
Beberapa jam kemudian..
Angel memberitahu Dave bahwasanya ibu mertua nya baru saja sadar dan mencari keberadaan Tata.
"Sayang, ayo kita ke kamar Ibuk! Ibuk cariin kamu kata Angel! " ajak Dave pada Tata yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya Mas, ayo! " jawab nya dengan wajah lega.
"Mami sama Papi udah di jalan ke sini! Ngomong apa sama mereka kalau tanya kenapa Ibuk bisa pingsan yank? " tanya Dave sembari memberitahu kedatangan orang tuanya.
"Mas kasih tau aja semuanya! Lagian kan Mami Papi berhak tau juga semua nya biar nanti gak ada yang agak gimana gitu kalau Ibuk dan aku ngurusin mereka! " jawab Tata santai.
"Kamu gak papa kalau Mas kasih tau semuanya?? Karena bagaimana pun juga itu kan aib keluarga kamu yank? " tanya Dave lagi agak ragu.
"Mas kasih tau Mami Papi aja! Bilang kan hanya mereka berdua yang tau dan berikan alasan yang bagus kalau ada pihak keluarga yang bertanya ada apa! Yang pasti rahasia ini hanya mereka berdua yang tau selain kita di sanggar tadi! " jawab Tata lagi.
"Oke deh kalau gitu! Cup.. " sahut Dave dengan mencuri sebuah kecupan di pipi sang istri.
Kamar rawat Ibuk hanya berjarak tiga buah kamar dari kamar rawat Tata dan terletak di ujung sebelah kiri sedangkan kamar khusus si kembar berjarak empat kamar dari kamar rawat Tata sebelah kanan lokasi paling ujung karena kamar Tata berada di tengah-tengah keduanya.
"Assalamu'alaikum.. " ucap Tata dan Dave saat membuka pintu kamar rawat tersebut.
"Waalaikumsalam... " jawab mereka di dalam termasuk Ibuk dengan suara lemah.
"Karena kakak udah datang, aku pamit dulu ya! Aku kembali ke markas cabang! " ucap Angel pelan di bagian terakhir saat di dekat Tata.
"Hati-hati kau di jalan! Selalu siap kalau aku panggil! " jawab Tata padanya.
"Oke Kak! " ucapnya lagi sambil pamit pada semua orang.
Tata mendekati bed Ibuk nya dan duduk di kursi singel yang memang di sediakan di sana.
"Ibuk gak papa kan?? Ibuk kenapa cari adek?? Apa ada yang sakit?? Kalau sakit Ibuk langsung bilang sama adek dan jangan di tahan! " tanya Tata seperti kereta api gak putus-putus.
"Satu-satu nanya nya adek??? Ibuk kan bingung mau jawab yang mana.. " jawab Ibuk dengan suara lemah.
Tata hanya terkekeh dengan berurai air mata menciumi wajah tua Ibuk nya. Ia mengusap punggung tangan sang Ibuk dengan perasaan haru melihat Ibuk nya sudah cerewet lagi. Baru ia menyadari wajah yang tampak keriput di titik tertentu pada perempuan yang paling ia cintai tampak begitu lelah.
"Maaf adek ya Buk, belum bisa bikin Ibuk bahagia?? " ucap nya lagi dengan nada sendu.
"Siapa yang bilang begitu?? Adek sudah banyak bikin Ibuk bahagia, pernikahan adek, hadirnya si kembar yang melebihi keinginan Ibuk, itu sangat lebih dari yang Ibuk bayangkan selama ini! Sekarang melihat adek dan cucu-cucu Ibuk bahagia itu menjadi kebahagiaan terbesar bagi Ibuk! " sahut Ibuk dengan jemarinya mengusap air mata Tata.
"Tapi ada cucu Ibuk yang lain belum bahagia Buk?? Ibuk punya dua cucu perempuan dari Bang Sandi! Hanya saja cucu kedua Ibuk sedang sakit saat ini! " ucap Tata memberitahu Ibuk nya.
"Cu-cucu perempuan??? " beo Ibuk dengan wajah terkejut.
"Iya Buk, dua cucu perempuan! " angguk Tata lagi.
"Alhamdulillah Ya Allah.. !! Dimana cucu Ibuk sekarang dek?? Apa yang terjadi pada cucu kedua Ibuk?? Sakit apa dia?? Ya Allah, Ibuk merasa gagal tidak tau keadaan cucu Ibuk yang lain selama ini! " ucap Ibuk dengan terisak-isak.
