
Tata keluar dari ruang kerjanya setelah memberikan instruksi kepada tangan kanannya, dan dia memutuskan untuk menelpon Ibuk nya di Bandung.
"Hallo, assalamualaikum Buk? "
"Waalaikumsalam, Nak? Gimana kabar mu di sana? "
"Alhamdulillah sehat dan baik-baik aja, Buk! Ibuk kapan ke Jakarta lagi? Adek kangen sama Ibuk? "
"Ibuk betah di sini Dek! Ibuk merasa di kampung sendiri, apalagi di sini begitu sejuk dan damai. Warga sekitar juga baik-baik dan ramah. Rasanya berat Ibuk pergi lagi dari sini? Apa kita beli rumah aja di sini ya, Dek?Lihat Si Ijah sampe punya kebun sayur lagi di belakang. Setiap hari itu saja kerjaan nya. Pak Jamal juga senang banget punya kawan main catur di pendopo yang selalu ramai setiap sore! "
"Ya sudah kalau Ibuk betah! Ngapain kita beli rumah, Buk! Villa yang Ibuk tempati itu kan punya adek, jadi milik kita Buk! Biarkan aja Mak Ijah berkebun dan Ibuk cukup mengawasi saja, gak usah ikutan berkebun. Ibuk kan baru saja sehat. Alhamdulillah ayah Jamal betah juga di sana. "
"Iya, Dek! Oh ya gimana dengan bisnis Loudry kita yang di Medan itu, Dek? Apa kita jual aja biar gak keteteran kamu mengurus nya? "
"Gak usah di jual Buk! Ibuk tenang aja, biar adek yang mengurus tentang bisnis kita! Ibuk cukup menikmati saja hidup Ibuk dengan tenang, gak usah mikir yang macam-macam! Urusan bisnis itu urusan adek! "
"Baiklah kalau begitu menurut adek, Ibuk ikut aja! Jangan lupa jaga kesehatan ya, Dek? Jangan pernah sombong dengan apapun yang kita punya, karena roda terus berputar. Bisa saja nanti kita berada di bawah dan bisa saja nanti kita tidak punya apa-apa, jadi tetap lah rendah hati ya, Dek! Hormatilah orang yang lebih tua, dan jangan lah sombong terhadap yang lebih muda dari kita. Jangan menyimpan dendam dan amarah lama-lama, karena itu tidak baik. Jadi lah pemaaf agar hidup dan hati kita tenang. Ingat nasihat Ibuk ya Dek! "
"Iya, Buk! InsyaAllah adek akan ingat nasihat Ibuk! Udah dulu ya Buk, assalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam.. "
Setelah mematikan sambungan teleponnya, Tata pergi ke taman samping duduk di ayunan dengan santai.
"Kira-kira gelang kaki aku itu jatuh di mana ya? Padahal aku yakin kali lah kalau waktu di rumah Mami masih ada gelangnya? Masa jatuh di mobil? Tapi waktu aku suruh pelayan nyariin katanya gak ada gelang kaki di dalam mobil? Aduh, jadi bingung ini, aku jadi lupa begini! " gumam Tata dengan gusar memikirkan keberadaan gelang kaki miliknya.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa anak kecil yang terdengar jelas di telinga Tata.
"Kok sekarang ada suara tawa anak kecil? " ucap Tata heran sambil melihat kanan kiri depan belakang.
"Nah, hilang suaranya! Masa siang-siang gini ada setan! " gumam nya lagi dengan turun dari ayunannya.
"Gak ada siapa-siapa di sini? " ucapnya lagi sambil duduk kembali ke dalam ayunan.
Tata kembali mengira-ngira dimana gelang kakinya itu jatuh karena ia begitu menyayangi benda terakhir pemberian ayahnya sewaktu ia lulus ujian taekwondo.
"Woi, ngelamun aja! Ntar ayam tetangga mati semua! " teriak Sandra mengagetkan Tata.
"Astaghfirullah hal adzim, Bontot! Sukak banget sih ngagetin orang?? " ucap Tata sambil mengurut dadanya kaget.
