
Petugas medis langsung sigap mendekatkan brankar pasien di dekat pintu mobil. Dave membuka pintu mobil dari luar dan Henry keluar dengan menggendong Abeth dengan langsung meletakkannya di atas brankar.
"Ya Allah anakku... ! " pekik Mami Sita dengan histeris.
Mereka semua bertambah shock melihat keadaan Abeth yang berlumuran darah di bagian paha hingga kakinya. Pakaian Henry juga penuh lumuran darah.
Tata turun belakangan dan semuanya menoleh ke arah Tata dengan muka kaget seraya menutup mulut mereka dengan tangan.
"Allahu Akbar, Nduk... ! " ucap Eyang Putri melihat Tata yang wajahnya penuh lebam di pelipis, sudut bibir dan tulang pipinya.
Mami Sita menoleh ke arah Tata dan ia sama kaget nya dengan yang lain hingga akhirnya ia pingsan kembali.
"Mami..... ! " teriak Dave dengan meraih tubuh Mami dengan cepat.
Abeth langsung di dorong oleh petugas medis masuk ke ruang IGD untuk di tangani. Seorang perawat wanita meminta Dave untuk membawa Mami Sita yang pingsan ke ruangan yang berbeda untuk di tangani juga.
Eyang Putri dan Grandma serta Bude-Bude menghampiri Tata dan membawa nya ke dalam pelukan mereka satu persatu. Tata menangis dalam pelukan mereka, saat ia hendak berkata Eyang Putri langsung memotongnya.
"Sssttt.... Gak udah di katakan kalau itu membuat dada mu sakit dan sesak! Jangan di sesali yang sudah terjadi! Itu semua sudah takdir dari Gusti Allah untuk Abeth! Sekarang ini Abeth butuh doa kita semua! Tidak ada yang bisa di salahkan karena jika kita saling menyalahkan berarti kita juga menyalahkan takdir Allah! " ucap Eyang Putri dengan lembut seraya menghapus air mata Tata.
"Eyang mu benar Ta.. Ayo kita duduk dulu! Tenang kan dirimu! Ya Allah... Wajah mu sampai seperti ini di buat penjahat itu! Rasanya pengen Bude sunat dia hingga habis total sampai ke pangkal nya! " sahut Bude Ditha dengan merangkul Tata untuk duduk di kursi tunggu.
Henry memeluk Mommy nya dengan menangis tanpa bersuara. Mereka berdua sama-sama menangis sedih dengan apa yang terjadi pada istri dan menantunya. Sedangkan Daddy Henry hanya diam tidak berkata apa-apa, tapi sorot matanya berkata jika ia juga sangat terpukul dengan apa yang menimpa menantu nya.
Papi Dayton mondar-mandir di depan pintu IGD dengan menggigit jempolnya pertanda ia benar-benar cemas akan keadaan Putri sulung nya.
Eyang kakung, GrandFa Luis serta para Pakde duduk di kursi tunggu dengan berbagai macam perasaan. Terlihat dari raut wajah mereka yang juga sedih dengan musibah ini.
Sedangkan Arkan, begitu keluar dari mobil ia langsung berlari menuju toilet untuk menumpahkan isi perut nya karena mabuk perjalanan dengan laju mobil yang seperti berjalan melayang-layang saking ngebut nya.
Dave masih di ruangan yang lain menemani Mami nya yang masih pingsan.
"Ibunya hanya terlalu shock Pak! Tidak lama lagi beliau akan sadar, di tambah lagi tekanan darah ibu juga rendah. Itu yang membuatnya langsung pingsan karena tidak bisa menahan perasaan shock beliau! " ucap perawat kepada Dave setelah ia memberikan suntikan pada Mami Sita.
"Terimakasih, suster ! " sahut Dave sambil menggenggam erat tangan Mami nya.
Perawat tersebut mengangguk ramah dan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Dave yang menemani Mami Sita.
...****************...
Sementara itu di markas eksekusi, anak buah Tiger meletakkan tubuh King Cobra di sebuah ruangan kosong dan mengikat kedua tangan nya dengan gelang rantai besi yang terpasang lekat di dinding.
Ruangan tersebut sangat gelap dan hanya ada cahaya dari ventilasi kecil tempat udara keluar masuk.
"Tidak menyangka jika ruangan ini akan di pakai kembali setelah vakum selama hampir dua tahun! " ucap Tiger setelah ia mengunci pintu ruangan tersebut.
"Kau benar! Ayo kita pergi sebelum Martin datang! " sahut Lion seraya berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Martin adalah dokter yang bertugas merawat para tahanan Tata hingga mereka sembuh sebelum Tata menyiksa mereka. Martin juga salah satu orang Tata yang sehari-hari bekerja di sebuah rumah sakit kecil milik pemerintah. Ia akan datang jika ada tahanan musuh seperti ini dan saat di panggil Tiger atau pun Lion.
