Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
Gabut..


__ADS_3

"Kayak nya iya Mas! " sahut Tata mengangguk pelan.


Dave membawa Tata menuju bed nya karena Tata terlihat capek dan lelah.


"Sayang, makan buah aja dulu ya sebelum Mami datang! " ucap Dave dengan lembut.


"Iya Mas! Apa aja deh yang penting ganjal perutnya yang udah lapar ini! Minta melon aja ya Mas! " jawab Tata dengan menunjuk buah melon yang masih utuh.


"Oke sayang, kamu istirahat aja dulu ya.. ! Mas potong buah nya dulu! " sahut Dave langsung mengambil melon tersebut dan pisau nya.


Ia dengan cepat membelah melon menjadi dua dengan pisau buah dan membelah lagi potongan yang sebelah hingga beberapa bagian. Lalu ia membuang biji dan kulit kerasnya hingga tidak ada lagi warna hijau yang pahit jika di makan.


Dengan telaten Dave mengambil mangkok yang ada di dalam laci dan memasukkan semua buah melon yang di belah tadi ke dalam nya. Kemudian ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci buah tersebut hingga setelah bersih ia memotongnya menjadi bentuk dadu.


Dave membawa buah yang ia potong-potong tadi ke dekat istrinya yang lagi rebahan melihat apa yang ia kerjakan tadi.


"Ayo sayang duduk dulu! Makan sampai habis nya! Kalau mau yang lain lagi bilang aja sama Mas! " ucap Dave sambil membantu Tata duduk.


"Udah Mas! Aku udah bisa duduk sendiri kok! Aku kan pelan-pelan geraknya! Mas istirahat aja dulu di sana, soalnya sejak aku kebangun tadi Mas belum istirahat kan?? " ujar Tata meminta suaminya istirahat di bed yang kosong.


"Iya sayang nanti Mas istirahat! " tolak Dave dengan halus.


"Sekarang Mas! Bukan nanti-nanti! Mumpung belum ada keluarga yang datang dan gak rame orang! " ucap Tata tegas dengan sangat memaksa.


"Iya sayang iya.. ! Serem amat muka nya ! " jawab Dave pasrah dan menuruti sang istri naik ke bed yang kosong.


"Gitu dong.. ! Kan enak kalau nurut! Istirahat ya Mas, soalnya aku gak bisa lihat Mas sakit karena kurang istirahat! " ucap Tata dengan tersenyum lebar.


"Iya sayang.. ! " jawab Dave patuh.


Ia mulai berbaring dengan menghadap ke Tata yang sedang asyik makan buah melon menggunakan garpu.


Tata menoleh ke arah sofa melihat apa yang di lakukan sang sahabat yang sedari mereka masuk kamar tidak bersuara sama sekali.


Tampak Susan berbaring dengan mata terpejam dengan tangan di letakkan di atas kening nya.


"Bon.. ! Aku tau kau gak tidur kan??? Kau lagi punya masalah apa Bon?? Gak kayak biasanya kau kek gini Bon?? " tanya Tata dengan tangan memegang garpu dan menusuk melon nya.


Hening tidak ada jawaban sama sekali dari Susan. Tata memasukkan potongan melon ke dalam mulut dan mengunyahnya sampai habis.


"Bon.. ! Cerita lah kau sama aku Bon!! Kalau kau gak mau cerita, aku suruh detektif untuk mencari tau apa masalah mu Bon! " ancam Tata dengan nada santai.


"Cerewet kalilah kau Tet! Mana bisa detektif mu tau apa masalah ku! Rada-rada jugak kurasa kau Tet! " jawab Susan jengah dengan ancaman Tata.


"Bah! Belum tau aja kau dengan detektif yang aku punya Bon! Jangan kan masalah mu, masalah sekecil semut aja dia bisa tau apa lagi kalau cuma masalah seorang Susan Anggita! Mau taruhan kau sama aku Bon??? " ucap Tata dengan nada sombong.


"Dih.. ! Sombong kali lah lagak mu itu Tet! " cibir Susan dengan membuka matanya dan mendudukkan diri dari rebahan nya.