"Loh, anak siapa yang kamu bawa? Dua lagi? Kamu nyulik anak dimana, Tot? " ucap Tata kaget melihat Sandra menggendong anak kecil kira-kira berumur 2tahunan dan seorang lagi di gandeng Sandra yang sudah lumayan besar.
Sandra membawa anak-anak itu naik ke ayunan bersama nya, ia mendudukkan yang besar di samping Tata.
"Sembarangan kalok ngomong! " jawab Sandra sambil menoyor kepala Tata.
__ADS_1
"Lah, terus dimana kamu bisa bawa anak ini ke rumah? Ntar di cariin emak nya loh? Bisa barabe nanti rumah ini di demo emak-emak berdaster? " tanya Tata lagi dengan heran.
Sandra yang hendak membuka mulutnya menjawab pertanyaan Tata jadi tertunda mendengar teriakan Nana yang datang dan ikut nimbrung duduk di samping Sandra.
"Loh, Kak Sandra? ini anak siapa? " tanya Nana dengan heran.
"Kalian berdua itu ya? Kompak kali kalok urusan kepo! Ini anak, anak kenalan aku waktu di restoran? Waktu itu aku lagi mengecek keadaan dapur, eh pas lewatin lorong toilet yang ini nih langsung meluk kaki aku sambil panggil Mama? Kan aku kaget lah! Bunting kagak, apalagi ngelahirin, kok bisa-bisa di panggil Mama! Mau aku lepasin pelukannya, eh akunya gak tega lihat puppy eyes-nya yang begitu imut dan lucu. Ya udah aku gendong aja sampe ada yang nyariin nih anak. Gak lama datang perempuan nyariin nih anak yang rupanya keponakan nya, aku kira emaknya karena aku udah siapin jurus jitu jika di tuduh nyulik anaknya.
Ketika mau di ambil Tantenya, ni anak gak mau turun dari gendongan aku. Ya udah sekalian aja aku di ajak makan bareng di meja mereka. Dan kami sering ketemu semenjak kejadian itu! Gitu ceritanya saudari-saudari! Ada pertanyaan?? " jawab Sandra panjang lebar.
"Gak/Ada Kak! " ucap Tata dan Nana bersebrangan.
"Silahkan saudari Nana, apa yang ingin saudari tanya kan? " sahut Sandra yang berlagak seperti pembawa acara.
"Kenapa sekarang anak-anak ini sama kakak? " tanya Nana.
"Pertanyaan yang bagus! Mereka sekarang bersama saya karena ayah mereka sedang membawa Tante mereka ke rumah sakit. Kebetulan sekali aku kangen sama anak-anak ini, jadi aku main ke rumah mereka dan langsung menawarkan diri untuk menjaga anak-anak ini sementara orang tua mereka pergi! " jawab Sandra dengan gaya pembawa acara.
"Cih, gaya nya kayak pembawa acara talkshow aja! " gerutu Tata dengan bibir manyun.
"Tapi kok, kayak nya aku kenal dengan anak ini? mirip siapa ya? " ucap Nana mengingat sesuatu.
"Iya, Na! Kakak juga kayak kenal dengan wajah anak-anak ini! Seperti mirip seseorang yang kita kenal? Tapi kakak lupa siapa? "jawab Tata ikut membenarkan dugaan Nana.
"Dih, dibilang gak percaya! Aku itu seperti pernah lihat wajah nya tapi lupa dimana lihatnya! " jawab Tata sewot.
"Nama nya siapa sayang? " tanya Nana lembut.
"Aku Kayla Tante, dan ini adikku Kana! " jawab yang besar.
"Kalau aku Tante Nana, mirip ya nama kita? Dan ini Tante Tata yang punya rumah ini? " jawab Nana dengan tersenyum lebar.
Tiba-tiba Bu Vira datang mengatakan jika makan siang sudah siap. Kayla dan Kana antusias sekali di ajak makan siang oleh Nana. Mereka cepat sekali akrabnya.
"Tante, Ila boleh gak makan ayam kecap itu? " tanya nya dengan takut-takut kepada Tata.
"Ila makan aja sepuasnya ya? Tapi jangan sampai terlalu banyak, nanti bisa sakit perut. Kalau lapar lagi, kan bisa ambil lagi ayamnya! " jawab Tata lembut.
