Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
Berbanding terbalik


__ADS_3

"Assalamualaikum Amirah, Aqila... Mamah pulang! " panggil seorang wanita saat membuka gubuknya yang hampir roboh.


Wanita itu membawa tubuh lelah nya masuk ke dalam gubuk yang tidak layak untuk di tinggali. Dinding dari triplek bekas yang banyak lubang-lubang nya, lantai tanah yang di tutupi karton bekas, tiang penyangga yang sudah miring tapi di sokong pakai kayu serta atap nya saja yang masih layak karena tidak bocor saat hujan turun.


Seorang anak perempuan terbaring di atas tikar usang dengan wajah pucat dan lemah.


"Kakak mana Nak? Kok kamu sendiri di rumah? Mamah mau masak nasi dulu ya, biar kita bisa makan malam sama-sama! " tanya wanita itu sembari melangkah ke belakang.


"Kakak pergi kerja Mah.. Katanya di suruh bantu Nek Ami tapi nanti di kasih upah! Aqila lapar Mah.. ! " jawab anak perempuan itu dengan suara lemah.


"Sabar ya Nak, Mamah masak dulu! " ucap wanita itu dengan nada bergetar.


Ia bergegas masak nasi karena tidak hanya perut anak nya yang lapar, tapi perut nya sendiri juga lapar.


Ia masak masih menggunakan tungku kayu bakar karena tidak punya kompor minyak atau gas. Setidaknya ia bersyukur tidak perlu repot-repot untuk beli minyak atau antri gas jika mau masak, meskipun harus menunggu lama agar masakannya matang.


Sambil menunggu nasi matang, wanita itu mengambil sebutir telur ayam kampung di atas wadah yang ia gantung. Beberapa hari yang lalu saat mencari kayu ia menemukan empat butir telur ayam di semak-semak. Ia langsung tahu jika telur itu adalah telur ayam kampung, bukan telur ular karena ukurannya.


Ia menggoreng telur tersebut dengan di dadar agar tampak banyak, tak lupa ia beri sedikit garam halus agar ada rasanya.


Setelah berkutat di dapur selama hampir satu jam, wanita itu membawa nasi panas yang di taruh di baskom sedang dan sepiring kecil telor dadar ke tengah anaknya yang masih berbaring.


Sang anak tersenyum melihat kepulan nasi tersebut dan perut nya semakin kencang berbunyi tanda ia sudah lapar sekali.


"Sabar ya, Mamah ambil piring dulu! " ucap wanita itu kembali ke belakang.


Tiba-tiba ada yang datang dengan mengucapkan salam dengan keras.


"Assalamualaikum Nada! Nada, kamu di rumah gak? Nada.. ! Assalamu'alaikum... " panggil seseorang itu dari luar.


Mendengar ada yang memanggilnya, wanita yang di panggil Nada bergegas pergi ke depan namun terlebih dahulu meletakkan piring plastik yang ia ambil tadi di dekat nasinya.


"Waalaikumsalam.. Eh Mbak Ulfa, ada apa ya Mbak! " jawab Nada dengan tersebut kecil.


"Lama amat sih jawab nya! Nih ada sedikit makan sisa arisan ku tadi! Sebenarnya malas mau ngasih ke sini, tapi emak ngotot suruh antar ke sini aja ya terpaksa lah! Nih ambil! Gak usah Terimakasih! Assalamu'alaikum! " ucap nya dengan nada ketus dan menyerahkan kantong kresek hitam dengan kasar ke tangan Nada.


"Terimakasih Mbak! " sahut Nada dengan nada getir.


Ia mengusap pelan dada nya yang nyeri di perlakukan seperti itu hanya karena ia orang miskin dan susah. Setelah menormalkan napasnya yang turun naik, Nada kembali memasuki gubuk nya dengan membawa kresek hitam pemberian Mbak Ulfa tadi.


"Apa itu Mah?? " tanya Aqila dengan nada lemah.


"Enggak tau! Soalnya belum Mamah buka! " jawab Nada dengan mengangkat bahu nya.


Ia duduk di dekat aqila dengan mengambil piring, menyendok kan nasi ke dalam piring dengan dua centong. Mengambil sepotong telur dadar yang sudah di bagi enam, menaruhnya ke dalam piring berisi nasi.


"Ayo Mamah bantu Qila duduk dulu dan kita makan sama-sama! " ucap Nada dengan membantu anaknya duduk bersandar kan bantal lusuh di susun agak tinggi.


"Mah, buka dulu kresek nya. Aqila mau tengok apa isi nya! " pinta Aqila dengan lirih.


