
Sepulangnya dari Bali, Abeth langsung menemui Tata di kamarnya untuk meminta maaf. Belum sempat bibirnya berkata, Tata duluan berbicara meminta maaf pada nya.
"Kakak udah pulang? Kenapa lama kali kakak di Bali? Tata kangen tau gak ada kakak di rumah! Di rumah sepi karena gak ada kakak, Mami selalu sibuk, Ibuk juga, Eyang juga, GrandMa juga ikutan sibuk! Gak ada yang temani Tata makan di taman kalau siang-siang! Tata minta maaf ya Kak, jika kehamilan Tata menyakiti hati dan perasaan kakak! Tata minta maaf karena jujur saja Tata gak pernah berencana hamil secepat ini! Maaf ya Kak! " ucap Tata panjang lebar sambil duduk di tempat tidur nya.
Abeth yang ingin berkata langsung menangis dan berlari naik ke atas tempat tidur memeluk Tata. Ia menangis sejadi-jadinya karena sudah iri tidak jelas pada adik ipar nya ini. Ia merasa malu karena sudah membiarkan penyakit hati itu bersarang sebentar di hatinya.
Tata yang langsung paham perasaan kakak ipar nya hanya diam saja, ia hanya mengusap punggung kakak ipar nya untuk menenangkan sang kakak.
Setelah puas menangis, Abeth melepaskan pelukan nya. Ia menghapus air matanya dengan bajunya, dan juga ingus nya juga dengan baju hingga membuat Tata langsung sewot.
"Kakak ih jorok banget! Aku gak mau dekat-dekat kakak yang jorok! Ganti sana bajunya! " ucap Tata ketus yang langsung on mode kebersihan nya.
"Bodo! Kalau kamu gak mau dekat, kakak yang akan dekat kamu! Sedang hamil aja bersih nya, ntar kalau udah lahiran balik lagi jorok nya! " jawab Abeth tidak tersinggung sama sekali dengan wajah santai.
"Ih.. Kakak jauh-jauh sana! Aku geli dekat orang yang jorok-jorok! Mami... Eyang... ! Bawa kakak pergi dari sini! " teriak Tata kencang dengan mendorong tubuh Abeth agar menjauhinya.
Bukan nya marah, Abeth tergelak kencang saat tangan Tata berusaha mendorong nya agar turun dari tempat tidur.
Mami Sita dan GrandMa langsung datang untuk melihat apakah gerangan Tata sampai menjerit seperti itu. Suster Sari dan Suster Mila ikutan masuk saat mendengar teriakan Tata.
"Ada apa sayang! Kenapa kamu teriak-teriak? " tanya Mami agak cemas.
"Iya sayang, ada apa? " tanya GrandMa juga ikut cemas.
"Bawa kakak pergi dari kamar Tata GrandMa! Kakak jorok! Tata gak mau dekat yang jorok-jorok! Masa kakak lap ingus nya di baju, kan jorok banget! " rengek Tata pada GrandMa dengan mengangkat bahunya jijik.
Mami Sita tepuk jidat dan memberikan pelototan pada anak perempuan nya. GrandMa hanya geleng-geleng kepala melihat Abeth menjahili adik nya yang memang lagi dalam mode kebersihan tingkat tinggi.
"Iya, iya.. Aku keluar! Tapi aku nanti balik lagi ke sini! " jawab Abeth menyerah saat bola mata Mami nya hampir saja keluar dari sarang nya.
Ia berjalan mendekati Mami Sita yang berdiri di dekat Tata dan secepat kilat Abeth mendaratkan ciuman pada pipi Tata dan berlari secepat kilat saat mendengar teriakan panjang Tata yang merengek karena ia merasa jijik.
"Kakaaaaakkkkkk... " teriak Tata dengan suara hendak menangis saking jijik nya pada hidung Abeth.
"Astaga itu anak! Sejak kapan ia jail begitu pada adiknya! Perasaan dari kecil yang jail cuma Dave doang! " ucap Mami Sita memijit kening nya yang tiba-tiba pusing dengan ulah anaknya.
Tata yang menangis di pelukan GrandMa akhirnya berhenti menangis saat GrandMa membujuknya untuk mandi lagi supaya bekas ciuman Abeth menghilang.
