Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
82. Secret


__ADS_3

Anika menangis tersedu-sedu di pelukan Riko. Ia tidak menyangka jika Tata masih perduli dengan dirinya yang dulu ikut-ikutan jahat padanya.


"Sudah, sayang! Jangan menangis lagi! Nanti bayi kita ikutan sedih, kamu harus kuat demi anak kita dan demi semua orang yang sayang dan perduli dengan kita! " bujuk Riko sambil menghapus air mata Anika.


"Aku benci dengan diri aku sendiri? A-aku bahkan tidak tahu sebenarnya aku ini anak siapa? Apa kamu masih mau Mas dengan anak yang tidak jelas siapa ayahnya? Apa kamu gak malu punya istri seorang anak haram? " jawab Anika dengan terisak-isak.


"Sayang, dengerin aku! Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, dan aku tidak perduli kamu anak siapa! Tidak ada anak haram, semua anak itu terlahir suci, seperti dirimu! Dan yang haram itu perbuatan orang tua nya, bukan anaknya! Sekarang ini, mari kita memulai semuanya dari awal bersama calon anak kita! Kamu mau kan memulai semuanya dari awal lagi bersamaku? " ucap Riko dengan lembut sambil menghapus air mata Anika.


"Aku mau Mas, kalau sama kamu! Tapi, gimana dengan orang tuamu Mas? Apakah mereka masih mau menerima aku yang tidak tahu siapa ayahnya? " kata Anika dengan wajah sendu.


"InsyaAllah orang tuanku akan menerimamu dengan tulus! Tapi kalau pun tidak, aku akan meyakinkan mereka kalau cuma kamu yang aku mau dan aku akan pertahankan kamu bagaimana pun caranya! Asalkan kamu tetap bersama ku dan tidak pergi meninggalkan aku lagi! Aku akan terus berusaha menyakinkan mereka sampai mereka menerimamu dengan tangan terbuka! " ucap Riko dengan mantap.


Tata yang masih berada di balik pintu, mengusap cepat air mata yang keluar di sudut matanya mendengar ucapan Riko yang yakin dan mantap mencintai Anika dengan cinta yang begitu besar.


"Kamu tenang saja sayang? Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu dengar tadi. Hanya saja bedanya orang tua ku sudah mantap menerimamu, dan tinggal dirimu saja yang harus aku yakinkan kalau aku benar-benar sangat mencintai mu sepenuh hatiku! Aku akan berusaha membahagiakan mu selama nafasku masih ada dalam ragaku! " ucap Dave tiba-tiba sudah berdiri di samping Tata.


Mendengar ucapan Dave membuat hati Tata tiba-tiba menghangat dan wajahnya bersemu merah karena malu, namun ia cepat-cepat mengubah ekspresi nya dengan acuh tak acuh mendengar ucapan Dave.


"Dasar gombal! " gerutu Tata sambil berlalu meninggalkan ruangan tersebut dengan senyuman tipis di sudut bibirnya yang tidak Dave ketahui.


"Astaga sayang! Aku bukan menggombal! Itu semua murni dari hatiku! " cerca Dave sambil mengikuti Tata dari belakang.


Tata tidak memperdulikan teriakan Dave yang terus mengoceh berjalan di belakangnya seperti emak-emak komplek yang hobi protes dan berkoar-koar tanpa henti. Dave tidak melihat senyuman tipis di bibir Tata mendengar semua rayuan yang keluar dari mulut si Bule mesum tersebut.


🌿🌿🌿


Kadir dan Nana sudah sampai di rumah sakit dengan membawa perlengkapan Anika dan Riko serta membawa Kayla dan Kana.


"Kenapa kita kesini, Pa? Papa sakit ya? " tanya Kayla dengan polosnya.


"Bukan sayang! Bukan Papa yang sakit, tapi Tante Anika! " jawab Kadir dengan lembut.


"Tante Anika sakit apa, Pa? " tanya Kayla lagi dengan wajah heran.


