
Sekar berteriak histeris melihat Ajeng di dalam bathup dengan tangan berlumuran darah dan bibir serta wajah yang pucat. Di lantai tergeletak sebuah pisau cutter dengan darah yang berceceran, bahkan masih menetes dari pergelangan tangan Ajeng.
Kusno dan Parmin langsung masuk begitu mendengar suara jeritan dan teriakan majikan mereka dari dalam kamar anaknya. Mereka berdua menutup mulut mereka dengan wajah terkejut melihat Ajeng yang sudah tergeletak tidak berdaya di dalam bathup dengan pergelangan tangan penuh sayatan.
"Kenapa diam saja??? Ayo cepat angkat dan siap kan mobil?? " bentak Sekar dengan air mata yang mengalir di pipi nya kepada Kusno dan Parmin yang berdiri mematung karena shock.
"Eh iya Nyah... " jawab Kusno gelagapan dan langsung berlari ke arah bathup.
Sedangkan Parmin berlari keluar untuk menyiapkan mobil. Di lantai atas, Kusno menggendong Ajeng dengan Sekar menangis sembari memegang tangan Ajeng yang satunya lagi berjalan keluar dari kamar menyusuri tangga ke lantai bawah menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu depan.
Beberapa pelayan melihat keadaaan tersebut dengan berbisik-bisik secara sembunyi-sembunyi, tidak terkecuali dengan sang Bibik yang juga ikutan mengintip.
Kusno lalu meletakkan Ajeng di bangku belakang yang pintu sudah di buka Parmin. Sekar langsung masuk ke dalam mobil dengan pahanya memangku kepala Ajeng sambil terus menangis memanggil nama anaknya. Parmin langsung tancap gas tanpa di suruh ketika Kusno sudah masuk dan duduk di sebelahnya.
"Min, cepetan bawa mobilnya! Saya tidak perduli meski kita harus menerobos lampu merah! " teriak Sekar lagi dengan panik dan tangan yang gemetaran.
"Baik Nyah! " jawab Parmin mengangguk patuh.
Parmin pun menambah kecepatan mobilnya sehingga membuat pengemudi mobil yang lain mengumpat kesal karena mobil mereka melaju kencang dengan ugal-ugalan dan banyak dari mereka yang mengerem mendadak guna menghindari tabrakan beruntun.
Dalam waktu 20 menit, mereke tiba di rumah sakit swasta yang sangat bagus predikat nya di kalangan orang kelas atas atau pun para pejabat di daerah itu. Kusno yang baru turun langsung berteriak kepada para perawat yang di depan pintu UGD untuk mengambil brankar agar bisa meletakkan Ajeng di sana.
Begitu pintu mobil tengah di buka Kusno, seorang perawat pria langsung mengangkat Ajeng dan meletakkannya di atas brankar untuk di bawa langsung ke ruangan UGD.
"Saya mau kalian cepat menangani anak saya! Dan saya mau dokter terbaik dan fasilitas yang juga terbaik di rumah sakit ini! " ucap Sekar dengan nada memerintah dan angkuh kepada para perawat yang ikut membantu dokter jaga di ruangan UGD tersebut.
"Baik Nyonya! Tapi untuk saat ini anak Nyonya kami tangani dulu di ruangan ini sebelum terlambat di tangani! " jawab salah satu dokter jaga dengan agak jengah dengan sosok Sekar yang sok seperti seorang Bos.
"Silahkan Nyonya tunggu di luar dan hubungi keluarga yang lainnya ! " ucap dokter itu lagi dengan tangan menunjuk ke arah pintu.
Sekar keluar dari ruangan UGD tanpa banyak protes karena ia belum menghubungi suami dan anak-anak nya yang lain. Begitu Sekar keluar dari ruangan tersebut, para dokter dan perawat langsung menghela napas lega. Mereka mulai melakukan tugas mereka untuk menangani Ajeng yang sudah kehilangan banyak darah.
Sekar duduk di kursi tunggu dengan wajah frustasi dan make up yang sudah berantakan karena menangis. Kusno dan Parmin hanya berdiri tegak tidak jauh dari tempat Sekar duduk.
__ADS_1
"Kalian berdua pulang saja dan bilang pada bibik untuk mengemas baju-baju saya dan Sekar. Kalian antar lagi barang-barang itu ke sini ! Kalau Bapak pulang ke rumah dan kalian bertemu beliau, katakan kalau saya dan Ajeng menunggunya di rumah sakit! " perintah Sekar dengan nada putus asa dan kecewa.