"Maaf adek Buk, adek terlambat mencari mereka hingga baru bisa ketemu sekarang! " sahut Tata juga sambil menangis.
"Cucu kedua Ibuk kecelakaan dua tahun lalu dan karena tidak punya biaya hanya di rawat di rumah saja tanpa di tangani dokter. Sekarang kata Mas Dave ia harus segera di operasi di Amerika yang peralatan dan dokter nya hebat. Kalau tidak dilakukan sekarang akan susah untuk sembuh dan berjalan seperti dulu! " tambah nya lagi dengan nada serak dan bahu naik turun.
"Allahu Akbar.. !! Malang nya cucu ku.. ! " ucap Ibuk sambil menangis.
Ibuk berusaha untuk duduk dan langsung di bantu Dave dengan memegang bahu Ibuk hingga duduk bersandar di dinding dengan ganjalan bantal oleh Dave.
"Adek sudah ketemu dengan kakak ipar mu dan cucu Ibuk?? " tanya Ibuk menatap Tata.
"Belum Buk, hanya saja Mas Dave menyuruh orang nya untuk membawa mereka ke apartemen Mas Dave! Rencana nya hari ini Tata akan meminta anak buah Tata membawa mereka ke sini! " jawab Tata jujur.
__ADS_1
"Jangan bawa mereka kesini, nanti keponakanmu tambah sakit karena kecapean! Biar Ibuk yang menemui mereka di sana! Adek di sini saja dan biarkan Ibuk yang duluan menemui mereka! " tolak Ibuk dengan gelengan kepalanya.
"Tapi Buk, Ibuk kan masih sakit?? " ucap Tata dengan nada khawatir.
"Gak papa kok dek! Sekarang mah Ibuk sudah sehat banget! Ibuk gak mau tunda-tunda lagi ketemu mereka! " sahut Ibuk dengan penuh semangat.
Tata hanya menghela napas nya melihat semangat sang Ibuk sembari melirik kearah sang suami yang di balas anggukan kepala sang suami padanya.
"Ya udah ka.. " jawab Tata terputus karena panggilan telepon suaminya.
"Ya Halo!! " ucap Dave pada orang yang menelponnya hingga ucapan Tata terputus.
Wajah Dave yang awalnya biasa saja tiba-tiba menjadi serius beberapa saat.
"Kami akan menunggunya di sini! " ucapnya lagi dengan langsung menutup ponselnya.
"Sayang, baru saja Tiger ngasih tau kalau keponakan mu mengalami kejang dan sekarang sedang di bawa Martin ke rumah sakit ini! " ucapnya begitu selesai menjawab telepon.
"Apa?? Astaghfirullah hal azim.. !! Tiger ngasih tau gak kenapa bisa kejang?? " pekik Tata sedikit keras dan langsung cemas.
Ibuk ikutan cemas dengan menggenggam tangan Mak Ijah mendengar kabar tersebut.
"Kata Tiger ia sempat demam kemarin dan udah enakan karena di rawat Martin sendiri di apartemen. Tapi katanya tiba-tiba saja tadi siang demam lagi hingga kejang seperti sekarang ini! Untung saja Martin dari kemarin selalu standby di apartemen karena belum yakin anak itu sembuh total. " jawab Dave sesuai perkataan Tiger di telepon.
"Ya Allah Jah, cemana dengan cucuku Jah?? Aku takut ia kenapa-napa!! " ucap Ibuk dengan sangat cemas dan takut.
"Ya sabar Nyah! Mudah-mudahan aja cucu Nyonyah gak apa-apa! Nyonyah gak boleh mikir yang jelek-jelek, mikir nya yang baik-baik aja biar nanti hasilnya juga baik! " sahut Mak Ijah menguatkan Ibuk.
"Terimakasih ya Jah.. Kamu selalu di samping aku saat aku takut begini! Sudah cukup selama ini aku tidak tau tentang mereka, sekarang aku tidak mau lagi jauh dari mereka! " ucap Ibuk dengan menyeka air mata nya.
"Mas ke bawah dulu ya Dek, kamu di sini aja temani Ibuk! Nanti kalau sudah tau kondisinya Mas akan kasih tau kamu! " ucap Dave dengan menyentuh pipi Tata.
Tata mengangguk paham dan Dave pun segera keluar dari ruang rawat mertuanya untuk menunggu keponakan Tata yang masih di jalan menuju ke rumah sakit ini.
