
Dewi mengawasi dari luar ketika Yuli membersihkan kotoran Abangnya yang bau nya nauzubillah itu. Yuli membersihkan kotoran Darman dengan hati yang dongkol dan sumpah serapah yang tidak pernah putus keluar dari mulutnya.
"Sial benar nasib aku sekarang ini, mau untung malah buntung! Kirain lepas dari Bang Kadir bisa hidup tenang tanpa memikirkan apa pun, bisa melakukan apa pun asal ada uang. Tapi apa, yang dapat malah mayat hidup yang gak bisa apa-apa! Dulu nya aja gagah, kuat, tapi cuma sebentar doang semua itu bertahan. Kalau aku tahu si Darman ini punya penyakit seperti ini tidak sudi aku mau di nikahi nya meskipun Bang Kadir sudah menceraikan aku! Mendingan aku cari laki-laki lain yang masih seger, kuat, gagah, dan sehat daripada yang penyakitan seperti ini! " ucap Yuli pelan sambil memakaikan Darman popok perekat.
Darman yang mendengar omongan Yuli menjadi tampak sedih, dan raut wajah nya berubah mendung dan matanya tampak berkaca-kaca. Ingin ia mengatakan sesuatu, tetapi mulutnya tidak bisa ia gerakkan sama sekali.
"Kenapa Bang? Gak suka dengar omongan aku yang barusan? Iya!! " kata Yuli dengan wajah sinis kepada Darman.
Darman yang berusaha untuk bicara mencoba menggerakkan mulutnya dengan kuat agar bisa berkata walaupun cuma sepatah kata.
"Gak ada gunanya Abang gak suka sekarang, karena bagi aku, Abang sudah tidak mampu lagi membuat aku bahagia, maka dari itu biarkan aku mencari kebahagiaan ku sendiri! Aku bukan babu yang akan selalu mengurus mu setiap waktu! "ucap Yuli menatap tajam wajah Darman.
Yuli segera membuang kotoran Darman ke wadah plastik dan menaruhnya di tong sampah. Ia melewati iparnya itu dengan wajah kesal dan dongkol.
"Pokoknya, aku tidak mau tahu! Aku harus pergi dari laki-laki penyakitan seperti ini! Bisa hancur masa depanku jika masih tinggal dan merawat laki-laki ini seperti seorang babu! Pokoknya aku harus mencari cara agar bisa pergi dari neraka ini tanpa sepengetahuan si Dewi itu! Aku tidak sudi mengurus laki-laki penyakitan ini seumur hidup. " Batin Yuli dengan penuh tekad.
Dewi dengan entengnya masuk ke dalam ruang rawat Abang nya sambil membaca komik dan dengan santainya duduk di sofa dengan selonjoran.
"Bagaimana pun caranya, aku harus bisa pergi dari neraka ini! Aku harus bisa membuat si Dewi keluar dari ruangan ini untuk waktu yang sangat lama! Tidak sudi aku jika berlama-lama menjadi pembantu gratis laki-laki penyakitan kayak gini! Pokoknya aku harus pergi dari sini mumpung belum keluar dari rumah sakit ini. Jika sudah di rumah yang mereka sewa, bisa-bisa sampai mati aku tidak bisa keluar dari keadaan ini! " batin Yuli sambil berpikir keras.
Yuli masuk ke ruangan Darman dan langsung menggelar karpet di lantai. Ia langsung berbaring memunggungi Dewi yang posisinya berada di belakang Yuli meskipun ia duduk di atas sofa.
"Enak banget tidur-tiduran! Kalau bukan karena Bang Darman sakit, sudah aku tendang dia dari sisi Bang Darman. Lagian heran aku dengan Bang Darman, bisa-bisa nya suka dan cinta mati dengan perempuan modelan gini! " ucap Dewi dengan lirih yang hanya ia yang bisa mendengar nya.
Yuli sedang berpikir keras sambil memejamkan matanya, ia berusaha mencari cara agar bisa pergi dari rumah sakit ini tanpa ketahuan Dewi adiknya Darman. Karena berpikir sambil memejamkan mata membuat Yuli ketiduran hingga sore hari.
🌿🌿🌿
Di villa....
"Anika sayang? Udah dong mainin landak nya? Kasihan dong sayang di cabutin gitu durinya! " panggil ayah Jamal dengan wajah bergidik ngeri.
"Belum puas yah... Nanti Ika berhenti sendiri kok? " jawab Anika dengan santai nya.
"Ko!! Coba bujuk istri mu itu agar sudahan memainkan hewan yang buas itu? Ayah jadi ngeri sendiri! Ayah takut nanti dia kenapa-napa? " panggil ayah Jamal kepada Riko yang sedang bermain catur dengan Tegar.
"Ya ampun yah?? Ayah aja dianggap angin lalu, apa lagi aku yang hanya remahan rengginang ini! " jawab Riko dengan lebay nya.
"Dasar menantu cemen! Masa bujuk istri sendiri aja gak bisa! Memalukan! " gerutu ayah Jamal kesal.
