Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
69. Membeli panti asuhan


__ADS_3

Setelah bertemu sebentar dengan Dian, Tata kembali ke mobilnya dengan perasaan lega. Ia melajukan mobilnya menuju panti asuhan yang akan ia beli sambil menjenguk kondisi anak-anaknya Dian.


"Hallo Bontot! Datang ke panti asuhan di daerah xxx jalan 21 sekarang juga! " ucap Tata ketika menghubungi Sandra melalui sambungan ponselnya.


Ia langsung mematikan panggilannya sebelum Sandra menjawab nya dan langsung memacu kendaraan nya dengan kecepatan yang sedikit tinggi agar cepat sampai.


Sandra yang sedang berjibaku dengan laporan restoran langsung menghentikan pekerjaan nya ketika mendengar perintah Tata.


"Dasar sahabat durhakim! Kalau saja bukan sahabat dari kecil, sudah aku gantung dia di pohon kates! " gerutu Sandra dengan wajah kesal.


Walaupun mengerutu, ia tetap melakukan apa yang di perintahkan Tata, ia bergegas masuk ke dalam mobil karena ia mengendarai mobil sendiri, tidak menggunakan sopir.


Tata sudah sampai di panti asuhan tersebut dan tak lama ia menunggu, datang satu mobil pickup yang membawa barang-barang kebutuhan anak-anak dan sembako lengkap untuk panti asuhan ini.


Ia sengaja meminta salah satu orang nya untuk membeli keperluan anak-anak panti asuhan yang lengkap dengan kualitas yang bagus serta mengantar nya langsung.


Pengurus panti asuhan menyambut kedatangan Tata dan beberapa anak yang remaja ikut membantu pekerja menurunkan barang-barang untuk panti asuhan ini.


"Selamat datang, Nak Tata! Maaf kalau saya telat keluar nya! " ucap pengurus panti yang bernama Lisa atau biasa di panggil anak-anak Bunda Lisa.


"Gak papa, Bu Lisa! Saya memang sengaja untuk nunggu mobil yang bawa barang-barang sampai. " jawab Tata dengan ramah.


"Ayo Nak, silahkan masuk! Kita duduk di dalam saja! " ajak Bu Lisa dengan ramah dan sopan.


"Duluan saja Bu, saya mau menunggu sahabat saya dulu! " tolak Tata dengan sopan.


"Oh ya sudah, Ibu masuk dulu ya, Nak? " ucap Ibu panti sambil berjalan memasuki panti asuhan.


"Silahkan, Bu! " jawab Tata mempersilahkan nya pergi.


Tidak lama kemudian, dua buah mobil memasuki halaman panti asuhan. Mobil pertama Sandra keluar bersama Susan dengan membawa koper kecil warna hitam.


Mobil yang kedua keluar seorang pria paruh baya yang menenteng tas nya yang berwarna coklat tua. Pria itu adalah salah satu rekan Susan seorang Notaris yang akan mengesahkan pembelian panti asuhan ini.


"Tet, ini Pak Subagio! Notaris yang aku bilang tadi! Pak Gio, ini Sahabat saya Tata yang akan membeli panti asuhan ini! " ucap Susan memperkenalkan Tata dengan notaris tersebut.

__ADS_1


Tata dan notaris itu pun berjabat tangan dan langsung masuk ke dalam panti. Ketika masuk, sudah terlihat beberapa hidangan dan minuman yang tersuguh di atas meja.


"Alhamdulillah, kalian sudah masuk! " ucap Ibu panti dengan wajah sumringah.


"Baiklah, karena semuanya sudah ada di sini! Lebih baik kita mulai saja transaksi jual-beli kepemilikan panti asuhan ini! Ibu Lisa selaku ahli waris sah pemilik sebelumnya silahkan tanda tangan di sini setelah itu baru Tata yang tanda tangan lagi tanda Bu lisa menyerahkan sertifikat tanah dan bangunan pesantren ini kepada Tata secara sadar dengan uang pembelian 800juta di bayar tunai. Silahkan Ibu tanda tangan berkas ini! "ucap Susan dengan tenang.


Ibu Lisa menandatangani surat jual beli panti asuhan milik orang tuanya karena butuh biaya untuk sekolah putrinya yang mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan juga membayar hutang mendiang suaminya.


Setelah Ibu Lisa menandatangani surat itu, giliran Tata dan notaris yang juga ikut tanda tangan.


Ibu Lisa menyerahkan sertifikat asli tanah dan bangunan panti kepada Notaris untuk di balikkan nama menjadi nama Tata.


Tata tetap meminta Ibu Lisa menjadi pengurus bersama beberapa orang yang akan Tata pekerjakan membantu Ibu Lisa mengurus panti dan anak-anak di sini.