__ADS_1
...****************...
Kembali ke rumah sakit...
Mami Sita sadar dari pingsannya setelah di suntikkan obat oleh perawat selama 20 menit.
"Mami sudah sadar?? Gimana keadaan Mami? Apa kepala nya pusing?? " tanya Dave beruntun.
Mami Sita hanya menggeleng pelan dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. Dave menghapus air mata tersebut dengan tangan nya dan berdiri membawa Mami nya ke dalam pelukannya.
"Bagaimana bisa hiks... Hiks... Kakak kamu berdarah seperti itu?? Bagaimana juga seluruh wajah istrimu penuh dengan luka-luka begitu?? Hiks... Hiks... ! Kenapa anak-anak Mami mengalami hal seperti ini?? Hiks.... Hiks... ! " ucap Mami menangis terisak di pelukan Putra nya.
Dave tidak bisa berkata-kata karena ia juga tahu mau berkata apa. Yang ia lakukan hanya mengusap pelan punggung Mami nya sebagai tanda ia menenangkan Mami nya dengan usapan lembut nya.
Mami Sita menyeka air mata nya dan melepaskan pelukan mereka.
"Ayo Dave... Bawa Mami menemui kakak mu! Mami ingin tahu bagaimana keadaan kakak mu! " ucap Mami Sita berusaha untuk turun dari brankar tempat ia berbaring tadi.
"Iya Mi..... ! " jawab Dave dengan membantu Mami nya turun.
Di depan ruang IGD...
Semua orang masih cemas dengan keadaan Abeth, karena sudah hampir setengah jam namun dokter di ruangan tersebut belum juga keluar memberikan kabar.
Tiba-tiba handel pintu IGD bergerak dari dalam dan dokter yang di tunggu pun keluar dengan wajah yang tidak bisa di tebak karena seperti tidak ada ekspresi nya.
Mereka langsung berkerumun mendatangi dokter tersebut kecuali Tata yang masih setia duduk di kursi tunggu.
"Siapa suami pasien ! Saya ingin menyampaikan sesuatu pada suami pasien! " ucap Dokter tersebut tanpa menjawab pertanyaan Papi Dayton.
"Saya suaminya Dokter! " jawab Henry langsung unjuk diri di depan Dokter tersebut.
"Dokter, saya adalah Papi nya dan semua yang ada disini Eyang-eyang nya dan Bude-Bude nya dan mertuanya! Jika ada berita tentang anak saya, tolong katakan juga kepada kami semua karena kami sangat mengkhawatirkan keadaan anak saya! Tidak hanya suaminya, kami semua juga berhak mengetahui apa yang terjadi pada anak perempuan ku Elizabeth! " ucap Papi Dayton dengan nada keras dan ketus.
"Apa yang dikatakan anak saya memang benar! Kami berhak tau apa yang terjadi dengan cucu saya! Meskipun itu kabar buruk sekalipun! " sahut GrandFa Luis dengan wajah datar.
Dokter tersebut menarik pelan napasnya sebelum berkata kepada mereka semua.
"Saya punya kabar baik dan kabar buruk! " ucap Dokter tersebut dengan berhenti sejenak.
Semuanya terdiam dengan perasaan bercampur aduk menunggu kelanjutan ucapan dokter tentang kabar baik dan kabar buruk.
"Pasien Elizabeth sedang hamil! Usia kandungan sudah jalan 8 minggu! itu kabar baiknya! " ucap dokter itu lagi.
"Alhamdulillah... " ucap mereka berbarengan dengan wajah lega.
"Tapi... Kabar buruk nya beliau mengalami keguguran! Kami tidak bisa menyelamatkan janin nya karena pukulan di perutnya menghantam langsung janin yang baru berusia 8 minggu ini! Tidak hanya itu, akibat pukulan itu salah satu sel telur pasien mengalami kerusakan dan harus di angkat dengan jalan operasi. Dan karena hanya tinggal satu sel telur, maka pasien Elizabeth akan susah untuk memiliki anak dengan cara alami. Bukan tidak bisa tetapi membutuhkan waktu yang lama untuk memiliki nya. " tambah dokter itu lagi yang kembali membuat semua orang lemas dan terpukul dengan kabar tersebut.
Henry langsung jatuh terduduk begitu mendengar istrinya keguguran, seluruh tubuh nya seperti baru saja di hempas badai hingga hancur berkeping-keping. Apa lagi saat Dokter mengatakan jika istri susah untuk memiliki keturunan.