Nada tidak menjawab tapi tangan nya langsung mengambil kresek yang ia letakkan di samping baskom nasi dan membukanya.


Dua bungkus roti ukuran sedang dan se plastik lontong ukuran setengah kilo serta sebungkus sedang kerupuk.


"Lontong Mah! Qila mau makan lontong aja! " pinta anaknya dengan senyum yang mengembang.


"Ya udah, Mamah ambil mangkok dulu! " jawab Nada sambil berdiri dan ke belakang mengambil mangkok.


"Tumben Mbak Ulfa ngasih lontong lengkap ada sayurnya! Biasanya kalau ngasih hanya kuah nya saja! " gumam Nada lirih saat mengambil mangkok.


Ia cepat-cepat ke tempat anaknya karena takut anaknya semakin kelaparan. Nada langsung menuangkan plastik lontong ke dalam mangkok. Baru akan menyuap kan nya kepada Aqila, terdengar ucapan salam dari luar.


"Assalamualaikum Qila... Kakak pulang! " ucapnya dengan membuka pintu gubuk mereka.

__ADS_1


"Mamah udah pulang! Kok cepat Mah! " katanya lagi sambil menutup pintu rapat-rapat.


"Hari ini Mamah lumayan dapatnya, jadi bisa pulang agak cepat sambil beli beras! Kamu bawa apa?? " jawab Nada sembari menyuap kan kembali lontong ke mulut Aqila.


"Di kasih gula sama minyak sama Nek Ami! Tadi Amirah bantuin cuci piring di warung nya Nek Ami, soalnya Mbak Nur izin kata Nek Ami anaknya sakit! " sahut Amirah seraya kebelakang menaruh plastik yang ia bawa dan menggantung nya.


"Ayo makan dulu sini! Mama suapi pakai lontong sama-sama Aqila! " panggil Nada pada anak sulung nya.


"Mirah udah makan tadi Mah! Lontong nya biar di abisin Aqila aja! Mirah gak papa kok! Tadi sebelum pulang di paksa nek Ami makan dulu! Mirah mau mandi dulu! " jawab Amirah dari belakang.


Ia mengambil handuk yang terbentang tali di belakang rumah. Berjalan menuju sumur untuk mandi yang jaraknya kira-kira 2 meter dari gubuk mereka.


Gubuk mereka dulunya adalah kandang sapi warga yaitu Pak Sabri. Karena sapinya mati terkena penyakit, kandang nya tidak di gunakan lagi. Dan karena kasihan melihat Nada dan anak-anak tidak punya tempat tinggal karena tidur di teras mushola kampung mereka.


Pak Sabri adalah salah satu warga di kampung tersebut yang peduli pada Nada dan anak-anak nya, selain Nek Ami dan Teh Yati anak nya Pak Sabri.


Sapi Pak Sabri waktu itu agak banyak, makanya kandang tersebut agak luas untuk mereka bertiga hingga bisa di sekat jadi dapur. Mereka menggunakan sumur Pak Sabri yang tidak terpakai karena Pak Sabri sudah punya pompa air dengan kamar mandi di dalam rumah.


Jarak rumah Pak Sabri dengan gubuk mereka kira-kira 200m. Meskipun Pak Sabri dan anaknya Teh Yati baik pada mereka bertiga, istrinya Pak Sabri justru memusuhi Nada karena ia menganggap Nada menggoda suaminya agar di beri izin tinggal di kandang bekas sapi mereka.


"Alhamdulillah abis! Udah kenyang belum?? " tanya Nada pada Aqila.


"Alhamdulilah udah Mah.. " jawab nya dengan tersenyum lebar.


"Ya sudah, Mamah makan dulu ya? " ucap Nada sembari memakan nasi yang tadi ia ambil untuk Aqila.


Ia makan dengan lahap meskipun lauknya hanya telur dadar di bagi enam. Ia mengambil lagi sepotong telur, karena anak-anak nya sudah makan.


Amirah yang selesai mandi, tersenyum sedih saat melihat Mamah nya makan dengan lahap meskipun hanya telur dadar tipis sebagai lauk nya.


Ia kembali kebelakang untuk mengambil kan Mamah nya minum.


"Ini Mah minum nya! Makan nya pelan-pelan Mah, nanti keselek ! " Amirah mengingatkan Mamah nya.


Amirah yang sudah mandi duduk di dekat adiknya dengan membawa kain basah.


"Ayo kakak lap dulu badan nya dik! Biar nanti tidurnya enakan dan gak gatal-gatal! " ucap Amirah yang telaten mengurus adiknya.