"Ini Bu, uang tunai 200 juta sesuai permintaan Ibu, dan 600nya sudah saya kirim ke rekening ibu! " ucap Tata dengan menyerah kan koper yang tadi di bawa Sandra.


"Alhamdulillah ya Allah! Terimakasih banyak, Nak Tata! " ucap Bu Lisa dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama, Bu! Oh ya, saya mau lihat anak-anak yang waktu itu di bawa orang suruhan saya dari desa! " sahut Tata dengan ramah.


Ibu Lisa pun segera beranjak dari duduk nya dan membawa Tata dan Sandra ke sebuah ruangan yang cukup besar. Di dalam nya terdapat banyak anak-anak yang bermain dan ada yang belajar, dan ada pula yang bermain di luar rumah.


"Ini Nak anaknya, umur 4tahun tapi badan nya kecil begini karena kurang gizi, sudah di tangani bidan dekat sini. Dan ini yang usia 1,5 tahun yang baru saja sehat dari penyakit DBD, dan alhamdulillah sudah mulai membaik. Dan pengasuhnya ini Mbok Darmi, Nak Tata! " ucap Ibu Lisa menjelaskan keadaan mereka secara mendetail.


Tata menyalami Mbok Darmi yang di sambut isak tangis Mbok Darmi.


"Terimakasih Nak, sudah memberikan kehidupan yang layak untuk kedua anak malang ini! Jika tidak ada nak Tata, si Mbok tidak tau gimana nasib anak-anak malang ini! " ucap Mbok Darmi sambil menyeka air mata nya.


"Iya Mbok, Sama-sama! Sekarang ini tugas Mbok membantu Ibu Lisa mengurus anak-anak ini dengan ikhlas karena anak-anak ini membutuhkan kasih sayang dari kita semua, setidaknya mereka masih mendapatkan nya dari kita meski kita bukan orang tuanya! " jawab Tata dengan bijak.


"InsyaAllah Nak, selagi Mbok masih diberi kesehatan, Mbok pasti akan membantu merawat anak-anak di sini! " ucap nya dengan tulus.


"Alhamdulillah! Kalau begitu, Tata mau pamit dulu ya Mbok, Ibu Lisa! " ucap Tata dengan tersenyum kecil.


Ibu Lisa mengantar kepergian Tata dan teman-temannya hingga ke depan pintu pagar panti asuhan.

__ADS_1


"Miris kali ya Tet, anak-anak si borokokok itu? " ucap Sandra dengan wajah prihatin.


"Iya Tot, aku aja kasihan banget liatnya! " jawab Tata sambil menatap jalanan luar dengan pandangan sendu.


Sedangkan Susan yang sedang menyetir hanya bertindak sebagai pendengar saja. Mereka pulang bersama dengan mobil Tata, sedangkan mobil yang tadi di bawa Sandra di ambil orang suruhan Tata karena mau di servis.


"Oh ya Tet, Lusa sidang perceraian mu akan ketok palu! Karena ini pembacaan keputusan, lebih baik kau datang lusa ke pengadilan. " ucap Susan sambil nyetir.


"Secepat itukah Bon? Kenapa aku dulu lama kali sampai hampir tiga bulan lebih? " tanya Sandra heran.


"Cepat lah Tot, apalagi buktinya kuat dalam kasus Tata ini! " jawab Susan lagi.


"InsyaAllah aku akan hadir? " jawab Tata masih dengan menatap luar jendela.


🌿🌿🌿


Di kantor polisi...


Nyonya Retno kedatangan tamu yang datang menjenguk nya di ruang tahanan.


"Darimana kau tahu aku ada di sini! " ucap nya dengan ketus dan angkuh kepada tamu nya yang berkunjung.


"Ckckckck... Aku kira tempat ini akan mengubah sikap angkuh dan sombong mu itu, Retno! Tapi aku salah besar, dan seperti nya memang ini tempat yang layak untuk wanita seperti mu! " jawab pria itu dengan geleng-geleng kepala.


"Aku tidak minta nasihat mu Haris! Kalau kau mau ceramah jangan di sini, pergilah keluar sana! " sahut Retno kesal.


Yah, tamu yang datang mengunjungi Retno adalah Harisman pria dari masa lalu nya sebelum menikah dengan Jamal ayahnya Nana.


"Kau memang keras kepala Retno! Aku datang ke sini ingin tahu di mana anakku? Putri kecilku! "ucap Harisman dengan tatapan tajam.


Retno tercekat melihat tatapan tajam Harisman yang tertuju pada nya. Dia menelan ludahnya dengan kasar dan kedua tangannya mulai berkeringat dingin. Tidak ada seorang pun yang tahu jika Anika adalah anak kandung nya bersama Harisman. Ia sudah mengandung Anika ketika menikah dengan Jamal.


"Jawab Retno! Dimana anakku? Putri kandung ku? " teriak Harisman sedikit keras.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜...


__ADS_2