
Sepeninggalan Angel dari kamar nya membuat Tata melamun dan berpikir keras hingga ia tidak mendengarkan apa yang di bicarakan suaminya.
"Sayang, hei... Sayang! " panggil Dave dengan menggoyang bahu Tata.
"Astaghfirullahalazim Mas... Ngagetin aja tau gak! " ucap Tata kaget sembari mengelus dadanya.
"Kamu melamun kan apa sayang? Masih kepikiran dengan informasi dari Angel tadi? " tanya Dave langsung tepat sasaran.
"Sedikit sih Mas... Hanya saja aku tidak mau menelan mentah-mentah informasi yang di sampaikan Angel sebelum bertemu dengan Kak Aya. Nama kakak ipar ku kalau gak salah Nada Soraya, itu yang di katakan Bang Sandi saat ia memperkenalkan kami dulu. " jawab Tata jujur.
"Jangan terlalu di pikirkan sayang! Mas gak mau kamu sakit dan stress memikirkan semua nya! Biarkan Angel dan detektif swasta aja yang bekerja memikirkan bagaimana caranya mereka bisa menemukan mereka semua terlebih dahulu. Kamu cukup menunggu kabar dari mereka! " ucap Dave dengan mengusap lembut pipi chubby Tata.
Tata mengangguk paham, ia mengecup jemari tangan Dave yang mengusap pipinya.
"Mas mau ke kantor sekarang? " tanya Tata saat Dave masih berpakaian santai.
"Gak, Mas bekerja di rumah saja! Nanti juga Arkan akan datang karena kami akan membahas proyek kerjasama dengan pihak Jepang! Kamu mau keluar apa tetap di kamar sayang?? " jawab Dave sambil bertanya.
"Keluar aja Mas... Aku mau menghirup udara segar di luar! " jawab Tata dengan penuh semangat.
"Oke, aku panggilkan Suster dulu! " ucap Dave berjalan ke arah pintu.
Ia memanggil Suster dari lantai atas untuk membawa kan kursi roda Tata ke lantai bawah.
"Sini Mas gendong! " ucap Dave seraya merengkuh tubuh Tata kepinggir kasur.
Setelah memastikan posisinya sudah pas, Dave mengambil ancang-ancang untuk mengendong Tata turun ke bawah.
"Bismillahirrahmanirrahim... Kita turun sekarang! " ucap Dave saat Tata sudah ada dalam gendongan nya.
Tata memeluk erat leher suaminya takut jatuh, pasalnya ia tidak sendiri, ada bayi-bayi nya yang ia bawa juga jika mereka sampai jatuh. Sepanjang menuruni anak tangga, Tata tidak henti-henti nya berdoa agar selamat sampai ke bawah.
Begitu sampai di anak tangga terakhir, Dave langsung mendudukkan Tata di atas kursi roda yang sudah di siapkan oleh Suster Mila.
Baru saja hendak berdiri, terdengar salam dari seseorang yang masuk dari ruang depan.
"Assalamualaikum Bos... Jadikan kita meeting berdua! " sapa Arkan yang datang dengan seorang perempuan semok yang membawa tentengan di kedua tangan nya.
"Kalau berdua sama si Bos, lah.. Saya ngapain sih Pak di ajak ke sini juga! " protes perempuan tersebut dengan wajah kesal pada Arkan.
"Eh Yur... Elo cuma bantuin gue bawa itu berkas ke sini! Abis itu elo balik lagi ke kantor! " jawab Arkan seenak jidatnya.
"Ya Allah... Pak Bos besar! Boleh gak Asisten nya Bapak saya kasih sianida, tapi Bapak bantuin saya biar gak di penjara! " tanya nya langsung pada Dave.
"Boleh, tapi kasihnya jangan di rumah saya! Saya gak mau kena imbas nya! " jawab Dave enteng.
"Terimakasih Bos besar! " jawab Perempuan tersebut tersenyum devil menatap Arkan.
"Hahahaha.... Kalian lucu! Kamu pasti Sania ya, sekretaris nya Bang Arkan! " ucap Tata sembari tertawa geli melihat wajah pias Arkan saat Sania mau memberinya sianida.
