
Karena Tata dan Dave tidak ada di ruangan cucu-cucu nya, Mami Papi Dave pun menuju kamar besannya yang masih satu lantai dengan kamar Tata dan si kembar.
Sementara itu, Aqila akan di pindahkan menjadi satu ruangan dengan nenek nya karena kekuasaan Dave sebagai anak pemilik rumah sakit tersebut.
Tata meringis kecil dengan memegang dadanya karena sudah waktunya Asinya di keluar kan lagi.
"Aqila sayang, Aqila sama Om Martin dulu ya ke kamar nenek! Di sana ada Mamah, kakak Amirah dan juga nenek nya Aqila! Aunty mau menemui adik bayi dulu karena adik bayi udah lapar! " ucap Tata dengan mengusap lembut kepala Aqila.
"Aunty punya adik bayi?? " tanya nya dengan mata berbinar.
"Hmm.. Ada enam adik bayi yang Aunty punya! " jawab Tata dengan menunjukkan enam jemarinya.
"Wah, banyak sekali! Aqila mau main sama adik bayi! " serunya pelan dengan tersenyum lebar menampilkan giginya yang kecil.
"Aqila harus sehat dulu baru bisa bermain sama adik bayinya, karena sekarang adik bayinya masih kecil banget di ajak main! " ujar Tata lembut.
"Iya Aunty... Aqila akan cepat-cepat sembuh biar bisa main sama adik bayi! " ucapnya mengangguk paham.
"Ya udah, sekarang Aqila ke kamar rawat duluan ya?? Nanti Aunty menyusul setelah adik bayi nya kenyang! " sahut Tata lagi sembari memberi kode pada Martin agar membawa Aqila ke lantai lima.
Aqila melambaikan tangannya begitu bed nya di dorong seorang perawat dengan di ikuti Martin yang berjalan di dekat kepala nya.
"Ayo Mas ke atas, dadaku udah sakit banget! " ajak Tata dengan menggandeng lengan kekar suaminya.
Mereka pun naik ke lantai lima dengan lift berbeda dan langsung masuk ke ruangan bayi setelah memakai pakaian khusus karena mereka baru saja dari ruang IGD.
Dave dengan setia menemani istrinya mengAsihi bayi-bayi mereka sembari bermain bersama anak-anak nya meskipun hanya menyentuh jemari mungil mereka.
"Rasanya Mas kayak mimpi sayang punya anak langsung kembar enam kayak gini! Hati Mas serasa mau meledak saking bahagia nya! " ucap Dave dengan menatap mata Putri satu-satunya mereka dengan penuh cinta.
"Hehehehe... Iya Mas! Lihat mereka semua, mirip banget mukanya sama Mas, dan aku cuma ke bagian rambutnya aja yang hitam pekat. Apalagi tuh anak perempuan kita, mukanya sama persis kayak Mas, mata biru jernihnya, alis tebalnya dan hanya rambut nya aja yang pirang kayak GrandFa! Gak ada sedikitpun mirip aku, padahal aku yang mengandung dan melahirkan mereka! Ckckck.. " sahut Tata dengan terkekeh kecil.
"Iya ya sayang, kelima putra kita rambut nya sama kayak kamu! Sedangkan princess kita ngambil rambut Buyut nya, pasti jadi kesayangan Buyut nya ini nih! Hehehehe... " ucap Dave ikutan terkekeh dan mencium gemes pipi merah sang Putri.
Tidak terasa hampir satu jam mereka berdua di ruangan bayi dan mereka sekarang sudah kembali ke ruang rawat Tata karena Tata kelelahan.
"Istirahat dulu ya sayang, Mas mau ke ruangan Ibuk dulu! Kamu gak papa kan Mas tinggal?? " ucap Dave saat menaikkan selimut Tata.
__ADS_1
"Gak papa Mas, aku capek banget ini... " jawab Tata dengan mata yang hampir tertutup.
