
Sandra terbangun dari tidurnya dengan napas ngos-ngosan dan berkeringat dingin. Sama seperti Ibuk nya Tata, ia juga bermimpi Tata yang duduk sendiri di kegelapan malam.
"Ya Allah... Ternyata masih jam 2 lewat! Kenapa aku tiba-tiba mimpi si Butet ya? Sudah dua hari ini ia tidak memberikan kabar! Waktu aku telepon katanya mau nelpon balik, tapi sampai sekarang gak ada nelpon juga! " ucap Sandra sembari melihat jam weker di meja dekat tempat tidurnya.
Ia pun membetulkan selimut anak-anak dan turun dari tempat tidur untuk duduk di sofa sambil meminum air putih.
Ia meraih ponselnya mencoba untuk menghubungi Tata, namun tidak ada jawaban. Malahan yang menjawab operator telepon.
"Ponselnya juga gak aktif! Kemana lah si Butet ini? Bikin orang khawatir aja! " gerutu Sandra dengan kesal.
...****************...
Di taman rumah sakit...
Karena masih 2 dini hari, Eyang Putri agak kesulitan mencari keberadaan Tata yang keluar menghindari suaminya.
Ia berjalan mengitari halaman rumah sakit yang luas dengan diterangi cahaya lampu rumah sakit tersebut.
Hingga sampai di taman kecil dekat bangsal anak-anak, dari belakang ia melihat seseorang duduk di sebuah bangku taman di balik tiang lampu taman itu.
Eyang Putri berjalan mendekat dan menyentuh bahu Tata dari belakang. Tata menoleh dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.
"Eyang..... ! " ucap Tata dengan lirih.
Eyang Putri pun berjalan memutar hingga duduk di samping Tata yang sedang menangis dalam diam. Ia meraih jemari Tata dan menggenggamnya dengan erat seperti yang di lakukan Giselle tadi padanya.
"Menangis lah jika itu membuatmu lega! Menangis sangat di perlukan untuk kita guna meluapkan emosi kita yang tertahan! " ucap Eyang Putri dengan lembut.
Tata langsung menangis kencang hingga kedua bahu nya terguncang. Ia memukul-mukul dadanya yang sesak saking beratnya gejolak perasaan yang ia alami.
Eyang Putri hanya diam dan memang sengaja membiarkan Tata menumpahkan segala kesedihannya, kegelisahan nya, dan rasa bersalah nya dengan menangis. Ia hanya mengusap punggung Tata yang bergetar karena tangisannya dengan lembut seolah-olah ia memberikan dukungan lewat usapannya.
Saat tangisan Tata sudah tidak terdengar lagi, Eyang Putri pun bicara.
"Bagaimana? Sudah agak lega? " tanya ia dengan menatap lembut Tata.
Tata menganggukkan pelan dan menghapus air matanya dengan jaketnya. Sebelum keluar dari sarang King Cobra ia masih sempat meraih jaket nya yang ia letakkan di lantai bersama senjata tangannya Knuckle.
"Eyang dan semua orang juga sedih dengan apa yang menimpa Abeth, tapi balik lagi semua itu sudah menjadi takdir Allah karena semua ini adalah pemberian Allah untuk kita semua. Allah ingin kita lebih bersabar, lebih berusaha dan lebih bijak dalam menghadapi segala ujian dan cobaan. Allah hanya akan memberikan ujian kepada hamba-hamba nya yang mampu. Allah yakin kalau Abeth mampu, makanya beliau memberikan cobaan ini untuk Abeth. Sesuai yang di ceritakan Dave pada kami semua, apa yang di lakukan Abeth murni keinginan nya sendiri untuk menyelamatkan mu! Jadi, Jangan lah menyalahkan dirimu terus menerus karena itu semua bukan salah mu! Coba lah untuk berpikiran positif dan buang semua perasaan bersalah itu! Kamu mau kan, Nduk? " ucap Eyang Putri panjang lebar dengan lembut.