Tata mandi lagi untuk yang ketiga kalinya karena sebelum Abeth masuk ke dalam kamar, ia baru selesai mandi karena gak sengaja pipis sedikit di celana saat muntah-muntah di kamar mandi.
Begitulah keadaan Tata saat hamil si kembar, kadang ia menjadi singa ganas, kadang ia menjadi pengidap odc yang gila kebersihan, kadang ia menjadi sensitif mudah tersinggung, kadang ia menjadi dirinya yang asli dan terkadang ia menjadi pribadi yang angkuh dan sombong.
Lika liku yang ia alami hingga usia kandungan nya memasuki bulan ke enam. Perut nya sudah seperti orang hamil 9 bulan. Ia tidak bisa lagi bergerak bebas ke sana kemari karena untuk berdiri aja ia sudah tidak bisa jika tidak di bantu.
"Mami... ! Tata lapar! " panggil Tata yang lagi duduk di kursi roda khusus di belikan GrandFa di taman samping.
"Iya sayang, mau makan apa? " tanya Mami Sita.
"Mau pisang goreng Mami! Tapi mau nya Bagas sama Bisma yang goreng! Pisang nya yang kayak pisang goreng kipas yang di jual-jual itu Mi! " jawab Tata lagi dengan menelan air liur nya.
"Oke, Mami akan bilang sama Dave biar Dave yang menjemput Bagas dan Bisma biar mereka datang ke sini! " ucap Mami Sita dengan tersenyum geli.
Mami Sita langsung menelpon Dave untuk membawa Bagas dan Bisma yang masih di kampus ke rumah mereka.
Dave yang menjawab panggilan Mami nya hanya menghela napas kasar mendengar keinginan aneh istrinya.
"Kenapa muka mu Bos?? Kusut gitu? " tanya Arkan melihat wajah Dave yang tiba-tiba kusut kayak lipatan kertas.
"Tata ngidam makan goreng kipas kayak yang di jual-jual itu! " jawab Dave sembari berdiri.
"Ya udah beliin aja! Jam segini pasti udah ada yang jual! " ucap Arkan santai.
"Masalahnya, Tata pengen makan pisang goreng kipas dengan Bagas dan Bisma yang goreng nya! Bisa hancur dunia persilatan kalau dua curut itu masak pisang goreng. Masak air aja gak bisa, apalagi masak pisang goreng, pisang goreng kipas lagi! " jawab Dave menghela napas dalam-dalam.
"Hahahaha..... Pintar banget anak-anak Lo ngerjain Om nya! Hahahaha... " Arkan tergelak kencang sambil memegang perut nya.
"Aku mau keluar dulu! Kalau ada yang penting telpon aja! " ucap Dave dengan memakai kembali jas nya.
"Mau kemana?? " tanya Arkan
"Mau jemput duo curut ke kampus mereka! Mami bilang suruh cepat-cepat ! " jawab Dave sambil menutup pintu ruangan nya.
Ia langsung masuk ke dalam lift khusus Presdir dan langsung berjalan di lobi menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan pintu masuk perusahaan Ryder.
Dave memutuskan untuk menyetir sendiri mobilnya, ia membelah jalanan Ibu kota menuju kampus ternama untuk menjemput dua sepupu nya yang menjadi mahasiswa di sana.
Saat ia turun dari mobilnya, semua mata melihat nya dengan tatapan lapar, maklum saja jika ada laki-laki tampan, gagah dan mempunyai tubuh idola kaum hawa, maka laki-laki tersebut siap-siap menjadi santapan lapar mata para wanita.
__ADS_1
"Permisi, dimana fakultas hukum berada? Aku ingin mencari laki-laki ini! " tanya Dave pada segerombolan mahasiswa yang sedang bercanda di depan bangunan yang di sebut Auditorium kampus.
"Saya tidak kenal Mr. Hei, apa ada diantara kalian mengenal pria yang di foto ini! " jawab salah satu dari mereka sambil berteriak pada teman-teman nya.
Satu, dua, tiga dan empat orang menggelengkan kepala karena tidak mengenal Bisma, tapi yang terakhir menyahut sering melihat wajah pria itu.
