
Kabar kehamilan Sandra sudah terdengar ke telinga Tata dan Susan. Tata yang sedang duduk selonjoran di teras samping langsung menghubungi kepala pelayan yang ada di rumahnya yaitu Bu Vira.
"Pokoknya kalian semua harus menjaga Sandra dan bayinya dalam kandungan nya dengan baik. Berikan makanan yang sehat dan bergizi untuk ibu hamil dan selalu stok buah-buahan di dalam kulkas. Jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi aku! " ucap Tata melalui sambungan telepon.
"Baik Nona, akan saya lakukan! " jawab Bu Vira dengan patuh dari seberang sana.
Tata menutup panggilan nya karena perutnya terasa ngilu karena anak-anak nya bergerak.
"Mereka bergerak?? " tanya Ibuk dengan lembut sembari mengusap pinggang Tata dengan pelan.
"Iya Buk.. Rasanya ngilu dan sakit pinggang nya lebih terasa! " jawab Tata sedikit meringis.
"Sabar ya Dek... Adek anak Ibuk yang paling kuat, dan kesakitan ini hal yang lumrah bagi Ibu hamil. Ibuk masih belum percaya sampai sekarang kalau anak kesayangan Ibu hamil kembar enam! Ini seperti mimpi! Kalau ayah kamu masih ada pasti ia orang yang paling bahagia karena ada keturunan nya yang kembar. " ucap Ibuk seraya memijat lembut pinggang Tata.
"Emang nya ada keturunan kita yang kembar ya Buk? " tanya Tata sembari menikmati pijatan Ibu nya.
"Lah, emangnya Ibuk belum cerita kalau ayah kamu itu kembar? " tanya Ibuk balik.
"Perasaan Tata belum? Kan ayah gak punya saudara Buk? " jawab Tata dengan heran.
"Ayah kamu punya saudara kembar perempuan, tapi ia meninggal saat usia 2 tahun karena sakit. Makanya tidak banyak yang tahu jika ayahmu itu punya saudara. " ucap Ibuk lagi dengan terus memijat pinggang Tata.
"Oh... Gitu, pantesan gak ada yang tahu karena itu terjadi saat ayah masih kecil! " sahut Tata paham.
Tata mengusap perut nya yang sudah sangat besar dengan tersenyum lebar. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu anak-anak nya.
"Pasti menyenangkan saat mereka semua lahir nanti, saling bertengkar satu sama lainnya, saling berebutan dan membuat suasana semakin ramai dengan ulah mereka! " ucap Tata dengan tersenyum membayangkan semuanya.
"Iya, pasti sangat menyenangkan berkumpul bersama semua cucu-cucu " sahut Ibuk dengan nada agak sedih.
Tata menoleh ke arah sang Ibu yang tampak termenung tapi tangannya masih tetap memijit pelan pinggang nya.
"Ibuk kenapa sedih gitu muka nya?? Apa yang Ibuk pikirkan? " tanya Tata penasaran.
"Tiba-tiba Ibuk keinget keponakan kamu! Gimana ya kabar mereka berdua? Udah sebesar apa mereka? Apakah mereka sehat? " jawab Ibuk dengan tiba-tiba mengeluarkan air matanya.
Tata meraih tangan tua Ibuk nya dan menggenggam nya dengan erat.
"Maaf ya Buk, Tata sampai lupa kalau punya keponakan dua! Tata bakalan cari di mana mereka tinggal sekarang! Ibuk jangan sedih lagi, dan doakan agar mereka cepat di ketemukan! " ucap Tata dengan merasa sangat bersalah.
Ia benar-benar menyesal lebih mengedepankan ego hanya karena ulah Abang nya. Kehidupan pribadi nya membuat ia lupa jika ia masih punya dua keponakan yang belum ia lihat sedari kecil. Saat Sandi datang waktu Ibuk menjual sebagian kebun sawit milik ayah nya, ia hanya datang seorang diri tanpa anak dan istrinya. Ia beralasan jika istrinya baru saja melahirkan anak kedua mereka.
Tata dan Ibuk hanya melihat kedua anak nya Sandi dari foto saja dan belum pernah ketemu langsung hingga saat ini.
"Kemungkinan besar mereka sudah berumur 7 tahun dek! Abang mu memang keterlaluan! Tidak sedikitpun ia mau mempertemukan kita dengan anak-anak nya! " ucap Ibuk dengan suara kecewa.
"Ibuk gak boleh sedih, Tata akan berusaha mencari cucu-cucu Ibuk! " janji Tata pada sang Ibu.
Ibuk mengangguk senang, ia kembali memijat pinggang Tata sembari membicarakan tentang masa kecil Tata dulu.
__ADS_1
🌿🌿🌿
"Assalamualaikum sayang ku My Ruby?? " ucap Dave saat masuk ke dalam kamar mereka.