"Tapi Eyang.... Bagaimana dengan Mami? Mami pasti kecewa sama Tata, karena udah bikin anak perempuan nya mengalami semua ini? " jawab Tata masih agak sangsi.
"Siapa bilang? Mami mu bukan perempuan seperti itu? Eyang tahu betul bagaimana sifat anak bungsu Eyang itu! Saat ini mungkin ia masih fokus dengan Abeth karena bagi seorang ibu, apa yang di alami anak-anaknya adalah pukulan telak untuk diri nya. Seperti ada yang sengaja menusuk punggungnya dengan ribuan jarum. Seorang ibu merasakan apa yang di alami anak-anak nya karena ikatan batin mereka yang saling berhubungan di mulai saat anak-anak nya berada di dalam kandungan nya dulu. Walaupun anak-anak nya sudah besar dan mempunyai kehidupan lain, kasih sayang seorang ibu dan ayah tidak akan pernah hilang. Mereka akan selalu menganggap anak-anak mereka masih kecil dan perlu di rengkuh dan di dekap dengan erat.
Nanti saat kamu menjadi seorang Ibu, kamu akan mengalami apa yang Eyang katakan. Jadi, jangan mengambil kesimpulan sendiri ya... ! " ucap Eyang lagi dengan merapikan anak rambut Tata yang di terbang kan angin malam.
"Iya Eyang... ! " jawab Tata patuh.
Dave yang mengintip dari celah-celah kembang di taman tersebut tersenyum lega melihat Eyang nya berhasil menasehati istrinya yang masih tampak menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa kakak nya.
"Ayo kita masuk ! Jelang waktu subuh, angin nya semakin dingin dan kencang! " ajak Eyang Putri meraih tangan Tata untuk berdiri.
__ADS_1
Tata mengangguk dan ikut berdiri. Mereka berdua berjalan meninggalkan taman tersebut dan masuk kembali ke rumah sakit.
Di dalam rumah sakit, tepat nya di depan ruangan IGD, semua orang sedang menunggu saat Abeth akan di bawa ke ruang operasi.
Begitu melihat Tata dan Eyang Putri datang, Mami Sita menoleh dan langsung mendekati mereka. Ia langsung memeluk Tata erat dengan menangis tersedu-sedu. Menantu dan Mertua menangis dengan berpelukan.
"Maafin Mami ya sayang... ! Mami lupa kalau ada kamu, Mami terlalu fokus sama kakak kamu, sehingga Mami lupa menanyakan keadaan anak Mami yang satu lagi. Maafkan Mami ya Nak! " ucap Mami Sita dengan isak tangis nya.
"Hu... Hu... Hu... Mami gak salah! Kenapa Mami meminta maaf? Seharusnya Tata yang minta maaf karena gagal membawa pulang kakak dengan selamat! Malahan kakak seperti ini gara-gara Tata! " sahut Tata juga sambil menangis.
Mami Sita merenggang kan pelukan nya. Ia menyentuh wajah Tata yang terdapat luka lebam dengan lelehan air mata. Ia menangis sambil membelai luka lebam tersebut.
"Pasti rasanya sakit sekali! Itu bukan gara-gara kamu sayang! Sekarang kakak kamu akan di operasi! Dia membutuhkan doa kita semua! Jangan menyalahkan diri mu sendiri ya Nak! " ucap Mami Sita dengan lembut dan menatap hangat menantunya.
Papi Dayton mendekati mereka berdua yang masih berdiri. Ia langsung membawa Tata dan istrinya ke dalam pelukannya. Ia mengecup hangat puncak kepala Tata dan juga istrinya secara bergantian.
Saat ia merengkuh pinggang Tata, Tata menjerit pelan namun masih terdengar di telinga mereka berdua.
"Awwww.... Sssshhh! " jerit Tata pelan dengan di tahannya.
