Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
Kepolosan Amirah


__ADS_3

Cukup lama Tata dan Amirah berbicara dari hati ke hati sebelum mereka pergi ke ruangan tempat Nada di tangani.


"Assalamualaikum.. !! Gimana Mas? Apa kata Dokter? " tanya Tata selesai ia mengucapkan salam saat memasuki ruang rawat Ibuk.


"Waalaikumsalam sayang.. !! Apa ada kabar dari Tiger di IGD? " jawab Dave juga bertanya tanpa menjawab pertanyaan Tata.


"Mas ih, orang nanya di tanya balik! " sungut Tata mendengus kesal.


"Hehehehe... " Dave terkekeh kecil sembari mengusap lembut kepala istrinya.


"Ayo sayang duduk di sana! Mamah kamu masih di obati Dokter! " pinta Tata pada Amirah ke sofa di sudut ruangan.


Amirah mengangguk patuh dan berjalan menuju sofa yang di tunjuk Tata. Sementara itu, Martin berbicara dengan dua orang Dokter di samping Ibuk yang menggenggam tangan Nada dengan tatapan sendu.


"Mereka ngomongin apa Mas?? " bisik Tata mendekatkan mulut nya di telinga Dave.


"Cup.. ! " Dave menoleh ke samping hingga bibirnya bertemu bibir Tata dengan tidak sengaja.


Tata memukul kesal lengan otot suaminya karena ulah nya tadi membuat ia malu dan takut di pergoki orang.


"Ya ampun sayang!! Kok Mas di pukul sih! Salah kamu sih yang bisik-bisik di kuping Mas, geli tau kayak di gelitik kuping nya! " ucap Dave membela diri.


"Halah, bisa ae lu bang ngeles nya! " omel Tata dengan bibir mengerucut maju.


"Cup... ! Nah, itu baru sengaja! " ucap Dave dengan cepat memberikan kecupan di bibir manyun Tata.


"Astaga Mas.. ! Bisa-bisanya mengambil kesempatan dalam kondisi terjepit! " ujar Tata kesal sembari mukanya celingak celinguk melihat semua orang di ruangan itu takut ada yang lihat.


"Habisnya kamu lucu banget sih! Salah sendiri mukanya selalu bikin Mas gemes.. " jawab Dave santai.


Tak lama kemudian, Martin datang mendekati mereka berdua bersama dua orang Dokter yang tadi berbincang dengan nya.


"Tuan, Nona! Ini adalah Dokter Mariana ahli kejiwaan dan Ini Dokter Leonita psikiater yang akan menangani Nyonya Nada! " ucap Martin memperkenalkan dua Dokter wanita yang berdiri di samping nya.


"Halo Dokter! Salam kenal, mohon bantuannya untuk mengobati kakak saya! " ucap Tata dengan tersenyum ramah.


"Halo Nyonya! Salam kenal juga! Saya dan teman saya akan berusaha sekuat tenaga kami untuk membantu proses pemulihan Nyonya Nada! " sahut Dokter Mariana dengan tersenyum ramah sambil berjabat tangan dengan Tata.


Sedangkan Dave hanya mengangguk saja dengan wajah datar dan dinginnya. Tata menyenggol bahu suaminya agar menyapa kedua Dokter tersebut, tapi Dave acuh saja dan pura-pura tidak tau apa maksud sang istri.


"Bagaimana keadaan kakak saya sekarang Dok?? " tanya Tata memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Saat ini beliau masih dalam keadaan baik-baik saja Nyonya! Saya baru saja memberikan obat penenang hingga beliau tertidur! Hanya saja saat ia bangun nanti usahakan untuk tidak mendekati nya secara bersamaan karena ia masih takut untuk bertemu banyak orang. Dari cerita Dokter Martin, beliau hanya bisa berinteraksi dengan orang yang ia kenal saja untuk sementara ini. Trauma yang ia alami membuatnya tidak bisa berinteraksi dengan orang yang baru. Saya tidak tau apa yang ia alami di masa lalu hingga trauma seperti ini, tapi jika di tangani bersama psikiater maka trauma nya akan hilang secara bertahap. Dukungan keluarga sangat di butuhkan agar terapi nya berhasil Nyonya! " jawab Dokter Mariana dengan wajah serius.


"Kami akan selalu mendukung nya Dokter agar trauma nya hilang sepenuhnya! " ucap Tata dengan semangat.


"Dukungan keluarga adalah obat yang terbaik Nyonya di samping terapi dan obat-obatan! " sahut Dokter Mariana memberikan support nya.


"Tentu saja Dokter! " ujar Tata dengan tersenyum.


"Oh ya Nyonya, terapi nya kalau bisa di mulai secepatnya karena lebih cepat kita tangani maka lebih cepat pula trauma nya hilang! " ucap Dokter Leonita ikut bicara.


