
"Eh Mami.... Ini Mi, Bedaknya anak-anak kebawa sama Tata! Mau Tata kirim ke rumah pakai kurir, kan sayang mau beli lagi karena ini baru di beli waktu mau ke Bandung! " jawab Tata dengan menunjukkan kotak terbungkus koran pada Mami mertuanya.
"Ya ampun sayang... Repot banget pakai kurir segala... Suruh aja supir yang antar ke rumah! " ucap Mami Sita dengan tersenyum geli.
"Emang gak papa Mi, Tata suruh supir di rumah ini! " sahut Tata sedikit gak enak.
"Ya gak papa lah... Kamu kan menantu di rumah ini, otomatis kamu juga pemilik rumah ini. Mereka pasti patuh pada perintah pemilik rumah ini! " jawab Mami Sita santai.
"Ya udah... Kalau gitu Tata sobek aja lagi korannya! Biar bedaknya aja yang dalam kantong! " ucap Tata lagi hendak membuka kembali kotak yang berbungkus koran tersebut.
"Eh jangan... Biarin aja! Repot banget pakai di sobek lagi, biar mereka di sana aja yang sekalian buka! " cegah Mami Sita saat tangan Tata hendak menyobek kertas koran itu.
"Oke lah... Makasih ya Mi, Tata mau ke depan dulu! " ucap Tata memasukkan kembali kotak itu ke dalam kantung kertas dan mengecup pipi Mami mertuanya sebelum pergi ke depan.
"Yes.... Rencana ku berjalan lancar ! Inilah yang aku inginkan! " batin Tata tersenyum dalam hati.
Ia dengan berlari-lari kecil menuju ke luar rumah, sebuah bangunan yang tidak jauh dari pos penjaga rumah.
"Mang.... Mamang.... " panggil Tata pada beberapa orang yang sedang duduk santai sambil bermain catur dan minum kopi.
"Panggil siapa Den ayu? " tanya seseorang yang langsung berdiri sopan saat Tata menghampiri mereka.
"Tata kan belum tau nama mamang semuanya, jadi panggil mamang aja tadi, he...he...he...! " jawab Tata cengengesan.
"He... He... He... Iya juga ya... Perkenalkan saya Tohir Den ayu, yang pakai blangkon itu Udin, yang kumis tebal itu Samson, yang cungkring itu Jaka tapi udah gak perjaka karena anaknya sudah lima, dan yang terakhir itu Joko masih jomblo! " jawab Tohir yang rambutnya klimis ikutan terkekeh memperkenalkan semua teman-temannya pada Tata.
"Ha... Ha... Ha.... Saya kira tadi Bang Samson itu Mas Adam suaminya Mbak Inul... " ucap Tata dengan tertawa geli.
"Ya Ndak lah Den ayu... Masih cakepan saya dari Adam suaminya Inul! Ya gak bestie... " sahut Bang Samson meminta pendapat teman-temannya.
"Iya... Gantengan koe Son, tapi kalau di lihat dari sedotan! Ha... Ha... Ha... " jawab yang bernama Jaka dengan tertawa ngakak.
Semua teman-temannya ikutan tertawa membuat Samson menjadi keki di hadapan Tata. Tata hanya tersenyum kecil melihat kekompakan dan kebersamaan supir di keluarga mertuanya. Seperti di kediamannya juga, para sopir, penjaga dan pelayan sama-sama kompak dan saling bekerja sama satu sama lainnya seperti di rumah ini.
"Oh ya, ada perlu apa Den ayu datang ke tempat kecil dan berantakan kayak gini? " tanya Tohir lagi pada Tata.
"Hampir lupa, jadi gini Mang. Tata mau minta tolong anterin ini ke rumah Tata! Tolong kasikan pada penjaga yang di sana! " jawab Tata dengan menyodorkan kantong kertas pada Mang Tohir.
"Barang berharga ya Den ayu? " tanya Tohir lagi saat kantong itu sudah berpindah tangan.
