Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
49. Rencana penculikan


__ADS_3

Anika tertidur pulas sehabis makan malam bersama Bi Sur. Mereka hanya makan berdua karena Riko tidak pulang ke rumah karena ini malam pertama nya dengan istri kedua.


Pagi hari nya.


Anika terbangun dengan mata yang sedikit sembab karena menangis semalam. Ia bergegas mandi dan sedikit mengoleskan make up ke wajahnya agar mata sembab nya tertutupi dan ia berhasil melakukannya.


Ia keluar dari kamarnya menuju ke dapur menemui Bi Sur yang sedang membuatkan sarapan.


"Ayo Nyonya kita sarapan dulu! Sudah hampir jam 7.30 ini! " ucap Bi Sur yang menyodorkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telor ceplok dan kerupuk.


"Bibi juga! " jawab Anika sambil mengambil piring tersebut.


Mereka pun makan bersama dengan di iringi obrolan yang ringan sehingga makanan mereka sudah ludes.


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukana pintu yang begitu keras sehingga membuat Anika berjalan tergesa-gesa.


"Siapa sih pagi-pagi sudah datang bertamu! " gerutu Anika dengan kesal namun ia tetap berjalan untuk membukakan pintu.


"Iya sebentar! " teriak Anika dari dalam, dan ketika pintu terbuka ia kaget melihat Riko berdiri di depan pintu dengan seorang perempuan yang kira-kira berusia 2 tahun di atasnya itu tersenyum lebar melihatnya.


"Anika sayang, Mas pulang! " ucap Riko sambil menarik tubuh Anika ke dalam pelukannya.


Anika tidak membalas pelukan Riko, ia hanya diam tanpa berekspresi dan itu membuat Riko heran dan melepaskan pelukannya.


"Kenapa sayang? Apa yang terjadi? " ucap Riko bingung sambil mengusap pelan pipi Anika.


Perlakuan Riko terhadap Anika membuat Delia cemburu dan kesal setengah mati. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan Riko karena tidak ingin Riko membenci nya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa! Oh ya siapa ini? " jawab Anika dengan wajah datar sembari bertanya.


"Oh ini anu, anu.. Ini Delia adik madu mu sayang! " jawab Riko dengan bercucuran keringat.


"Oh gitu! Ya sudah silahkan masuk! " jawab Anika lagi dengan datar.


"Sayang, kamu gak marah? Kok kamu biasa aja dengar nya? " tanya Riko sambil berlari mensejajarkan langkahnya dengan Anika.


"Memangnya kamu mau aku kayak gimana? Marah-marah seperti orang gila? Atau menangis hingga matanya bengkak? Bodoh sekali kalau aku melakukan hal itu, karena semuanya juga pasti akan terjadi. Bawa lah istri baru mu itu ke kamar yang lain, jangan kamar yang selama ini aku tempati. Aku tidak sudi berbagi kamar setelah berbagi suami! " jawab Anika dengan tersenyum miring.


Riko kaget mendengar Anika memanggilnya dengan kamu, bukan Mas seperti biasanya. Hatinya mencelos karena anika marah dan tidak lagi memanggilnya dengan mesra seperti dulu. Tanpa berkata apa-apa, Riko membawa Delia ke kamar yang ada di ruang depan alias kamar tamu.


"Mas, aku kok di kasih kamar yang kecil kayak gini sih! Ini sih sebesar kamar mandi di rumah aku! " protes Delia dengan wajah cemberut.


"Ya sudah, kembali saja ke rumah mu kalau mau kamar yang lebih besar dari ini! Ingat! Kamu itu cuma istri kedua, bukan yang utama! Walaupun Mama ku menyukaimu, itu tidak akan berpengaruh padaku dan aku tidak akan berada di posisi ini jika bukan karena ancaman Mama ku! Kau ingat itu! " jawab Riko yang muak dengan rengekan Delia.


Setelah mengatakan semua itu, Riko pun pergi dari sana dan pergi menuju kamar pribadi nya bersama Anika.