"Eh ada Bu Bos cantik! Maaf gak kelihatan soalnya di tutupin badan gede Bos besar! Iya Bu, saya Sania Rahayu! Sekretaris nya Pak Arkan ! " jawab nya dengan nyengir karena malu dari tadi berdebat di depan Tata.
"Santai saja, gak udah malu! Saya suka orang yang apa adanya dan gak perlu jaim mau ambil muka! " sahut Tata dengan tersenyum kecil.
"Daebak... Bu Bos keren! " ucap Sania memekik kegirangan.
__ADS_1
Arkan mencebik kesal melihat sekretaris gemuknya kegirangan mendapat dukungan dari Tata. Gak di dukung aja itu minyak sayur selalu membantah ucapan nya, apa lagi kalau di dukung penuh oleh Tata. Bisa-bisa nanti emang beneran ia di kasih kopi sianida kayak si Mirna.
"Makin besar kepala tuh minyak sayur! " sungut Arkan dengan wajah cemberut.
"Ayo ke ruang kerja sekarang! Sania, bawa semua berkas-berkas nya ke ruangan yang ada di sana! Saya mau antar istri saya dulu ke taman samping! Kelamaan nanti kalau liatin kalian berantem mulu! " lerai Dave sembari menunjuk sebuah ruangan kepada Sania.
"Baik Bos besar! " jawab Sania dengan semangat membawa tentengan di kedua tangan nya.
Dave mendorong kursi roda Tata menuju teras samping rumah yang memang tampak segar karena banyak tanaman bunga milik Mami Sita.
Suster Sari dan Suster Mila mengekor di belakang mereka.
Dave jongkok di hadapan Tata dengan memegang lengan kursi roda.
"Mas tinggal bekerja dulu ya sayang! Kalau pengen apa-apa, panggil aja Mas di ruang kerja! " ucap Dave dengan lembut sembari mengusap pipi bakpao Tata.
"Iya Mas... " jawab Tata patuh.
Dave melu mat sekilas bibir Tata yang menjadi candunya, ia juga mendaratkan kecupan pada perut buncit Tata sebelum akhirnya ia berdiri kembali.
"Kalian berdua, jaga istri saya baik-baik! " perintah Dave dengan nada datar pada kedua Suster.
"Baik Mr... " jawab mereka dengan menunduk patuh.
Dave melabuhkan kembali ciuman di kening Tata sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
🌿🌿🌿
Nada yang sedang mencari botol-botol bekas dan kardus bekas di sekitar perumahan penduduk di kaget kan dengan mobil yang berhenti mendadak di depan nya.
Seorang pria memakai jaket menghampiri Nada yang sedang memegang karung di tangan kirinya dan pengait besi berbentuk tanda tanya di tangan kanannya.
"Permisi Buk, mau numpang tanya! Maaf bukan nya mau meremehkan pekerjaan Ibu! Karena Ibu sering berjalan jauh, apakah Ibu pernah melihat perempuan ini dan kedua anaknya? " tanya pria tersebut dengan sopan seraya memperlihatkan sebuah foto pada Nada.
Bola mata Nada membesar saat melihat foto dirinya dan kedua anaknya saat masih di Malaysia dulu. Ia buru-buru mengubah ekspresi nya dan memegang erat karung dan pengait besinya untuk menormalkan detak jantung nya yang berpacu kencang.
"Tidak Pak... Saya jarang ketemu orang yang bawa anaknya! Soalnya tempat saya bekerja sepi dari keramaian orang-orang! Mungkin Bapak bisa bertanya di warung-warung yang banyak Ibu-ibu yang berkumpul! Siapa tahu mereka ada yang kenal! " jawab Nada panjang lebar dengan kaki yang mau roboh saking ia ketakutan.
"Iya juga ya Bu.. Maaf jika saya menganggu pekerjaan Ibu! Oh ya, jika Ibu pernah melihat salah satu di antara mereka bertiga, tolong kasih tau saya ya Bu! Ini no telepon saya! Saya permisi dulu Bu.. Mari... " ucap nya malu karena perkataan Nada ada benarnya.
