
Cukup lama Ibuk menangis dalam pelukan Tata hingga suara lenguhan Nada membubarkan aksi tangisan mereka berdua.
"Euuggghhh... " lenguh Nada dengan kening berkerut dan mata masih tertutup.
Mendengar suara Nada membuat Martin reflek berlari mendekati ranjang itu. Tata memberikan kode pada Mak Ijah agar menjauh dari bed pasien. Mak Ijah yang cepat tanggap langsung membawa Amirah menuju sofa tempat ia dan neneknya tadi duduk.
"Bagaimana keadaan mu?? Apa ada yang sakit?? " tanya Martin dengan mata yang tidak lepas dari Nada.
Respon Martin membuat Tata memicingkan matanya tanpa seorang pun yang sadar jika ia menatap tajam ke arah salah satu orang nya.
Nada yang lega melihat keberadaan Martin menggelengkan kepalanya sesaat ia membuka mata.
"Ha-haus... " ucapnya dengan lirih karena tenggorokan nya terasa kering.
"Tunggu sebentar! " jawab Martin dengan langsung meraih botol mineral yang masih tersegel dan membuka tutupnya lalu memasukkan pipet agar Nada mudah meminumnya.
"Ini minum lah! " ucapnya sambil menyodorkan pipet ke mulut Nada.
Ibuk berjalan mendekati ranjang tempat Nada masih berbaring. Mata Ibuk berkaca-kaca melihat tubuh menantunya yang tampak kurus.
"Nak, apa kau tidak mau bertemu dengan Ibuk?? " ucap Ibuk dengan suara getir dan lirih.
Nada berusaha bangkit untuk duduk dengan di bantu oleh Martin yang memegang kedua bahunya.
Ia mencengkram erat lengan Martin seakan-akan meminta pertolongan dengan wajah masih pucat.
"Apa Ibuk ini orang jahat hingga begitu reaksimu melihat Ibuk?? Ibuk tidak akan menyakiti menantu perempuan Ibuk seperti dugaanmu! Ibuk hanya ingin memelukmu, meminta maaf karena tidak mencari keberadaan mu dan anak-anak mu! Maafkan atas luka dan penderitaan yang diberikan Putra ku padamu! " ucap Ibuk lagi dengan linangan air mata di pipinya.
Mendengar kata-kata perempuan paruh baya di depannya itu membuat ingatan Nada langsung konek tertuju pada ibu mertuanya. Mata nya terbelalak kaget saat menyadari jika perempuan paruh baya ini adalah ibu suaminya yang berarti adalah mertuanya.
"Huwaaaa..... " jerit Nada seketika sambil menangis dan memukuli dadanya yang sakit dan sesak.
Martin yang ingin menenangkan Nada di cekal Tata dengan menarik ujung jaketnya hingga Martin menoleh kebelakang dan melihat tatapan mata tajam Tata yang berarti jangan halangi ibuku. Martin menelan ludahnya melihat tatapan itu dan segera undur diri secara perlahan menuju dinding.
Melihat tangisan histeris Nada membuat hati Ibuk kembali sakit. Ia berjalan cepat ke arah Nada dan memeluk tubuh Nada yang terus memukuli dadanya.
"Maaf Nak... Maaf!! Maafkan Ibuk yang selama ini acuh dengan keadaan kalian!! Maafkan Ibuk hingga kau menjadi seperti ini! " ucap Ibuk sambil memeluk erat tubuh Nada.
"Ibuk.... " ucap Nada dengan membalas pelukan Ibuk masih dengan menangis kencang.
Ia mengeratkan pelukannya yang membuatnya merasa nyaman dan hangat sambil menangis karena tidak menyangka akhirnya bertemu dengan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Maafkan Aya Buk, maafkan Aya!! " ucap Nada menyebut nama kecilnya meminta maaf tanpa melepaskan pelukan itu.
"Nggak Nak, Ibuk yang seharusnya meminta maaf!! Kamu gak salah! " sahut Ibuk dengan melepaskan pelukan nya dan menangkup kedua pipi Nada dengan kedua tangan renta nya.
Ibuk mencium hangat kening Nada dengan penuh kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Hati Nada berdesir hebat mendapat perlakuan hangat dari ibu mertua nya yang tidak pernah ia duga selama ini.
Nada meraih kedua tangan Ibuk dan dengan penuh air mata ia mengecup kedua tangan keriput itu sepenuh hati. Ia sangat bahagia bertemu lagi dengan Ibuk mertuanya yang selama ini tidak pernah ia mimpikan karena keadaan.
"Aya bahagia ketemu Ibuk! Aya bahagia Buk! Maafkan Aya yang selama ini tidak pernah menghubungi Ibuk selagi ada kesempatan! Bukan Ibuk yang harus mencari kami, tapi kami sebagai anaklah yang seharusnya mencari Ibuk! Maafkan Aya Buk.. " ucap Nada dengan menempelkan tangan Ibuk ke pipinya.
"Iya Nak, Ibuk juga bahagia ketemu kamu dan cucu-cucu Ibuk! Mulai sekarang kita akan bersama selamanya, kita akan berkumpul kembali semuanya! " sahut Ibuk dengan memberikan kecupan hangat di kening Nada agak lama.