"Bukan Mang, hanya bedak my baby punya keponakan saya! Gak sengaja kebawa waktu dari Bandung kemaren. Tadinya mau saya kirim pakai paket sampai sudah saya bungkus pakai kotak dan koran. Tapi kata Mami gak usah pakai kurir paket segala, suruh supir aja. Makanya saya ke sini minta tolong mamang-mamang yang ada di sini mana yang lagi senggang! " jawab Tata lagi dengan duduk santai di bangku yang kosong.
"Aduh Den ayu.... Jangan duduk di situ?? Nanti kotor! " seru Udin saat Tata duduk begitu saja di bangku itu.
__ADS_1
"Gak kotor kok Mang, bersih ih! " ucap Tata dengan mengusap bangku itu dengan tangannya.
"Dah ah.... Gak usah berlebihan gitu! Oh ya, Mang! Jangan lupa nanti kasih sama penjaga yang di sana aja! Karena keluarga saya mungkin sore ini baru sampai dari Bandung! " sahut Tata lagi meneruskan omongan nya.
"Baik Den ayu! Teman-teman... Siapa yang bisa antar paket Den ayu? Saya soalnya sebentar lagi mau jemput pesanannya Mbok Nah di tanah Abang! " jawab Tohir sambil bertanya pada teman-temannya.
"Saya aja Den ayu! Soalnya saya kan pernah ke rumah gedong nya Den ayu sama Raden Davin! Jadi, gak bakalan nyasar! Son, pinjam motor elu ya? Biar cepat sampai dan gak macet! " ucap Jaka unjuk gigi.
"Boleh.... Tapi aku ikut ya? " jawab Samson minta ikut.
"Boleh gak Den ayu ngantar nya pakai motor sama Samson? " tanya Jaka minta persetujuan Tata.
"Boleh banget lah Mang! Justru enakan pakai motor, jadi cepat sampai dan hemat waktu lagi! Ya udah, kalau gitu ini upah nya untuk beli camilan kalau pulang! Lumayan kan untuk teman main catur dan minum kopi! " jawab Tata dengan merogoh kantong celananya dan memberikan lembaran uang merah yang gak ia hitung pada Jaka.
Jaka yang menerima uang dari Tata langsung begitu saja menghitung nya dan sangat kaget begitu melihat gumpalan uang merah itu sebanyak lima lembar. Tidak hanya Jaka yang kaget, semua teman-temannya seprofesi nya juga ikutan kaget.
"I-ini beneran untuk kami Den ayu? Serius, semuanya untuk kami? " tanya Jaka dengan tangan gemetaran.
"Ya iyalah serius! Masa saya bercanda? Kenapa Mang? Kurang? Kalau gitu saya ambil lagi ya ke dalam, soalnya saya tadi cuma ambil asal aja di dompet! " jawab Tata bersiap hendak kembali masuk.
"Jangaaaaan..... !!! " teriak mereka semua barengan.
"Lah, kenapa?? " tanya Tata balik.
"Owalah.... Begitu toh! Tata serius Mang! Kalau uang gaji mamang semua itu urusan Mami mertua Tata! Tapi kalau ini memang udah kebiasaan Tata dari dulu sama pegawai-pegawai Tata. Tata selalu kasih uang kalau menyuruh mereka melakukan sesuatu tapi ya gitu, gak pernah Tata hitung waktu ngasi nya! Ya udah.... Tata mau masuk dulu, ntar di cariin lagi! Bye mamang! " ucap Tata lagi dan langsung pergi dari tempat itu dengan lari-lari kecil.
Sepeninggalannya Tata masuk ke dalam rumah, Jaka yang masih memegang uang itu duduk di samping rekannya Joko.
"Ko, gampar gue Ko! Atau gak elu cubit gue! Gue kayaknya ketiduran deh, kok bisa bermimpi di kasih uang lima ratus rebu cuma untuk beli camilan! " ucap Jaka pada Joko.
"Plak........ " Joko langsung menampar Jaka dengan kencang hingga ia terjatuh dari bangku ia duduk.
"Gak juga kencang gitu bego.... ! " pekik Jaka dengan memegang pipinya yang perih.
"Sakit nih.... Berati gue emang gak mimpi! Mimpi apa ya gue semalam bisa punya majikan baru yang baek kayak gini! " ucap nya lagi kembali duduk di samping Joko.
