
Sejumlah warga yang tadinya begitu semangat menyudutkan Kadir langsung menciut ketika melihat kehadiran dua orang polisi yang datang ke tempat itu. Mereka grasak grusuk saling menyenggol bahu satu sama lain dan pura-pura sibuk sendiri.
"Kenapa diam? Apa yang terjadi hingga ramai sekali di sini? " tanya salah seorang polisi dengan menatap mereka satu persatu.
"Eh Pak polisi! Anu Pak itu, eh anu Pak! Aduh, gimana ini ya cara ngomong nya! " ucap Pak RT dengan wajah gugup dan keringat yang menetes membasahi jidatnya.
"Biar saya saja yang ngomong Pak RT! " sahut Pak Burhan akhirnya maju.
"Jadi begini Pak polisi! Warga disini mendatangi rumah Pak RT meminta mereka mengusir Pak Kadir ini dari sini, karena mereka beranggapan jika Pak Kadir sudah berbuat yang merusak kampung ini dengan membawa wanita yang bukan istrinya menginap di rumah ini dan telah berzina, begitu yang mereka katakan, Pak polisi! " ucap Pak Burhan dengan agak sedikit grogi.
"Terus, apakah tuduhan kalian itu benar dan terbukti? " tanya Polisi yang satunya dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Ya... Gak juga Pak! Malah Pak Kadir dengan tegas membantah tuduhan tersebut! " jawab Pak Burhan dengan menggaruk kepalanya.
"Dan Pak Kadir, tolong jelaskan dengan benar apa yang sebenarnya terjadi! " pinta polisi yang lain kepada Kadir.
Kadir dengan lancar menceritakan tentang keadaan anaknya Kayla dan kedatangan Sandra dan Bi Sum ke rumah ini. Ia juga mengatakan akan pergi ke mushala depan untuk menginap sementara malam ini saja karena malam ini Kayla merengek meminta Sandra untuk tidur bersamanya.
"Tuh kan memang benar wanita itu menginap di rumah ini! " celutuk Ibu-ibu yang bertubuh gemuk itu menimpali.
"Tapi Ibu tahu sendiri kan kalau Pak Kadir tidak akan tinggal di rumah ini juga? Kenapa masih ngotot juga? " sanggah Pak RT ikut membela Kadir.
"Alah Pak RT, itu hanya akal-akalan nya saja! Mungkin kebetulan saja pas mau keluar ketika kita datang ke sini! Coba kalau kita gak datang, mungkin mereka asyik-asyikan tuh di dalam kamar! " tambah seorang pria paruh baya yang berdiri bersandar di tiang teras.
"Astaghfirullah hal adziim Pak Jaya! Demi Allah saya tidak akan berbuat seperti itu! " bantah Kadir dengan beristighfar mengelus dadanya.
Tiba-tiba Tata datang dengan beberapa orang pria berwajah sangar mendekati kerumunan yang menghakimi Kadir yang mana kedatangan nya di sambut Sandra dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Minggir semuanya! Ayo Nona silahkan masuk! " ucap salah satu pria dengan suara menggelegar keras.
"Akhirnya aku tunggu-tunggu dari tadi datang juga kau, Tet! " ucap Sandra dengan lega.
"Kau dan Bi Sum sudah membereskan semua pakaian anak-anak? Jangan sampai ada yang ketinggalan ini! " tanya Tata dengan mengambil alih Kana yang tertidur di gendongan Bi Sum.
"Sudah Non! Semuanya sudah ada di sana! " jawab Bi Sum sambil menunjuk ke arah sudut ruangan yang tergeletak sebuah koper dan dua buah kardus.
"Sebentar, sebentar! Emangnya kenapa pakaian anak-anak di beresin Ta? Abang jadi bingung ini! " tanya Kadir ikut masuk ke dalam rumah.
"Abang beresih gih baju-baju Abang! Mulai malam ini Abang dan anak-anak tinggal di rumah utama saja! Aku gak mau mental anak-anak down dan rusak gara-gara tinggal di lingkungan yang tidak sehat seperti ini! " jawab Tata dengan mengeraskan nada bicaranya.
Di luar rumah, beberapa orang Ibu-ibu berbisik-bisik ketika mendengar ucapan Tata yang sengaja di keras kan agar mereka mendengar nya. Ada yang berkata lega karena kampung mereka aman, ada juga yang berkata sok-sokan banyak uang dan ada juga yang berkata belagu dan bisikan lainnya yang mencemooh Kadir dan Sandra.
Seorang wanita yang berdandan melebihi artis berjalan pelan mendekati kerumunan. Ia dari tadi mengamati dari kejauhan jalannya eksekusi terhadap Kadir, namun hampir setengah jam lebih ia menunggu belum ada pergerakan sedikitpun dari para warga.
"Sialan! Kenapa jadi runyam begini sih! Seharusnya kan mereka mengusir Bang Kadir yang sok suci itu dari sini bersama perempuan gatal itu juga! Kenapa malah Pak polisi yang datang kesini lagi? Bisa gawat kalau mereka bilang kalau aku yang mengatakan semua ini kepada mereka! Pokoknya aku harus bisa membuat mereka malu dan pergi dari kampung ini tanpa bisa mengangkat wajah mereka di hadapan orang-orang! Dan pokoknya Bang Kadir harus merasakan sakit hati dan malu seperti dia memperlakukan aku dulu di depan orang-orang pekerja proyek itu! " batin nya dengan penuh dendam menatap Kadir yang keluar rumah dengan membawa beberapa kardus di tangannya.