Nada menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Aqila yang kejang-kejang hingga bola matanya memutih. Amirah ikut menangis di bangku depan karena Martin saat ini sedang menyetir mobil dengan ugal-ugalan.
"Jangan lepaskan kain itu dari mulut Aqila Nada! Kain itu harus tetap menahan di sana agar gigi nya tidak tertutup rapat! " perintah Martin dengan tegas pada Nada.
"Iya, ini masih aku tahan karena tadi hampir saja terlepas! " jawab Nada tanpa menyadari jika Martin memanggil nama nya tanpa embel-embel Nyonya.
"Om, apakah Aqila baik-baik saja?? " tanya Amirah dengan suara serak karena menangis.
"Tentu saja! Sekarang kamu doakan adik kamu agar cepat sehat dan bisa bermain lagi nanti! " jawab Martin dengan mata fokus ke depan.
Sedangkan Nada terus menangis sambil memeluk erat tubuh Aqila dalam pangkuannya. Tak lama kemudian mobil yang Martin kendarai memasuki pelataran rumah sakit yang di depan pintu IGD sudah bersiap dokter dan petugas lainnya menunggu kedatangan mereka.
Seorang perawat pria dan wanita berlari mendekati mobil Martin karena ia berhenti tepat di depan pintu masuk dengan membawa bed pasien. Martin membuka pintu mobil dan menggendong tubuh Aqila menaikkannya ke atas bed pasien.
"Ayo-ayo cepat bawa ke sini! " teriak seorang wanita berjas Dokter kepada mereka.
Begitu keluar dari mobil Nada yang menyadari banyaknya orang yang lalu lalang menjadi gemetar ketakutan dan langsung memegang erat tangan Martin.
Tidak berapa lama kemudian Dave datang menghampiri mereka bersama dengan Tiger yang rupanya sudah duluan sampai ke rumah sakit dari mereka. Tidak hanya Dave, Arkan kemudian datang dengan napas tersengal-sengal karena berlari dari parkiran ke ruang IGD.
Tubuh Nada semakin bergetar hebat dengan wajah yang mulai panik serta berkeringat dingin melihat Dave dan Arkan yang baru ia lihat mendekati ia dan Martin. Amirah yang bingung hanya ikut saja berjalan di belakang Nada dan Martin.
"Bagaimana keadaan nya Martin?? " tanya Dave tanpa basa basi.
"Kalau pendapat saya kejang nya timbul karena demam nya yang tiba-tiba naik padahal sebelum nya panasnya sudah turun! Itu sebenarnya reaksi yang wajar jika tubuh terlampau panas melebihi 39°-40°celcius. Mudah-mudahan jika di tangani dengan cepat oleh ahlinya tidak akan merambat ke organ tubuh yang lain. " jawab Martin dengan hipotesa nya sebagai dokter bedah umum.
"Semoga saja! " ucap Dave singkat.
__ADS_1
Suara berat dan tegas Dave membuat kondisi Nada semakin buruk dengan di tambahnya bayangan saat ia di siksa Datuk Rajo Saleh dengan anak-anak nya yang menyuruhnya memanggil mereka Tuan.
"Mas... " panggil Tata dengan lembut dari belakang bersama sang Ibuk berjalan mendekati Dave.
"Loh sayang.. ! Kenapa kemari?? Bawa Ibuk lagi?? " sahut Dave dengan hangat menyambut mereka.
"Ibuk ngotot mau ke sini Mas, jadi aku temani aja! " jawab Tata dengan tersenyum manis.
Kehadiran Tata menambah panik nya Nada di tambah lagi matanya tidak sengaja melihat mata Ibuk yang menatapnya lekat tanpa berkedip penuh dengan sebuah makna.
Tiba-tiba saja pegangan tangan Nada pada lengan Martin terlepas dengan ia berteriak-teriak sambil menutup telinganya.
"Jangan.. !! Jangan mendekat!! Saya mohon hentikan semuanya!! Jangan sakiti saya!! Jangan sakiti anak-anak saya!! Saya mohon Tuan ampuni saya!! Hentikan semuanya!! Saya mohon!! " jerit nya dengan jongkok di lantai menutup kedua kupingnya.
Reaksi Nada membuat kaget semuanya orang terlebih lagi dengan Tata dan Ibuk yang melihat nya langsung.