Nada menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya. Tata pun berjalan mendekati bed tersebut dengan tersenyum bahagia.
"Hai Kak! Aku Tata anak perempuan Ibuk satu-satunya dan laki-laki Bule di sana adalah suami aku menantu laki-laki Ibuk satu-satunya! " sapa Tata dengan tersenyum lebar sembari menunjuk ke arah Dave.
Nada tersenyum saat melihat Tata namun ia kembali takut saat melihat ke arah Dave yang mengangguk dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Jangan takut Nak! Nak Dave bukan orang jahat, dia adik ipar mu! Ibuk gak akan biarkan orang jahat mendekati kamu lagi! Kamu tenang ya... " ucap Ibuk dengan membelai punggung Nada karena ia mengencangkan pegangan nya pada tangan Ibuk.
"I-iya Buk.. " sahut Nada dengan memejamkan matanya sejenak.
Tata menghela napas kasar sembari geleng-geleng kepala melihat ekspresi suaminya yang datar kayak papan triplek.
"Gak papa kok Kak, santai aja! " sahut Tata tidak mempermasalahkan itu.
Brak....
Pintu kamar itu terbuka dengan kencang, dan Tiger masuk dengan muka datar dan dinginnya membuat Nada beringsut mendekati Ibuk dengan tubuh bergetar hebat karena ketakutan melihat Tiger.
Melihat reaksi kakak iparnya membuat Tata kesal pada bawahan nya yang masuk dengan kasar begitu. Ia berjalan cepat dan mendekati Tiger dengan wajah geram.
"Kak... "
"Bugh... Bugh... Bugh... " ucapan Tiger terputus karena Tata langsung menghadiahi Tiger dengan tiga pukulan di bahunya karena kesal.
"Bisa gak kalau mau masuk itu baik-baik hah!! Ini rumah sakit bukan markas yang bisa kamu masuki seenaknya! " ucap Tata dengan dingin dan geram.
"Maaf Kak, tadinya aku panik karena anak itu sudah sadar dan memanggil Mamah nya! " jawab Tiger dengan nyali menciut.
Arkan mengulum senyum nya melihat papan triplek kulkas berjalan langsung tidak berkutik di depan Tata.
__ADS_1
"Aqila... " pekik Nada yang tiba-tiba reflek untuk turun.
"Nada.... " seru Martin berlari dan menyambut tubuh Nada yang hampir saja terjatuh dari bed tersebut.
Ibuk kaget melihat reaksi Nada yang dengan cepat melepaskan pegangan tangan mereka dan hendak turun. Ibuk, Tata dan Mak Ijah mengusap pelan dada mereka karena lega Martin menyambut Nada dengan cepat.
"Ya Ampun Kak.. ! Hati-hati kalau mau turun! Untung aja Martin gerak cepat! " ucap Tata agak kencang karena kaget.
"Ma-maaf... Aku mau lihat Aqila.. ! " jawab Nada menundukkan kepala karena takut dengan suara kencang Tata.
"Adek... " tegur Ibuk melotot ke arah Tata.
"Maaf Kak, aku reflek tadi karena kaget! Kakak tunggu aja di sini sama Ibuk, biar aku yang turun sekalian akan meminta Aqila di pindahkan ke ruangan ini saja dan gak perlu di lantai tiga! " ucap Tata dengan wajah menyesal.
"Iya Buk, Ibuk di sini saja sama kakak ipar! Dave yang akan mengurus semuanya! Ayo Arkan kita keluar! " sahut Dave dengan mengajak Arkan keluar.
"Martin ! Kamu ikut kami ke bawah! " perintah Tata pada Martin.
"Baik Nona... " jawab Martin patuh dan menaikkan Nada ke atas tempat tidur karena Nada masih lemah kakinya.
Mereka semua keluar dari ruang rawat Ibuk menuju lantai bawah ruang IGD karena Aqila masih di sana dan belum di pindahkan ke ruangan anak lantai tiga.
Tata memasuki ruang IGD menghampiri Aqila yang sedang memejamkan matanya.
"Aqila sayang... ! Kamu gak papa kan sayang?? " sapa Tata dengan menyentuh tangan Aqila.
Aqila membuka matanya dan menolehkan wajah nya kesamping.
"Mamah, Aqila mau Mamah! " ucapnya dengan lirih.
"Iya sayang, Aunty akan bawa Aqila ketemu Mamah ya.. " sahut Tata dengan lembut membelai kepada Aqila.
"Mas, urus cepat kepindahan Aqila ke lantai lima di kamar Ibuk! " pinta Tata pada Dave yang berdiri bersandar di dinding.
"Hhmmm.. " jawab Dave sembari membalikkan badannya keluar dari tempat itu.
Begitu Dave keluar, Tata kembali menatap wajah pucat Aqila dengan tatapan lembut.
Sementara itu kedua mertua Tata sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke kamar Tata namun tidak menemukan seorang pun karena kamar tersebut kosong.
"Astaga Pi... Dimana anak-anak? Apa mereka di ruangan si kembar? Atau di ruangan nya besan? " ucap Mami Sita bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kita cari dulu Mi, kalau gak ada di ruangan si kembar berarti di ruangan besan kita! " jawab Papi Dayton santai.
Bersambung..