
Tata langsung duduk di hadapan perempuan yang menggilai suaminya ini. Dengan kedua tangan bersilang di dada, Tata menatap tajam perempuan itu.
"Mau apa lagi kau datang ke rumah ini?? Aku kira dengan kejadian kemaren dan penolakan dari suamiku membuat kau berpikir dan mau menerima kenyataan! Tapi ternyata dugaan ku salah besar, kau masih punya nyali untuk menunjukkan wajah busuk mu di rumah ini! " ucap Tata dengan dingin menatap Ajeng yang masih sangat sombong dari raut wajahnya.
"Terimakasih atas pujiannya.... " jawab Ajeng dengan acuh tak acuh.
"Cih... Dasar tidak tau malu! Seperti nya otak mu itu memang sudah putus kabel merah dan biru nya yang menghubungkan sifat malu dan akal sehat! " sahut Tata lagi dengan sangat geram.
"Gak usah banyak omong! Katakan dimana Kang Mas Davin calon suamiku? Aku ingin bertemu dengan nya! Tak masalah ia sudah menikahi perempuan udik seperti mu, karena aku siap jadi istri keduanya! Kau akan aku biarkan menjadi istri pertama yang fokus mengurus anak di rumah, sedangkan aku yang akan menjadi istri yang di perkenalkan kepada dunia dan semua orang! Kau seharusnya sadar diri kalau kau tidak pantas berdiri di sisi Kang Mas Davin! Kau tidak selevel dengan bangsawan seperti Kang Mas Davin! Apa yang bisa di banggakan Kang Mas Davin dan keluarga ini pada perempuan kampungan seperti mu! Lihat saja penampilan mu itu, tidak mencerminkan menantu keluarga Ningrat yang paling di segani! Pakaian lusuh dan jadul, tidak berdandan, dan lihat rambutmu yang kusam itu! Benar-benar menjijikkan! " ucap Ajeng dengan berdiri dan berjalan melihat Tata dari atas ke bawah dengan pandangan mengejek.
"Hanya aku lah yang pantas menjadi pendamping Kang Mas Davin, menantu keluarga ini! Raden Ajeng Batari Kusuma, cucu perempuan keluarga Ningrat Batari Kusuma yang pantas berdiri di sisi Kang Mas Davin. Lihat lah aku yang modis ini, cantik, terpelajar, kaya, terlebih lagi dari keluarga Bangsawan! Hanya orang bodoh lah yang menolak menjadikan aku menantu mereka! " ucapnya lagi dengan membanggakan diri nya dengan wajah angkuh dan meremehkan Tata.
"Dasar ondel-ondel obralan! Kalau saja sekarang ini bukan di rumah mertua, sudah aku sumpah mulut busuknya itu dengan popok bekas di tempat sampah! Sepertinya menghadapi perempuan gila seperti ini kita juga harus gila! " batin Tata menyeringai licik.
"Oh ya.... Tapi kenapa ya Suami ku gak tertarik tuh sama Bangsawan seperti kamu?? Jangan kan mau dekat, melirik pun ogah! Atau mungkin suamiku itu katarak kali ya gak bisa lihat perempuan yang katanya cantik dan modis ini?? " sahut Tata dengan tersenyum mengejek.
Ajeng tampak kesal dan geram mendengar ucapan Tata yang memang itulah kenyataannya. Ia kembali memasang muka tembok dan duduk menyilang kan kakinya sehingga memperlihatkan pahanya yang mulus itu. Ia seperti nya sengaja berpose menggoda agar Tata bisa melihat kemulusan tubuhnya dan minder.
"Cih.... Pamer aurat aja bangga! Kamu pikir aku gak tahu isi pikiranmu! Hello.... Aku gak minder kali kalau cuma punya paha putih! Untuk apa paha putih tapi siapa tau ternyata pantat nya kurapan! " cibir Tata dalam hati.
"Jangan merasa bangga dulu kau! Aku tidak akan tinggal diam dan akan aku buat Kang Mas Davin melihat ku dan simpati padaku! Akan aku buat Kang Mas Davin membuang perempuan kampung seperti mu ! " ucap Ajeng dengan menunjuk wajah Tata dengan telunjuknya.
"Singkirkan jari kotor mu itu dari wajahku! " tepis Tata dengan kasar pada jari telunjuk Ajeng.
"Auwww.... " pekik Ajeng saat telunjuknya di tepis Tata.
"Perempuan bar-bar kampungan seperti ini lah yang merusak citra keturunan Ningrat seperti kami! Kau hanya akan membuat malu Kang Mas Davin dan keluarga ini dengan sikap brutal mu itu! " teriak Ajeng tidak terima jari yang sakit karena di tepis Tata.