"Bukan cemen yah, hanya saja Riko lebih menyelamatkan dunia malam Riko. Jika anak ayah itu marah, bisa-bisa setiap malam Riko cuma meluk guling kalau kedinginan! Mendingan Riko cari aman aja! " jawab Riko dengan santainya.
"Dasar menantu semprul ! Otak omes! " ucap ayah Jamal gemes dengan jawaban Riko.
__ADS_1
"Ha.... Ha.... Ha.... Namanya juga anak muda yah, kayak ayah gak pernah muda aja! " jawab Riko dengan tertawa terkekeh-kekeh.
"Dari pada bikin Ibu Negara mengeluarkan titahnya, lebih baik cari aman aja! Serem tau kalau anak ayah itu mengeluarkan taringnya! " ucap Riko lagi dengan setengah berbisik.
"Plak.... Emangnya anak ayah itu singa! Pakai taring segala! " jawab ayah Jamal sebel dengan memukul lengan Riko.
"Iisshh, ayah gak tau sih gimana kalau anak ayah itu marah! Garangnya melebihi singa! Seremnya melebihi kuntilanak! " ucap Riko dengan pelan-pelan karena takut kedengaran Anika.
"Cih, kamu nya aja yang cemen! SSTI suami-suami takluk istri! " cibir ayah Jamal dengan sebel.
"He.... He... He.... " Riko hanya tertawa mendengar cibiran ayah mertua nnya.
Tegar tidak memperdulikan obrolan gak penting menantu dan mertua yang selalu berbeda pendapat setiap mereka pergi bersama. Ia dengan santai memainkan bidak catur dengan sesekali menjahili Riko yang terkadang hilang konsentrasi dengan rengekan dan keluhan Anika.
Anika begitu antusias sekali karena kali ini ia bermain bersama seekor landak yang masuk perangkap Mang Kosim untuk menjerat Babi hutan. Belakang villa masih berupa hutan yang masih banyak terdapat Babi hutan yang terkadang masih menampakkan diri merusak kebun-kebun warga. Jadi untuk antisipasi, para warga seringkali memasang perangkap dan kali ini perangkap Mang Kosim kemasukan seekor landak yang hampir tidak pernah lagi terlihat.
"Anika ayo kita makan dulu! Biarkan landak nya istirahat! Nanti biar Mang Kosim yang memberikan nya makan! Ayo kita masuk! " ucap Ibuk dari pintu villa.
"Iya, Buk! " jawab Anika yang langsung patuh begitu saja.
"Giliran Ibuk yang manggil langsung patuh, dari tadi dibilangin malah mau ngambek! " ucap Riko pelan.
"Hush.... Biarkan saja! Setidaknya ada juga yang bisa membuatnya patuh! Ayo kita masuk juga! " sahut ayah Jamal dengan memutar kursi roda nya.
🌿🌿🌿
Yuli langsung mandi setelah memberikan Darman makan dan obat. Sudah sejak ia bangun tidur pikiran nya buntu memikirkan bagaimana caranya ia kabur dari mengurus Darman. Apalagi dua hari kedepan Darman akan keluar dari rumah sakit. Kepalanya bertambah pusing memikirkan semua ini.
"Ah.... Lumayan seger habis mandi! Semoga saja aku dapat petunjuk untuk pergi di neraka ini! " gumam Yuli sambil berdandan di cermin kecilnya.
Yuli mengumpulkan pakaian kotornya dengan milik Darman dan membawanya ke loundry untuk di cuci. Ia tanpa sengaja melihat iparnya berbincang dengan seorang wanita di lorong depan ruang rawat Darman. Yuli diam-diam mencuri dengar pembicaraan Dewi dengan wanita itu, namun tidak berhasil dengar karena jaraknya masih agak jauh, tapi Yuli melihat wanita itu memberikan Dewi segepok uang bewarna merah yang mana membuat Dewi tersenyum gembira sambil berulang kali menciumi uang tersebut.
"Sialan si Dewi! Enak bener dia dapat uang segitu banyak! Aku yang mati-matian merawat Abang nya gak dapat apa-apa, enak benar dia dapat uang walaupun aku gak tau uang dari mana! Pokoknya aku harus bisa mengambil uang itu dari tangan Dewi! " ucap Yuli pelan dengan seringai liciknya.
Ia pun pergi meninggalkan Dewi yang masih berbincang dengan wanita itu tanpa menyadari jika semua yang ia lakukan sudah di lihat oleh Yuli.
Yuli memberikan pakaian kotor yang ia bawa ke petugas loundry dan duduk di kursi tunggu sambil memikirkan cara mencuri uang Dewi yang ia lihat tadi. Tiba-tiba saja ia tersenyum gembira sambil bertepuk tangan seakan-akan baru saja mendapat kan lotre yang banyak.
Ia bergegas pergi ke apotek di luar rumah sakit dan pergi dengan cara sembunyi-sembunyi.
Yuli tersenyum devil ketika melihat plastik berisi obat yang ia beli di apotik tadi.