Ia memeluk erat lutut nya dengan pandangan yang sarat akan beban yang berat. Nampak begitu pelik masalah yang ia hadapi saat ini karena terlihat dari mukanya yang kusut kayak baju yang gak di setrika.


"Kak Sintia mengidap kanker Tiroid! Aku kemarin tidak sengaja menemukan catatan medisnya yang tersimpan rapi dalam laci sewaktu aku mencari dokumen penting di kamar nya! Awalnya ia sempat mengelak tapi karena terus aku desak akhirnya Kakak mengakui jika hal itu memang benar! Sudah setahunan ini ia menjalani pengobatan tapi belum ada hasil yang menunjukkan jika sel kanker nya berkurang! Kak Sintia meminta aku untuk menikah Tet sebelum ia di panggil yang kuasa karena penyakitnya! Hiks.. Hiks.. Hiks.. ! Apa yang harus aku lakukan Tet! Aku bingung dan sedih! Kau kan tau kalau aku takut untuk menikah karena takut mengalami nasib seperti pernikahan kakakku! Aku harus bagaimana Tet! Hiks.. Hiks... Hiks.. ! " cerita Susan dengan menangis terisak sambil memeluk kedua lutut nya.


Tata perlahan turun dari bed nya dan melihat kearah bed yang di tidurin sang suami. Tampak oleh matanya sang suami sudah terlelap karena terlihat dari napas nya yang teratur dengan sedikit dengkuran halus.


Ia berjalan pelan menuju sofa dan langsung memberikan pelukan pada sang sahabat hingga tangisan Susan pecah di pelukan Tata. Tata mengusap pelan punggung Susan naik turun guna memberikan dukungan lewat usapan nya.


"Aku tau kau bisa mengatasi masalah ini Bon! Boneka Susan nya kami bukan perempuan yang lemah hanya karena terhimpit masalah seperti ini.. ! Soal kanker Kak Sintia aku akan sekuat tenaga membantu mu! Sekarang yang paling penting dukungan mu untuk Kak Sintia agar beliau mau berobat dan bersemangat untuk sembuh dari penyakitnya! Kak Sintia butuh dukungan moril dari mu Bon! Jika kau lemah maka kakak mu juga akan lemah! Soal permintaan nya kau bisa memikirkan nya matang-matang seiring berjalan nya waktu! Tidak semua laki-laki mempunyai sifat seperti mantan kakak ipar mu Bon! Kau lihat kan bagaimana pernikahan aku yang dahulu?? Pastinya Arkan bukan pria yang akan membuang mu jika dirimu tidak bisa hamil! " ucap Tata panjang lebar dan kalimat terakhir Tata membuat muka Susan bersemu merah karena malu.


"Ish.. Kenapa omongan nya malah ke Arkan sih??? " omel Susan menutupi semburat merah di pipi mulus nya yang putih.


"Lah, memang si Arkan kan yang akan menjadi jodoh kau nanti!! " sahut Tata santai.


"Aamiin... " batin Susan dalam hati mengamini nya.


"Dah ah, jangan omongin dia lagi! Lagian aku masih agak takut Tet untuk menikah dan takut jika harapan ku musnah di kemudian hari! " jawab Susan masih gaming.


"Tidak boleh suudzon seperti itu dengan Allah Bon.. ! Tanam kan dalam keyakinan kau kalau Arkan bukan laki-laki seperti itu dan selalu kau doakan di beri suami yang mencintaimu dan menerima keadaan mu apa adanya bukan ada apanya! Berprasangka baiklah kepada Allah karena dari prasangka itulah kehidupan kita akan menjadi baik! " nasihat Tata dengan bijak pada Susan.


"Astaghfirullah hal azim.. ! Maaf Tet aku sudah mempunyai pikiran seperti itu! Astaghfirullah hal azim ya Allah... " ucap Susan beristighfar karena khilaf.

__ADS_1


"Aku yakin kali lah kalau Arkan setipe dengan suamiku yang kalau udah cinta dan sayang bucin nya akan membuat kau mual setiap hari nantinya! Gak hanya bucin tapi posesif nya juga sama! Lihat aja nanti kalau kau udah nikah sama dia! " ujar Tata dengan penuh keyakinan.


