
Hamdani menghela napasnya sejenak sebelum menceritakan apa yang terjadi pada istrinya beberapa bulan belakangan ini.
"Waktu itu Papa dan Mama mendatangi rumah kontrakan kalian, tapi kalian sudah tidak ada di rumah. Para tetangga bilang kalian sudah pindah dari rumah tersebut. Mama yang kaget langsung menyesali perbuatannya pada Anika, ia meminta Papa untuk mencari keberadaan kalian berdua. Selama sebulan tidak membuahkan hasil, Mama kalian jatuh sakit karena selalu menyalahkan diri nya yang membuat kalian menghilang bagaikan di telan bumi. Karena mengurus Mama kalian yang sakit, mau tidak mau toko Papa percayakan pada salah satu karyawan. Namun semuanya hancur karena orang yang Papa percayakan membawa kabur semua uang hasil penjualan sehingga toko kita bangkrut hingga sekarang ini. Papa sudah menjual semua yang ada di toko untuk biaya pengobatan Mama kamu dan sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa di lakukan karena semuanya sudah ludes. Kami berdua hidup dengan uluran dan bantuan para tetangga sekitar yang masih peduli dengan kami berdua. Maafkan Papa dan Mama ya... Karena sudah membuat hidup kalian menderita! " cerita Hamdani panjang lebar sambil menitikkan air mata.
Anika menangis di pelukan Riko dengan tersedu-sedu hingga baju suaminya basah oleh air matanya.
Perlahan-lahan mata Nyonya Ratih terbuka dan menatap lemah mereka semua. Hamdani duduk di samping istrinya dengan menggenggam lembut tangan lemah Ratih.
"Kau lihat siapa yang datang?? Riko dan Anika sudah pulang, mereka sudah pulang Ratih! Apa kau tidak ingin memeluk anak mu? " ucap Hamdani dengan merengkuh tubuh lemah istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ri-riko... ! " ucap Ratih dengan lirih.
"Iya Riko, anak kita.. ! " sahut Hamdani membenarkan.
"Mama merindukan Riko Pa.. Riko anakku.. ! " ucap Ratih lirih dengan berurai air mata.
"Riko sudah di sini Ratih! Riko sudah pulang! Cepatlah sembuh! " sahut Hamdani dengan mendudukkan Ratih bersandar di bantal yang dibuat tinggi.
Riko yang berdiri perlahan duduk di sebelah Mama nya dengan wajah menyesal.
"Ma, ini Riko! Anak Mama! Maafkan Riko ya Ma... Riko baru pulang sekarang! Maaf Ma.. ! " ucap Riko dengan mencium tangan lemah Mama nya sambil menangis.
Ratih masih belum merespon, ia memandang Riko dengan pandangan kosong seakan-akan Riko tidak ada dan hanya ilusi.
"Pa... Mama mendengar suara Riko! Apa Mama bermimpi lagi Pa?? " tanya Ratih pelan sambil memejamkan matanya.
"Ma.. Ini bukan mimpi! Ini Riko, Ma! Riko sudah pulang! Anika juga ada di sini Ma.. ! Kami berdua sudah pulang! " ucap Riko lagi dengan membawa tangan Ratih menyentuh pipi nya.
Ratih perlahan membuka kembali matanya dan memandang lekat wajah seseorang yang ada di hadapannya. Ia masih belum sadar jika di depannya sekarang ini benar-benar anaknya.
"Ini Riko Ma.. ! Riko sudah pulang! Mama harus cepat sembuh! Riko sayang Mama! " ucap Riko lagi meyakinkan Ratih.
"Ri-riko... ! Ini beneran kamu?? Kamu nyata, Nak! Pa.. Ini beneran Riko anak kita?? " ucap Ratih masih tidak percaya dan menoleh ke arah suaminya yang berdiri di sisi kanan nya.
"Iya Ratih! Ini Riko anak kita! Riko sudah pulang! " sahut Hamdani membenarkan perkataan istrinya itu.
"Riko... ! Hu... Hu.. Hu... ! Ini beneran kamu, Nak! Hu... Hu... Hu.. Maaf kan Mama Riko! Maafkan Mama yang membuat hidup kamu menderita! Maafkan Mama! " Ratih menangis bahagia karena ia tidak bermimpi.
Mereka berpelukan sambil duduk dengan tangis tangisan. Ratih memeluk erat anaknya seakan-akan tidak mau melepaskan nya lagi.
"Maafkan Mama Riko... ! Maafkan Mama! Mama udah buat kamu menderita! Mama mau minta maaf sama Anika! Mama banyak dosa pada kalian berdua terutama pada Anika! " ucap Ratih lagi dengan berurai air mata di pelukan Riko.
