Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
Extra part 4


__ADS_3

Suara riuh terdengar di tempat Tata dan pada emak-emak berkumpul. Anak-anak mereka sedang makan sambil bersenda gurau dengan menu ayam goreng KFC yang memang sangat di sukai anak-anak.


Para emak-emak mendampingi anak-anak mereka ketika mereka makan, seperti Sandra yang membantu anak keduanya Callian yang baru berusia 2,5 tahun untuk makan di kursi nya, dan Anika yang juga membantu Reksa makan karena sedari tadi anak berusia 3 tahun itu tidak berhenti mengoceh ayam nya susah di gigit.


Meskipun anak-anak nya banyak, Tata tidak mengalami kesulitan karena anak-anak nya patuh dan teratur saat makan, terlebih lagi ada Revan yang selalu setia mendampingi si princess Elea pada saat makan.


"Anak-anak! Makanan nya harus di habis kan ya?? Tidak ada yang boleh menyisakan makanannya! Mami tidak mau kalian membuang makanan karena di luaran sana banyak sekali orang-orang yang susah untuk makan! Kalian mengerti??? " ucap Tata kepada anak-anak nya.


"Mengerti Mami... " jawab anak-anak Tata serempak.


"Mengerti Aunty... " jawab Revan, Arka, dan Kila juga.


Meskipun usianya masih di bawah si kembar dan Revan, anak-anak Susan dan Arkan juga sangat pintar dan mudah sekali di beri pengertian. Terlebih lagi Shakila yang sangat cerdas di usianya baru 3. Ia sering kali membantu pekerjaan Bundanya di rumah dalam artian membantu sebisanya anak usia 3 tahun. Ia juga anaknya kritis terhadap sesuatu dan hal itu membuat Arjuna tidak pernah melontarkan kata-kata pedas nya pada gadis kecil itu.


Alasannya karena Shakila tidak menye-menye seperti gadis yang biasanya selalu mencari perhatian dirinya.


🌿🌿🌿


Abeth uring-uringan di rumah karena ia bangun tidur jam 11 siang. Sehabis mandi, ia menangis karena ingat tadi pagi ia tidak menyiapkan suaminya sarapan sebelum pergi ke kantor. Mami Sita dan Grandma sudah lelah membujuknya, tapi ia tetap menyalahkan dirinya yang tidur seperti kebo mati.


"Abeth sayang ku.. ! Apa kamu gak lelah nangis dan menyalahkan dirimu sendiri hingga sampai satu jam lebih?? Ini sudah waktunya makan siang, kamu gak lapar sayang?? " tanya Grandma dengan lembut.


Hanya gelengan kepala yang di berikan Abeth karena ia lagi membuang ingusnya dengan tisu. Mukanya masih bengkak dan memerah di area mata dan hidung. Bahunya masih naik turun akibat menangis terus-terusan tadi.


"Mbok.. ! Ambilkan makan siang untuk Abeth dan bawakan kesini ya! " panggil Mami pada salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan lewat dekat mereka.


"Baik Ndoro! " jawab Lastri yang kebetulan dari teras samping.


Mami Sita sudah menghubungi menantunya akan keadaan Abeth dan Henry berjanji akan pulang cepat pada mertuanya itu.


Papi Dayton datang bergabung dengan mereka dengan membawa sepiring rujak cingur yang mana membuat Abeth memicingkan matanya melihat kedatangan sang Papi.


Bau khas makanan itu membuat perut Abeth tiba-tiba bergejolak naik ke kerongkongan nya hingga akhirnya membuat Abeth berdiri sembari menutup mulutnya karena mual.


Secepat kilat ia berlari menuju toilet tamu di dekat ruang keluarga dan memuntahkan isi perut nya di sana. Mami Sita dan Grandma ikutan berlari mengejar Abeth dan Mami Sita ikut masuk ke dalam toilet dengan mengurut leher belakang Abeth.


Grandma menunggu di depan pintu dengan tersenyum yakin jika cucu perempuan nya itu sedang hamil.


"Apa yang kamu rasain sayang?? " tanya Mami Sita sambil mengurut tengkuk Abeth.


Abeth berkumur-kumur dan membasuh mulutnya karena muntahan bening yang ia keluar kan.


"Mual banget Mi! Makanan yang Papi makan itu bau banget! Perut aku rasanya kayak di aduk-aduk gitu! Udah gitu saat muntah yang keluar cuma cairan bening yang pahit banget! " jawab Abeth pelan.


Ingatan akan bau makanan sang Papi kembali membuat nya mual dan muntah kembali. Mami Sita dengan sabar memijat tengkuk putri nya dan Abeth muntah kembali hingga akhirnya tubuhnya lemas dan kepalanya pusing.