Dika sedang berembuk tentang rencananya bersama Mamanya dan Dian. Mereka sedang menyusun rencana untuk menculik ibunya Tata dan di jadikan sandera agar bisa mengancam Tata dan memintanya untuk menarik tuntutannya agar Dika bisa bebas selamanya serta meminta sejumlah uang ganti rugi karena menjual mobil kesayangan Dika.


"Jadi, Mama yang pantau gerak gerik Tata di depan restoran. Aku dan Dian yang akan menculiknya dan membawanya ke tempat yang sudah kita sepakati! " ucap Dika memberikan arahan.


"Kalau Mama ketangkap gimana Ka? Kan kamu tahu sendiri kalau di sana mereka semua mengenali Mama! " jawab Nyonya Retno sedikit khawatir.


"Mama tenang aja! Gak bakalan ada yang ngenalin Mama kalau Mama ke sana memakai ini! " ucap Dika dengan santai memperlihatkan wig bewarna pirang dan sebuah kaca mata seperti kacamata minus.


Mereka pun bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mereka. Nyonya Retno sudah melakukan penyamaran dengan memakai rambut palsu pirang dan tak lupa kacamata yang menyempurnakan penyamarannya itu.

__ADS_1


Sedang kan Dika sudah bersiap dengan kaos oblong dengan celana jeans dan tak ketinggalan topi yang menghiasi kepalanya agar tidak ada yang melihat dengan jelas wajahnya.


Nyonya Retno sudah berangkat duluan karena ia bekerja sebagai mata-mata mengamati mobil Tata.


Selama menunggu hampir 30 menit, Nyonya Retno menyunggingkan senyumannya ketika melihat sebuah mobil yang ia kenal memasuki pelataran restoran.


Ia langsung memberi sinyal kepada Dika dan Dian jika Tata sudah datang. Nyonya Retno semakin tersenyum lebar ketika melihat Tata mengeluarkan kursi roda, karena ia tahu jika ada kursi roda berarti Tata membawa ibunya itu ke restoran.


"Ternyata ini hari keberuntungan kami! Tidak perlu susah payah membuntuti si Bodoh itu untuk mengetahui dimana dia tinggal agar bisa menculik ibunya yang lumpuh itu! Tata... Tata... Sekali bodoh selamanya ya bodoh! Kau mengantarkan ibumu langsung kepada kami Tata.. " Batin Nyonya Retno dengan tersenyum senang.


Begitu mendapat sinyal dari Mama nya, Dika dan Dian segera meluncur ke tempat Mama nya berada.


"Gimana Ma? "tanya Dika begitu sampai.


"Kamu lihat itu! Si bodoh itu mengantarkan ibunya langsung kepada kita, tanpa perlu susah payah membuntutinya pulang! Dan seperti nya keadaan tidak terlalu ramai sehingga kita bisa bergerak melaksanakan rencana kita! " ucap Nyonya Retno sambil menunjuk ke arah Tata yang mendudukkan ibunya ke kursi roda.


"Kamu sudah bawa kan karung buat nutupin wajah tua bangka itu? " tanya Nyonya Retno kepada Dian.


"Sudah Tante! " jawab nya dengan mengangkat jempolnya.


"Dik, Dika! Ayo cepat! Si bodoh itu sedang menerima telepon! Ayo kita eksekusi sebelum di teriakin orang! " perintah Nyonya Retno dengan penuh semangat.


Dika dan Dian mengendap-endap mendekati Tata yang sedang menerima telepon dan sedikit berjarak dari posisi ibunya. Tanpa banyak komentar, Dika langsung menutup wajah ibunya Tata dengan karung yang di dalamnya sudah di kasih obat bius.


Ia lalu menggendong nya dengan Nyonya Retno sudah menunggu di depan mobil sewa dan membukakan pintu. Tata yang udah selesai menerima telepon langsung kaget melihat ibunya sudah di bawa dan di masukkan kedalam mobil dengan orang yang tidak di kenal.


"Tolong!! Tolong!! Ada yang menculik ibuku!! Tolong!! Tolong!! " teriak Tata sambil menangis meminta pertolongan.

__ADS_1


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...


__ADS_2