
Ketika malam menjelang, Kadir mengajak Anika dan anak-anak nya makan malam. Dari tadi sore Kana dan Kayla menempel terus dengan Anika tidak mau lepas, terlebih lagi Kana yang tidak mau lepas dari gendongan Anika.
Kadir tersenyum haru melihat adik bungsunya sudah banyak sekali berubah, padahal dulu sewaktu masih sekolah Anika paling tidak suka dengan anak kecil. Jika dulu Nana sering kali membawa anak kecil ke rumah, Anika langsung memarahi nya karena tidak suka dengan rengekan dan suara tangisan mereka, terlebih lagi jika anak kecil tersebut ngompol, ia paling tidak suka dan jijik.
Tapi sekarang, ia tidak kesal, malas ataupun marah ketika Kana merengek tidak mau turun dari gendongan nya, ia malah memeluk dan mengusap punggung Kana dengan sayang sehingga membuat Kana langsung terdiam.
"Ayo, Ila makan! Biar nanti kita gantian dengan Tante Ika ya, Nak? " ucap Kadir membujuk Kayla agar makan bersama nya.
Kayla mengangguk patuh, karena ia meminta di suapin Anika, tapi berhubungan Kana tidak mau lepas, Kadir berusaha membujuknya agar mau mengalah. Kayla pun makan dengan di suapin Papa nya.
Kana tertidur setelah di beri susu dan di kelonin Anika. Ia lalu menaruh Kana dengan sangat hati-hati takut ia terbangun lagi di atas kasur. Setelah yakin Kana tertidur, Anika keluar kamar menuju Kayla dan Abang nya yang masih makan dengan duduk lesehan di ruang tengah.
"Sudah tidur ya, Kana? Tumben cepat bener, biasanya Abang gendong-gendong dulu lama-lama baru ia tidur. " ucap Kadir dengan heran.
"Ga tau juga Ika, Bang! Inikan pertama kali nya Ika nidurin bayi seusia Kana. " jawab Anika sambil mengangkat bahunya.
"Tante, nanti bantuin Ila bikin PR ya? " pinta Kayla penuh harapan.
"Oke! Tapi Tante makan dulu ya? Kayla tunggu aja di depan sambil duduk-duduk santai! " jawab Anika mengiyakan permintaan Kayla.
Kayla mengangguk dan tersenyum bahagia, ia pun segera berdiri dan pergi ke ruang depan karena ia sudah selesai makan malam.
Anika pun segera makan karena perutnya sudah keroncongan dari tadi, ia makan dengan lahap padahal dua hari sebelumnya ia paling tidak berselera makan nasi. Ia bahkan sampai menambah lagi yang mana membuat Kadir geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ka, Nanti setelah anak-anak tidur, kita bicara di ruang depan ya? " pinta Kadir dengan pelan.
Anika yang masih mengunyah makanan pun hanya menganggukkan kepalanya walaupun ia sudah ketar ketir di dalam hatinya menduga reaksi Kadir nantinya atas apa yang ia alami hingga berakhir terlantar di jalanan.
Kadir duduk di luar rumah, di sebuah dipan panjang tempat Kana dan Kayla ketika bermain di luar rumah menatap langit yang malam ini tidak ada bintang, hanya bulan yang bersinar itu pun bulan sabit. Ia menerawang kehidupan nya yang dulu dengan yang sekarang ini sangat berbeda sekali rasanya tampak begitu signifikan perbedaan itu.
Dulu ia terlalu memikirkan apa komentar Mama nya jika hidupnya susah, dia begitu peduli dengan omongan orang. Sampai-sampai ia menuruti permintaan istrinya untuk menitip anak-anak nya dengan orang tua istrinya, agar ia leluasa mencari uang dan kehidupan mereka tidak terlalu banyak tanggungan.
Namun, berapa banyak pun uang yang ia hasilkan selalu saja tidak pernah cukup dan malahan selalu kurang, padahal mereka hanya hidup berdua saja. Sedang kan untuk anak-anak hanya ia berikan satu juta setiap dua bulan sekali ketika mereka berkunjung ke sana.