"Aku yakin seratus persen jika aku akan berhasil melaksanakan niat ku nanti malam! Rasanya aku sudah tidak sabar lagi lepas dari laki-laki penyakitan seperti itu! Kamu memang pintar Yuli! Kenapa gak dari kemarin-kemarin aja aku melakukan cara ini, jadi aku gak capek-capek mengurus laki-laki penyakitan kayak gitu! " ucap Yuli pelan dengan tersenyum licik.
__ADS_1
Dewi kembali ke kamar Abang nya dengan hati yang bahagia. Ia tidak menyangka jika kalung yang ia temukan di ujung koridor rumah sakit membuahkan uang yang sangat banyak.
"Emang rezeki anak sholehah! Nemuin kalung dapat uang segepok, seperti nya aku harus mengganti ponselku dengan yang keluaran terbaru saat ini! Dan besok aku akan membelanjakan nya sepuas hati ku! " ucap Dewi berbicara sendiri sambil tersenyum lebar.
Dewi tidak tahu jika uang yang ada padanya sudah di incar Yuli untuk bekal ia kabur nanti malam. Ia menyimpan uangnya di dalam tas pakaiannya agar tidak di lihat oleh Yuli dan perawat yang masuk ke ruangan ini.
"Kemana sih tuh si Yuli? Demen banget main ilang-ilang aja kayak gak hantu! Tapi untung aja dia gak di sini, bisa-bisa nanti dia tahu lagi kalau aku lagi banyak duit! " gumam Dewi dengan pelan.
Ia lalu dengan santainya pergi mandi dengan meninggalkan uang di dalam tasnya. Yuli masuk ke ruangan Darman dan memastikan jika Dewi sudah benar-benar mandi. Ia langsung menaruh sebutir obat kedalam teko berisi air putih. Dan ia juga menaruh sebutir nya lagi kedalam mangkok untuk Darman yang sengaja ia lakukan agar Darman juga tidak melihat dan merecokinya ketika ia melakukan aksi nya.
"Ha.... Ha... Ha.... Semuanya sudah beres, tinggal menunggu waktu eksekusi saja! " ucap Yuli dengan tertawa pelan.
Yuli langsung cepat-cepat keluar dari ruangan Darman, ia tidak mau jika niatnya sudah di baca oleh Dewi hingga nanti rencananya gagal total. Ia tidak mau itu terjadi karena hal ini sudah ia rencanakan matang-matang.
Dewi keluar dari kamar mandi sambil berdendang, tanpa menyadari jika uang miliknya sudah di incar Yuli. Sedang kan Yuli sedang pura-pura baru masuk ke ruangan Darman.
"Keluyuran aja kerjaannya, tuh! Kasih makan Abang, udah waktunya makan ini! " omel Dewi ketika Yuli masuk dalam ruangan.
"Gak usah sok tau! Kamu tuh yang keluyuran gak jelas! Aku itu dari ngantar loundry ! " jawab Yuli dengan ketus.
Ia lalu mengambil makanan untuk Darman dan menaruhnya di mangkok. Sebenarnya sudah dari tadi ia melihat petugas rumah sakit mengantarkan jatah makan sore untuk Darman, tetapi Yuli sengaja baru memberinya makan setelah di suruh.
"Rasain nih! Mudah-mudahan gak bakalan bangun-bangun lagi sampai di dalam kubur! " gumam Yuli lirih dengan wajah penuh dendam.
Darman memakan makanan yang di suap kan istrinya Yuli dengan wajah sumringah. Ia bersyukur dalam hatinya karena iatrinya sudah mulai berubah sedikit demi sedikit.
Sedangkan Yuli menyuapkan Darman makan dengan wajah yang masam dan hati yang dongkol.
Melihat Abang nya makan dengan lahap, Dewi ikutan ngiler dan iya memutuskan untuk makan juga karena ia tadi sempat beli makanan di kantin rumah sakit ketika baru saja menerima uang.
"Noh nasi bungkus! Aku lagi berbaik hati belikan makanan untuk kamu! Lumayan sesekali aku kasih nasi bungkus, kasihan pula nanti udah capek-capek merawat Bang Darman gak pernah pula aku kasih nasi bungkus! " ucap Dewi dengan sambil mengejek Yuli.
Ia makan dengan lahap tanpa mengatakan apa-apa lagi, dan Yuli mengepal tangannya dengan erat dengan wajah kesal dengan ejekan yang keluar dari mulut Dewi.
Dewi meminum air yang telah Yuli masukkan beberapa obat, ia tidak tahu jika Yul melihatnya dengan tatapan tersenyum bahagia.
"Yes! Ayo minum terus! Ayo minum! Habiskan kalau perlu! Ha... Ha... Ha.... Aku tidak menyangka rencana ku berjalan selancar ini! Tidak lama lagi kalian berdua akan tertidur dengan sangat lelap dan baru akan bangun esok hari! " batin Yuli dengan tertawa bahagia.
"Kenapa aku jadi ngantuk begini ya? Ah, jelas aja ngantuk kalau perut kenyang kayak gini! Kalau kelaparan gak bakalan ngantuk karena perut berbunyi-bunyi minta di isi makan! Hoam.... Ngantuk banget! Tidur dululah sebentar! " ucap Dewi sehabis makan dengan menguap beberapa kali.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas kembali readers semuanya...
__ADS_1