"Mi.. Kepala aku pusing banget! Aku kenapa ya Mi! Padahal tadi aku fine-fine aja! " ucap Abeth dengan wajah pucat.


Melihat wajah pucat anaknya, Mami Sita berteriak memanggil Grandma agar memanggil sang suami.


"Mom.. ! Panggilin Mas Dayton ke sini Mom!! " teriak Mami Sita dengan wajah panik.


Karena pintunya tidak di tutup, Grandma langsung pergi memanggil sang putra atas permintaan sang menantu.


"Dayton! Dayton ! come here!! Help me.. " panggil Grandma sembari berjalan ke teras di samping rumah.


Papi Dayton yang sedang makan rujak cingur nya langsung meletakkan mangkok tersebut di atas meja dan berlari menuju suara sang Mommy.


"Yes Mom.. ! What happen?? " jawab Papi Dayton mendekati Mommy nya.


"Tolong istrimu di dalam toilet! Seperti nya terjadi sesuatu pada Abeth! " sahut Grandma dengan menunjuk ke arah toilet tamu.


Papi Dayton langsung bergegas menuju toilet dan melihat sang istri sedang memapah putri mereka keluar dari toilet dengan wajah pucat.


"Apa yang terjadi sweetie?? " tanya Papi Dayton pada Abeth.


Ia langsung mengambil alih dengan menggendong Abeth di depan dan membawanya menuju kamar Abeth menaiki tangga.


"Turunkan aku Papi! Nanti pinggang Papi encok gendong aku sampai ke kamar! " ucap Abeth dengan suara lemah.


"Tidak akan sayang! Pinggang Papi tidak akan encok dan Papi juga masih kuat berstamina membuatkan mu dan Dave beberapa orang adik! " jawab Papi Dayton dengan nada bercanda.


"Gak usah ngawur deh Pi! Gak usah ke atas, ke kamar tamu aja biar gak lama gendongnya! " ucap Mami Sita dengan nada jengah pada sang suami.


Grandma mengikuti anak dan cucunya di belakang menuju kamar tamu sesuai perintah menantu nya. Mami Sita cepat membuka pintu kamar tamu hingga Papi Dayton masuk membawa Abeth dan menaruh nya di atas tempat tidur.


"Apakah masih pusing dan mual sayang?? " tanya Grandma dengan menaikkan selimut hingga ke pinggang Abeth.


"Masih pusing Grandma! Mualnya udah gak lagi, cuma badan aku terasa lemas dan gak bertenaga! " jawab Abeth sambil memejamkan matanya.


"Ya udah, istirahat aja di sini ya Nak! Nanti kalau suamimu sudah pulang kerja baru naik ke lantai atas! " ucap Mami Sita dengan mengusap rambut pirang sang putri.


Mendengar kata suami tiba-tiba membuat raut muka Abeth berubah.

__ADS_1


"Gak usah deh Mi! Entah kenapa Abeth tiba-tiba benci dan muak lihat muka Henry! Pokoknya kalau laki-laki itu pulang Abeth gak mau lihat muka nya ! Titik gak pake koma! " ucap Abeth dengan nada ketus.


Mami Sita, Papi Dayton dan Grandma melongo melihat sikap Abeth yang tiba-tiba berubah membenci suami nya sendiri. Mami Sita dan Grandma kembali berpandangan dengan isyarat mata mereka berdua.


"I-iya sayang! Mami gak akan biarkan Henry ketemu kamu! Sekarang kamu istirahat dulu ya! Mami dan semuanya keluar dulu! " jawab Mami Sita agak gugup.


Satu persatu mereka keluar dari kamar tamu dan membiarkan Abeth istirahat sejenak di kamar itu. Dengan pelan Mami Sita menutup pintu kamar dan begitu pintu tertutup rapat ia langsung menarik tangan ibu mertuanya menuju sofa ruang tamu.


"Mom... ! Ayu udah fix yakin kalau Abeth sedang hamil! " ucap Mami Sita tanpa basa basi pada mertuanya.


"Iya Yu! Mommy juga yakin seperti mu! " jawab Grandma dengan mengangguk pelan.


"Kalau kalian berdua udah yakin kenapa gak panggil dokter aja ke rumah! " tanya Papi Dayton melihat dua perempuan kesayangan nya bergantian.


"Iya juga ya Pi! Kok Mami gak kepikiran sampai sana ya! Ya udah, sekarang Mami mau telpon Dokter Aisyah dulu biar bisa ke sini sehabis beliau praktek! " jawab Mami Sita membenarkan ucapan suaminya.