"Cih, dasar lemah! Aku tidak peduli dengan anggapan semua orang! Dan kau bilang aku bikin keluarga ini dan suami ku malu?? Apa kau gak punya kaca di rumah mu? Kau yang akan membuat keluarga ini malu jika mau menerima perempuan yang tidak punya attitude seperti mu! Tidak punya harga diri yang mengemis cinta laki-laki yang sudah mempunyai istri! Buka mata mu lebar-lebar ! Bangun lah dari tidur panjang mu! Jangan selalu bermimpi dan berkhayal menjadi istri suamiku apalagi menjadi istri keduanya! Aku akan pastikan suamiku tidak akan menikahi perempuan mana pun selain aku! Apalagi ondel-ondel yang pakai baju anak kecil seperti mu! Katanya kaya dan dari keluarga bangsawan, tapi pakaian nya pakai baju anak umur lima tahun! Kekecilan semua! Cih... ! Memalukan! " jawab Tata dengan duduk santai sambil melihat remeh pada Ajeng.
"K-kau..... Plak.... " Ajeng langsung berdiri dan menampar muka Tata dengan tangan kanannya sambil menunjuk wajah Tata dengan wajah marah.
Muka Tata bergerak ke kiri karena tamparan Ajeng membuat Tata tidak sengaja melihat bayangan seseorang yang datang dari arah luar.
Tanpa di duga, Tata menampar lagi pipinya yang di sebelah kiri hingga dua-duanya meninggalkan bekas kemerahan di pipi putih Tata. Tidak sampai di situ, Tata menarik bagian depan blus nya hingga tampak berantakan dan kancing nya pada lepas dan berhamburan di lantai. Ia juga mengacak-acak rambutnya hingga seperti surai singa yang baru saja bangun tidur.
Tata mendekati Ajeng dan meraih kedua tangan Ajeng hingga sama-sama memegang bahunya, Ajeng yang kaget dan heran mencoba berontak tapi pegangan tangan Tata pada pergelangan tangannya sangat kuat hingga terdengar suara langkah kaki yang mendekati ruang tamu dan Tata menjatuhkan diri nya sendiri di lantai sambil berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Aduhh..... Sakit.... To-tolong... ! " teriak Tata dengan pura-pura merintih kesakitan dengan memeluk dirinya sendiri.
Ela yang baru saja mau masuk bersama Mertua perempuan nya Abeth langsung berlari menuju suara yang mengaduh kesakitan.
"Oh my god Dear??? What happen?? You.... ! " teriak Aunty Ela berlari mendapati Tata dan menunjuk kaget pada Ajeng yang sangat bingung melihat tingkah Tata yang tadi seperti orang gila menyakiti dirinya sendiri.
"Are you okay, honey.... ? " tanya mertua Abeth dengan wajah khawatir.
"I'm Fine, Mommy..! But...... " jawab Tata dengan nada gemetar dan sengaja menggantung ucapan nya dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa berkata apapun, Aunty Ela langsung menghubungi Mami Sita kakak iparnya dan juga Dave.
"Tetap di situ dan jangan ke mana-mana! " ancam Aunty Ela dengan menunjuk Ajeng yang masih tampak shock.
Mommy mertua Tata membawa Tata dalam pelukannya dan menatap Tata dengan wajah prihatin. Tata tersenyum menyeringai saat matanya berpapasan dengan mata Ajeng yang melihat ke arah dirinya.
"Mampus kau kutu busuk! Aku kasih kau kesempatan bonus karena sudah berani menamparku! Kau gila ingin menjadi istri kedua suami ku dan aku lebih bisa lebih gila lagi, akan membuatmu menjadi orang gila sungguhan dan semua orang di keluarga ini akan semakin membenci mu selama nya! " batin Tata menyeringai licik.
Ajeng menghela napasnya karena terjebak permainan Tata yang berakting dengan menyakiti dirinya sendiri.
"Ayo sayang, duduk di sini dulu! Aunty akan ambil kompres dulu di belakang! Sis, help me ! Take care Tata... " ucap Aunty Ela menuntun Tata supaya berdiri dan mendudukkan nya di atas sofa sambil berpesan pada mertuanya Abeth.
Mertuanya Abeth mengangguk, lalu dengan setengah berlari Aunty Ela ke dapur untuk mengambil kompres sekalian ke taman belakang memberitahu keadaan Tata yang di aniaya Ajeng.
Eyang kakung dan Eyang Putri kaget mendengar apa yang di sampaikan Aunty Ela, mereka berdua bergegas masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu dengan langkah tua mereka.
"Ya Allah.... Nduk??? Kamu kenapa bisa sampai seperti ini?? " ucap Eyang Putri dengan wajah begitu khawatir.
Ia lalu mendekati Tata, membolak-balikan tubuh Tata, lalu membawa Tata dalam pelukannya. Mertua Abeth berdiri dan menyingkir dari sofa, ia duduk di sofa yang lainnya.
"Ya Allah , Nduk?? Maafin Eyang yang gak tau kalau kamu sendiri di sini?? " ucap Eyang Putri lagi dengan menangis sedih.