"Anika di sini Ma... ! " sahut Anika mendekati mereka.
__ADS_1
Riko melepas pelukannya dan Ratih semakin menangis saat wajahnya menengadah ke atas karena Anika berdiri di dekatnya. Ia masih menangis saat Riko berpindah untuk berdiri dan Anika yang menggantikannya duduk di depan Ratih.
"Ma.. " ucapan Ratih terpotong karena Anika langsung memeluknya dengan erat hingga keduanya menangis saling meminta maaf satu sama lain.
"Anika... Kenapa kalian lama sekali.. ! Revan sepertinya haus, dari tadi menggeliat terus ! Ayo berikan asi nya sebelum Revan menangis! " ucap Sandra tiba-tiba membubarkan momen tangis tangisan menantu dan mertua itu.
Ratih melihat dengan bingung, begitu juga dengan Hamdani yang tampak kaget melihat seorang wanita datang sambil menggendong seorang bayi yang masih begitu merah.
Anika melepaskan pelukan nya pada sang ibu mertua, ia meraih Revan dari gendongan Sandra dan membawanya ke dalam pangkuan nya.
"Ba-bayi si-siapa itu?? " tanya Hamdani dengan suara tertahan di tenggorokan.
"Ma, Pa.. ! Ini Revan cucu Mama Papa! Anak Anika dan Mas Riko! " jawab Anika dengan mengelus lembut pipi merah Revan.
"Cu-cucu.... ! " ucap Ratih dan Hamdani barengan saling berpandangan.
Riko mendekat setelah Sandra keluar, ia jongkok di hadapan Anika seraya mengelus lembut kepala Revan.
"Ini beneran cucu Mama sama Papa! Anak Riko yang baru di lahir kan Anika tiga hari yang lalu! " jawab Riko lagi dengan menatap Anika dengan penuh cinta.
"Ya Allah Ma... Ja-jadi kita sekarang sudah menjadi kakek nenek! Ya Allah... Alhamdulillah ya Allah... ! " ucap Hamdani dengan penuh haru dan bahagia.
Ia langsung memeluk Ratih istrinya dan mereka berdua kembali menangis, tapi kali ini bukan tangis sedih melainkan tangis bahagia karena mereka sudah punya cucu.
"Iya Ma... Mama harus cepat sembuh biar kita bisa main bersama cucu kita! " sahut Hamdani mengiyakan keinginan istrinya itu.
"Ma, Pa... Anika keluar sebentar ya.. ! Mau mengAsihi Revan dulu! " ucap Anika hendak berdiri.
"Jangan... ! " seru Hamdani seraya melepaskan pelukan nya dari sang istri.
"Kamu tetap di sini saja Nak! Biar Papa dan Riko yang keluar! Lagian kasihan kakak kamu di tinggal di luar lama-lama! " ucap Hamdani lagi seraya langsung berdiri.
"Iya sayang! Kamu di sini aja sama Mama sambil mengAsihi Revan! Mas keluar dulu.. ! " sahut Riko membenarkan ucapan Papa nya.
Anika mengangguk sambil tersenyum, Riko dan Papa nya langsung keluar dari kamar tersebut meninggalkan Anika di sana bersama Ratih yang masih berbaring dengan sandaran bantal yang tinggi.
Anika langsung memberikan Asi nya pada Revan yang memang hampir menangis karena belum kunjung di berikan Asi. Ratih menggenggam lemah tangan kanan Anika sebelah kiri dengan air mata bahagia.
"Mama menyesal sekali sudah jahat sama kamu, Anika! Mama menyesal sekali! Sampai kamu hamil dan melahirkan, kamu hanya berdua saja dengan Riko! Tidak ada orang tua yang mendampingi! Maafkan Mama! " ucap Ratih lagi dengan wajah benar-benar menyesali kesalahan nya.
"Udah dong Ma... ! Jangan di ungkit-ungkit lagi! Anggap aja semuanya jadi masa lalu! Sekarang Anika dan Mas Riko sudah bahagia dengan kehadiran Revan. Kita akan memulai lagi dari awal bersama-sama. Aku harap Mama juga melupakan semuanya dan memulai lagi semuanya dari awal! Kita mulai lagi ya Ma sama-sama agar bisa menjadi panutan Revan kelak! " sahut Anika sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi Mama mertua nya.
Ratih mengangguk pelan dan tangan lemahnya mengusap lembut pipi Revan yang asyik menyedot sumber kehidupan nya dengan tersenyum bahagia.