Dave memberikan kecupan hangat di kening istrinya sebelum ia keluar dari ruang rawat tersebut. Ia menitipkan Tata pada perawat yang berjaga di ruang perawat yang hanya berjarak satu kamar dari kamar Tata.
Sementara itu di ruangan Ibuk, semua orang bercengkrama bersama Amirah dan Aqila meskipun ia masih terbaring lemah. Hal itu tidak menyurutkan raut bahagianya karena bertemu sang nenek yang selama ini ia idamkan. Bahkan sedari tadi ia tidak mau jauh dari neneknya hingga sering kali berebutan bersama Amirah yang membuat ruangan tersebut ramai dengan celoteh mereka berdua.
Nada yang masih belum terbiasa dengan keramaian masih bertahan di atas ranjangnya dengan di temani Martin yang ia percayai karena seringnya interaksi antara mereka selama ini.
Kehangatan mertua Tata membuat ia sedikit lega karena mereka menerima ia dan anaknya dengan tangan terbuka.
Mami Sita mendekati Nada bersama Papi Dayton untuk berbicara sebentar.
"Nak, mulai besok jika kondisi mu sudah pulih kau harus mulai bersiap-siap pergi ke Amerika untuk pengobatan anakmu agar ia bisa cepat berjalan lagi! Mami udah dengar kondisi kaki nya dari Arkan dan hanya di Amerika lah ia bisa di tangani dengan dokter terbaik. Kita akan berusaha membuat anakmu berjalan dan bermain bersama teman-teman seperti dulu! Di samping itu juga, selama di sana kau bisa terapi dengan psikiater yang sudah di akui kehebatan nya dalam menyembuhkan pasien trauma! Kau jangan takut karena kami semua akan selalu mendukung mu! " ucap Mami Sita panjang lebar sembari menggenggam tangan Nada.
"Kenapa kalian baik sekali sama saya?? Padahal kita baru saja bertemu dan belum kenal dekat... Saya tidak bisa membalas kebaikan Tuan dan Nyonya serta kalian semuanya.. " sahut Nada dengan linangan air mata dan bahu naik turun karena menangis.
Untung saja tangisan nya tidak mengeluarkan suara keras hingga tidak membuat anak-anak nya merasa terganggu. Mereka bahkan tidak tau jika Mamah nya sedang menangis di atas bed nya. Karena ruang rawat ini begitu luas maka pembicaraan mereka tidak terlalu di dengar oleh anak-anak Nada serta Ibuk mertuanya dan Mak Ijah.
"Kami baik karena kita adalah keluarga! Kamu keluarga nya Tata menantu kesayangan saya, dan mertua kamu adalah besan saya! Jadi nya otomatis kamu juga anak saya seperti Tata, Dave, Abeth dan Henry. Tidak ada alasan bagi keluarga untuk tidak saling bantu dan saling support satu sama yang lainnya! Mulai sekarang panggil saya Mami dan suami saya Papi seperti Tata! Sudah saat nya kamu dan anak-anak kamu hidup bahagia, Nak! Lupakanlah masa lalu dan raihlah masa depan bersama keluarga yang menyayangimu! Mami berharap kamu mau menerima uluran tangan kami semua! " jawab Mami Sita panjang lebar.
Nada semakin menangis sembari menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara. Ia meraih tubuh Mami Sita dan memeluk nya dengan erat walau air mata nya tidak berhenti keluar. Perasaan takut akan di tolak dan di hina seketika hilang dari hatinya berganti perasaan bahagia mendapatkan kebahagiaan yang selama ini ia idamkan.
"Terimakasih Mi, Pi.. " ucap Nada dengan tersenyum tulus.
"Sama-sama Nak! " jawab Mami Papi barengan.
Ceklek
Pintu kamar rawat itu terbuka membuat semua mata menoleh ke arah pintu.
"Papi Mami udah nyampe?? " tanya Dave begitu melihat orang tuanya.
"Udah dari tadi, Tata mana?? Tadi Mami ke ruangan Tata gak ada, ke ruangan si kembar juga gak ada, makanya kami langsung ke sini! " jawab Mami sembari bertanya juga.