"Alamak jang.... ! Maafin Tata ya Allah... ! Tata kan hanya pura-pura saja kasih perempuan gila itu pelajaran! Kenapa Eyang Putri jadi nangis beneran kayak gini? Aduh... Mampus lah kau Tata di laknat Allah sudah bohongin orang tua kayak gini! " batin Tata meringis serba salah dalam pelukan Eyang Putri.
Eyang kakung tidak berkomentar, ia menatap tajam Ajeng yang masih duduk dengan wajah menunduk karena ia benar-benar takut jika berhadapan langsung dengan Eyang Kusuma.
"Buk... Ini kompres nya! Tolong kompres di kedua pipinya Tata ya Buk? Bergantian biar merah dan nyerinya hilang! " ucap Aunty Ela memberikan alat kompres pada Eyang Putri.
__ADS_1
Eyang Putri lalu dengan lembut mengompres pipi Tata yang sebenarnya tidak apa-apa dan tidak terasa sakit sama sekali.
Ia masih menangis sambil mengusap pipi Tata yang memang masih meninggalkan jejak kemerahan.
"Sialan tuh perempuan kampung! Aku tidak menyangka jika ia ternyata licik juga! Awas kau ******! Akan aku balas kau nanti! " batin Ajeng menatap Tata dengan penuh dendam.
Tanpa sepengetahuan semua orang, Tata menatap tajam mata Ajeng dengan memberikan isyarat you lose i'm win yang membuat muka Ajeng bertambah geram dan marah.
"Tata... Tata..... " panggil Mami dari luar rumah begitu mobil yang ia kendarai baru saja berhenti.
Ia berlari dan langsung duduk di samping Tata dengan wajah terkejut melihat penampilan Tata yang acak-acakan habis di sapu angin ****** beliung.
"Ya ampun sayang! Kenapa bisa jadi begini?? Apa yang harus Mami katakan sama Ibuk kamu kalau ia tahu anak perempuan nya di bikin seperti peyek kayak gini? " ucap Mami Sita lagi dengan muka prihatin dan sangat menyesal.
"Kalau tahu begini kamu Mami tinggal, mendingan Mami di rumah aja jagain kamu! Ya Allah... Tata! Bisa marah nanti Dave sama Mami lihat istrinya kayak orang-orangan sawah begini! Papi.... Papi... Gimana ini Pi?? Lihat, menantu kita jadi orang-orangan sawah kayak gini! Mami menyesal Pi, ninggalin rumah lama-lama! " ucap Mami Sita begitu bersalah. dan berteriak memanggil suaminya.
"Dah lah.... Banyak kalilah dosa kau Ta! Udah noko-nokohin semua orang, bikin Eyang Putri nangis, dan sekarang kau bikin mamak mertua kau merasa bersalah kayak gini! " batin Tata memarahi dirinya sendiri.
"Mami juga gak kawan ah! Masa aku di katain orang-orangan sawah! Ini mah menyesal sekalian mengejek jadinya! " batinnya lagi dengan perasaan sebel setengah mati.
Mami Sita beralih menatap tajam Ajeng yang masih duduk diam dan memarahi Ajeng sepuas hatinya.
"Kamu tuh ya.... ! Saya heran sama kamu! Gak punya malu ya kamu datang lagi ke rumah ini! Apa gak jelas perkataan kami semua waktu itu? Harus pakai bahasa apa lagi saya ngomong sama kamu kalau bahasa manusia saja gak kamu dengerin, hah! Gak habis pikir saya... Kok ada ya manusia yang punya malu kayak kamu ini! " tunjuk Mami Sita dengan geram pada Ajeng.
"Kenapa saya yang di salah kan? Menantu kampungan Bude aja yang salah! Mau-maunya menyakiti diri sendiri hanya untuk mencari simpati orang! Saya kesini mau ketemu Kang Mas Davin doang, bukan mau ketemu perempuan ini! " jawab Ajeng tidak mau kalah.
"Eh Ajeng! Yang mau kamu temuin itu sudah suami orang! Suami orang! Paham gak kamu!!! Jadi wajar lah kalau istrinya gak suka! " sahut Mami Sita semakin gregetan.
"Saya tahu kok Kang Mas Davin suami orang makanya saya ke sini mau di jadikan istri keduanya! Saya rela kok perempuan kampung itu jadi istri pertamanya Kang Mas Davin, dan saya yang akan menjadi istri yang selalu bisa di banggakan kepada semua orang meskipun hanya istri kedua! " jawab Ajeng lagi dengan pedenya.
"Apaaaa???? " teriak semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan penyataan Ajeng yang ingin jadi istri kedua Dave.
Bersambung...
Nah loh... Nah loh.... Si Ajeng.... Saking obsesinya sampai menawarkan diri jadi istri kedua... ckckckck π©π©..
Kira-kira mau gak ya Babang Bule punya bini kedua yang model nya begituan kagak tau maluπ€π€π€
__ADS_1