Ia pun berjalan menuju meja tempat telpon rumah mereka dan menelpon Dokter Aisyah yang menangani kehamilan Tata lima tahun lalu.


"Mommy mau istirahat dulu Day-day! Nanti kalau Daddy mu sudah pulang suruh langsung istirahat aja ke kamar! " ucap Grandma yang juga ikut bangkit dari duduk nya.


"Mom, don't call me Day-day! Masa iya udah kakek-kakek gini masih di panggil Day-day! " sungut Papi dengan wajah masam.


"Hehehehe, mau kau sudah kakek sekalipun bagi Mommy kau masih putra kecil Mommy! " sahut Grandma dengan terkekeh sambil berlalu menuju kamar nya.


Papi Dayton mendengus kesal dengan perkataan Mommy nya, ia pun ikut beranjak dari ruang keluarga menuju teras samping karena teringat akan rujak cingur nya yang belum habis.


🌿🌿🌿


Di dalam ruangan nya, Henry sedang gelisah dalam melakukan pekerjaan nya. Karena hari ini mereka gabung satu ruangan, hal itu di lihat oleh Arkan yang sedang membaca beberapa laporan sebelum di berikan kepada Dave.


"What happen dude.. ! Kau seperti mencemaskan sesuatu?? " tanya Arkan yang begitu peka dengan raut wajah Henry.


"Mami tadi menghubungi katanya Abeth kembali aneh! Dia menangis menyesali kejadian tadi pagi yang kembali tidur dan tidak menyiapkan sarapan untuk ku seperti biasanya! Sudah di bujuk Mami dan Grandma tapi ia masih tetap menangis dan menyesali diri! Aku bingung dan gelisah mau berbuat apa! Aku bilang pada Mami akan pulang cepat nanti! " jawab Henry dengan wajah frustasi.


"Oh come on dude.. ! Rileks.. Inhale.. Exhale.. In hale... Exhal... ! Anggap saja periode bulanan Abeth mau datang, makanya dia aneh seperti itu! Jangan terlalu di pikirkan! " sahut Arkan menenangkan Henry.


"Tamu bulanan... " gumam Henry dengan berpikir keras.


Brak


"Oh shitt... Bagaimana aku bisa lupa kalau Abeth tidak mendapatkan tamu bulanannya selama hampir 2 bulan ini! " gumamnya lagi sambil berdiri setelah menggebrak mejanya.


"Hei.. ! Apa yang kau lakukan dude.. ! Kenapa kau memukul meja mu seperti itu! Kau membuatku kaget saja! " tegur Arkan yang melonjak kaget karena suara meja di gebrak.


"Iam sorry dude.. ! Sepertinya aku harus pulang sekarang karena ada hal darurat! Aku harus memastikan dugaan ku sekarang ini! " ucap Henry sambil berlari keluar ruangan Arkan setelah mengambil jas yang tergantung di kapstok.


Panggilan Arkan tidak di gubris Henry, ia tidak peduli dengan amarah dan omelan Dave saat ia masuk secara paksa ke dalam ruangan Dave.


"What the hell Bro.... " teriak Dave yang kaget pintu ruangannya di buka paksa oleh iparnya.


"Jangan marah atau ngamuk dulu! Aku cuma mau pamit pulang karena ada hal darurat tentang Abeth! Aku harus memastikan dugaan ku sebelum terlambat! " ucap Henry tanpa jeda yang membuat Dave melongo.


Setelah mengatakan hal itu ia langsung keluar dari ruangan Dave tanpa mendengar jawaban atau tanggapan Dave.


Begitu pintu tertutup, Dave baru tersadar dari rasa kaget nya.


"Aelah si kampret! Masuk main nyelonong aja, keluar langsung kabur ! Dasar kakak ipar durhalim! " omel Dave merutuki Henry.


Henry yang sudah keluar dari lift langsung berlari menuju loby ke pintu keluar gedung pencakar langit tersebut. Seorang petugas parkir sudah memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk dan dengan lambaian tangan nya ia menyapa petugas parkir yang menyerahkan kunci mobil tanpa sempat membalas sapaan petugas tersebut saking buru-buru masuk ke dalam mobil.


"Ya Allah... ! Mudah-mudahan dugaan ku pada istriku ini benar! " ucap Henry dengan lirih penuh harapan.


Setengah perjalanan ia membelokkan mobilnya ke kiri di sebuah apotek Kimia farma. Ia bergegas turun dan tak lupa mengunci mobilnya sebelum masuk ke dalam apotek.


"Mbak! Saya mau beli tes kehamilan yang paling bagus dan paling akurat! " ucap Henry langsung kepada sang apoteker nya.


