Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
92. Karma Dian end...


__ADS_3

Mohon maaf reader's yang masih setia membaca kisah Tata dan Dave...


Othor tidak menyangka jika othor sudah hampir seminggu tidak update bab baru. Karena saking sibuknya othor mempersiapkan tahlilan 40 hari almarhum suami othor tanggal 19 kemarin. Othor sampai lupa jika othor belum update bab baru.. Maaf banget ya reader's semuanya๐Ÿ™๐Ÿ™othor sudah membuat kalian kecewa karena bab yang di tunggu belum juga update sampai hari ini.


Othor benar-benar lupa saking sibuknya.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


"Apaaaa??? " pekik Dewi dengan wajah terkejut.


Ia langsung berlari membuka lemari kecil yang ada di samping ranjang abangnya. Ia terbelalak kaget melihat pakaiannya berantakan dan tas tempat ia menyimpan uang sudah dalam keadaan terbuka. Ia dengan cepat mencari uang yang ia simpan di dalam tas tersebut, tapi hasilnya nihil. Uang tersebut sudah tidak ada lagi di dalam tas itu.


"Dasar perempuan sialan!! Beraninya kau mencuri uang ku?? " teriak Dewi Dewi kencang dan tangan terkepal erat.


Tidak ingin ikut campur terlalu jauh, perawat itu segera keluar dari ruangan dan meninggalkan Dewi yang masih marah-marah dengan mengumpat dan menyumpahi Yuli dengan wajah geram menahan amarah.


"Awas saja! Jika bertemu suatu hari nanti, aku akan membuatmu hidup bagai di neraka! " ucap Dewi dengan penuh dendam.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Di tempat lain, Tata di hubungi pihak kepolisian terkait dengan narapidana yang bernama Dian yang di larikan ke rumah sakit oleh pihak kepolisian.


"Ngapain lagi sih polisi ngasih tau kau Tet? Gak ada hubungannya pulak dengan kau, teman bukan, saudara juga bukan. Malah dia orang yang udah bikin rumah tangga kau hancur! " omel Sandra dengan penuh emosi.


"Gak gitu juga Tot! Aku jugak pernah bilang sama Bapak polisi nya kalau ada apa-apa gak udah sungkan untuk kasih tau aku, gitu ku bilang! Lagi pula gak ada salah nya jika kita tahu apa yang terjadi sama dia, jadi kita bisa semakin waspada lagi jika dia merencanakan sesuatu. " ucap Tata dengan bijak.


"Bah, emang dasar kau lah yang terlalu baik Tet! " jawab Sandra dengan masih kesel.


"Dah, gak baik marah-marah terus. Ntar Bang Kadir makin tambah cinta lagi! " sahut Tata dengan santainya.


"Dih, gak nyambung kali omongan kau itu! " jawab Sandra dengan bibir maju lima senti.


"Ha.... Ha.... Ha.... " Tata tertawa karena berhasil membuat Sandra kesel.


"Dahlah, pigi lah kau ke sana! " usir Sandra dengan mendorong tubuh Tata keluar rumah.


Tata pun segera pergi ke rumah sakit polisi untuk memenuhi panggilan polisi. Setibanya di rumah sakit, ia langsung menuju ruangan yang khusus untuk narapidana yang sedang sakit.


"Aduh sakit!!! Apa yang kalian lakukan padaku? Kenapa perut ku sakit begini?? Tolong dokter?? Tolong perutku sakit sekali?? Aku sudah tidak sanggup lagi?? Tolong aku!! " teriak Dian dari dalam ruangannya dengan suara yang pilu merintih kesakitan.


Tata mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, ia hanya diam di depan pintu seraya mengintip dan memperhatikan dari luar saja.


Berkali-kali ia mendengar Dian ber teriak meminta pertolongan dengan suara yang kencang.


Tidak berapa lama kemudian, seorang dokter dan dua orang perawat keluar dari ruangan tersebut setelah tidak ada lagi terdengar teriakan Dian yang kencang itu.


"Dokter, bagaimana keadaan pasien? Apa yang terjadi sehingga ia menjerit kesakitan seperti itu? " tanya Tata ketika menghampiri Dokter tersebut.


"Pasien harus segera di operasi Bu, karena kankernya sudah mulai menyebar ke bagian yang lain. Jika menunda lagi, kemungkinannya akan berakibat fatal dan pasien tidak bisa lagi bertahan dengan situasi yang seperti ini. " jawab Dokter tersebut dengan menghela nafas kasar.