Aqila yang mengalami kecelakaan setahun yang lalu hanya bisa terbaring di pembaringan tanpa bisa melakukan apa-apa. Bocah lima tahun itu hanya bisa bicara pada Mamah dan kakaknya. Sedangkan Amirah yang baru berusia 8 tahun berubah menjadi dewasa sebelum waktu nya.


Melihat Amirah yang tidak mengeluh dalam merawat adiknya membuat sudut mata Nada mengalir cairan bening tanpa ia sadari. Ia cepat-cepat mengusapnya sebelum anaknya menyadari jika ia menangis. Ingin rasanya ia berteriak atas apa yang ia alami saat ini.


"Ya Allah, apa sebaiknya aku cari saja Ibu dan adiknya Bang Sandi? Setidaknya aku bisa minta bantuan untuk mengobati kaki Aqila! Tapi aku mau cari dimana ya Allah.. Selama ini Bang Sandi hanya bercerita jika Ibu dan adiknya ada di Pulau Sumatera, sedang kan aku dan anak-anak ada di pinggiran Jakarta. Bagaimana cara nya aku bisa menghubungi mereka? Kalau aku nekat ke Sumatera aku tidak punya uang untuk ongkos dan ditambah lagi aku tidak tau Sumatera nya itu di mana? Ya Allah... Bantu lah aku ! " gumam Nada dengan lirih sambil menengadah ke langit.


Nada Soraya, perempuan yatim piatu yang di per istri Sandi kakak tiri Tata saat di Malaysia 9 tahun lalu. Mereka sama-sama kerja di Johor meskipun di bidang yang berbeda.


Nada gadis perantauan yang ikut tetangga nya kerja di Malaysia sebagai Asisten rumah tangga dan Sandi sebagai staf di sebuah pabrik yang letaknya tidak jauh dari tempat ia bekerja.


Mereka sering bertemu karena Nada sering lewat di depan pabrik saat belanja ke pasar. Hanya dengan perkenalan singkat, mereka berdua menjalin kasih dan hanya dalam 5 bulan perkenalan mereka berdua menikah. Setelah menikah dua bulan, Sandi mengajak Nada menemui orang tua nya di Sumatera Utara karena ia baru mengatakan kepada orang tua nya jika ia sudah menikah.


Nada tidak sempat berbicara atau berkenalan lama dengan Ibu mertua nya karena Sandi hanya mengajak menginap semalam dan langsung pulang ke Johor dengan alasan tidak bisa izin lama-lama.


Itu lah pertama dan terakhir Nada bertemu Ibu mertuanya dan adik ipar nya hingga sekarang ini.


🌿🌿🌿


Kehidupan yang di alami Nada berbanding terbalik dengan kehidupan adik ipar nya yang hidup bergelimang harta dan banyaknya kasih sayang.


"Apa yang kau pikirkan sayang?? " tegur Dave yang pulang dari kantor melihat istrinya tampak melamun.


Tata yang mendengar suara sang suami langsung mendongakkan wajah nya menatap wajah tampan sang suami dengan penuh cinta.


Dave langsung duduk di samping sang istri dan menghadiahi luma tan lembut di bibir sang istri dan beberapa kecupan di perut buncit Tata.

__ADS_1


"Entah kenapa aku kepikiran terus Mas dengan anak-anak nya Bang Sandi? Sudah 2 hari aku meminta Angel untuk mencari di mana keponakan aku tinggal! Sebelum kita menggelar resepsi pernikahan, aku pernah menyuruh Angel mencari keberadaan Bang Sandi dan keluarga nya. Hanya saja Angel hanya mengetahui alamat mereka yang lama dan menurut informasi nya saat itu Bang Sandi dan keluarganya sudah pindah. " ucap Tata dengan nada gusar.


"Kalau begitu biar Mas bantu sayang! Mas punya kenalan detektif swasta yang kerjanya gak kaleng-kaleng. Kita bisa meminta nya untuk mencari keberadaan Bang Sandi dan keluarganya! Bagaimana? " usul Dave sambil merangkul bahu istrinya.


"Boleh deh Mas, semakin banyak yang mencari semakin bagus! " ucap Tata setuju.


"Oke, besok pagi Mas akan hubungi kenalan Mas itu! Sekarang ayo kita masuk ke kamar, sudah mau senja! " sahut Dave dengan posisi mau menggendong Tata.