Martin yang paham akan trauma Nada berusaha menyentuh Nada namun di tepis oleh nya karena ia masih dalam pengaruh trauma. Para perawat langsung datang mendekat namun di larang Dave dengan mata tajam nya.
"Nada.. !! Tenang lah, ini aku Martin!! Nada!! " panggil Martin tanpa menyentuhnya.
"Pergi sana pergi!! Jangan dekati saya, pergi!! Aku kotor! Aku kotor!! Aku kotor!! Hu... Hu... Hu... ! Aku kotor!! Bajingan itu membuat tubuhku kotor!! Aku kotor!! " teriaknya dengan histeris seraya memukuli tubuhnya sendiri.
Amirah menangis melihat Mamahnya berteriak dan menjerit seperti orang kesurupan. Ia tidak pernah melihat Mamah nya dengan keadaan seperti itu. Ibuk dan Tata menangis sambil berpelukan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana psikis Nada terganggu karena kejadian itu.
"Nada... ! " pekik Martin saat melihat tubuh Nada ambruk di lantai setelah ia memukuli tubuhnya.
"Bawa ke kamar Ibuk aja biar di tangani Dokter di sana! " ucap Ibuk tiba-tiba saat Martin menggendong tubuh Nada.
Dave mengangguk saat Tata menatap matanya mendengar ucapan Ibuk.
"Arkan! Panggil dokter yang paham masalah ini dan bawa ke ruangan mertua ku di nomor 305 lantai 5! Bawa secepatnya! " perintah Dave dengan tegas pada Arkan.
"Tiger! Kau berjaga di sini kalau Dokter nanti keluar ! " perintahnya pada Tiger dengan di angguki nya.
Melihat anak perempuan memakai hijab dengan mata sembab dan hidung yang merah berdiri dengan wajah cemas membuat Tata berjalan perlahan mendekatinya.
"Halo sayang! Siapa namamu Nak?? " tanya Tata dengan lembut seraya membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Ha-halo Aunty.. ! Aku Amirah! Apa Mamah ku sakit kayak Aqila?? " jawab nya dengan agak takut-takut.
"Hai Amirah! Ya, aku memang Aunty mu, adik ayah mu! " ucap Tata dengan tersenyum lebar.
"Adik ayah??? " tanya nya lagi membeo.
"Iya.. " jawab Tata dengan mengangguk pelan untuk meyakinkan nya.
"Huwaaaa.... Amirah punya Aunty!!! Amirah gak sendiri lagi di sini!! " ucapnya sambil menangis histeris.
"Oh sayang.... " sahut Tata dengan merengkuh tubuh kecil Amirah ke dalam pelukannya.
Amirah semakin histeris berada dalam pelukan Tata. Ia bahkan mengeratkan pelukannya pada tubuh Tata. Mereka hanya berdua di lorong itu karena Ibuk sudah pergi ke kamar nya bersama Dave saat Nada dibawa Martin ke lantai 5.
Tata mengusap lembut kepala Amirah yang tingginya sudah sebatas dadanya. Amirah melepaskan pelukannya setelah tangisannya reda.
"Aunty.. !! Dimana Papah?? Kenapa ayah tidak pernah pulang dan mencari kami?? Papah juga tidak pernah menjenguk kami saat kami di rumah Tuanku Datuk! Apa Papah tidak sayang pada Amirah dan Aqila?? Apa Papah tidak pernah menginginkan kehadiran kami?? " tanya Amirah dengan beruntun kepada Tata.
"Oh sayang ku.. !! Kenapa kau bertanya seperti itu?? Tidak ada seorang ayah yang tidak menginginkan kehadiran anaknya!! Papah Amirah bukan orang seperti itu sayang!! " jawab Tata dengan wajah prihatin.
"Benarkah?? Tapi dulu Amirah pernah dengar Papah dan Mamah bertengkar, kata Papah kehadiran Amirah dan Aqila kesalahan terbesar Papah dan Papah benci semua itu! Apakah itu benar Aunty?? " tanya nya dengan penuh luka.
Tata langsung membawa tubuh Amirah ke dalam pelukannya dengan menahan tangis saat mendengar luka dari perkataan keponakan nya itu.
__ADS_1
"Keterlaluan kau Bang! Bagaimana bisa kau menolak dan membenci darah daging mu sendiri!! Kau benar-benar tidak punya hati! Kau melukai hati anak mu sendiri dengan perkataan jahat mu! Ya Allah, malang nya nasib mu Nak! " batin Tata menangis dalam hati.
Bersambung...