"Aku sering lihat pria itu di lab Sains! Coba saja cari ke sana, lab nya di ujung gedung sana yang paling ujung! " jawab seorang wanita sambil mengunyah snack nya.
Tanpa mengucapkan terimakasih, Dave langsung pergi ke gedung yang di tunjukkan mahasiswi tadi.
"Ya elah, sombong amat itu Bule! Gue kirain tadi ngomong pakai bahasa Inggris, eh gak tau nya bahasa Indonesia! Mentang-mentang tampan! " ucap salah satu mahasiswa tadi mendengus kesal.
"Wajar lah dia sombong Bambang! Dari pakaian nya aja kelihatan kalau itu Bule orang kaya, lah kalau elu... Apa yang elu sombongin? Ganteng kagak, pintar juga kagak, kere yang iya! " jawab temannya santai dengan di sambut gelak tawa temannya yang lain.
"Kampret lu.. ! Nama gue Dion, bukan Bambang! " balas ia dengan menoyor kesal kepala temannya.
Keberuntungan di pihak Dave, saat ia mau masuk, Bisma keluar dari lab tersebut dan menatap Dave dengan heran.
"Mau ngapain Mas kesini? Gak pantas lagi Mas mau kuliah lagi di sini! " tanya Bisma dengan menautkan alisnya.
"Ikut ke rumah, tapi kita harus cari Bagas dulu! Dimana dia? " jawab Dave dengan datar.
"Palingan di kantin, godain cewek-cewek yang gak ada otak! " ucap Bisma agak malas.
"Tunjukan jalan nya ke mana! " perintah Dave tanpa bisa di bantah.
Bisma berjalan sambil menggerutu kesal karena di suruh manggil sepupu nya yang doyan menggoda perempuan yang bening dikit aja, kalau sapi di dandani pasti sepupu nya itu doyan juga merayu nya.
Begitu sampai di kantin yang ditunjuk Bisma, Dave langsung masuk tanpa menghiraukan tatapan kagum para mahasiswa yang ada di kantin tersebut termasuk perempuan yang duduk satu meja dengan Bagas.
Bagas yang kaget melihat kedatangan kakak sepupu nya hendak bicara namun sudah keduluan Dave.
"Ikut aku pulang kalau masih ingin selamat anggota badan! " perintah Dave dengan suara dingin.
"I-iya Mas... ! " jawab Bagas ketakutan dan langsung menyambar tas ransel nya yang di taruh di belakang kursinya.
Ia berjalan membuntuti Dave dan kaget jika ada sepupu nya yang lain yaitu Bisma.
"Eh Mas, ngapain itu Bule bawa kita ke rumah nya? " tanya Bagas berbisik pada Bisma.
"Apes amat punya sepupu irit ngomong ! Kuliah juga masih ada satu lagi, tapi kalau di tolak bisa keluar taring nya! " keluh Bagas sembari tetap mengikuti langkah kakak sepupunya yang berjalan entah kemana.
"Mau semobil sama aku atau ada kendaraan lain? " tanya Dave begitu mereka sudah sampai di depan mobil mewahnya.
"Ikut Mas aja, aku tadi di antar Papa! "
"Aku bawa motor! "
"Buruan masuk! Kita udah di kejar waktu! " ucap Dave menyuruh Bagas cepetan masuk ke dalam mobil.
"Lagaknya Playboy tapi masih di antar bokap! " sindir Dave mengejek adik sepupu nya itu.
"Siapa yang Playboy? Aku cuma bersikap ramah aja! " jawab Bagas berkilah.
"Cih, gak mau ngaku! " cibir Dave lagi sembari menyetir mobil.
Bagas mendengus kesal dengan cibiran kakak sepupunya, ia mengalihkan pandangan nya melihat ke arah luar.
"Sebenarnya aku sama Mas Bisma mau ngapain sih Mas pakai di jemput segala? Kayak anak TK aja di jemput pulang! " tanya Bagas dengan heran.
"Nanti juga kamu tau sendiri! " jawab Dave yang membuat Bagas semakin dongkol karena itu bukan jawaban.
