utari dengan ramah pada tetangga nya tersebut saat mereka di turunkan di depan kantor polisi.


"Iya sama-sama.. Mari Pakde, saya pamit ke pasar dulu! " jawab nya dengan melambaikan tangan saat di dalam mobil.


"Alhamdulillah... Yuk Pak, kita ke sana dulu istirahat! Kita masuk ke sana tunggu kantor polisinya buka! Sekarang kan baru jam 7,jadi masih ada beberapa jam lagi sebelum buka! " ucap Utari dengan mendorong kursi roda ayahnya.


"Iya Nduk... Maaf ya Bapak ngerepotin kamu ! " jawab Teguh penuh haru.


"Siapa bilang Bapak ngerepotin?? Tari ikhlas kok bantu Bapak jenguk Mas galang! " jawab Utari dengan tulus.

__ADS_1


Teguh Kusuma menangis dalam diam saat mendengar ucapan tulus dari putri bungsunya itu. Ia menyeka cepat-cepat air mata yang keluar di sudut matanya agar Utari tidak melihat jika ia menangis.


Sungguh ia senang ternyata Utari mempunyai hati yang bersih, pekerja keras, dan lembut padahal ia anak bungsu yang seharusnya bermanja-manja dengan sang ayah. Namun karena keras nya hidup, ia bekerja sebagai pelayan paruh waktu setelah ia pulang sekolah agar bisa mencari uang untuk sekolah dan membeli obat untuk ayahnya.


Ambar kakak nya juga sudah bekerja di toko pakaian yang ada di pasar besar Yogyakarta, tapi ia tidak mau uang nya di gunakan untuk membeli obat sang ayah. Bahkan untuk sekedar membeli beras saja ia tidak mau karena uangnya selalu ia gunakan untuk membeli barang yang tidak penting seperti baju-baju, tas dan sepatu.


Karena tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolahnya, Utari memutuskan untuk bekerja saja saat ia tamat SMA setengah tahun yang lalu. Karena kasihan ayahnya tidak ada yang menemani, ia meminta izin beberapa hari untuk pergi ke Jakarta menemani sang ayah untuk menemui kakak laki-laki nya.


Utari mendorong kursi roda ayah nya menuju warung kecil di depan lorong masuk kantor polisi.


Cukup lama mereka menunggu saat kantor polisi tersebut membuka izin masuk untuk pengunjung. Galang masih berada di sel kantor polisi karena masih menjadi tersangka karena pihak penyidik masih mendalami menyelidikan tentang apa yang ia lakukan dan bisnis haram nya itu. Pihak penyidik mencurigai jika Galang mempunyai orang dalam yang selalu menyokong usaha ilegalnya itu hingga tidak tercium oleh pihak kepolisian selama ini.


"Ayo Pak kita masuk! Mudah-mudahan mereka sudah memberikan kita izin untuk mengunjungi Mas Galang! " ajak Utari dengan mendorong kursi roda ayahnya.


"Iya Nduk, Ayo.. ! " jawab Teguh Kusuma mengangguk pelan.


Begitu memasuki depan kantor polisi, Utari menghentikan dorongan kursi roda ayahnya karena akan bertanya pada polisi yang berjaga.


"Permisi Pak... Apakah jam besuk tahanannya sudah di buka? " tanya Utari dengan sopan.


"Sudah Dek.. ! Udah 10 menit yang lalu di buka! Silahkan masuk dan isi buku kunjungan yang ada di sana sebagai tanda pendaftaran, nanti petugas kami akan memanggil anda lagi! " jawab polisi yang berjaga tersebut dengan ramah.


"Ayo Pak kita masuk dan segera daftar! Mudah-mudahan kita cepat ketemu Mas Galang! " ucap Utari saat kembali mendorong kursi roda ayahnya.


"Iya Nduk, Ayo! Bapak udah gak sabar pengen ketemu Mas mu! " jawab Teguh Kusuma penuh semangat.


Karena masih pagi dan belum terlalu banyak pengunjung, mereka berdua tidak perlu antrian untuk mengunjungi Galang. Mereka berdua di bawa oleh petugas kepolisian menuju sebuah ruangan dengan di awasi petugas polisi yang berjaga dengan berdiri tidak jauh dari meja tempat mereka menunggu.


"Hei kau... ! Ada tamu untuk mu! " teriak petugas polisi meneriaki Galang dengan nada ketus.


Galang menautkan alisnya heran dan bertanya-tanya siapa yang mengunjunginya pagi-pagi gini.


"Ayo buruan, Jangan bengong! " bentak polisi tersebut saat membuka sel yang di tempati Galang dan langsung memakaikan borgol di kedua tangan Galang.


Ia berjalan mengikuti petugas polisi tersebut dari belakang.


"Ayo masuk sana! " ujar petugas polisi itu dengan mendorong tubuh Galang untuk masuk.


Karena posisi Teguh Kusuma dan Utari membelakangi nya, ia tidak mengenal siapa yang datang dan tetap berjalan menuju kursi yang ada di hadapan dua pengunjung nya.