"Sebentar ya Pak! " jawab Mbak-mbak itu dengan mengambil pesanan Henry.


Tak lama berselang, Mbak-mbak itu datang menemui Henry dengan membawa beberapa testpack di tangan nya.


"Ini yang paling bagus Pak! Pada dasarnya semua testpack semuanya bagus dan akurat jika kita teliti tanggal kadaluwarsa nya! Silahkan pilih yang Bapak mau! Ini harga nya beda-beda karena merek nya saja! " ucap Mbak apoteker menjelaskan nya kepada Henry.


"Saya pilih yang dua ini aja Mbak! " jawab Henry dengan menunjuk dua testpack di depannya.


"Tunggu sebentar dulu ya Pak! Saya kemas dulu! " ucap Mbak itu dengan memasukkan dua buah testpack ke dalam kantong plastik warna putih.


"Berapa totalnya Mbak?? " tanya Henry.


"82 ribu Pak! " jawab Mbak apoteker itu.


Henry lalu mengambil dompet nya dan mengeluarkan selembar uang merah soekarno hatta. Ia memberikan uang tersebut sambil meraih kantong plastik yang di atas etalase.


"Kembalian nya ambil aja Mbak! Saya pamit dulu! " ucap Henry yang langsung pergi tanpa menunggu kembalian uang nya.

__ADS_1


"Terimakasih Pak, semoga hasilnya sesuai yang di harapkan! " teriak Mbak apoteker karena Henry sudah berjalan menuju pintu apotek.


"Aamiin.... " jawab Henry dengan suara lirih setiba di luar apotek.


Tanpa menunggu lama-lama, ia langsung masuk ke dalam mobil dan tancap gas menuju kediamannya.


Karena suasana jalanan ramai dan terjebak macet, Henry sampai ke rumah hampir jam 3 sore. Saat ia masuk ke dalam rumah, ia mendengar suara sang istri yang sedang tertawa kencang di ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum... " ucap Henry saat berdiri di antara ruang tamu menuju ruang keluarga.


Abeth yang sedang asyik tertawa menjadi berhenti tawanya mendengar suara sang suami mengucapkan salam. Perutnya tiba-tiba bergejolak naik ke atas kerongkongan saat mendengar suara yang selama ini ia sukai. Ia menutup mulutnya dan berlari cepat menuju toilet tamu untuk memuntahkan isi perutnya.


"Huek... Huek... Huek... " Abeth muntah kembali begitu mendengar suara suaminya.


Henry yang bingung ikutan masuk ke dalam toilet hingga membuat Abeth semakin mual dan kembali muntah. Henry tidak menyadari istrinya mual dan muntah karena diri langsung memijat tengkuk Abeth agar memuntahkan semua nya.


Mami Sita yang tadi ke dapur mengambil camilan yang di minta Abeth menjadi bingung dari jauh melihat sofa sudah kosong. Saat mendekat barulah ia tau jika Abeth di toilet karena mendengar suara muntah-muntahnya.


"Astaghfirullah sayang?? Kamu muntah lagi?? Loh, kamu juga sudah pulang Hen?? " ucap Mami Sita sambil bertanya melihat Henry rupanya ada di dalam toilet.


Tadi karena terhalang pintu yang tidak terbuka sepenuhnya ia tidak melihat keberadaan menantunya itu.


"Barusan Mi.. " jawab Henry dengan terus memijat tengkuk istrinya.


Abeth yang tidak tahan dengan keberadaan suaminya langsung mendorong Henry hingga keluar.


"Jangan mendekati ku Hon! Dan jangan juga bersuara karena aku mual mendengar suara mu! Aku juga benci melihat wajahmu untuk saat ini dan menjauh lah dari ku! " ucap Abeth ketus dengan wajah yang pucat.


Henry melongo mendengar kata-kata yang keluar dari mulut manis istri nya itu. Ia melihat ke arah Mami mertuanya dan di jawab gelengan kepala sang Mami dengan wajah prihatin.


Abeth kembali ke ruang keluarga dan mengelap mulutnya dengan tisu. Ia langsung meminum air lemon yang tadi ia pesan pada Mami nya dengan begitu semangat.


"Ah seger nya... ! Kayaknya aku sakit parah ya Mi?? Perasaan tadi bangun tidur baik-baik aja! Eh begitu itu Bule datang dan bicara aku tiba-tiba mual dan mau muntah! " ucapnya dengan heran pada Mami nya.


"Kamu gak sakit sayang! Sebenarnya Mami berpikir kalau apa yang kamu alami ini karena kamu hamil! " jawab Mami Sita tidak tahan lagi.