Susan makin tersipu malu mendengar keyakinan Tata akan bagaimana sifat Arkan setelah menikah nanti.


Ia menutup mukanya yang memerah karena baru saja membayangkan kebucinan Arkan padanya seperti kebucinan Dave pada Tata.


Tiba-tiba Susan teringat akan tingkah Ibuk yang aneh tadi pagi saat ia bertandang ke ruang rawat Tata.


"Oh ya Tet.. ! Aku sampai lupa! Tadi pagi waktu aku ke sini, aku lihat Ibuk melamun hingga beliau melewati pintu ruangan kau saking tidak sadarnya! " ucap Susan memberitahu Tata kejadian tadi pagi.


"Iya kah??? Kenapa Ibuk melamun seperti itu?? Gak biasanya Ibuk melamun di tempat seperti ini dan terlebih lagi di rumah sakit.. ! " tanya Tata memicingkan matanya.


"Suer Tet gak bohong aku! " sahut Susan dengan mengangkat dua jarinya.


"Yang bilang kau bohong itu siapa Bon??? Aku cuma heran aja karena gak biasanya Ibuk kayak gitu.. " ucap Tata gemes dengan Susan.


"Tadi waktu aku tanya, kata Ibuk ia tadi bertemu perempuan dan anak nya di lift waktu mau naik ke atas! Ibuk bilang seperti mengenal perempuan itu dari lama karena wajahnya tidak asing, tapi nyatanya mereka baru ketemu tadi pagi saat dalam lift! Aku juga bingung waktu Ibuk cerita kayak gitu, ya aku bilang aja kalau itu semua hanya perasaan Ibuk aja karena ketemu orang yang ramah dan nyambung di ajak ngobrol! " sahut Susan lagi dengan mengangkat bahunya.


Tata tampak berpikir keras mendengar pendapat Susan, tapi ia merasa jika agak aneh kalau menganggap semau itu hal yang biasa. Tata meringis kesakitan saat dadanya sudah terasa penuh kembali hingga ia memegang erat lengan Susan.


"Kenapa wajah kau kayak gitu Tet??? " tanya Susan panik.


"Ssstttt... ! Gak papa Bon.. ! Jangan keras-keras kau cakap, nanti suamiku bangun! Sepertinya aku harus memompa Asiku lagi karena sudah kencang kali karena udah penuh! Tolong ambilkan pump breast yang di atas meja sana Bon sekalian dengan botol untuk menampung Asi nya! " jawab Tata pelan dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya sambil meminta bantuan.


Tanpa menjawab, Susan langsung bergerak mengambil breast pump di meja yang Tata tunjuk dan membawanya ke sofa.


"Bon, tolong kunci dulu pintu nya ya takutnya ada tamu yang masuk waktu aku lagi pompa Asi! " pinta Tata sambil membuka habis bajunya.


Lagi-lagi Susan bergerak cepat menuju pintu dan menguncinya dari dalam. Tata mengeluarkan handuk kecil yang menyumpal dalam Bra nya yang ternyata sudah lembab karena Asi nya yang merembes.


"Astaga Tet.. ! Ku kira dari tadi ***** kau memang besar kali ku lihat, ternyata oh ternyata besar karena di sumpal handuk! Ckckck... ! " ejek Susan dengan geleng-geleng kepala.


"Kalau gak di sumpal gini basah kuyup bra sama baju aku Bon! Asi nya keluar terus karena melimpah ruah! " jawab Tata santai.


Dengan cueknya ia menaruh alat pump breast di dadanya sebelah kiri dan hanya menutup sebelahnya saja dengan handuk yang lembab tadi karena masih terus menetes.


Setelah selesai yang kiri, pindah lagi ke yang kanan hingga dadanya terasa kosong kembali dan dapat 3 botol Asi ukuran sedang.


Ia lalu membersihkan dadanya selagi Susan menaruh Asip ke dalam freezer kulkas dan mengganti handuk yang sudah basah tadi dengan yang baru dan kering. Tata kemudian memasang kembali Bra dan bajunya dan akan beranjak ke kamar mandi untuk mencuci handuk bekas sumpalan Asi tadi.