__ADS_1
Mami Sita yang baru saja datang dan berdiri bersama Dave di belakang semua orang langsung lemas dan hampir saja terjatuh lagi jika tidak di tahan oleh Dave. Dadanya terasa sesak seperti di himpit batu yang besar hingga ia merasa sulit untuk bernapas.
Eyang Putri langsung menangis di pelukan Bude Wati, begitu juga Grandma yang menangis di pelukan GrandFa. Bude Ditha dan Bude Rini menangis berpelukan berdua. Sedangkan Papi Dayton sama seperti Mami Sita yang lemas dan dada nya sakit karena sesak dengan apa yang mereka dengar barusan.
Tata terdiam mematung dengan hati yang bergemuruh hebat menyalahkan diri nya atas apa yang menimpa kakak iparnya hingga mengalami kemalangan yang seperti ini. Giselle berjalan dan duduk di samping Tata dengan meraih jemari Tata. Menggenggam nya dengan erat memberikan dukungan moril agar Tata kuat.
Tidak bisa menahan penyesalan nya, air mata Tata terjun bebas di pipinya tanpa mengeluarkan suara saat ia merasakan kehangatan dari genggaman tangan Giselle.
"Ya Allah.... Anakku Abeth... ! Ya Allah... ! " ucap Mami Sita dengan menepuk dadanya berulangkali.
Dave menahan tangan Mami nya dan membawanya ke dalam pelukannya.
Papi Dayton merangkak mendekati istrinya dan mereka saling berpelukan dan menangis berdua meratapi apa yang menimpa Putri sulung mereka.
Henry memukul-mukul lantai melupakan kesedihannya, amarahnya dan rasa penyesalan nya karena merasa tidak bergerak cepat mencegah saat Abeth hendak mengorbankan diri nya.
Kedua orang tuanya memeluk nya erat berusaha menenangkan dirinya yang menyakiti dirinya sendiri. Melihat Henry seperti itu semakin membuat Tata merasa bersalah.
Dave kemudian berjalan mendekati istrinya yang menangis di samping Giselle tanpa bersuara. Saat melihat langkah kaki dari bawah, Tata mendongakkan kepala nya dan bangkit dari ia duduk lalu berlari menjauh saat tangan Dave terulur untuk merengkuh tubuh nya.
Eyang Putri yang melihat semua itu melepaskan pelukannya pada Eyang kakung dan mendekati Dave yang hendak menyusul istrinya.
"Biar Eyang yang menyusul Tata! Kau temani dan tenang kan Mami dan Papi mu! Biarkan Tata tenang dulu, karena semua ini sangat berat untuk nya! " ucap Eyang Putri dengan mencekal tangan Dave.
"Tolong tenangkan Tata ya Eyang! Jangan biarkan ia menyalahkan diri nya sendiri dengan musibah ini! " sahut Dave dengan mata berkaca-kaca menggenggam tangan Eyang Putri.
Eyang Putri mengangguk dan segera menyusul Tata yang berlari ke arah luar rumah sakit.
...****************...
Di Medan..
"Adek...... ! " teriak Ibuk Tata terbangun dari tidurnya dengan keringat sebesar biji jagung di kening dan lehernya.
"Astaghfirullah hal adzim ya Allah... ! Kenapa aku tiba-tiba bermimpi anakku? Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan anak perempuan ku! Lindungilah ia bersama suaminya dimana pun ia berada ya Allah... ! " ucap Ibuk Tata dengan memegang dadanya yang berdebar sangat kencang.
Ia menghidupkan lampu untuk melihat jam. Ternyata masih jam 2 dini hari.
"Lebih baik aku sholat malam saja sekarang! Hatiku tidak tenang karena kepikiran adek terus! " gumam nya seraya turun dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di kamar tersebut.
Ibuk pun mengambil air Wudhu untuk sholat malam dan menenangkan hatinya yang gelisah karena kepikiran Tata. Ia menumpahkan kegelisahan hatinya dengan untaian doa yang ia panjatkan kepada sang Khaliq untuk anak perempuan nya.
Mak Ijah yang mendengar suara teriakan Ibuk nya Tata ikutan terbangun karena kamar mereka bersebelahan. Ia kemudian membuka pintu kamar Ibuk dan melihat Ibuk sedang sholat dengan khusyuk.
"Mudah-mudahan gak terjadi apa-apa dengan Nyonya besar sampai berteriak seperti tadi! " gumam Mak Ijah dengan lirih sambil menutup kembali pintu pelan-pelan.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas di hari senin dengan segala kegiatan...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...
Lope-lope sekebun singkong untuk kalian semuanya 🥰🥰🥰