
Nana keluar dari ruangan tersebut dengan berlari sambil menangis dan menutup mulutnya dengan tangan. Ia begitu syok mendengar perkataan perempuan yang selama ini ia anggap Mama.
"Mama benar-benar keterlaluan! Selama ini sikap Mama tidak pernah baik terhadap Nana. Tidak bisa kah Mama untuk tidak menyakiti hatinya? Aku seperti melihat monster berparas manusia! " ungkap Kadir dengan kekecewaan yang teramat besar.
"Anak kurang ajar! Beraninya kamu menyumpahi Mama mu yang sudah bersusah payah melahirkan mu ke dunia ini? Kalau tidak ada Mama kau tidak akan hidup sampai sekarang! " omel Nyonya Retno marah-marah.
"Aku kurang ajar begini juga karena ajaran Mama!Apa Mama lupa kalau dulu Mama selalu mengatakan untuk tidak tunduk dengan orang yang di bawah kita! Apa Mama lupa jika Mama lah yang membuat aku seperti ini? Apa Mama lupa bagaimana Mama memandang aku sebelah mata, padahal aku anak pertama yang lahir dari rahim Mama. Tapi Mama sedikitpun tidak pernah menunjukkan kasih sayang Mama sebagai orang tua kepada ku! " ucap Kadir mengeluarkan semua isi hatinya.
"Ayo Anika! Kita pergi dari sini! Kedatangan kita ke sini tidak di harapkan wanita tua itu di akhir hayatnya! " ajak Kadir kepada Anika yang masih menangis dengan mulut tertutup di pelukan suaminya Riko.
Ketika Kadir membalikkan diri dan hendak berjalan ke arah pintu yang masih tertutup, tiba-tiba saja seorang pria paruh baya masuk dengan ekspresi yang tidak bisa di gambar kan.
"Retno, apakah dia putri ku? " ucap Harisman tanpa basa basi dan langsung menunjuk Anika.
"Siapa anda? Apa maksud anda berkata seperti itu! " jawab Kadir dengan penuh curiga.
"Retno, ajo jawab! Jangan diam saja! Apa dia putri ku, Retno! " hardik Harisman dengan keras.
"Iya, dia putri mu brengsek! " teriak Nyonya Retno tidak kalah keras.
"A-apa?? " pekik Kadir dan Anika dengan sangat terkejut.
Anika langsung mundur ketika pria yang mengaku sebagai ayahnya itu tersenyum dan berusaha mendekati nya.
"Ja-jangan mendekat! Aku bukan anakmu! Aku anak ayah Jamal, jangan mendekat! Berhenti di sana! Jangan mendekat! " teriak Anika dengan histeris dan tiba-tiba...
"Bruk.... "
"Anika/sayang!! " pekik Kadir dan Riko bersamaan.
Riko dengan sigap langsung mengangkat Anika yang pingsan ketika Harisman berusaha mendekatinya.
Harisman memandang Riko yang membawa Anika dengan tatapan sendu. Sedangkan Kadir menatap Harisman dengan tatapan marah.
"Puas anda, Tuan! Dan Mama sudah puas membuat Anika pingsan seperti tadi! Anika sedang hamil muda, jika terjadi sesuatu pada kandungan nya, aku tidak akan memaafkan kalian berdua! " ucap Kadir dengan tangan terkepal menahan amarah.
Harisman terhenyak mendengar ucapan Kadir, dalam hatinya ia menyesal terlalu gegabah ingin mendekati anak perempuan yang begitu ia rindukan.
Tata yang baru saja kembali menghibur Nana, terkejut melihat Riko berteriak memanggil dokter sambil menggendong Anika.
"Anika kenapa Riko? Apa yang terjadi? Astaga Riko, kenapa celana Anika penuh dengan darah?! " teriak Tata dengan wajah khawatir.
"Apa?? Dokter!! Dokter!! Cepat tolong istri saya! Cepetan! " teriak Riko dengan wajah panik.
Seorang perawat menganjurkan Riko untuk membawa Anika ke ruang praktek dokter kandungan. Riko yang tidak bisa berpikiran jernih hanya mengikuti anjuran perawat tersebut.
"Tunggu dulu di luar ya, Pak! Biar Dokter menangani istri Bapak tanpa ada gangguan! " ucap perawat tersebut sambil menutup pintu ruangan praktek dokter.
Tata datang bersama Nana dengan wajah khawatir, Dave dengan santai mengikuti Tata dari belakang layaknya seorang bodyguard.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Kadir juga datang dengan wajah tidak kalah khawatir.
"Gimana keadaan Anika? Apa kandungannya baik-baik saja? " tanya Kadir dengan beruntun.