"Atu gak au atit eyut? " jawab Ana ikut bicara.
Tata, Nana dan Sandra langsung ketawa mendengar Kana yang ketakutan sakit perut.
"Kalau gak berlebihan gak akan sakit perut, sayang? " jawab Nana sambil mencubit pelan pipi gembil Kana.
"Mama, atu au amam ayam oyeng? " pinta Kana sambil nunjuk piring berisi ayam goreng.
__ADS_1
"Okey, Ayo makan! " jawab Sandra dengan mengambil ayam goreng dan kemudian menyuapi Kana.
Kayla makan ayam kecap dengan lahap, sepertinya ayam kecap makanan kesukaannya. Ia bahkan nambah berkali-kali ayam kecap nya.
"Kak, gak makan! " tegur Nana pelan melihat Tata hanya melihat anak-anak itu makan.
"Gak lapar! Lihat mereka makan dengan lahap kakak jadi kenyang! Kakak masih merasa pernah lihat anak-anak ini? Tapi lupa lihatnya dimana? " jawab Tata juga pelan, takut mengganggu anak-anak makan.
"Iya sih Kak! Nana juga masih kepikiran tentang itu! eh Kak, Nana mau ngomong nih! " ucap Nana dengan antusias.
"Tadi jam 10an Nana jenguk istrinya Bang Deri di rumah sakit. Nana ketemu Bang Kadir sama Anika di poli kandungan. Tapi gak ada Riko dan Mbak Yuli di sana, hanya Anika sama Bang Kadir aja. Anika sepertinya lagi hamil muda dan waktu Nana tanya Riko dimana, eh keburu di panggil pulang lagi sama Ayu! Tapi Nana udah kasih nomor telpon Nana sama Bang Kadir jika butuh sesuatu! " cerita Nana dengan pelan-pelan.
"Alhamdulillah kalau Anika hamil! Tapi iya juga ya, biasanya si Riko selalu nempel kemana Anika pergi, bucin banget dia sama Anika! Mudah-mudahan gak ada apa-apa sama rumah tangga mereka! " ucap Tata dengan lega.
"Nana boleh gak Kak nemuin mereka kalau nanti Bang Kadir telpon Nana? " tanya Nana dengan hati-hati.
"Ya boleh lah Na, masa mau ketemu saudara sendiri aja di larang? Itukan hak kamu! " jawab Tata santai.
"Makasih ya Kak, kalau gak ada kakak gak tau nasib Nana sama ayah sekarang ini! " ucap Nana dengan mata berkaca-kaca.
"Gak usah melow gitu! Itu juga sudah menjadi kewajiban kakak membantu adiknya yang lagi kesusahan. Lagian Suster Sumi emang kakak suruh untuk jagain kalian selama kakak di Medan! "jawab Tata membuka sedikit rahasia nya.
"Beneran kak? " ucap Nana dengan wajah terkejut.
Tata hanya menganggukkan kepala nya dan Nana tanpa komando langsung memeluk Tata dengan erat sambil berkata terimakasih.
"Apa pulak kerjaan klen ini! Orang makan dia cerita-cerita sambil bisik-bisik, terus pelukan pulak kayak teletubbies. Apa yang klen bicarain? " tanya Sandra kepo.
"Mau tau aja apa mau tau banget?? " jawab Tata sambil memainkan alisnya.
"Au ah gelap! " ucap Sandra sewot.
"Ha.... Ha... Ha.... " Tata dan Nana tertawa melihat Sandra sewot karena di jahili Tata.
Tiba-tiba ponsel Tata berdering dan dia mendapatkan pesan yang membuat raut wajah nya berubah menjadi datar dan dingin.
"Aku ada urusan sebentar! Kalian jaga anak-anak di rumah, jangan keluar jika tidak pakai sopir! " ucap Tata langsung pergi tanpa menoleh kebelakang.
"Ada apa ya Kak? Kenapa wajah Kak Tata jadi seperti itu? Aku gak pernah lihat Kak Tata dengan wajah kayak gitu? " tanya Nana kepada Sandra yang di jawab gelengan kepala Sandra.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...
__ADS_1