"Waalaikumsalam Mas.. " jawab Tata dengan duduk selonjoran di atas kasur.
Dave mendekat dan mendarat kan kecupan lembut di bibir sang istri.
"Mas mau mandi dulu! " ucap Dave seraya berjalan ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Tata berbicara dengan anak-anak nya sambil mengusap perut nya yang selalu bergerak dengan kuat. Meskipun sedikit ngilu dan nyeri, Tata tidak bosan mengajak janinnya bicara sesuai yang di sarankan dokter Aisyah.
"Mami udah gak sabar lihat kalian lahir. Nanti kalian semua akan bermain dengan anaknya Tante Sandra, kakak Kayla dan kakak Kana, kakak Revan juga! Mudah-mudahan Tante Susan cepetan nikah dan punya anak, biar kalian juga bermain bersama. " ucap Tata dengan tersenyum lebar.
Ia tertawa kecil saat beberapa gerakan kencang pada perut nya saat ia selesai bicara. Meskipun agak sedikit sakit ia begitu bahagia karena anak-anak nya begitu aktif.
"Apa yang membuatmu bahagia sayang? " tegur Dave dengan ikutan naik ke atas tempat tidur.
"Kenapa Mas gak pakai baju? Ntar kedinginan loh? " tanya Tata balik.
"Kamu tuh ya, orang tanya dia nanya balik! " sahut Dave dengan mencubit gemes hidung istrinya.
"Hehehehe... Mereka bergerak kencang gak berhenti saat aku ajak bicara! " jawab Tata nyengir.
"Halo anak-anak nya Papi! Jangan bikin Mami sakit ya sayang? Baik-baik kalian di dalam sana, jangan berantem atau rebutan makanan! Papi dan Mami akan selalu menjaga kalian sampai kalian semua lahir dengan sehat dan selamat! " ucap Dave menyapa anak-anak nya sambil memberikan beberapa kecupan pada perut buncit Tata.
Dave dan Tata terkekeh saat banyak bermunculan tonjolan pada perut Tata.
Dave mengangguk dengan tersenyum lebar dan kembali mengusap pelan perut istrinya.
"Oh ya Mas, ada yang mau aku sampaikan sama Mas! " ucap Tata dengan wajah serius.
"Sebentar ya, Mas mau benerin posisi nya dulu! " sahut Dave dengan duduk bersandar dan membawa Tata ke dalam pelukannya.
"Mas ih, pakai baju sana! Ntar masuk angin lagi! " ucap Tata dengan menghirup aroma tubuh suaminya.
Ia mengeratkan pelukannya pada dada sang suami. Dave makin memeluk tubuh Tata meskipun terhalang oleh perut buncit Tata yang begitu besar.
"Mas pengen peluk kamu sayang! Lagian AC nya juga kecil banget! Tadi kamu mau ngomong apa hem... ? " tanya Dave dengan mengecup kening Tata berulangkali.
"Aku pengen cari keberadaan anak-anak nya Bang Sandi Mas! Sudah cukup aku gak peduli pada anak-anak nya Bang Sandi selama ini! Walau bagaimana pun juga mereka adalah keponakan aku dan sudah seharusnya aku mencari keberadaan mereka. Meskipun aku masih kesal sama Bang Sandi, tapi anak-anak nya tidak bersalah! Aku ingin mencari mereka meskipun terlambat ! " jawab Tata dengan menghela napas panjang.
"Apa perlu Mas bantu? " tanya Dave dengan wajah serius.
"Gak perlu Mas, aku akan menghubungi Angel untuk mencari mereka di Malaysia meskipun ke lobang semut sekali pun. Aku hanya bilang aja sama Mas! " jawab Tata sembari memainkan jarinya di perut kotak-kotak milik sang suami.
"Jangan bikin Mas khilaf sayang! Kau tahu kan kalau ulah mu ini bisa bikin piton terbangun? " ucap Dave dengan suara berat dan parau.
"Sengaja Mas! Aku sengaja bikin si piton bangun! Aku kangen tau sama ulah nya si piton! Emang si piton gak kangen sama sarang nya? Semenjak aku hamil besar Mas gak jarang sekali jenguk anak-anak! " rajuk Tata dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
Dave langsung melu mat bibir manyun istrinya dengan begitu kasar dan begitu menuntut. Ia melu mat bibir atas dan bawah secara bergantian dengan tangan meremas gundukan kembar yang membesar semenjak Tata hamil.
Ia memasukkan lidahnya pada mulut sang istri, mengabsen semua isi mulut nya, meng hisap, menyedot nya hingga Tata memberi kode kalau ia mulai kehabisan napas. Dave tidak melepaskannya, ia kembali melu mat bibir yang menjadi candu nya itu.