"Naikkan ke kursi roda aja Mas! Aku itu beratnya udah 80 kg, ntar Mas semaput gendong aku naik tangga! " ucap Tata saat melihat Suaminya mengambil ancang-ancang akan menggendong nya.


"Halah, cuma 80 kg! 100kg aja Mas sanggup loh sayang! Percuma dong olahraga setiap hari kalau gak bisa gendong kamu ke atas! Udah, gak usah protes! Pegangan yang erat nya? " jawab Dave dengan enteng.


Hap... Dengan sekali angkat, Tata dan perut buncit nya yang gede banget berhasil ia angkat dengan gaya bridal style.


"Sus... Bawakan kursi roda Nona ke atas! " perintah Dave pada Suster Mila.


"Iya Mr... " jawab Suster Mila patuh.


Dalam gendongan suaminya, Tata menenggelamkan mukanya di ceruk leher sang suami. Menghirup dalam-dalam aroma keringat bercampur parfum sang suami yang sangat ia sukai. Semenjak hamil, ia sangat suka mencium aroma keringat sang suami yang tidak bau sama sekali. Meskipun terkadang Dave yang risih karena menurutnya itu sangat kotor.


"Nah, kita sudah sampai! " ucap Dave di depan pintu kamar mereka.


Ia langsung masuk karena Suster Sari sudah membuka pintu kamar lebar-lebar. Ia langsung meletakkan Tata dengan hati-hati di atas tempat tidur seperti porselen agar tidak pecah.


Suster Mila mendorong kursi roda Tata masuk ke dalam kamar dan menaruhnya di pojokan. Setelah itu mereka berdua keluar dari kamar Tata dengan langsung menutup pintunya.


"Mas mandi dulu ya sayang? Lepasin dulu pelukan nya! " ucap Dave karena Tata masih betah memeluk tubuhnya.


"Gak mau! Aku suka bau Mas.. Wangi ! " jawab Tata yang semakin erat memeluk tubuh suaminya.


"Wangi dari mana? Mas seharian di kantor sayangku? Mana ada wangi? Yang ada malah bau keringat! Kamu kok semenjak hamil betah banget cium bau keringat Mas! " ucap Dave dengan geleng-geleng kepala.


"Gak lah, pokoknya bau keringat Mas itu kayak bau parfum yang nenangin banget! Aku betah lama-lama peluk badan Mas! Kalau perlu Mas gak usah mandi sekalian! " sahut Tata dengan mendekatkan hidungnya ke dada Dave.


"Jangan dong sayang?? Mas nanti yang gerah karena gak mandi-mandi! Yang ada nanti Mas gak bisa tidur karena gatal-gatal! Mas mandi dulu ya sayang, nanti selesai mandi peluk aja deh sepuas nya! " ucap Dave sembari membujuk pelan-pelan.


"Ya udah deh, ntar abis mandi Tata peluk lagi! Si dedek kayaknya suka kalau aku peluk-peluk Mas! Buktinya mereka geraknya slow banget, meskipun kadang-kadang kencang kayak main bola! " jawab Tata akhirnya melepaskan pelukan pada tubuh suaminya.


"Hehehehe... Sebentar ya baby... Papi mandi dulu, nanti abis mandi kita pelukan lagi.. ! " ucap Dave berbicara di depan perut buncit Tata.


Sundulan dan tonjolan langsung ke luar saat Dave selesai bicara sehingga membuat Tata dan Dave cengengesan sama-sama karena respon bayi mereka.


"Buruan Mas mandi! Ntar mereka makin kencang geraknya, ngilu aku.. " ucap Tata sembari menyuruh suaminya cepat mandi.


"Iya sayang! " jawab Dave dengan melu mat bibir Tata sebelum masuk ke kamar mandi.


Tata geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang selalu nyosor tiba-tiba kapan pun ia mau.


Tiba-tiba saja ponsel nya yang di atas meja dekat tempat tidur berbunyi kencang. Dengan pelan dan susah payah, Tata bisa meraihnya dan menggeser tombol jawab.


"Ya Angel ada apa? Apa ada hasilnya? " tanya Tata langsung.


"Belum Kak, hanya saja aku perlu bicara langsung sama kakak untuk menyampaikan apa yang aku dapatkan! Susah untuk di bicarakan di telepon seperti ini! "


"Kalau begitu, besok datang ke rumah suamiku jam 10 pagi ! " perintah Tata pada Angel.


"Baik Kak.. ! "


Tata menutup ponselnya karena sudah di putuskan oleh Angel.


"Kira-kira apa ya yang akan di katakan Angel? " gumam Tata pelan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2