"Mau kemana kau bawa handuk itu Tet?? " tanya Susan dengan heran.


"Ke kamar mandi! Mau aku kucek-kucek karena kalau di biarkan akan bau! " jawab Tata santai.


"Udah gilak kali kau ya Tet! Kau itu baru melahirkan dan udah mau nyuci handuk kecil itu! Sini handuk nya biar aku aja yang cuci! Kau itu harus duduk aja di sana dan gak usah banyak gerak yang berlebihan! Bisa di gorok aku sama lakik kau kalau ia tahu kau mau nyuci di kamar mandi! " omel Susan seperti memarahi anak kecil yang ketahuan mencuri.


"Iya iya... ! Serem kali mukak kau kalau kau marah Bon! " sahut Tata dengan wajah merenggut.


"Udah, gak usah kemana-mana kau Tet! Duduk aja kau dengan anteng di sana! Awas kalau kau banyak tingkah! " ancam Susan dengan mata melotot tajam.


"Iya.... ! " jawab Tata dengan wajah cemberut.


"Galak kali si Bon-bon rupanya! Melebihi galakan nya Ibuk waktu aku nakal saat sekolah dulu! " gumam Tata pelan agar tidak kedengaran yang punya badan.


Begitu Susan di kamar mandi, terdengar suara ketukan pintu dan mau tidak mau Tata bangkit dari sofa berjalan pelan menuju pintu untuk membuka pintu.


"Loh, kok kamu yang buka pintu nya sayang??? Dave mana?? " tanya Mami Sita beruntun saat melihat wajah Tata yang nongol.


"Mas Dave lagi istirahat Mi! Kasihan gak tidur dari jam setengah tiga tadi! " jawab Tata tersenyum kecil.


"Kata Ibuk mu ada Susan di sini, mana??? " tanya Papi Dayton dengan melihat penjuru ruangan.


"Lagi di kamar mandi Pi! Mami Papi berdua aja ke sini?? Katanya Grandma Grandfa mau ikut, kok gak jadi?? " jawab Tata sembari bertanya juga.


"Aunty dan Uncle mu akan datang sayang.. ! Jadi mereka menunggu nya biar barengan datang kesini! Abeth juga menunggu kedatangan mertuanya yang akan sampai nanti sore! " jawab Papi Dayton sambil berjalan memasuki ruang rawat tersebut.


Mami Sita menaruh rantang berisi makan siang yang ia bawa dari rumah. Tidak berapa lama datang pihak catering rumah sakit yang membawa makan siang untuk Tata.


Susan keluar dari kamar mandi dan bergabung bersama mereka duduk di karpet yang sengaja di bentang agar bisa duduk lesehan di bawah.

__ADS_1


"Susan ayo kita makan siang! Sayang, bangunkan suamimu sana biar kita makan siang sama-sama! " ajak Mami Sita sambil menyuruh Tata membangunkan Dave.


Tata yang masih berdiri berjalan menuju bed tempat suaminya tidur. Ia mencium lembut rahang tegas Dave agar Dave terbangun karena ia paling tau cara membangunkan Dave dengan cepat.


"Eugh.... Kenapa sayang??? " lenguh Dave dengan suara serak bangun tidur.


"Bangun dulu Mas.. ! Makan siang kita! Nanti Mas telat makan siang nya kalau di biarkan tidur! " jawab Tata sambil membelai rambut coklat tebal sang suami.


"Hmmm.. " jawab Dave hanya berdehem guna mengumpulkan nyawanya yang masih melayang-layang.


Setelah dirasa sudah fit, Dave pun duduk dan turun dari bed.


"Mas ke kamar mandi dulu sayang mau cuci muka! Kamu mau makan di sana apa di atas bed mu?? " ucap Dave sembari bertanya.


"Di sana aja Mas.. ! Mas cuci muka aja dulu sana! Aku kan bisa jalan ke sana! " jawab Tata lembut.


"Iya sayang, cup.. ! " sahut Dave yang sempat-sempat nya mencuri kecupan di bibir Tata.


"Astaga itu anak.. ! Ada orang tua di sini sempat-sempat nya nyari kesempatan! " omel Mami Sita dengan jengah.