"Apa?? Kandungan?? Maksud Abang, Anika sedang hamil? " tanya Riko dengan wajah terkejut.
Kadir menganggukkan kepalanya, dan Riko menarik rambutnya mengerang frustasi mendengar kenyataan bahwa istrinya dalam keadaan hamil.
"Jangan putus asa, perbanyak lah berdoa! Saat ini Anika sedang berjuang dan dia membutuhkan doa dari kita semua! " ucap Tata dengan bijak.
"Maafkan Abang ya, Ta! Jika saja Abang dulu bisa bersikap tegas, mungkin saat ini Abang masih bisa menjaga adik-adik Abang sehingga tidak mengalami hal seperti ini! " sahut Kadir dengan wajah menyesal.
"Tidak usah berpikir begitu, Bang! Tata sudah memaafkan semuanya, semua ini adalah takdir dari yang maha kuasa untuk kehidupan kita! Tidak ada seorang pun manusia mau mendapatkan musibah, karena semua itu sudah ketentuan dari Allah SWT untuk hamba-hamba-Nya. " jawab Tata dengan bijak.
"Keluarga Ibu Anika! " ucap Perawat yang baru saja keluar dari ruang praktek dokter kandungan.
"Saya suami nya! Saya Abangnya! " jawab Kadir dan Riko serempak.
"Silahkan Bapak berdua ikut saya! Dokter mau bicara tentang pasien! " sahut Perawat sambil mempersilahkan Kadir dan Riko masuk ke dalam ruang praktek.
Riko dan Kadir masuk ke dalam ruang praktek dokter dengan perasaan bercampur aduk, takut terjadi sesuatu dengan Anika.
"Silahkan duduk Bapak-bapak! " ucap Dokter mempersilahkan mereka duduk di kursi di hadapan dokter.
"Yang mana suami nya Ny. Anika? " tanya dokter dengan melihat mereka berdua.
Kadir menunjuk Riko dan di jawab dengan anggukan dokter tersebut.
"Jadi, istri saya harus istirahat total selama satu bulan penuh Dok? " tanya Riko agar benar-benar yakin.
"Benar, Pak! Kalau bisa jangan bebankan beliau dengan masalah berat sehingga membuat beliau stres dan drop! " ucap Dokter itu lagi mengingatkan Riko.
"Terimakasih banyak, Dokter! Saya akan menjaga istri dan calon anak saya sekuat tenaga saya! " jawab Riko dengan mantap.
"Sama-sama, Pak! Oh ya Pak, istri anda bisa di bawa pulang setelah ia sadar nanti! Sekarang biarkan istri Bapak beristirahat sejenak! " sahut Dokter tersebut dengan ramah.
"Terimakasih Dokter! " ucap Kadir dan Riko sambil berjabat tangan dengan dokter kandungan itu.
Tata dan Nana langsung mendekati Kadir dan Riko begitu mereka keluar dari ruangan dokter kandungan.
"Gimana keadaan Anika, Ko? " tanya Tata penasaran dengan Nana yang juga sangat penasaran.
Kadir pun menceritakan seperti yang di ceritakan dokter kandungan itu kepada mereka, tanpa ada satu pun yang terlewatkan.
"Ya Allah... Alhamdulillah kandungan Anika tidak apa-apa! " jawab Nana dan Tata dengan menarik nafas lega.
Harisman yang menguping pembicaraan mereka mengusap air mata di sudut matanya dengan sedikit lega. Ia tidak bisa memaafkan dirinya jika calon cucunya kenapa-napa.
"Bagaimana kalau kamu dan Anika tinggal di bandung dengan Ibuk dan ayah Jamal sampai Anika tenang? Setidaknya ia sedikit tenang dengan suasana baru, dan mudah-mudahan dengan berada di sana Anika lebih cepat pulih dan kandungannya semakin sehat. " usul Tata kepada Riko.
__ADS_1
"Ide bagus itu! Abang setuju jika kalian untuk sementara waktu ganti suasana tempat tinggal di Bandung! Gimana menurut kamu, Riko? " ucap Kadir sambil meminta pendapat Riko.
"Aku juga setuju ide, kakak dan Abang! Aku akan mempersiapkan semua perlengkapan kami agar nanti bisa langsung berangkat ketika Anika sadar nanti! " jawab Riko dengan sangat setuju.
"Kamu tunggu Anika saja di sini! Biar aku saja yang mempersiapkan keperluan kalian. " ucap Nana menawarkan diri.
"Nana benar! Kamu tunggu saja di sini! Abang akan pergi bersama Nana sambil menjemput Anak-anak! " sahut Kadir membenarkan ucapan Nana.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak Kak, Bang! " ucap Riko dengan penuh rasa syukur.