"Tentu saja Dokter! Saya setuju, makin cepat di tangani maka trauma kakak saya akan cepat hilang. Nanti jika kakak saya sudah sadar akan saya suruh orang saya menemui Dokter! " sahut Tata dengan mata berbinar.


"Baik Nyonya! Saya akan menyusun jadwal terapinya dan nanti akan saya kasih tau jadwal nya pada Nyonya! " ujar Dokter Leonita sambil tersenyum.


Pembicaraan mereka terputus karena kedatangan Arkan dan kedua Dokter tersebut undur diri kembali ke ruang kerja mereka.


"Satu jam lagi anak itu akan di pindahkan ke ruangan rawat anak di lantai 3! Kata dokter sekarang ini demamnya sudah turun dan ia lagi tidur karena pengaruh obat. Tiger yang berjaga di depan IGD. " ucap Arkan memberitahu sembari mendudukkan diri di sofa.


"Terimakasih Kak.. " ucap Tata dengan tulus.


"Sama-sama.. Jangan lupa mentah nya! " jawab Arkan menaikturunkan alisnya dengan wajah jahil.


"Cih, gak ikhlas rupanya! " cibir Tata memutar bola matanya.


Ibuk yang dari tadi duduk di samping Nada memutar tubuhnya hingga melihat gadis kecil yang rupanya tertidur di sofa tanpa ada yang menyadari nya.


Ibuk bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati gadis kecil tersebut dengan wajah bahagia. Senyuman lebar tak luntur dari wajah tua wanita paruh baya tersebut melihat cucu pertama nya yang sangat cantik.


Ibuk langsung duduk di samping Amirah dan mengusap lembut pipi Amirah hingga membuatnya terbangun dengan wajah kaget.


"Halo sayang! Jangan takut, ini nenek! Nenek ini ibunya ayah kamu dan Aunty kamu! Siapa nama mu Nak?? " ucap Ibuk dengan tatapan hangat dan teduhnya.


"Halo nenek! Namaku Amirah! " jawab nya dengan tersenyum lebar.


"Amirah sayang.. ! Boleh nenek memelukmu?? " tanya Ibuk dengan penuh harap.


Amirah mengangguk pelan dan Ibuk langsung menarik nya kedalam pelukannya dengan wajah bahagia. Ia bahkan menciumi setiap inci wajah Amirah dengan gemes hingga Amirah terkekeh geli karena ulah neneknya.


Kekehan Amirah mengalihkan perhatian semua yang ada di ruangan tersebut. Mak Ijah yang sedari awal berdiri di sudut tersenyum haru melihat interaksi nenek dan cucunya itu, begitu juga dengan Tata, Dave, Martin dan Arkan.


"Amirah sekarang berapa umurnya? Sudah kelas berapa sekolah? " tanya Ibuk dengan merangkul bahu cucu pertamanya itu.

__ADS_1


"Mirah umur 8 tahun Nek! Mirah gak sekolah karena Mamah gak punya uang untuk biayain sekolah Mirah. Lagipula kata Mamah kalau Mirah sekolah kita harus pulang ke Johor karena gak punya identitas. Mirah gak mau kesana Nek, Mirah gak mau ke tempat orang jahat itu. Meskipun kata Mamah itu tanah kelahiran Mirah, Mirah tetap gak mau kembali ke sana! Tapi nenek tenang aja, Mirah bisa baca tulis kok Nek! Di tempat Mirah ada kakak-kakak yang baik mau mengajari Mirah dan teman-teman Mirah belajar baca tulis. Gak cuma itu Nek, kakak-kakak itu juga sering kasih Mirah makanan dan pinjamkan buku untuk Mirah baca! Baik kan kakak itu Nek.. " jawab nya sangat antusias menceritakan nya tanpa merasa terbebani sama sekali.


Mirah bercerita dengan penuh semangat dan tersenyum lebar, tapi nenek dan Aunty nya malah menangis mendengar cerita dari bibir polos Amirah. Ia terus bercerita tanpa menyadari neneknya berkali-kali mengusap air mata di pipinya dengan menatap Amirah penuh rasa kasihan dan penyesalan.


Menyesal karena terlambat mencari keberadaan mereka hingga hidup memprihatinkan tanpa identitas yang jelas masuk ke negara lain secara ilegal. Perasaan itu jugalah yang menusuk hati Tata hingga ia tidak bisa menahan tangis nya. Di sudut ruangan Mak Ijah ikut terenyuh mendengar penderitaan menantu dan cucu majikannya hingga ia ikutan menangis dalam diam.


Tata berjalan menuju Ibuk dan keponakannya, lalu jongkok di depan Amirah hingga tinggi mereka sejajar. Ia memegang lembut tangan Amirah dengan menatapnya dengan pandangan menyesal.