Ia masuk di antara kerumunan warga dan berusaha untuk tidak terlihat oleh Kadir.
Ia juga menatap Sandra dengan wajah cemburu dan kesal, dan Sandra menoleh karena ia merasa ada yang memperhatikan nya dengan lekat, tapi ia tidak mendapatkan orang tersebut karena wanita langsung menyembunyikan wajahnya ketika Sandra menoleh.
Merasa tidak ada apa-apa, Sandra kembali bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa.
"Pak RT, bagaimana ini? Anda sebagai ketua Rukun Tetangga seharusnya bersikap tegas terhadap warga anda! Anda sudah dengar sendiri kan perkataan saudara Kadir dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa saudara Kadir berbuat zina dengan Mbak-mbak ini! Dan kalian semua, kalau kalian tetap ngotot memfitnah saudara Kadir, kalian bisa terkena pasal pencemaran nama baik, perbuatan yang tidak menyenangkan serta tuduhan palsu! Apa kalian mau masuk penjara jika saudara Kadir melaporkan kalian ke pihak yang berwajib?? " amcam Pak polisi dengan suara lantang.
Bisik-bisik terdengar dari kerumunan tersebut, mereka saling menyalahkan dan langsung pucat pasi wajah mereka mendengar kata masuk penjara.
__ADS_1
"Pak Jaya, ini salah istri Bapak yang datang ke rumah saya ngajak ke sini dan ikut-ikutan memojokkan Bang Kadir! Saya gak mau masuk penjara, bisa mampus saya kalau suami saya tahu! " ucap seorang Ibu yang memakai bedak beras di wajahnya.
"Eh Bu Hindun! Jangan menyalahkan istri saya? Situ aja yang juga julid dan mau aja di ajak beginian! Giliran udah kejepit kayak gini mau nyari kambing hitam! Enak aja ! " jawab Pak Jaya tidak mau kalah.
"Iya nih Pak Jaya, gara-gara istri Bapak yang juga mengatakan kalau Bang Kadir bawa perempuan nginap terus bla bla bla...... sehingga membuat saya juga ikut-ikutan di ajak melabrak mereka. Kalau saya tahu anaknya Bang Kadir lagi sakit, saya mah ogah di ajak ke sini! Dan saya juga gak mau masuk penjara! " ucap Ibu bertubuh gemuk ikutan bicara.
"Enak aja kalian! Kenapa malah saya yang di salahkan! Saya kan hanya mengatakan sesuai yang saya lihat! Lagian saya juga dapat kabar itu dari Si Wati, bahkan Si Wati juga punya foto mereka sedang berpelukan! " jawab istri Pak Jaya membela dirinya dari tudingan Ibu-ibu tersebut.
"Iya, di mana itu si Wati? Perasaan tadi sebelum ke sini dia yang paling bersemangat menjelek-jelekkan Bang Kadir! " ucap seorang Ibu membenarkan omongan istri Pak Jaya.
Perempuan yang bernama Wati itu dengan cepat menyelinap pergi ketika ia merasa situasinya sudah tidak sesuai dengan keinginan nya tanpa ada yang menyadari keberadaan nya.
Sementara itu, Pak RT dan Pak Burhan meminta maaf kepada Kadir karena sudah membuat kekacauan dan mengganggu kenyamanan Kadir dan anak-anak nya. Apa lagi mereka semakin merasa bersalah dan tidak enak karena Kadir mengiyakan ucapan Tata untuk pindah dari kontrakan ini.
"Pak RT, saya titip kunci rumah ini! Sampai kan permohonan maaf saya kepada Bang Deni dan keluarga nya karena tidak menunggu mereka pulang untuk berpamitan. Sisa-sisa barang-barang saya akan saya ambil setelah mereka pulang dari kampungnya. " ucap Kadir dengan menyerahkan kunci rumah kepada Pak RT.
Mereka keluar dari rumah dengan wajah santai, Sandra memasukkan Kayla ke mobil yang terparkir di samping rumah dengan di ikuti Kadir. Sedangkan Tata di mobil yang tidak jauh dari jalan dengan menggendong Kana, Bi Sum ikut mobil Sandra dan duduk di belakang. Beberapa orang pria yang di bawa Tata di mobil yang di belakang mobil Tata. Dua orang polisi yang juga orang-orang Tata ikut pergi meninggalkan lokasi tersebut dengan mengendarai sepeda motor lalu lintas yang sengaja tidak mereka hidupkan sirine nya ketika mereka datang tadi.
Sepasang mata melihat kepergian Kadir dan rombongan dengan tangan terkepal dan wajah penuh amarah karena apa yang ia rencanakan gagal total.
"Brengsek! Sialan tuh perempuan! Siapa sih dia? Berani sekali ia ikut campur membantu mereka! Kalau saja ia tidak datang mungkin saat ini Kadir brengsek itu sudah di jalanan dengan anak-anak sialan nya ! Sial banget! Awas saja, dan aku akan selalu ingat wajah perempuan itu! " racau nya kesal dengan dada turun naik karena amarah dan ia menyimpan wajah Tata di benaknya.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya..
Semoga kalian selalu di beri kesehatan untuk terus membaca kisah Tata ya 😄... dan semoga hari kalian menyenangkan 💕😍..
__ADS_1