Kusno dan Parmin langsung pergi dari tempat mereka berdiri tanpa berbicara lagi pada majikannya. Sekar menatap ponselnya dengan pandangan nanar dan bercampur aduk. Ia lalu mengutak-atik ponselnya mengirim pesan kepada seseorang yang mana langsung terdengar jawaban pesan masuk ke dalam ponsel Sekar. Perasaannya saat ini campur aduk, marah, sedih, kesal, kecewa dan sakit hati karena tidak satu pun panggilan telepon dan pesannya di baca oleh suaminya Galang.
"Keterlaluan kamu Mas! Anak kita sedang sekarat sekarang dan kamu gak bisa di hubungi sama sekali! Kamu benar-benar keterlaluan Galang! " gumam Sekar pelan dengan geram.
Disisi lain, Galang sedang menandatangani transaksi jual beli trenggiling dengan pembeli asing di sebuah dermaga yang tidak terpakai secara sembunyi-sembunyi. Setelah selesai tanda tangan, mereka pun saling berjabat tangan dengan wajah tersenyum bahagia.
"Terimakasih Mr. Galang dengan kerjasama ini! Saya benar-benar beruntung berbisnis dengan pria hebat seperti anda! Dan ini adalah uang milik anda! Kami permisi dulu! Sampai jumpa di kesempatan yang berikutnya! " ucap pembeli asing itu dalam bahasa Inggris begitu mereka berjabat tangan.
"Sama-sama Mr... Saya merasa tersanjung dan akan menantikan kerjasama kita berikutnya! " jawab Galang dengan sangat bahagia.
Transaksi selesai dan pembeli asing itu segera pergi dengan mobilnya setelah anak buahnya memasukkan beberapa kotak kayu ke dalam sebuah mobil box. Galang tersenyum bahagia melihat sekoper uang tunai yang tergeletak di depan nya sambil mengelus-elus uang tersebut dengan penuh cinta. Ia tidak tahu jika transaksi nya tersiar secara live di layar laptop Tata dan tersambung dengan Intel Tata di pihak kepolisian.
Tiba-tiba saja asisten atau tangan kanan Gilang mendekat dan memberitahu Galang kalau istrinya terus menerus menelponnya.
"Tuan, ini ponsel Anda! Nyonya Sekar terus-terusan menelpon anda dari tadi! Maaf jika saya tidak berani mengangkat panggilan tersebut! " ucap asisten Galang dengan nada datar.
Galang hanya berdehem dan menerima ponsel itu dari tangan asistennya tanpa mengalihkan pandangan nya dari uang di koper.
"Bima! Bawa semuanya ke tempat rahasia dan buruan antar saya ke rumah sakit xxx! " perintah Galang dengan berlari membawa koper berisi uang tunai masuk ke dalam mobil.
Bima yang di perintahkan langsung ambil kemudi dan membawa mobil keluar dari dermaga terbengkalai tersebut tanpa banyak bertanya. Ia membawa mobil dengan kecepatan tinggi karena Galang terus menerus menyuruh ia cepat.
"Ah sial! Kenapa HP nya juga tidak aktif begini sih! " maki Galang dengan kesal dan melemparkan HP nya ke dasbor mobil hingga pecah berantakan.
Ia berusaha menelpon balik Sekar, tapi nomor Sekar tidak terhubung dan hanya di jawab operator. Sekar mendengus kesal karena HP nya mati kehabisan baterai tidak lama setelah putra sulungnya menelpon dan berkata jika ia dan keluarganya sudah dalam perjalanan hendak ke Jakarta.
Galang sampai di rumah sakit setelah berkendara selama hampir 15 menit karena Bima membawa mobilnya ngebut. Ia langsung menyuruh Bima menyimpan uang transaksi tadi di tempat rahasia mereka yang hanya mereka berdua yang tahu. Setelah memberikan instruksi kepada Bima, Galang pun keluar dari mobil dan berlari masuk ke rumah sakit.
Dokter yang menangani Ajeng keluar dari ruang UGD dan berbicara dengan Sekar selalu orang tua Ajeng. Baru saja hendak berdiri dan berjalan mendekati dokter tersebut, Galang datang dengan langsung memanggil Sekar yang di jawab Sekar dengan wajah datar dan kesal.
"Tunggu dokter! Saya ayahnya! Saya juga ingin tahu apa yang terjadi dengan putri saya! " ucap Galang dengan napas yang masih ngos-ngosan karena berlari tadi.
__ADS_1
Sekar tampak menahan emosi dengan bersikap acuh tak acuh pada Galang suaminya. Mereka berdua mengikuti langkah dokter tersebut menuju sebuah ruangan yang di sinyalir sebagai ruang praktek dokter tersebut.