Selama perjalanan Bagas memutuskan untuk diam saja, karena ia tahu pertanyaannya tidak akan di jawab Dave.
Bisma sudah sampai duluan dengan motor gede nya di kediaman Ryder. Ia menunggu Dave sembari duduk santai di atas motor nya.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Dave memasuki halaman rumah dan langsung menuju parkiran.
"Buruan keluar! Kalau kelamaan nanti kakak ipar kamu marah! " ucap Dave saat melepaskan seatbelt nya.
Bagas yang masih bingung menurut aja perkataan Dave. Ia langsung keluar dari mobil dan berjalan dengan malas menuju pintu utama barengan dengan Bisma.
"Ayo cepat! Lelet amat jalan nya! Langsung ke dapur saja! " tegur Dave sambil berjalan mendahului mereka berdua.
"Lah, ngapain ke dapur?? " tanya Bagas dengan bingung.
"Mami,,,Eyang.., Bagas sama Bisma sudah datang! " ucap Dave saat memasuki dapur.
__ADS_1
Tampak Eyang Uti, Mami Sita, Ibuk, dan GrandMa duduk santai sambil menikmati teh di meja yang tidak jauh dari dapur.
"Alhamdulillah kalian berdua udah datang! Ayo buruan ke sini! Tata udah gak sabar lagi! " ucap Mami Sita dengan girang.
Bagas dan Bisma dengan patuh mendekat dan menyalami mereka semua satu persatu.
"Emang ada apa sih Bumi, Eyang, kami berdua di panggil ke sini? Bagas masih ada lagi satu mata kuliah Eyang?? " tanya Bagas dengan bingung.
Bisma tidak bertanya seperti Bagas karena semua nya sudah di wakilkan oleh Bagas pertanyaan nya.
"Emangnya Mas mu gak cerita apa tujuannya bawa kalian berdua ke sini?? " tanya Eyang Uti bertanya balik.
Mereka berdua kompak menggelengkan kepala mereka. Mami Sita tersenyum geli karena keponakan nya di bohongi sang putra, mungkin jika keponakan nya tahu mereka bakalan kabur dan gak mau datang ke rumahnya.
"Kak Tata pengen makan pisang goreng kipas kayak yang di jual-jual itu... Tapi ia mau nya kalian berdua yang menggoreng pisang itu?? Kalian berdua mau kan mengabulkan permintaan ngidam kakak ipar kalian?? " tanya Eyang Uti lembut tapi dengan nada tegas tanpa bisa di tolak.
Bruk
Suara benda jatuh, dan ternyata tas ransel Bisma jatuh barengan dengan Bagas yang langsung lemas dan jatuh di lantai.
Abeth yang mendorong kursi roda Tata tergelak kencang saat masuk ke dapur melihat Bagas langsung terduduk di lantai.
"Hua.... Mas Dave nyebelin!!! Bini nya yang ngidam kenapa aku yang repot?? " teriak Bagas tidak terima.
"Eyang... ??? Masa Eyang tega nyuruh cucu Eyang yang paling tampan ini masak pisang goreng?? Mana pisangnya kayak kipas lagi? Mana aku bisa Eyang??? Hidupkan kompor aja aku gak bisa, apalagi goreng pisang, Eyang?? " rengek Bagas dengan menarik ujung jarik Eyang nya dengan mimik wajah mau menangis.
"Iya Eyang, selama 20 tahun hidup aku gak pernah hidup kan kompor, apalagi masak! " ucap Bisma akhirnya bersuara juga.
"Itu bukan Eyang yang suruh, tapi memang permintaan kakak ipar kalian ! Tuh lihat, emang nya kalian berdua tega lihat wajah sedih kakak kalian itu?? " sahut Eyang Uti dengan menunjuk wajah Tata yang agak meringis.
Mereka berdua sontak menoleh ke arah Tata yang duduk di kursi roda dengan perut buncit dengan muka meringis.
"Loh, bukannya baru 6 bulan?? Kenapa jadi segede gini?? Kayak hamil 9 bulan! " komen Bagas agak kaget dengan perut Tata.
Pletak
"Gak usah pura-pura bego! Nama nya juga kembar enam, ya gede lah perutnya! " jawab Dave sambil menyentil kening adik sepupunya itu.