Tata menunduk malu karena hal itu terlihat oleh kedua mertuanya karena kalau di lihat Susan ia tak masalah sama sekali.


"Namanya juga bucin, kanjeng Mami! " sahut Susan santai.


Tata kemudian berjalan menuju mereka yang duduk di karpet dan ia langsung di larang Mami Sita untuk duduk bersila.


"Jangan duduk seperti itu sayang! Kaki mu harus selonjoran kalau duduk di lantai kecuali kalau duduk di kursi! Ora elok kata orang tau dulu! " ucap Mami Sita memperingatkan Tata.


"Iya ya Mi.. " jawab Tata patuh meskipun setengah tidak percaya dengan mitos tersebut.


"Mami dulu kayak gitu gak di bolehin duduk bersila, kakinya harus di luruskan sama Eyang kamu! Alasannya apa Mami lupa! " sahut Mami Sita lagi santai.


"Udah zaman modern kayak gini, Mami kamu masih aja percaya mitos kayak gitu! " ucap Papi Dayton geleng-geleng kepala.


"Ya mau gimana lagi Pi, beginilah hidup di Indonesia yang pasti ada mitos yang tersembunyi baik itu lahiran atau kawinan! " jawab Mami Sita lagi.


Dave datang dan langsung mengambil tempat di sisi sang istri yang nasi serta lauk-pauk sudah di ambilkan sang Mami.


"Kamu makan dulu ya yank.. ! Biar Mas suapin aja! " ucap Dave dengan langsung mengambil sendok untuk menyuapkan Tata makan.


"Aku makan sendiri aja Mas! Mas juga ikutan makan, kalau Mas nyuapin aku kapan Mas nya makan.. ! " tolak Tata dengan berusaha mengambil kembali sendok tersebut.


"Tidak ada bantahan My Ruby.. ! " ucap Dave tegas.


Tata merenggut sebel dan membiarkan Dave menyuapi nya makan karena ia tidak mau membantah ucapan sang suami.


Susan tersenyum kecil melihat wajah sebel Tata yang tidak bisa menolak sama sekali perkataan suaminya.


Mereka makan dengan khidmat tanpa ada suara karena Dave juga makan sambil ia menyuapi sang istri.


🌿🌿🌿


Sementara itu, Nada terus saja melamun dan berpikir sepulang dari rumah sakit tadi hingga membuat anak sulung nya Amirah menjadi heran.


"Mah, Mamah kok pulang dari rumah sakit tadi banyak melamun sih?? Emangnya sakitnya Aqila parah ya Mah.. ! " tanya Amirah yang tiba-tiba sudah duduk di samping nya.


"Astaghfirullah hal azim kakak.. ! Kamu bikin Mamah kaget aja! " ucap Nada dengan mengusap pelan dada nya karena kaget.


"Gimana gak kaget Mah, orang Mamah melamun aja dari tadi! Emangnya ada apa sih Mah?? " tanya Amirah lagi yang mulai kesal.


"Gak ada apa-apa Kak! Bukan masalah Aqila atau masalah yang serius! Mamah cuma berpikir aja soalnya tadi di rumah sakit ketemu nenek-nenek yang mukanya gak asing bagi Mamah! Makanya Mamah kepikiran siapa nenek-nenek itu?? " jawab Nada akhirnya jujur.


"Emang nya wajah nenek-nenek itu kayak mana Mah?? " tanya Amirah ikut penasaran.


"Matanya teduh dan hangat, suara nya lembut dan kalau tersenyum matanya langsung menyipit kayak orang cina! Padahal kulit dan wajah nenek-nenek itu bukan kayak orang cina, seperti orang kita lah! " jawab Nada yang masih mengingat wajah Ibuk nya Tata.


"Hmmm.. Agak susah menebaknya karena bukan Amirah sendiri yang melihatnya! " ucap Amirah dengan muka serius.


"Dah lah, gak usah di pikirin! Ayo kita makan siang saja karena sebentar lagi waktu dzuhur tiba! " ujar Nada seraya bangkit dari duduknya dengan meraih tangan Amirah menuju kamar Aqila.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2