"Kanker?? Kanker apa Dok? " tanya Tata dengan wajah heran.

__ADS_1


"Pasien terkena kanker serviks stadium 3 dan sudah mulai menyebar ke bagian perut sehingga membuatnya berteriak kesakitan seperti ini! " jawab Dokter tersebut lagi.


"Astaghfirullah... Lakukan saja yang terbaik untuk menyelamatkan pasien Dok, lakukan lah sebelum terlambat! " ucap Tata dengan wajah khawatir.


"Baik Bu, kami akan melakukan nya semampu kami. " jawab dokter tersebut dengan menganggukkan kepala nya.


Dokter tersebut memberikan perintah kepada bawahannya jika mereka akan melakukan operasi untuk mengangkat sel kanker yang ada di tubuh pasien.


"Mbak Tata, terimakasih sudah datang memenuhi panggilan kami! Maaf jika kami baru saja datang dan membuat Anda menunggu lama! " tegur polisi yang berjalan mendekati Tata.


Tata yang lagi bengong langsung menoleh dan mengangguk pelan dengan ramah.


"Tidak apa-apa, jika ada apa-apa hubungi saya lagi. Bagaimana dengan proses persidangan narapidana yang bernama Dian ini? " tanya Tata dengan ramah.


"Narapidana Dian akan menjalani sidang perdana tiga hari lagi, karena keadaannya sekarang ini yang tidak memungkinkan, pihak pengadilan mengundurnya menjadi seminggu dari sekarang setelah operasinya di lakukan. Narapidana yang sama-sama tertangkap bersama beliau juga akan di sidang bersamaan dengan nya. " jawab polisi tersebut.


"Baiklah, lakukan lah semua nya sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku, agar memberikan efek jera bagi siapapun yang ingin melakukan hal yang serupa. " ucap Tata lagi.


"Kalau begitu saya mau melihat keadaan pasien dulu sebelum saya pamit! " sahut Tata lagi sambil berjalan menuju ruangan Dian.


"Silahkan Mbak, saya juga mau menemui dokter dulu. Dan kamu selalu berjags di depan pintu. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan ini kecuali dokter! " ucap Polisi tersebut sambil memberikan perintah kepada bawahannya yang ikut bersamanya tadi.


Tata membuka pelan-pelan pintu ruangan tersebut agar tidak membangunkan penghuni nya. Ia berjalan mendekati ranjang yang ada seorang perempuan yang penampilan nya sangat memprihatinkan. Tubuh kurus dan sedikit gelap, rambut acak-acakan, wajah yang dulu putih mulus kini hanya tinggal wajah kusam yang berjerawat.


Tata terdiam lama menatap wajah yang tampak sangat menyedihkan tersebut dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Aku minta maaf jika sudah menyakitimu sedemikian rupa, aku hanya manusia biasa yang juga memiliki rasa sakit hati atas apa yang kau lakukan kepada ku. Hanya saja aku sangat menyayangkan perbuatanmu yang tidak memperdulikan anak-anak yang kau lahirkan dari rahimmu. Bagaimana pun juga mereka adalah anak-anak yang tidak bersalah yang tidak tahu apa-apa. Aku harap dengan keadaan ini kau bisa introspeksi diri atas semua kesalahan-kesalahan yang telah kau lakukan. Aku memaafkan semua kesalahan yang kau lakukan kepadaku. Mudah-mudahan Allah mengangkat semua penyakit yang ada pada dirimu! " ucap Tata pelan dan ia pun berbalik keluar dari ruangan tersebut.


Ia menyangkal jika apa yang ia lakukan itu adalah hal yang salah dan tidak berkeprimanusiaan. Ia selalu mendoktrin dirinya jika apa yang ia lakukan itu hal yang wajar dan lumrah.


Ia membenci anak-anak itu karena mengingatkan ia akan laki-laki yang tidak bertanggung jawab yang tidak mau mengakui darah daging nya sendiri.


Dian menangis tersedu-sedu dan berulangkali di dalam hati nya meminta maaf.


Tata yang sengaja tidak langsung pergi, mendengar isakan tangisan Dian dari balik pintu tersebut, ia dengan perlahan berjalan meninggalkan ruangan tersebut dengan pelan-pelan agar Dian tidak menyadari jika tangisannya di dengar orang lain.


Tata memutuskan untuk jalan-jalan ke mall sejenak untuk melepaskan penat di hatinya. Ia memasuki mall seorang diri dengan cueknya berjalan mengelilingi mall tanpa ingin membeli sedikitpun.


Tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari belakang sehingga Tata langsung reflek menabrak seorang ibu-ibu yang berjalan di hadapan dengan menggandeng anak kecil yang berusia 4 tahunan.


"Maaf Bu, saya tidak sengaja! " ucap Tata sambil membantu Ibu-ibu itu berdiri.


"Eh Mbak, kalau jalan itu pakai mata! Lihat gara-gara Mbak minuman saya tumpah mengenai baju saya! Lihat ini, baju mahal saya kena noda seperti ini! " hardik seorang wanita dengan angkuhnya memaki-maki Tata.


"Permisi ya mbak! Saya pegawai toko yang di depan sana! Saya melihat dengan jelas kalau Mbak yang sengaja menabrakkan diri dengan Mbak ini sehingga Mbak ini menabrak Ibu dan adek ini! Kenapa Mbak malah yang marah-marah? Seharusnya Mbak ini yang marah sama Mbak! " ucap seorang pegawai toko pakaian yang datang membela Tata.


"Heh, situ siapa ya? Jangan jadi pahlawan kesiangan deh! Gak udah sok ngarang, jelas-jelas Mbak ini yang sengaja menabrak saya hingga baju saya kotor begini! " sahutnya tidak terima jika di salahkan.


"Maaf ya Bu, ayo duduk dulu di sana sama adeknya! Saya benar-benar minta maaf! " ucap Tata lagi kepada Ibu-ibu tersebut dengan tulus.


"Gak papa nak! Saya dan cucu saya juga gak luka-luka. Hanya agak nyeri saja lutut saya sedikit karena menahan cucu saya agar tidak terjatuh tadi. " jawab Ibu-ibu itu dengan ramah.

__ADS_1


"MasyaAllah... Ayo Bu kita duduk dulu di situ! " ucap Tata dengan sedikit khawatir.


Ia pun menuntun Ibu-ibu itu duduk di bangku yang ada di sekitar mall yang memang di peruntukkan untuk pengunjung mall jika merasa lelah. Pegawai toko pakaian itu menuntun cucu ibu itu mengikuti Tata dan neneknya yang duduk di bangku.


"Hei Mbak! Jangan kabur dong! Harus tanggung jawab nih, baju saya ini mahal tau gak! Enak aja main kabur aja! Pokoknya saya mau Mbak ganti rugi! " teriaknya dengan keras sehingga menarik perhatian para pengunjung mall.


Tata tersenyum sinis menatap perempuan yang berlagak seperti seorang korban. Ia dengan santai berjalan mendekati perempuan tersebut, dan kemudian berbelok mendekati anak-anak yang sedang meminum boba di bangku tunggu bersama orang tuanya.


"Dek, tante boleh gak minta es boba nya sekarang! Adek tante kasih uang ini sebagai gantinya? Mau gak? " ucap Tata dengan memberikan uang merah sebanyak tiga lembar kepada anak tersebut.


"Terimakasih tante! Nih boba nya, aku juga baru minum kok! " jawab anak itu dengan senang hati.


Perempuan itu melihat Tata dengan pandangan heran, ia lalu kembali ke maki-maki Tata dengan kata-kata yang sangat tidak enak di dengar oleh anak-anak.


Tata dengan santai berjalan mendekati perempuan itu dengan membawa segelas boba di tangannya. Tanpa ampun, Tata langsung menuangkan semua boba tersebut kepada perempuan itu dari kepala hingga membasahi wajah dan pakaiannya.


"Dari tadi kau selalu menuduhku dengan sengaja mengotori pakaian mu! Sekarang sudah aku kabul kan permohonan mu, Dan ini uang untuk ganti rugi pakaian yang kau bilang mahal itu! Dasar penipu, kau pikir aku tidak tahu jika pakaian yang kau pakai itu semuanya KW, sok-sokan bilang mahal! Aku juga tahu jika pakaian itu di jual di kaki lima pasar malam, yang hanya menjual barang-barang KW malam hari! Jangan kau pikir aku ini bodoh karena diam saja kau permalukan tadi, bahkan kau sudah membuat aku menabrak Ibu-ibu itu hingga kaki nya sakit! Jika kau masih saja berkoar-koar, maka jangan salah kan aku jika aku mengambil tindakan tegas untuk perempuan culas seperti mu! " ucap Tata dengan sinis melemparkan uang merah ke wajah perempuan itu sehingga uang tersebut berhamburan di lantai.