Kadir dan Nana pergi ke rumah kontrakan Riko untuk menyiapkan perlengkapan mereka ke Bandung sambil menjemput anak-anak Kadir.
Bi Sur ikut membantu Nana mengemasi pakaian Riko, karena Anika baru pulang, otomatis semua pakaian nya masih tersusun rapi di dalam koper.
Bi Sur bahkan berpesan agar ketika Kadir bekerja, anak-anak di titipkan saja padanya, karena ia juga sendirian di rumah kontrakan ini tanpa melakukan apapun selain membersihkan rumah dan memasak makanan untuk dirinya sendiri.
Mereka pun pamit setelah Kadir menyanggupi pesan Bi Sur. Tata masih tetap berada di rumah sakit tersebut sambil memberitahukan orang-orang nya untuk mempersiapkan kendaraan yang akan mengantar Anika dan Riko ke villa nya yang ada di Bandung.
Tata mengambil kopi yang di sodorkan di depan wajah nya tanpa melihat siapa yang memberikannya karena ia tahu siapa yang melakukan semua itu selain Bule yang selalu membuntuti nya setiap saat. Tata bahkan mulai hapal bau parfum yang di gunakan Bule mesum yang berpadu mint dan musk yang membuat pikirannya sedikit terganggu jika sudah mencium bau tersebut.
Riko di panggil perawat yang mengabari jika Anika istrinya sudah sadar dari pengaruh obat yang di suntikkan dokter tadi.
Tata mempersilahkan Riko masuk ketika Riko sempat meminta pendapatnya ketika akan masuk menemui Anika.
Tata menghubungi Tegar yang masih stay di villa untuk menjaga dan mengawasi Anika dan Riko ketika berada di villa, jaga-jaga jika ada yang mencoba menemui mereka ketika tinggal di villa.
"Kak, Anika mau ketemu kakak! " panggil Riko dari pintu masuk ruang dokter.
Tata menganggukkan kepalanya dan segera berdiri untuk masuk ke dalam ruangan tersebut memenuhi panggilan Anika.
"Kamu baik-baik saja, Anika? Ada yang terasa sakit? " tanya Tata begitu duduk di kursi samping brankar Anika baring.
Anika hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah dan ia meraih tangan Tata dengan menangis terisak-isak.
"Maafin Ika, Kak! Dulu Ika menuruti semua maunya Mama tanpa memikirkan baik dan buruknya semau itu! Ika menyesal Kak? Mungkin ini semua karma buat Ika yang ternyata bukan anak ayah Jamal tapi anak dari laki-laki lain yang Anika gak kenal! Anika malu Kak, karena ternyata Anika anak haram! Hiks.. Hiks... Hiks... Ika benci Mama! Ika benci pria itu! Ika benci! " ucap nya dengan menangis tersedu-sedu.
"Jangan menangis, Anika! Kalau kamu seperti ini, kasihan bayi yang ada dalam kandungan mu. Karena ia juga merasakan apa yang kau rasakan. Kau tidak mau kan jika terjadi sesuatu dengan bayi dalam kandungan mu ini? " hibur Tata dengan lembut.
"Gak, Kak! Aku gak mau anakku kenapa-napa! Rasanya aku bisa gila jika terjadi sesuatu dengan anakku! " jawabnya dengan menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, stop menyalahkan diri sendiri! Sekarang ini yang lebih penting bayi dalam kandungan mu! Kau harus berpikiran tenang, rileks, dan tidak boleh menangis dan bersedih karena semua itu juga di rasakan bayi dalam kandungan mu! " nasihat Tata dengan wajah prihatin.
"Sekarang tenangkan dirimu!, keluar dari rumah sakit ini nanti kau dan Riko akan pergi ke Bandung untuk sementara waktu agar kau tenang dan istirahat total karena itu perintah dokter agar kandungan mu kuat dan sehat. Kau akan tinggal di villa bersama Ibuk kakak dan ayah Jamal! Riko juga akan ikut bersama mu, jadi kau tidak perlu khawatir! " ucap Tata lagi dengan panjang lebar.
"Kalian berdua akan pergi ke Bandung habis kamu keluar dari rumah sakit ini ! Jangan lupa berdoa dan doakan agar semuanya sehat-sehat selalu! Ayah Jamal pasti sudah tidak sabaran ingin berjumpa dengan anak nya! " ucap nya lagi dengan wajah sendu.
"Terimakasih banyak Kak, maaf udah ngerepotin kakak semua yang ada di sini! " sahut Riko dengan mata berkaca-kaca.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beristirahat semuanya...