Ia memberikan sebuah kartu nama pada Nada sebelum masuk kembali ke dalam mobil. Nada tidak bergeming dari posisinya sampai mobil tersebut benar-benar menghilang dari pandangan matanya. Ia langsung terduduk lemas di pinggir jalan saking takutnya.
"Ya Allah... Siapa mereka? Kenapa mereka mencari ku dan anak-anak! Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kembali ke tempat terkutuk itu? " gumam Nada lirih tanpa sengaja mengeluarkan air mata nya.
Ia masih gemetaran sambil memegang dadanya. Ia cepat-cepat menghapus air matanya agar tidak yang lihat jika ia menangis.
"Aku harus pulang! Aku takut Amirah dan Aqila kenapa-napa! Beras kemarin masih ada walau hari ini agak gak mulung! " gumam Nada sambil berusaha untuk berdiri kembali.
Ia berjalan keluar dari komplek perumahan tersebut menyusuri jalan menuju gubuk tempat ia berlindung bersama anak-anak nya dari panas dan hujan.
Sesekali Nada melihat kebelakang takut ada yang membuntuti nya saat pulang ke rumah tempat ia berteduh. Ia mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya dengan jilbab lusuh nya.
"Assalamualaikum... " ucap Nada membuka pintu gubuk dan masuk tergesa-gesa.
"Waalaikumsalam, ada apa Mah? Kok muka Mamah keringatan gitu? Mamah kok tumben pulang jam segini? " cerca Amirah yang sedang melipat pakaian mereka.
__ADS_1
"Gak papa Nak! Oh ya, untuk hari ini kamu jangan keluar dulu ya? Kamu kapan belajar sama kakak-kakak yang di mengajar di rumah belajar anak jalanan? " jawab Nada dengan meminta Amirah untuk tetap di rumah.
"Lusa Mah, soalnya kemaren kakaknya bilang hari ini gak bisa datang karena ada urusan. Lusa mereka datang lagi mengajar kami. Kenapa emangnya Mah? Kok Mamah tampak ketakutan gitu? " tanya Amirah dengan memicing kan matanya.
"Mamah kenapa? Mamah gak kenapa-napa kan? " tanya Aqila ikut heran melihat Nada melarang kakak nya keluar.
Dua tahun mereka di sini semenjak kabur dari Malaysia, Nada tidak pernah melarang Amirah pergi keluar. Terlebih saat ada anak muda yang mengajar anak-anak kurang mampu dan anak jalanan belajar calistung secara gratis, Nada tidak pernah melarang Amirah ikut belajar. Ia hanya mengingatkan Amirah untuk pulang sore dan selalu jaga diri dari orang asing yang tidak di kenal.
"Sebenarnya tadi ada orang yang sedang mencari-cari kita? Mereka bertanya sama Mamah, untung Mamah sekarang pakai jilbab, jadi mereka gak ngenalin Mamah tadi! Mamah takut kalau mereka orang-orang nya Datuk Rajo Saleh. Mamah gak mau kembali ke rumah itu lagi! " jawab Nada akhirnya jujur kepada anak-anak nya.
"Mirah juga mau mau ke sana Mah! Mirah benci sama Datuk Rajo Saleh yang jahat sama Mamah! Dia selalu bawa Mamah pergi dari kita sampai Mirah dan Qila di kurung di kamar sampai malam! " ucap Amirah dengan wajah penuh emosi.
"Emangnya Datuk itu siapa Mah, Kak? " tanya Aqila bingung.
"Bukan siapa-siapa sayang! Ya udah, mulai sekarang kita harus hati-hati kalau mau keluar! Jangan sampai kita tertangkap mereka! Sia-sia kita kabur kalau mereka bisa menangkap kita lagi! Kamu jaga adik saja ya nak di rumah! " jawab Nada sembari mengingatkan Amirah.
"Iya Mah, Mamah juga hati-hati kalau keluar! " ucap Amirah patuh dan juga memperingati Nada.
"Ya sudah, kalau gitu Mamah mau masak nasi dulu! Untung saja kemarin dapat lumayan, jadi bisa beli beras 2 kg dan masih ada untuk hari ini. " sahut Nada sambil bangkit dari duduk nya ke dapur.