Semua pengunjung menertawakan perempuan itu dan membuat perempuan itu merah padam karena malu. Tanpa melihat lagi, ia pun berbalik pergi meninggalkan tempat itu namun masih sempat memunguti uang yang di lemparkan Tata tadi tanpa tahu malu.


Tata menghampiri Ibu-ibu yang tadi menunggunya duduk di bangku bersama cucunya dan pegawai toko yang tadi membela Tata.


"Mbak, saya permisi dulu ya? Takut ada pelanggan yang datang! " pamit pegawai toko kepada Tata.


"Silahkan Mbak, oya ini kartu nama saya. Jika butuh bantuan atau sesuatu apapun itu jangan sungkan untuk menghubungi saya langsung. " jawab Tata dengan ramah sambil memberikan sebuah kartu nama kepada pegawai toko tersebut.


Tata langsung mengajak Ibu-ibu dan cucunya pergi setelah pegawai toko itu kembali ke tokonya. Ia membawa mereka ke sebuah resto yang ada di mall tersebut untuk mengajak mereka makan bersama.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Perempuan yang sengaja menabrakkan diri dengan Tata tadi memasuki mobil yang ada di basement mall dengan kesal.


"Gila elo Jeng! Gara-gara elo gue di permalukan perempuan sialan itu di depan umum! Kalau gue tahu itu perempuan bukan perempuan lemah kayak yang elo bilang, gue gak sudi cari gara-gara sama itu perempuan! Sial banget gue! " omel nya ketika masuk ke dalam mobil.


"Gak ikhlas banget sih elo bantuin teman sendiri! Ya elo lawan lah kalau dia juga melawan elo! Selama inikan elo pintar banget kalau ngejatuhin mental seseorang, kenapa sekarang nyali elo menciut gini kayak kerupuk ketika berhadapan dengan perempuan udik itu! " jawab Ajeng tidak mau di salah kan.


"enak banget elo ngomong kayak gitu! Kenapa gak elo aja yang berhadapan langsung sama itu perempuan? Kan yang punya urusan elo bukan gue! Asal elo tau aja kalau perempuan itu bukan orang yang gampang untuk di tindas dan di jatuhkan dengan orang seperti gue! Gue ngakuin sih kalau gue gak bisa menghadapi orang yang seperti perempuan tadi yang mempunyai tatapan mata yang sangat menakutkan! Gue gak mau lagi bantuin elo jika menyangkut perempuan tadi! " ucap perempuan itu dengan wajah kesal.


"Kok elo gitu sih Kas? Kan elo sendiri bilang mau bantuin gue buat menghadapi perempuan yang dekat-dekat dengan Davin? Kok elo jadi plin-plan gini sih! " sahut Ajeng tidak terima temannya memutuskan untuk tidak mau membantunya.


"Enak banget elo ngomong gue plin-plan! Kalau gue tahu jika yang akan gue hadapi perempuan seperti itu, gue dari awal ogah bantuin elo! Sekarang elo usaha aja sendiri buat nyingkirin perempuan yang dekat dengan si Davin itu, gue angkat tangan! Gue pergi! " teriak perempuan yang bernama Kasih itu dengan keluar dari mobil sambil membanting pintu.


Ia kemudian berjalan keluar dari basement kembali ke mall untuk mengganti pakaiannya di toilet karena ia berencana untuk membeli pakaian baru menggunakan uang yang di berikan Tata tadi.


"Sial! Sial! Sial! Gagal lagi aku membuat perempuan itu malu di depan umum! Sialan banget si Kasih! Katanya kemarin mau bantuin, baru sekali udah langsung menciut nyalinya menghadapi perempuan itu! Emangnya apa bagusnya sih itu perempuan, sampai-sampai Kang Mas Davin mau dekat-dekat dengan perempuan itu! Gak cantik-cantik amat! Lebih cantikan aku lagi dari perempuan itu! Bukan orang kaya atau orang Ningrat juga! Pokoknya perempuan ini tidak bisa di biarkan lama-lama berkeliaran di sekitar Kang Mas Davin! Aku harus mencari cara lagi agar bisa menyingkirkan perempuan itu tanpa turun tangan langsung! " ucap Ajeng ngomel-ngomel sendiri di dalam mobilnya.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...


Semoga di jumat berkah ini kita semua di berikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah oleh yang maha Kuasa.

__ADS_1


__ADS_2