"Kan elu yang minta gampar! Ya gue gampar lah! Kapan lagi gue punya kesempatan buat gampar elu! " jawab Joko masa bodo.
"Sue lu.... " ucap Jaka kesal.
"Ha.... Ha.... Ha.... Ha.... " mereka semua menertawakan kekesalan Jaka.
"Dah.... Elu buruan sana antar paket Den ayu! Jangan sampai kita kehilangan kepercayaan dari mereka terutama Den ayu sendiri! Alhamdulillah, Raden punya istri seperti Den ayu dan kita juga senang punya majikan yang baek kayak gitu! Buruan sana! " usir Tohir pada Jaka.
__ADS_1
"Ayo Son... Mana kunci motor elu! Biar gue yang bawa, elu kan belum tau di mana rumahnya Den ayu! " ucap Jaka dengan mengulurkan tangannya minta kunci motor.
"Ayo..... ! " sahut Samson sambil berdiri dan berjalan bersama Jaka menuju tempat motornya parkir.
πΏπΏπΏ
Hari ini sehabis dzuhur, Sandra dan rombongan nya bertolak dari Bandung ke Jakarta menggunakan kereta api seperti saat mereka berangkat dulu. Sebagian lagi memang menggunakan mobil yang mereka gunakan waktu itu.
Ibuk dan Mak Ijah melepas kepergian mereka di depan pintu. Mereka juga akan bertolak ke Medan besok pagi bersama Tegar.
"Selamat kembali dari liburan.... Dan selamat bekerja lagi.... " ucap Susan begitu mereka sampai di stasiun kereta api.
"Lagak mu Bon-Bon.... Perasaan aku, kau lebih banyak liburnya dari pada bekerja! " ucap Sandra mencibir Susan.
"Kapan pulak aku libur?? " jawab Susan mengelak.
"Sering aku tengok.... Sebentar-sebentar kau pigi ke sana, nanti ke situ, terus beberapa hari lagi pigi lagi ke sana! " ucap Sandra lagi mengingatkan Susan.
"Itu bukan liburan pauk... !!! Kerja aku itu!! Begitulah pengacara yang selalu pergi ke tempat klien nya dimana pun kliennya berada! Kecuali jika kliennya langsung datang ke kantor! Baru aku stay di kantor! " jawab Susan kesal dengan menoyor pelan kepala Sandra.
"Ha... Ha.... Ha..... Kukira kau liburan! Jalan-jalan aja ku tengok kerjaan mu! " ucap Sandra dengan tertawa kecil.
Kadir yang duduk di sebelah Sandra hanya tersenyum melihat keisengan kekasihnya yang suka membuat kesal sahabatnya.
"Eh.... Ngomong-ngomong si Butet apa kabarnya ya, Bon? Cemana hidupnya tinggal di istana mertua? Betah gak dia ya? Atau jangan-jangan terkekang dia gak bisa kemana-mana? " celutuk Sandra lagi pada Susan.
"Mana aku tau kabar nya si Butet! Kau kira aku ini dukun bisa tau kabar si Butet dari jauh gini kalau gak aku telpon! " jawab Susan ketus.
"Bah.... Ngegas kali kau ini! Aku kan cuma tanya nya?? " ucap Sandra lagi.
"Aku juga cuma jawab nya! " sahut Susan lagi.
"Ish...... Dasar pauk lah kau! " ucap Sandra lagi yang kesal.
"Bah.... Marah dia... Kau lah yang pauk! Kayak gak tau aja kau cemana sifat bestie kau satu itu! Mana bisa dia di atur-atur atau di kekang-kekang! Yang ada mereka yang nanti di atur-atur sama si Butet! Payah lah kau! " jawab Susan sewot.
"Iya juga ya.... Dah lah... Mau tidur aku! Ngantuk! " ucap Sandra lagi membenarkan kata-kata Susan.
"Dasar lah kau! Sudah tau pakai nanya pulak! " ucap Susan juga ikut memejamkan mata nya.
Bersambung....
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers tercinta ku...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...