Tapi sekarang, uang yang ia hasil kan tidak sebanyak dulu tetapi kebutuhan ia dan anak-anak nya sangat tercukupi malah kadang ia sering mendapatkan uang yang tidak terduga dari para pelanggan ojeknya.
"Bang, lagi lamunin apa? " tegur Anika dan langsung duduk di samping Abang nya.
"Kok kamu kesini? Kayla mana? Udah bikin PR nya? " Kadir malah balik nanya.
Kadir terkekeh sambil mengacak-acak rambut adiknya itu dengan gemes.
"Kayla sudah bikin PR, sudah aku suruh sikat gigi sebelum tidur. Langsung aku suruh tidur karena besok ia kan mau sekolah. " jawab Anika sambil menatap Abangnya lekat-lekat.
"Kenapa kamu lihat Abang kayak gitu? " tanya Kadir heran.
"Soalnya dari tadi sore sampai sekarang Ika gak lihat Mbak Yuli di rumah ini. Emangnya Mbak Yuli kemana, Bang? " tanya Anika penasaran.
__ADS_1
Kadir menghela nafasnya dengan kasar sambil matanya menatap langit-langit malam. Ia pun bercerita apa yang terjadi dalam hidup nya ketika Yuli di serempet orang hingga masuk rumah sakit sampai ia membawa anak-anak ke kota bersama nya hingga sekarang ini.
"Itulah yang terjadi dengan hidup Abang, Ika! Sekarang ini prioritas Abang hanya anak-anak saja, yang lain sudah gak penting lagi. " ucap Kadir di akhir ceritanya.
"Ternyata nasib Abang tak jauh lebih sedih di bandingkan dengan nasib ku saat ini! Sepertinya aku juga akan mengikuti jejak Abang untuk hidup sendiri tanpa pasangan. " ucap Anika sambil menangis tersedu-sedu.
"Apa maksudmu berkata begitu, Ika? " tanya Kadir heran.
Anika pun menceritakan tentang keadaan rumah tangganya yang sekarang berada di ujung tanduk. Ia juga bercerita tentang pengusiran yang di lakukan mertuanya hingga ia luntang lantung di jalanan.
Kadir mengusap kasar wajahnya sambil memejamkan mata sejenak. Ia merengkuh tubuh adiknya ke dalam pelukan nya yang mana membuat Anika semakin kencang menangis.
"Bang, apakah ini karma buat kita? Selama ini kita udah jahat sama Kak Tata, kita mendukung Kak Dika berhubungan dengan perempuan lain tanpa memikirkan perasaan Kak Tata. Walaupun mereka berjauhan, Kak Tata tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu dari kita, terlebih lagi dari suaminya, Bang Dika! " ucap Anika dengan linangan air mata.
"Entahlah, Ka! Abang kadang juga terpikir seperti itu! Kita benar-benar salah menyetujui perkataan Mama hanya karena uang. Abang bahkan sangat menyesal juga ketika Mama mengusir Nana dan Ayah dari rumah malam itu! Abang benar-benar tidak becus menjadi seorang anak dan seorang kakak. " jawab Kadir dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Abang benar. Aku udah jahat banget sebagai adik dan sebagai anak. Hu... Hu... Hu... Ika kangen ayah dan Kak Nana, Bang? Ika pengen minta maaf.. Ika nyesal udah jahat selama ini dengan Kak Tata dan Kak Nana. Ika pengen minta maaf... " ucap Anika sambil memukul-mukul dadanya.
"Istighfar Ika, istighfar.... " tegur Kadir pelan dengan membimbing Anika untuk istighfar.
"Gak cuman kamu aja yang menyesal, Ika! Abang juga sangat menyesal. Seharusnya Abang mengingatkan dan menasehati Dika agar tidak bermain api, tetapi Abang malah diam saja hanya karena perkataan Mama yang bilang jika Dika hanya main-main saja. Abang tidak berpikir jika suatu saat nanti bisa saja Abang atau adik-adik Abang di perlakukan seperti itu dengan pasangannya. Abang benar-benar bodoh dan naif. " ucap Kadir dengan wajah sendu.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...