"Sakit biasa saja, karena ada dedek bayi di perut Tante Anika. Tante Anika harus istirahat dulu agar dedek bayi nya tumbuh sehat di dalam perut Tante Anika! " jawab Kadir lagi dengan pelan.


Kayla menganggukkan kepalanya seolah-olah ia mengerti apa yang di katakan Kadir padanya. Sedangkan Kana anteng dalam gendongan Nana tanpa peduli dengan apa yang ada di sekitarnya.


Mereka akhirnya sampai di ruangan Anika di rawat sementara, Kadir langsung menyerahkan koper dan semua perlengkapan mereka kepada Riko. Nana membantu Anika sebisanya untuk bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit sambil menggendong Kana.


"Bang, anak-anak gimana kalau aku pergi? " tanya Anika agak khawatir.


"Tidak usah kau pikirkan. Anak-anak biar sama Abang seperti dulu, hanya saja jika Abang kerja, akan Abang titipkan dengan Bi Sur di rumah kontrakan kalian. Karena Bi Sur yang memintanya sendiri. " jawab Kadir dengan serius.


"Bagus itu, Bang! Aku setuju, lagian kasihan Bi Sur sendirian di rumah gak ada temannya. Kalau ada anak-anak kan setidaknya Bi Sur tidak kesepian di rumah. " ucap Riko mendukungnya.


"Alhamdulillah kalau begitu, Anika gak kepikiran lagi! " sahutnya dengan rasa lega.


"Titip ayah ya Nika! Kalau ada apa-apa cepat hubungi kakak! Ayah pasti senang kamu datang ke sana, karena ayah sudah bisa bicara sedikit demi sedikit. " ucap Nana dengan wajah sendu.

__ADS_1


Anika menganggukkan kepalanya dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia langsung memeluk Nana dengan erat, keduanya saling ber tangis-tangisan dengan berpelukan.


"Ayo kita berangkat! Mobilnya sudah menunggu di depan rumah sakit! Kak Tata sudah mengurus semua nya! " ajak Riko kepada Anika.


Nana melepaskan pelukan mereka, ia membantu Anika turun dari tempat tidur, sedangkan Riko yang mendorong kursi roda dan mendudukkan Anika di atas kursi roda. Kadir membawa koper dan perlengkapan Anika dengan Kayla yang berjalan di sampingnya. Nana berjalan dengan menggendong Kana di samping kiri Anika.


Ternyata Tata sudah menunggu di samping mobil sedan yang akan membawa Anika dan Riko pergi ke Bandung menuju villa Tata yang sudah di huni duluan oleh Ibunya Tata dan ayah Jamal.


"Ayo kalian masuk! Anton, bawa mobil nya hati-hati. Soalnya adikku sedang hamil muda, sampaikan kepada Tegar agar jangan lengah dalam menjaga semua penghuni villa. "ucap Tata dengan tegas.


"Baik, Nona! " jawab Anton dengan mengangguk.


Mobil yang membawa mereka berjalan perlahan keluar dari area rumah sakit.


"Pa, Ila lapar! Boleh beli makanan gak? " tanyanya ketika mereka hendak masuk ke rumah sakit.


"Ayo, sama Tante saja! Kita makan di kantin, Tante juga lapar! " sahut Tata dengan tersenyum manis.


"Atu itut!! " rengek Kana dalam gendongan Nana.


"Kana sama Papa aja yah, kita mau jenguk nenek! " bujuk Kadir dengan lembut.


"Dak au, Pa! Dak au! " tolak Kana sambil berontak di gendongan Nana.


"Sini sama Tante aja, Kalian silahkan menjenguk! " ucap Tata sambil mengambil Kana dari pelukan Nana.


Kana langsung merentangkan tangannya minta di gendong Tata, alhasil Nana menyerahkan Kana kepada Tata, sedangkan Kadir membiarkan saja Kana bersama Tata karena susah membujuk Kana jika ia sudah ada maunya.