Mami Sita dan Papi Dayton saling berpandangan. Mereka membawa Tata duduk di kursi tunggu dan menatap tajam Tata seperti kilatan pedang yang sudah di asah.
"Katakan pada Mami dan Papi kalau kamu baik-baik saja sayang? " tatap Mami Sita penuh selidik dan khawatir.
"Iya Nak! Katakan pada kami, jangan kau tutupi! " sahut Papi juga ikut menatap tajam Tata.
"Tata gak papa Pi, Mi.. ! Gak ada yang perlu di khawatirkan! " jawab Tata tersenyum di paksa.
Ia menahan rasa nyeri di pinggangnya karena saat duel, ujung sepatu King Cobra yang keras sempat mengenai pinggang nya sebelah kiri. Hanya saja ia mengabaikan rasa nyeri nya karena baginya itu hal biasa.
Mami Sita tetap tidak percaya, ia masih mendesak Tata untuk berkata jujur.
"Dave.... ! " panggil Mami Sita kencang.
Untung saja karena masih dini hari, jadi suasana rumah sakit tidak terlalu ramai. Terlebih lagi ruang IGD, yang setiap hari selalu banyak pasien yang datang. Teriakan Mami Sita tidak mengganggu ketenangan pasien atau pun aktivitas petugas medis.
"Ada apa Mami! " jawab Dave yang baru saja masuk ke dalam rumah sakit habis membuntuti Tata.
"Buka jaket yang di pakai Tata! Cepat.. ! " ucap Mami Sita dengan tajam menatap Dave.
Ucapan Mami Sita membuat Eyang Putri dan Bude-Bude nya Dave mendekat. Dave menatap istrinya dan Tata menatap dengan pandangan memohon dan gelengan kepala.
"Emangnya kenapa Mi pakaian Tata di buka! Malu lah Mi di lihat orang-orang rumah sakit! " jawab Dave mengulur waktu.
"Mami cuma suruh kami buka jaket Tata, Dave! Bukan semua pakaian Tata! Ayo cepat buka! " ucap Mami Sita lagi penuh penekanan.
Perkataan Mami Sita membuat rasa penasaran semua kakak-kakaknya.
Mereka saling bertanya ada apa sampai jaket Tata harus di buka segala.
"Udah Son... Turutin saja perkataan Mami mu! Papi juga merasa kalau istrimu menyembunyikan sesuatu dari kita semua! " sahut Papi juga ikut mendesak Dave.
__ADS_1
Mami Sita menyuruh Tata menatap dinding sambil tetap duduk. Dave pasrah menuruti keinginan Mami nya untuk membuka jaket yang di kenakan Tata.
Begitu jaket terlepas, mata mereka semua terbelalak kaget melihat pinggang Tata penuh dengan luka lebam yang membiru dan saat Mami Sita menyentuhnya Tata meringis kesakitan sambil menggigit bibirnya dengan kuat.
Dave sangat terkejut melihat lebam di pinggang istrinya. Tangan nya terkepal erat menahan gejolak amarah di dadanya. awalnya ia mengira Tata memohon untuk tidak membuka jaketnya karena malu hanya mengenakan tank top, tapi karena lebam ini yang ia berusaha sembunyikan dari semua orang.
"Astaghfirullah hal adzim..... " ucap Eyang Putri dan semua orang dengan ikutan meringis seperti Tata.
"Bugh..... Bugh..... Bugh..... ! Mami kan sudah bilang untuk gak bikin istri kami luka-luka! Apa tidak cukup wajahnya saja yang penuh luka? Harus kah tubuh nya yang lain ikutan luka-luka Hah ! Jawab Dave! Jangan diam saja! " teriak Mami Sita melampiaskan kemarahan nya dengan memukuli lengan Dave berulang kali.
Dave diam saja saat Mami nya memukuli dan memarahinya karena luka yang di alami Tata. Eyang Putri berteriak memanggil perawat agar membantu Tata mengobati lebam-lebam di tubuhnya.