"Tata tidur kecapean abis nyusuin si kembar, lagian tadi dia juga mandi dulu sebelum tidur! Dave ada perlu dulu dengan Arkan Mi! Ayo ikut keluar! " jawab Dave dengan menyuruh Arkan mengikutinya.
Tidak hanya Arkan, Tiger pun ikut keluar dan meninggalkan Martin yang di dalam berdiri di samping Nada.
__ADS_1
"Ada apa manggil gue Bos?? " tanya Arkan saat mereka sudah duduk di bangku tunggu depan kamar rawat.
"Gimana keadaan Abang ipar saya Tiger? " tanya Dave tanpa menjawab pertanyaan Arkan.
Arkan mendengus kesal karena Dave tidak menjawab pertanyaan nya dan malah bertanya pada manusia es papan triplek di samping nya.
"Semenjak hari itu ia tidak banyak bicara, tidak pernah banyak ulah dan sering melamun seperti laporan anak buah ku! " jawab Tiger tanpa ekspresi.
"Merasa bersalah kali pas ketemu emaknya! " sahut Arkan.
"Mungkin, tapi itu tidak menutup kemungkinan itu hanya trik nya saja agar bisa kabur dari kita! Saya tidak ingin kecolongan hanya karena sikap diamnya, karena jika ia sampai kabur maka tidak menutup kemungkinan ia akan di temukan oleh pihak lawan dari Johor! Perketat penjagaan dan jangan sampai lengah! " ucap Dave dengan tegas dan dingin.
"Baik Tuan.. " jawab Tiger patuh.
🌿🌿🌿
Johor, Malaysia.
"Siapa yang berani mengusik laptop di bilik peribadi saya??? Sehingga video penting saya tiada sikit pun! " teriak seorang pria dengan begitu marah nya dan menghancurkan semua barang yang ada di dalam kamar nya.
"Kenapa awak marah sangat?? Tak da yang berani masuk bilik awak selain pelayan yang bersihkan bilik awak! " tanya seorang pria yang berdiri di dekat pintu dengan pandangan heran.
"Tak udah banyak cakap kau Malik! Jangan buat saya makin pening dengan kata-kata awak tu! Keluar dari sini! " teriak pria itu dengan suara menggelegar.
Dengan wajah mendengus kesal, pria bernama Malik itu langsung pergi dari bilik tersebut karena tidak ingin menjadi sasaran amukan laki-laki yang tempramental tinggi itu.
Begitu pria itu pergi dari pintu kamar nya, laki-laki tersebut kembali mengamuk dengan menghancurkan apa saja yang ada di dalam bilik nya dengan wajah merah penuh dengan amarah yang memuncak.
Para pelayan di rumah besar tersebut tidak berani mendekat apa lagi sampai menegur laki-laki yang terkenal kasar dan temperamen tinggi. Ia tidak segan-segan menyiksa para pelayan nya jika apa yang ia inginkan tidak sesuai dengan apa yang di dapat.
Tidak hanya para pelayan, kakak beradiknya pun tidak berani menyapa atau menegurnya jika ia dalam metode kumat seperti ini.
Seorang pria paruh baya yang berusia sekitar 60an berjalan mendekati bunyi berisik tersebut dengan menggunakan tongkat saktinya bersama tangan kanan nya.
"Hentikan ulah mu itu Sahid! Apa hal yang awak buat ni?? Bunyi ini kedengaran sampai jalan keluar?? " tegur pria paruh baya dengan menekan tongkat nya.
"Ayah, seseorang telah memadamkan video pada komputer riba pribadi saya? Walaupun hanya saya ja yang tau kuncinya, itu video yang sangat saya suka Ayah! Bagaimana pula ini, kalau tak ada video macam mana nak lepaskan rindu pada Soraya, macam mana ayah?? " ucapnya dengan histeris sambil menjambak rambutnya.
__ADS_1
"Apa awak cakap??? Bagaimana bisa kat itu??? " teriak pria paruh baya itu dengan wajah terkejut.
Bersambung..