"Nana di sini saja Kak, Nana juga lagi malas ke kantin! " jawab Nana dengan tidak bersemangat.


"Ya sudah, tunggu saja di sini! Kalau kamu bosan, bisa langsung susul kami di kantin! " ucap Tata sambil berjalan pergi ke arah kantin.


Dave masih setia mengekor di belakang Tata sehingga Kayla menatap nya dengan pandangan heran.


"Tante, Om yang ganteng itu siapa? Kok dia berjalan di belakang kita? " tanya Kayla penasaran.


"Emangnya Om itu ganteng ya? " tanya Tata balik kepada Kayla.


"Ganteng banget, Tante! Nanti kalau Ila sudah besar, Ila mau punya suami yang ganteng kayak Om itu! " jawab Kayla dengan polosnya.


"Ya ampun... Anak sekarang tahu aja mana yang cowok ganteng! " ucap Tata sambil menepuk jidatnya.


"Berarti kamu ngakuin dong sayang kalau aku ini ganteng! " bisik Dave yang tiba-tiba berbicara di telinga Tata.


"Dih, kepedean! " omel Tata menahan dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang.


Dave masih menatap Tata sambil menggodanya dengan menaik turunkan alisnya. Tidak ingin ketahuan salah tingkah, Tata langsung menarik tangan Kayla berjalan kembali ke arah kantin.


Mereka masuk ke dalam kantin dan menduduki kursi yang kosong. Tata mendudukkan Kana di kursi yang ada di sampingnya, sedangkan Kayla duduk di samping Dave. Mereka memesan makanan yang tersedia di kantin tersebut.

__ADS_1


🌿🌿🌿


Nana pergi ke taman yang ada di halaman rumah sakit. Ia duduk di bangku yang ada di taman tersebut dengan menghela nafas kasar.


Cukup lama ia termenung sendiri di taman tersebut sambil memandang langit yang sedikit nampak teduh karena banyaknya pepohonan yang ada di taman tersebut.


"Abang cariin ke mana-mana, tau nya duduk di sini! " ucap Kadir yang datang dan langsung duduk di samping Nana.


"Kenapa abang cariin Nana? " tanya Nana dengan pelan.


"Abang hanya mau mastikan kamu baik-baik saja! " jawab Kadir khawatir.


"Bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja, Bang! Karena kenyataannya aku tidak baik-baik saja! Aku hancur, Bang! Aku sedih, aku kecewa! Sekarang aku mengerti kenapa selama ini Mama selalu pilih kasih padaku, tidak pernah menganggap aku ada, dan Mama hanya baik padaku jika bersama ayah saja. " ucap Nana dengan getir dan sedih.


"Maafkan Abang yang tidak mengatakan sejujurnya, karena waktu itu ayah meminta Abang untuk tidak menceritakan kalau kami ini bukan saudara kandung mu. Ayah hanya tidak ingin kamu merasa tersisihkan, meskipun kenyataannya memang seperti itu tanpa sepengetahuan ayah Jamal. Ayah Jamal begitu senang ketika melihat Mama begitu menyayangi mu walaupun sebenarnya itu hanya kamuflase. Seandainya saja dari dulu ayah Jamal mengetahui jika Mama tidak pernah menyayangi mu, mungkin saja saat ini kita sudah tidak lagi menjadi saudara sampai sekarang. " sahut Kadir panjang lebar.


"Bang, Bisa ceritakan gimana ayah bisa menikah dengan Mama Abang? " pinta Nana dengan sangat memohon.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan! " jawab Kadir dengan menarik nafas dalam-dalam.