Bude Rini membantu Tata agar berdiri dan membawanya mengikuti perawat yang akan mengobati Tata. Begitu Tata pergi bersama Bude Rini, pintu IGD terbuka dan petugas medis mendorong brankar yang terdapat Abeth di atasnya dengan berbagai alat bantu nafas di wajahnya.
Semua orang mendekati Abeth dan Henry langsung menggenggam jemari Abeth dengan menangis sedih. Mami dan Papi sama-sama menyentuh dan membelai rambut Abeth dengan berkata lembut.
"Sayang nya Mami... ! Kamu harus kuat ya Nak! Mami dan Papi akan selalu menunggu kamu di sini! Mami akan selalu berdoa untuk kesembuhan mu sayang! Anak Mami kuat, dan kamu pasti bisa melewati semua ini sayang! " ucap Mami dengan suara serak seraya mengecup lembut kening Abeth.
Papi Dayton tidak berkata-kata, ia hanya mencium lama kening Putri nya dengan air mata yang tidak berhenti keluar dari sudut matanya.
"Berjanjilah sayang kalau kau akan baik-baik saja! Kau akan kembali lagi padaku! Kita akan bersama-sama melewati semua cobaan ini! Aku sangat mencintaimu, Elizabeth ku sayang! " bisik Henry di telinga Abeth.
Ia kemudian mencium lama kening istrinya seperti yang Papi Dayton lakukan tadi.
Semua orang bergantian membisikkan kata-kata penyemangat untuk Abeth meskipun yang di bisikin tidak merespon nya karena masih di dalam pengaruh obat bius.
"Baik Pak, Bu... ! Waktunya pasien di bawa ke ruang operasi! " ucap seorang perawat wanita bersama dua orang perawat pria yang mendorong brankar Abeth menuju ruang operasi.
Semua nya ikut berjalan dari belakang mengantarkan Abeth menuju ruang operasi dini hari itu juga. Sebenarnya operasi akan di lakukan esok pagi, tapi karena Dave mendesak dengan menggunakan wewenangnya sebagai salah satu pemegang saham di rumah sakit ini, dokter yang akan mengoperasi Abeth mau melakukan operasi saat ini tanpa harus menunggu esok pagi.
Setelah memastikan kakaknya sudah masuk ruang operasi, Dave pun pergi menuju tempat Tata di obati. Bude Rini berdiri menunggu perawat sedang mengoleskan salep lebam di area pinggang Tata.
Dave masuk dan memberikan kode pada Bude Rini kalau ia yang akan di sini. Bude Rini mengangguk mengerti dan keluar dari ruangan tersebut tanpa pamit pada Tata.
Karena ia sedang tengkurap, ia tidak menyadari yang bersama nya bukan Bude Rini tapi suaminya sendiri.
"Sudah Mbak... ! Jangan banyak di gerakkan pinggang ya Mbak! Saya sudah menyuntikkan pereda nyeri sesuai perintah dokter dan dokter sudah memberikan resep obat yang harus di minum dua kali pagi dan sore. " ucap perawat tersebut dengan menurunkan pakaian Tata.
Tata mengangguk pelan dan berusaha pelan-pelan untuk duduk dengan di bantu perawat tersebut. Saat ia duduk, ia terkejut melihat suaminya berdiri tegak dengan kedua tangan di masukkan ke dalam kantong celana nya.
"Saya permisi Pak, Bu... ! " ucap perawat itu lagi setelah menyerahkan secarik kertas berisi resep obat dari dokter.
Tata hanya mengangguk dan tersenyum kecil kemudian menundukkan kepala nya saat Dave menatap nya dengan tajam.
"Maaf...... " ucapnya pelan karena merasa bersalah menyembunyikan luka-luka tersebut dari suaminya.
Bersambung...
Kira-kira apa ya readers jawaban babang Bule??? Marah atau apa sama istri nya???🤔🤔..
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers ku tercinta...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...
Lope-lope sekebon cabe.... 🥰🥰🥰🥰