"Adawww... Lupa aku Mas! Kak, beneran pengen makan pisang goreng yang aku dan Mas Bisma goreng?? " ucap Bagas sembari bertanya pada Tata dengan memegang perut Tata.
Tata mengangguk pelan karena perut agak sedikit ngilu. Bagas yang menyentuh perut Tata tersentak kaget saat merasakan gerakan di dalam perut Tata.
"Dia gerak! Eyang... Kecebong nya Mas Dave bergerak! " teriak Bagas antusias.
"Bukan kecebong lagi itu Njir.. Tapi udah jadi manusia! Kayak nya mereka bergerak karena niat banget mau ngerjain kita! " sungut Bisma akhirnya bicara panjang lebar.
"Alhamdulillah... Aku kira Mas irit gak bisa bicara banyak! Ternyata bisa juga! " ucap Bagas meledek Bisma.
Bisma mendengus keki dan ia setuju menggoreng pisang tapi minta di bantu Mbok Nah. Tata menyetujui nya yang penting mereka berdua menggoreng pisang tersebut seperti yang di jual di luaran sana.
"Eits... Tunggu dulu! Aku pengen kalian berdua pakai ini ! Ayo Kak, berikan pada mereka berdua! " cegat Tata dengan meminta Abeth memberikan sesuatu pada mereka berdua.
Abeth memberikan plastik hitam di balik punggung nya pada Bisma. Saat ia membuka isi plastik tersebut, Bisma dan Bagas kompak kaget dan Bagas protes keras.
"Kak,.. ! Kakak itu ngidam apa mau ngerjain kita berdua sih?? Niat amat sampai beliin kita rok balet kayak gini?? Mana warna nya pink lagi?? " teriak Bagas dengan wajah frustasi pada Tata.
Tata yang awalnya begitu bahagia membayangkan Bagas dan Bisma menggoreng pisang dengan memakai rok balet mendadak sedih dan sakit hati dengan teriakan Bagas pada nya.
Tata langsung menangis kencang dengan bahu naik turun yang langsung membuat Dave naik pitam dengan berteriak keras pada Bagas.
"Raden Bagas Bimantara.. !! Berani sekali kau membuat istri ku menangis?? " teriak Dave tidak kalah kencang dari suara tangisan Tata.
"Maaf Kak, maaf! Iya iya, aku akan pakai rok nya kok! Nih, udah di pakaikan! Jangan nangis lagi dong?? " ucap Bagas langsung ciut saat melihat wajah gelap Dave dan merayu Tata agar diam.
Tata masih menangis dengan di peluk Abeth dari samping. Ia masih sakit hati dan ia menangis sambil memegang perut nya.
"Kak, jangan nangis lagi ya! Aku dan Bagas bakalan goreng pisang kipas seperti yang kakak mau! Tapi jangan nangis ya?? Nih lihat, aku juga udah pakai rok nya! " akhirnya Bisma yang bicara dengan jongkok di depan kursi roda Tata.
Tata seketika menghentikan tangisan nya. Ia mengusap air mata di pipi nya sembari menoleh kan kepala nya ke arah Bagas.
Senyum nya terbit melihat Bisma begitu tampan memakai rok balet berwarna pink, dan saat ia melihat ke arah Bagas, Tata tertawa terbahak-bahak melihat Bagas sedikit lucu memakai rok balet tersebut dengan badannya yang tinggi itu.
"Cih, giliran Mas-Mas yang selalu irit kalau ngomong, langsung pada berhenti nangis nya! Awas ya kalau kurcaci itu pada lahir, akan aku buat perhitungan nanti sama mereka berenam karena udah ngerjain aku pakai rok beginian! " rutuk Bagas menggerutu pelan.
Alhasil mereka berdua di bantu Mbok Nah dalam melakukan nya. Mulai dari mengupas pisang, mengirisnya agar menyerupai kipas, membuat adonan tepung hingga menggoreng nya. Semua di yang dilakukan Bagas dan Bisma sengaja di rekam oleh Mami Sita, ia akan menunjukkan rekaman tersebut pada kakak-kakak nya di grup WA kakak beradik tersebut.
Bersambung...
__ADS_1