Galang tampak kaget saat berdiri di hadapan pengunjung nya.

__ADS_1


"Kau... !! " ucap nya dengan wajah kaget dan nada tidak sopan.


"Mau apa kau kesini?? Mau mengejek aku?? Atau mau menceramahi aku karena aku di sini? Huh... Simpan saja simpati mu itu karena aku tidak membutuhkan nya! " sahutnya lagi dengan ketus dan meremehkan ayahnya sendiri.


Utari mengurut dadanya karena kaget dengan sikap kakaknya itu pada sang ayah. Meskipun ia tahu jika hubungan ayahnya dengan sang kakak memang tidak harmonis, tapi ia tidak menyangka jika semua itu sangat buruk dari perkiraannya selama ini.


"Mas, apa Mas tidak sadar kalau ucapan Mas itu menyakiti hati Bapak?? " tegur Utari dengan lembut.


"Heh, siapa kau pakai ikut campur segala! Aku tidak membutuhkan nasihat mu! Mendingan kau bawa tua bangka ini pergi dari hadapan ku! " Hardik Galang dengan menatap tajam Utari.


"Sudah Nduk, sudah! Jangan di dengarkan Mas mu! Jangan di ambil hati ucapannya itu! " ucap Teguh Kusuma memegang tangan Utari dengan lembut untuk menghalangi Utari yang ingin membalas perkataan menyakitkan dari Galang.


"Cih, jadi ia putrimu dari gundik mu itu! " cibir Galang lagi dengan memandang rendah Utari.


"Galang, Bapak tidak peduli kamu mau benci Bapak! Tapi jangan kamu lampiaskan kebencian mu itu pada Utari adik mu! Ia tidak bersalah apa-apa padamu! " ucap Teguh Kusuma dengan nada sedih.


"Siapa bilang dia tidak bersalah! Justru ia sangat bersalah karena terlahir dari perempuan sialan itu! Aku masih ingat apa yang perempuan itu perbuat pada Mama ku hingga ia depresi! Masih ingat dalam ingatan ku saat perempuan sialan itu datang ke rumah hanya untuk mengejek Mama ku karena berhasil membuat kau tergila-gila pada nya hingga meninggalkan Mama ku! Aku masih ingat senyum mengejek yang tersungging di bibirnya pada Mama ku! Aku masih ingat semuanya Tuan Teguh yang terhormat! " teriak Galang dengan wajah merah padam dan napas naik turun karena begitu emosi.


Dada Utari sesak saat mendengar unek-unek yang di keluarkan Galang kepada Ibu nya Ningsih. Ia tidak menyangka jika Ibu nya melakukan hal yang seperti itu untuk mendapatkan ayahnya.


"I-itu gak mungkin kan Mas, Pak! Ibu gak mungkin melakukan hal yang serendah itu? " tanya Utari dengan suara bergetar.


"Cih, kau tanya langsung pada orang nya karena mereka masih hidup sampai saat ini! Tidak seperti Mama ku yang sudah mati saat aku berumur sepuluh tahun! Aku membencimu Tuan Teguh Kusuma!Aku benci dengan perempuan sialan itu! Bahkan aku sangat membenci anak yang di lahir kan perempuan itu! " ucap Galang berapi-api dengan wajah merah padam.


Utari menangis mendengar perkataan pedas yang keluar dari mulut Galang. Teguh Kusuma menggenggam erat tangan Utari untuk memberikan nya kekuatan dengan menatap pilu ke arah Galang.


"Bapak datang jauh-jauh kesini hanya untuk melihat keadaan mu Nak! Bapak sangat menyesali apa yang bapak lakukan di masa lalu pada Mama mu! Bapak sangat menyesal Nak! Bapak tidak meminta maaf mu! Biarkanlah rasa bersalah ini Bapak bawa sampai Bapak mati! Bapak hanya ingin mengatakan jika Bapak sangat menyayangi mu! Tidak pernah sedikitpun Bapak berniat membuat hidup mu menderita! Maafkan Bapak yang sudah menorehkan luka yang mendalam pada hati mu! Maaf kan Bapak Galang! Maaf.. ! " ucap Teguh Kusuma dengan berurai air mata.


Utari yang duduk di sebelah ayahnya langsung memeluk ayahnya dari samping, mereka sama-sama menangis kesegukan.


Galang yang sedari dulu sangat menginginkan melihat ayahnya terpuruk merasa sangat bimbang dan bingung. Seharusnya ia bahagia karena sudah membuat ayahnya merasa bersalah seperti ini, tapi kenapa ia tidak bahagia sama sekali. Hatinya kosong dan hampa saat yang ia ingin selama ini terjadi di hadapannya.


Sepasang mata melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam ruangan itu dengan pandangan yang sulit di artikan.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semuanya...


Hati-hati jika ingin melakukan perjalanan jauh karena cuaca sedang tidak bersahabat, hujan deras di sejumlah titik disertai angin kencang termasuk di daerah othor sekarang ini..


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜..

__ADS_1


__ADS_2