Dave melepaskan ciuman nya dan menempelkan keningnya pada kening Tata hingga deru napasnya terdengar naik turun.
"Kau sangat tahu kalau suamimu ini tidak bisa menganggur sehari untuk tidak menyentuhmu sayang?? Mas sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menyentuh mu karena tidak ingin kau kesakitan sayang! Mas tidak tega menyalurkan nafsu birahi Mas saat keadaan mu seperti ini! Mas tidak ingin egois dengan memikirkan diri sendiri! Mas sangat mencintai mu dan Mas rela menunggu hingga nanti kau selesai lahiran! Jika kau hanya mengandung satu anak saja Mas tidak akan mau puasa, tapi situasi nya beda. Mas tidak mau membahayakan kamu dan anak-anak kita karena keegoisan Mas! " ucap Dave panjang lebar dengan kening masih menempel.
Tata melu mat bibir suami nya dengan perasaan bahagia. Ia begitu terharu dengan pengorbanan suaminya menahan hasrat nya dengan begitu lama.
"Aku bahagia punya suami yang pengertian seperti Mas! Apa Mas gak papa menahan semuanya sampai Anak-anak lahir dan sampai aku selesai 40 hari? " tanya Tata dengan menatap lembut mata suaminya.
"Demi kamu dan anak-anak kita Mas sanggup sayang! Berapa lama pun itu! " jawab Dave sangat yakin.
"Ya Allah... Beruntung kali Tata punya suami yang pengertian seperti ini! Jadi makin cinta deh.. " ucap Tata dengan mata berbinar dan mengecup bibir Dave berulangkali.
Dave terkekeh melihat ulah istrinya yang tidak henti-henti nya memberikan kecupan. Melihat Tata yang kadang susah tidur dan sering sakit pinggang membuat Dave tidak tega meminta jatahnya dan karena itu juga ia menjadi tidak kepikiran untuk bercinta. Rasa cinta yang besar pada sang istri membuat Dave menjadi ikut merasakan penderitaan Tata dalam mengandung anak-anak nya.
Hasrat nya yang tinggi tiba-tiba menguap begitu saja saat melihat wajah lelah dan capek sang istri.
Membawa beban berat selama tujuh bulan membuat Dave selalu menjaga mood dan kebahagiaan sang istri.
"Mas, nanti kalau lahiran temani aku ya di ruang operasi! " ucap Tata dengan memeluk erat tubuh kekar suaminya.
"Tentu saja Mas akan menemani kamu sayang! Itu momen yang paling Mas tunggu-tunggu! Mas tidak mau melewatkan kesempatan itu! " sahut Dave tanpa melepaskan pelukan nya.
"Jadi gak sabar nunggu 2 bulan lagi! " ucap Tata dengan tersenyum senang.
"Mas juga! Rasanya udah gak sabar pengen lihat wajah-wajah lucu mereka dan jenis kelamin nya! " sahut Dave ikut tersenyum membayangkan semuanya.
Mereka berdua membicarakan calon anak-anak mereka tanpa melepaskan pelukan nya. Dave tidak bosan-bosannya mengecup kening Tata dan membelai punggung nya hingga akhirnya Tata tertidur.
🌿🌿🌿
Sementara itu di tempat yang berbeda, seorang perempuan yang umurnya sekitar 35an sedang berjuang mencari nafkah di tumpukan sampah agar bisa memberikan makan untuk dua anaknya.
Ia mengumpulkan barang-barang bekas yang bisa di jual dan menghasilkan uang agar ia dan anak-anak nya bisa makan.
"Alhamdulillah udah penuh! " gumam nya dengan wajah lelah dan letih.
Dengan berjalan kaki ia menuju tempat pengumpul barang-barang bekas tersebut agar menghasilkan uang. Tubuh nya yang kurus, kulit yang kusam dan gelap membuat nya terlihat seperti berumur 50 tahun. Sesekali terdengar helaan napasnya saat membawa karung berisi barang bekas yang ia pungut.
"Mudah-mudahan hari ini dapat rezeki lebih agar bisa beli beras sekilo! " ucap nya penuh harapan saat memasuki tempat ia menjual barang-barang tersebut.
Tubuh kurus tersebut begitu semangat saat meletakkan karung besar itu di timbangan.
"Ini uangnya untuk hari ini! " ucap perempuan besar dengan agak kasar.
Uang pecahan lima ribuan dan sepuluh ribu di ambilnya dari tangan perempuan itu. Ia menghitung nya dengan tangan gemetaran karena ia begitu lapar.
__ADS_1
"Alhamdulillah dapat 75ribu..Bisa untuk beli beras dua kilo! " ucapnya penuh rasa syukur dan mulai bangkit untuk pergi membeli beras.
Bersambung...