"Amirah sayang.. ! Dengerin Aunty ya.. Mulai hari ini Amirah, Aqila dan Mamah gak akan balik lagi ke Johor! Kalian bertiga akan tinggal bersama nenek, Aunty, Uncle dan adik-adik bayi! Amirah dan Aqila akan bersekolah di sini dan akan punya teman-teman baru yang menyenangkan! " ucap Tata dengan lembut dan tatapan hangat.


"Adik-adik bayi??? " beo Amirah dengan mata berbinar.


"Benar, adik-adik bayi anaknya Aunty dan Uncle! Nanti ada teman Amirah juga Kayla dan Kana serta banyak lagi nanti teman-teman baru Amirah! " jawab Tata membenarkan kata-kata nya.


"Wah.. Banyak banget! Amirah mau Aunty! Tapi gimana dengan dedek Aqila Aunty? Soalnya kan dedek Aqila sakit gak bisa jalan, nanti ada yang mau kan bermain sama dedek Aqila?? " ucap nya dengan wajah bahagia namun menjadi sendu di bagian terakhir.


"Amirah tenang aja! Aunty janji akan bawa dedek Aqila berobat hingga nanti dedek Aqila bisa berjalan lagi dan gak pakai kursi roda! " sahut Tata dengan penuh keyakinan.


"Benarkah Aunty?? Hore... Amirah seneng dedek Aqila bisa jalan lagi!! " ucap Amirah berteriak gembira.


"Nenek senang kalau Amirah juga senang! Nanti kita sama-sama bermain kemana pun yang Amirah dan Aqila suka! " ucap Ibuk dengan tersenyum bahagia melihat kegembiraan Amirah.


"Terimakasih ya Nek, Aunty! Amirah senang banget ketemu nenek sama Aunty! Amirah bisa sekolah seperti teman-teman yang dulu Amirah lihat, punya teman-teman baru yang banyak dan terlebih lagi Amirah seneng gak kerja cuci piring lagi kayak dulu dan bisa bermain sepuasnya dengan teman-teman! " ucap Amirah dengan wajah polosnya.


Deg


Hati Tata tertohok mendengar perkataan terakhir Amirah yang langsung membuat jantungnya seperti di tusuk jarum.


"Ke-kerja sayang?? Maksud Amirah apa?? " tanya Ibuk dengan wajah kaget dan mata melotot.


"Kerja Nek, cari uang! Dulu kalau Mamah kerja cari botol bekas, Amirah ikut bantu tetangga Amirah di warung nya! Amirah bantu cuci piring, terkadang Amirah bantu melayani pembeli kalau pembelinya lagi ramai! Nanti Amirah di kasih upah dan sering kali setiap pulang di bawain makanan! Tapi Amirah lakuin nya kalau Mamah udah pergi karena kalau Mamah tau Amirah pasti di marahin karena ninggalin Aqila sendiri di rumah! Amirah senang kok nek bantu-bantu di sana, apalagi kalau pulangnya di kasih uang sama di bawain makanan! Tapi Amirah terkadang sedih lihat mereka sering mengejek dan mengatai Mamah penggoda padahalkan Mamah kerja terus setiap hari dan gak pernah godain orang! " jawab Amirah panjang lebar dengan wajah sendunya.


"Astaghfirullah hal azim... Astaghfirullah hal azim Ya Allah... " ucap Ibuk sambil menangis dan menepuk pelan dadanya yang sakit mendengar jawaban polos cucunya.


"Nenek.. ! Nenek kenapa nangis?? Maaf Amirah nek udah bikin nenek nangis?? " ucap Amirah panik dengan mata berkaca-kaca.


"Tenang sayang, tenang! Nenek gak papa! Amirah duduk sana dulu ya sama Nenek Ijah! Aunty akan bantu nenek dulu! " sahut Tata menenangkan Amirah yang mau menangis.


Mak Ijah langsung mendekati mereka dan menarik Amirah berduduk di ranjang dekat Mamah nya yang masih berbaring.


Tata duduk di samping Ibuk dan membawa tubuh tua Ibuk nya kedalam pelukannya. Ibuk menangis pilu dalam pelukan Tata mendengar kehidupan yang di jalani menantu dan cucunya. Tata juga menangis tanpa suara sambil memeluk tubuh Ibuk nya.

__ADS_1


"Ibuk kecewa sama Abang mu dek! Ibuk kecewa! Hati Ibuk sakit banget! Bagaimana bisa ia membuat anak dan istrinya hidup sengsara dalam pelarian! Ibuk gagal menjadi seorang ibu dek, Ibuk gagal mendidik Abang mu! Ya Allah.. Ampunilah dosa-dosaku Ya Allah.. ! Abang mu menaruh air garam di atas luka hati Ibuk dek! Abang mu tega sama Ibuk! Allahu Akbar... Allahu Akbar.. " jerit Ibuk tertahan dengan tubuh terguncang dalam pelukan Tata.


Bersambung...


__ADS_2