🌿🌿🌿
Di Markas milik Tata, Angel sudah menyebar orang-orang nya dengan bantuan anak buahnya Tiger dan Lion, mencari keberadaan Kakak ipar Tata dengan foto terakhir mereka yang dapatkan dari informan mereka yang di Johor.
"Kenapa kamu gak pakai alat yang di ciptakan oleh Steven aja dalam mencari mereka? " tanya Lion saat mereka bertiga berkumpul di Markas utama.
"Itu hanya bisa si gunakan dari jarak dekat aja Kak! Dalam artian jika kita berada dalam jarak 2 meter dari target baru alat itu berfungsi. Lagian gak mungkin juga kita terlihat mencolok oleh orang-orang dengan alat tersebut! " jawab Angel dengan menghela napas kasar.
"Huh... Susah juga ya kalau begitu cara kerjanya! " keluh Lion juga ikutan menghela napas dengan kasar.
"Tapi tadi aku sudah perintah mereka untuk memotret anak-anak yang mirip dengan ada di foto itu Kak, jadi nanti fotonya bisa kita cocok kan dengan alat deteksi identitas milik Steven! " ucap Angel tersenyum senang.
"Bingo.... Aku suka kalau cara pikir kau sudah sejauh itu! " sahut Lion dengan berteriak penuh semangat.
"Berisik.... " ucap Tiger tanpa berekspresi sambil memainkan pedangnya.
Angel langsung mengerucut kesal mendengar Tiger yang sudah mengeluarkan suara emasnya. Ia lalu menghubungi Dave atas perintah Dave sendiri saat melaporkan rencana nya dalam mencari keberadaan kakak ipar Tata dan anaknya.
Dave sengaja mengatasinya sendiri tanpa melibatkan Tata karena ia tidak ingin Tata semakin kepikiran dengan masalah tersebut. Ia juga tidak mau kandungan Tata kenapa-napa jika Tata bertindak dengan mengandalkan emosinya semata. Dave hanya tidak mau salah langkah dalam mencari keberadaan mereka dan sebisa mungkin mereka harus menemukan nya sebelum orang-orang dari Malaysia.
🌿🌿🌿
"Saya tidak mau tahu! Dua tahun saya menyewa kalian untuk mencari perempuan ini sama anak-anak nya, tapi sampai sekarang gak ada hasilnya! Saya beri kalian kesempatan lagi selama sebulan, jika masih tidak ada hasil saya akan menyewa orang lain lagi yang lebih profesional dari kalian! " teriak seorang pria pada empat orang yang ada di hadapan nya.
"Maafkan kami Datok... Kami sudah mencarinya ke Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, tapi tidak ada yang mengenali mereka bertiga! Jika sebulan lagi kami tidak juga berhasil, silahkan Datok cari yang lain! " jawab salah satu dari mereka berempat dengan wajah menunduk.
"Terserah kalian saja! Pokoknya jika tidak ketemu juga sebulan ini, kalian siap-siap angkat kaki dari rumah ini! " ucap pria itu dengan nada kesal.
"Kami mengerti Datok... " jawab mereka patuh dan langsung pergi dari hadapan pria itu.
Setelah empat orang itu pergi dari hadapan nya, pria tersebut meraih botol anggur yang ada di atas meja nya. Ia menuangkannya ke dalam gelas dan membawanya ke sofa sembari memegang gelas tersebut dengan pandangan yang tidak di mengerti orang lain selain teman dekatnya.
"Untuk apa lagi kau cari perempuan cam tu Saleh? Kau kan punya banyak perempuan yang lebih cantik dari pada perempuan anak dua cam tu? " tanya seseorang lagi yang dari tadi hanya mengamati dari sofa tempat ia duduk.
"Kau tak tau kalau perempuan itu punya daya tarik tersendiri Malik! Selama ini, perempuan tu yang selalu membuat aku selalu bergairah! Dia ibarat kucing liar yang binal di atas ranjang! Aku tak kan melepaskan perempuan tu untuk orang lain! Perempuan tu harus ketemu dan menjadi milik ku lagi! " jawab pria yang di panggil Saleh dengan menyeringai mesum.
__ADS_1
Bersambung...