"Waktu itu, Abang baru berusia 15 tahun, Dika berumur 7 tahun. Mama bertemu ayah Jamal di toko ayah Jamal karena Mama tidak sengaja memergoki seorang pelanggan mencuri di toko ayah Jamal. Ayah Jamal merasa senang dengan Mama yang sudah membantu nya sehingga ia tidak mengalami kerugian yang besar. Mama juga membuat kamu yang baru berusia 1,5 tahun diam di dalam gendongannya. Melihat ayah Jamal yang kewalahan mengurus kamu yang waktu itu menangis tiada henti, Mama langsung mengambil mu dan menggendong mu hingga kamu tertidur. Ayah Jamal semakin senang dengan Mama dan mulai saat itu mereka dekat dan ayah Jamal begitu baik kepada Abang dan Dika hingga saat ayah Jamal terkena stroke waktu itu.


Kalau tidak salah mereka menikah ketika kamu berusia dua tahun, dan tidak lama kemudian Anika hadir di tengah-tengah kita, yang mana membuat ayah Jamal begitu bahagia. Setelah itu kamu tahu sendiri kan bagaimana kisahnya hingga saat ini! " ucap Kadir panjang lebar.


"Terus, Abang tahu gak di mana Ibu kandung Nana? " tanya Nana dengan penuh harap.


"Abang gak tahu, hanya saja dulu ayah Jamal bilang kalau Ibu kandung kamu udah meninggal ketika melahirkan kamu. Hanya saja selama kita menjadi keluarga, ayah Jamal tidak pernah membawa mu mengunjungi makam Ibu kandung mu. Ayah Jamal juga tidak pernah memberitahu dimana makam Ibu kandung mu kepada kita semua. " jawab Kadir dengan wajah serius.


"Ya Allah... Kenapa rasanya banyak sekali rahasia yang Nana tidak ketahui? Dimana Ibu kandung Nana, apakah masih hidup atau sudah meninggal dunia? " ucap Nana dengan lirih sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Kamu yang sabar ya, Na! Abang yakin jika Ibu kandung mu masih hidup, ia akan bertemu kembali dengan mu atas seizin Allah. Minta lah pada Allah agar di pertemukan dengan Ibu kandung mu! " sahut Kadir memberikan semangat kepada Nana.


"Terimakasih Bang! Nana sedikit lega mendengar nya, setidaknya Nana sudah tahu rahasia yang selama ini di simpan ayah Nana! " jawab Nana dengan wajah agak lega.


"Iya, Sama-sama! Hanya saja Abang masih kepikiran dengan Laki-laki yang mengaku sebagai ayah biologis Anika? Abang benar-benar tidak habis pikir bagaimana laki-laki itu bisa yakin bahwa Anika adalah anaknya. Jika Anika benar anaknya, berarti Mama selingkuh dengan laki-laki itu sewaktu menikah dengan ayah Jamal. Atau satu kemungkinan lagi jika Mama sudah hamil ketika menikah dengan ayah Jamal. Semua kenyataan ini sungguh membuat kepala Abang pusing! " keluh Kadir dengan wajah frustasi.


"Ya Allah, jadi Anika bukan anak ayah Jamal, Bang? " tanya Nana dengan wajah kaget.


"Entahlah, Na. Abang juga tidak mengerti. Tadi sewaktu kamu pergi dari ruangan Mama, seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan Mama sambil berusaha mendesak Mama agar mau mengatakan kalau Anika adalah anaknya. Mama mengatakan iya dengan wajah marah dan itu membuat Anika shock dan akhirnya berakhir di ruangan dokter kandungan tadi. " cerita Kadir dengan nada sedih.


"Astaghfirullah hal adzim ya Allah! Nana gak tahu jika kejadiannya seperti itu, Bang! Pasti Anika sangat sedih dan kecewa dengan kenyataan ini! " jawab Nana dengan sangat prihatin.


Mereka terus berbincang sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang melihat mereka dengan wajah merah padam karena marah dan cemburu.


"Oh, jadi di sini kamu, Bang! Kamu selingkuh dan ada main ya dengan adik kamu ini! " ucap seseorang dengan kencang sambil berkacak pinggang di hadapan mereka.


Bersambung...


Selamat membaca dan Selamat beristirahat readers semuanya...

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜...


__ADS_2