"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya! " pinta dokter yang bernama Fransiskus dengan ramah.
"Langsung saja dok! Bagaimana kondisi putri saya yang sebenarnya saat ini! " sahut Sekar dengan tidak sabaran.
"Baiklah kalau begitu! Tuan dan Nyonya, putri kalian saat ini berhasil kami selamatkan. Hanya saja saat ini kondisinya benar-benar rapuh dan mengkhawatirkan. Jika saat itu kalian terlambat membawanya selama satu atau dua jam lagi, dapat saya pastikan kalau putri kalian tidak akan selamat. Beruntung cepat di bawa ke rumah sakit walaupun juga masih kurang cepat karena putri kalian sudah kehilangan banyak darah. Saat ini kondisi putri kalian sudah lumayan baik dan kami akan terus memantau nya sampai benar-benar pulih. Maaf jika perkataan saya ini menyinggung perasaan kalian sebagai orang tua. Kalian harus membawa putri kalian ke psikiater untuk pemulihan mental dan psikisnya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi, karena tidak menutup kemungkinan kalau dia akan melakukan hal yang sama dengan berusaha mengakhiri hidup nya! " ucap dokter Fransiskus panjang lebar.
Sekar menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil menangis mendengar ucapan dokter tentang keadaan mental dan psikis Ajeng yang agak terganggu. Sesaat ia bernapas lega saat dokter mengatakan Ajeng baik-baik saja, tapi saat dokter menyarankan untuk ke psikiater ia tampak benar-benar shock dan terpukul.
"Anak saya tidak gila dokter! " bentak Galang marah dan tidak terima dengan saran dokter Fransiskus untuk membawa Ajeng ke psikiater.
"Apakah saya tadi mengatakan bahwa putri Tuan gila??? Tidak kan?? Saya hanya menyarankan sebagai seorang dokter dan anak Tuan butuh seorang psikiater untuk mengatasinya agar tidak nekad melakukan hal yang membahayakan dirinya bahkan bisa membuat nya mati terbunuh. Apa Tuan mau anak Tuan melakukan hal seperti ini lagi dan tidak beruntung untuk di selamat kan?? Saat ini yang dibutuhkan anak Tuan adalah psikiater dan dukungan orang-orang terdekat nya agar ia semangat kembali menjalani hidup dan tidak melakukan hal bodoh seperti ini lagi! Psikiater dapat membantu anak Tuan untuk mengontrol emosi dan keinginan untuk menyakiti dirinya sendiri. Itu hanya saran saya saja, kalau Tuan tidak mau ya tidak apa-apa! Tuan tanggung sendiri resikonya karena setiap perbuatan dan tindakan ada resikonya masing-masing! " jawab Dokter Fransiskus dengan nada kesal kepada Galang.
"Gak usah bikin masalah deh Mas! Kita bicarakan lagi di luar! " bisik Sekar dengan nada jengkel kepada suaminya.
"Terimakasih dokter atas sarannya! Akan kami pertimbangan kan karena kami akan berembuk dulu dengan kakak-kakak nya yang lain! Kami permisi keluar dokter! " ucap Sekar dengan wajah tidak enak sambil menarik tangan Galang agar keluar dari ruangan tersebut.
Begitu pintu ruang dokter sudah tertutup kembali, Sekar menghempaskan tangan Galang yang ia pegang dan melenggang pergi sendiri menuju kursi tunggu.
Galang mengejar langkah istrinya dengan wajah yang juga ikutan kesal.
"Kamu kenapa sih marah-marah gak jelas gitu! " sentak Galang dengan keras kepada Sekar.
"Apa kamu bilang Mas! Marah-marah gak jelas kata kamu! Pikir dong pakai ini kamu dong Mas! Kamu pikir aku gak panik, gak takut, gak kalut dengan apa yang menimpa Ajeng! Di saat aku butuh dukungan dan support seseorang, aku hanya berdiam diri tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan anak aku sendiri! Berkali-kali aku menghubungi kamu, chat kamu , tapi semuanya tidak ada satupun yang kamu gubris, kamu pedulikan! Yang di otak kamu itu hanya uang, uang dan uang! " bentak Sekar tidak kalah bringas dengan menunjuk pelipisnya.
"Aku minta maaf soal itu! Tapi kamu jangan menyalahkan aku juga dong! Seharusnya kan sebagai ibunya kamu mengawasi Ajeng dan tidak berbuat nekad seperti ini! Aku mencari uang juga untuk kalian juga! " jawab Galang yang tidak terima jika ia disalahkan Sekar.
Bersambung...
Bismillah Up lagi, semoga bisa istiqomah untuk Up setiap hari..
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...