"Oh karena hamil... ! Apa Mami bilang????... " ucap Abeth santai sesaat namun ia berteriak kaget saat menelaah kembali ucapan Mami nya.


Abeth shock dengan menutup mulutnya dan terduduk di sofa dengan ekspresi yang benar-benar tidak percaya.


Henry yang masih berdiri tidak jauh dari istri dan Mami mertuanya memberikan kode pada Mami dengan menunjukkan plastik putih yang ia bawa.


Mami Sita mengerti dan berjalan menuju Henry melewati Abeth yang masih shock. Ia mengambil plastik yang di bawa Henry dan tersenyum begitu melihat isinya.


"Yang sabar ya Nak! Mudah-mudahan dugaan kita semua benar! " ucap Mami Sita dengan lirih pada menantunya itu.


Henry mengangguk pelan dan diam-diam menuju lantai atas tanpa bersuara. Ia akan membersihkan diri dulu sebelum bergabung bersama istri dan keluarga yang lain.


Henry turun ke bawah selesai sholat ashar dan bertepatan dengan kedatangan Dokter Aisyah yang sebelumnya sudah di panggil Mami Sita.


"Assalamualaikum... " ucap Dokter Aisyah yang masuk ruang keluarga bersama Mami Sita.


"Waalaikumsalam... " jawab mereka semua termasuk Grandpa dan Grandma.


Di ruang keluarga sudah ada Papi Dayton, Abeth, Grandma, Grandpa dan Eyang Uti yang baru datang beberapa menit yang lalu di antar Bisma.


"Loh, kok ada dokter Aisyah! Mami hamil lagi ya Mi?? " tanya Abeth langsung menuduh Mami nya.


"Ngawur koe kalau ngomong! Dokter Aisyah kesini mau periksa kamu sayang! Masa iya periksa Mami! " jawab Mami Sita dengan wajah merenggut kesal.


Ia mengipas wajahnya dengan kipas yang selalu ia pegang dengan wajah yang tidak enak di lihat.


"Hehehehe... ! Abeth cuma bercanda Mi! Suer deh! " sahut Abeth nyengir.


Ia kembali melihat ke arah Dokter Aisyah yang masih melihat nya dengan tersenyum lebar. Abeth masih belum percaya dengan dugaan Mami nya tadi, meskipun ia sudah melakukan tes dengan testpack yang di berikan Mami nya itu. Semua orang tersenyum bahagia saat melihat dua garis pada kedua testpack yang di gunakan Abeth. Sehingga mereka menunggu kedatangan Dokter Aisyah untuk lebih yakin nya lagi.


"Ayo Dokter periksa sekarang! Saya sudah tidak sabar lagi menunggu hasil pemeriksaan Dokter! Yah, walaupun sudah ada hasilnya waktu pakai tes kehamilan tadi! " ucap Grandpa dengan sangat antusias.


"Iya Dokter! Langsung aja periksanya! " tambah Eyang Uti dengan mata berbinar bahagia.


"Ayo sayang kita periksa di ruang periksa Tata waktu itu! Untung aja semua alat-alat nya gak di jual Tata ke rumah sakit! " ucap Mami Sita sambil meraih Abeth agar berdiri dan mereka berjalan menuju ruang pemeriksaan khusus waktu Tata hamil si kembar 5 tahun lalu.


Dengan perasaan berkecamuk dan jantung berdebar kencang, Abeth memasuki ruang periksa Tata dulu dengan hati berdebar-debar.


"Ayo Nak Abeth silahkan naik ke ranjang ini! Naiknya pelan-pelan saja! " ucap Dokter Aisyah dengan lembut.


Henry yang ingin membantu istrinya naik ke atas ranjang langsung di hentikan Abeth dengan gerakan tangan nya.


"Stop di sana dan jangan mendekat! Aku benci lihat wajah Bule mu itu! Papi, bantu Abeth naik ya?? " ucapnya ketus pada sang suami dan lembut pada Papi nya.


Grandma mengusap punggung Henry agar bersabar dengan mood istrinya. Eyang Uti juga menatap cucu menantunya itu dengan pandangan kasihan.


Papi Dayton membantu sang anak naik ke atas ranjang periksa. Dokter Aisyah langsung menaikkan baju Abeth hingga perut mulusnya tersingkap hingga dada. Abeth terkikik geli saat Dokter Aisyah mengoles kan gel dingin di perutnya untuk memudahkan transducer bergerak di atas permukaan kulit Abeth.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim.... " ucap Dokter Aisyah begitu meletakkan alat tersebut di perut Abeth bagian bawah.


Bersambung...


__ADS_2