__ADS_1
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Tata dan Dave memutuskan untuk kembali ke kediaman keluarga Ryder. Karena Abeth sudah pulang ke rumah sehari yang lalu, mereka langsung pulang saja tidak lagi ke rumah sakit.
"Haaah... Semuanya perlahan membaik! Ada yang datang, ada yang pergi. Seperti itulah kehidupan yang kita jalani, semuanya berputar sesuai porosnya! " ucap Tata menghela napas lega saat ia berada di dalam mobil hendak pulang.
"Iya sayang... ! Itulah yang namanya hidup! " jawab Dave dengan menggenggam lembut tangan istrinya itu.
Mereka saling berpandangan dengan tersenyum bahagia di bangku belakang. Tata menyandarkan tubuhnya di dada Dave dengan memeluk manja suaminya itu.
Sesampainya di rumah, Tata yang haus langsung pergi ke belakang menuju dapur untuk mengambil air minum.
Ia tidak sengaja mendengar pembicaraan pada asisten rumah tangga di rumah mertuanya yang sedang berkumpul bersama.
"Gak nyangka ya... Sebentar lagi kita akan berpesta besar! Aku seneng banget di kasih baju bagus kayak gini! Udah warna nya cantik, bahannya juga lembut lagi! Rasanya pengen cepat-cepat di pakai! " ucap Imah dengan memeluk baju kebaya yang ada di tangannya.
"Iya Mah... Aku juga seneng banget di kasih baju seragam kayak gini! Tadi Ndoro putri bilang kalau kita nanti hanya bantu sekedar nya saja, karena sudah ada petugas catering dan pelayannya yang akan melayani tamu! Gimana ya pesta orang kaya itu? Secara kan kita tidak pernah pergi ke pesta nikahan orang-orang kaya! Apa lagi ini pesta besar pertama keluarga ini, karena Raden Ayu Abeth menikah tidak ada pestanya! Padahal kan Raden Ayu anak perempuan keluarga satu-satunya, pasti seneng banget kalau nanti Raden Ayu Abeth juga menyelenggarakan pesta pernikahan nya besar-besaran seperti ini! " sahut Lastri ikutan bicara.
"Iya ya Tri... Kalau aku jadi Raden Ayu aku pasti minta pesta yang meriah juga. Secara kan cuma dia anak perempuan satu-satunya yang seharusnya juga melakukan pesta pernikahan secara besar-besaran dan mewah, gak cuma anak laki-laki aja! " ucap Sri ikut menimpali.
"Hush.. ! Jangan sembarangan bicara! Raden Ayu Abeth memang gak mau melakukan pesta besar-besaran, nanti kalau ada yang dengar bisa salah paham! " tegur Mbok Nah yang baru datang entah dari mana.
Deg
Tata merasa tertohok hatinya mendengar pembicaraan asisten di rumah mertuanya yang mengatakan seolah-olah hanya anak laki-laki saja yang boleh melakukan pesta mewah dan meriah, meskipun tidak seperti itu maksud perkataan mereka.
Ia yang tadinya merasa haus menjadi hilang rasa hausnya. Ia seakan-akan menjadi orang yang paling jahat di dunia ini karena tidak memikirkan perasaan kakak iparnya itu.
"Kenapa aku sampai lupa jika Kak Abeth tidak melakukan pesta pernikahan besar-besaran padahal ia sudah menikah duluan dari pada aku! Aku merasa jadi orang yang jahat karena tidak memikirkan perasaan nya! Meskipun Kak Abeth tidak bicara apa-apa, seharusnya aku peka untuk tidak melakukan pesta resepsi ini! Ya Allah... Hampir saja aku berbuat dzolim pada kakak ipar ku sendiri meskipun tidak aku sadari! " batin Tata dengan penuh penyesalan.
Ia duduk di meja makan sambil merenungi apa yang harus ia lakukan untuk membatalkan pesta resepsi ini. Apalagi semua persiapan nya sudah hampir 100 persen jadi susah untuk di batalkan. Ia benar-benar berpikir keras bagaimana cara agar tidak ada hati yang tersakiti dengan pesta resepsi ini.
Tiba-tiba saja ia melonjak dan berdiri dengan tersenyum bahagia.
"Aku punya ide brilian! Sepertinya ini bakalan bagus kalau di wujudkan! Aku harus bicarakan ini sama Mami dan semua orang! Iya.. Aku harus melakukan nya! " ucap Tata dengan mantap dan penuh semangat.
"Ayo Tata, semangat!! " ucapnya lagi dengan mengepal tangan dan menaikan otot lengannya ๐ช.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas reader ku semua nya...
Semoga hari kalian menyenangkan ๐๐..
__ADS_1
Lope-lope untuk kalian semuanya๐ค๐ค๐ค ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