
"Ayo dek, pompa dulu Asi nya dengan alat ini! " ucap Ibuk dengan menyingkapkan jarik yang menutupi dada Tata.
Ibuk memposisikan alat pompa pada salah satu payu dara Tata sampai pas dan meminta Dave memegang jarik untuk menutup tubuh Tata karena tangan Tata masih belum bisa di gerakkan.
Lima menit berlalu, Tata sedikit lega karena rasa sakit dan nyerinya sedikit berkurang. Percobaan pertama berhasil mendapatkan dua botol kecil Asi dan langsung di lanjut kan sesi kedua yang juga dapat dua botol lagi hingga akhirnya terkumpul delapan botol kecil dot berisi Asi. Karena Dave membeli 10 dot ukuran kecil maka tersisa dua botol yang kosong karena produksi Asi Tata mulai berkurang.
"Alhamdulillah.. Akhirnya tangan ku bisa di gerakkan lagi dan ketiakku bisa tertutup kembali meski rasa sakitnya masih terasa dan belum hilang sepenuhnya! " gumam Tata dengan lega.
"Alhamdulillah sayang! " sahut Dave dengan memberikan ciuman pada pelipis Tata.
"Jika dada mu terasa penuh kembali, pompa lagi Asi nya dek dan taruh di botol yang agak besar. Kita masih membutuhkan 10 botol lagi ukuran sedang agar banyak stok Asip yang di simpan dalam ruang pendingin. " ucap Ibuk yang duduk di sofa bersama Mak Ijah.
"Iya Buk.. ! Nanti Dave akan beli lagi dot ukuran sedang seperti yang Ibuk bilang tadi! " jawab Dave sambil mengutak-atik ponsel nya.
"Mas mau nelpon siapa jam setengah 4 gini?? " tanya Tata dengan suara lirih.
"Mau nelpon Mila yang di ruangan si kembar! Mas akan minta Mila menjemput Asi di sini dan memberikan nya pada anak-anak kita sayang! Sudah saat nya anak-anak kita meminum Asi dari mu! " jawab Dave dengan ponsel yang sudah di telinga nya.
Terdengar suara Dave yang meminta Suster Mila menjemput Asi Tata yang sudah di pompa untuk di berikan kepada si kembar.
Lima menit kemudian terdengar suara ketukan pintu yang menandakan jika Suster Mila sudah sampai di depan kamar Tata.
"Masuk saja Mila! " ucap Dave dari dalam.
Suara pintu terbuka dari luar dan tampak sosok Suster Mila tersenyum ramah dan menyapa semua orang dengan sopan.
"Berikan Asi ini untuk anak-anak ku Mila! Jika habis, langsung saja kau ke sini untuk mengambil nya lagi karena akan selalu ada Asi yang di stok untuk si kembar. " ucap Dave lagi dengan menyerahkan sebuah boks yang di dalam nya sudah tersusun delapan botol Asi ukuran kecil.
"Baik Tuan! Oh ya Nyonya, bayi-bayi Nyonya akan di berikan Asi setiap dua jam sekali! Jika Nyonya sudah kuat berjalan, Nyonya bisa datang ke ruangan anak-anak untuk mencoba menyusui mereka secara langsung! " jawab Suster Mila memberitahu Tata.
"Terimakasih Suster! Tolong jaga anak-anak saya dulu ya?? " ucap Tata dengan tersenyum ramah.
"Baik Nyonya.. ! Permisi Tuan, Nyonya dan semuanya! " jawab Suster Mila dengan mengangguk sopan.
Ia pun keluar dan menutup pintu dengan membawa kotak berisi Asi untuk si kembar.
Tata meringis kembali karena dadanya sudah penuh dan bengkak. Asi nya sudah kembali berproduksi dan membuatnya kembali meringis kesakitan.
"Ayo sayang di pompa lagi Asinya dan masukkan ke botol yang masih kosong! Mas akan keluar membeli botol ukuran sedang sekalian mau sholat subuh di masjid. " ucap Dave dengan membantu meletakkan alat pumping Asi di depan dada Tata.
"Iya Mas.. ! Mas pergi saja sholat subuh dan kembali nya nanti belikan sarapan untuk semua orang ya.. " sahut Tata dengan mengangguk pelan.
"Mas pergi dulu ya sayang! Buk, Mak! Dave titip Tata! " ucap Dave dengan mencium hangat kening Tata.
Ibuk dan Mak Ijah mengangguk saat Dave berpesan menitipkan Tata pada mereka. Begitu Dave keluar, Tata dengan di bantu Ibuk nya langsung memompa Asi dan mengisi penuh botol yang masih kosong tersebut.
"Ijah, tolong masukkan Asip ini ke dalam kulkas agar kondisinya terjaga sebelum di konsumsi anak-anak! " ucap Ibuk pada Mak Ijah dengan memegang dua botol Asip di kedua tangan nya.
"Iya Nyah! " jawab Mak Ijah mengambil botol Asip tersebut di tangan Ibuk nya Tata.
Tata masih belum berpakaian dan masih menggunakan jarik untuk menutupi tubuh bagian atas nya. Dada sudah lumayan tidak nyeri tapi masih tetap penuh dan menetes sendiri karena belum semua nya Asi nya di perah.
Karena sudah azan subuh, ibuk dan Mak Ijah pamit ke mushola yang ada di rumah sakit untuk sholat subuh.
Tata merebahkan dirinya saat tinggal sendiri di ruangan nya dengan wajah bahagia karena sudah menjadi seorang ibu untuk enam anak kembar nya.
__ADS_1
"Ayah.. ! Jika saat ini ayah masih ada, mungkin orang yang paling bahagia dengan kelahiran si kembar adalah ayah! Dulu ayah pernah bilang mau punya cucu banyak yang akan ayah ajarkan beladiri dan bikin sanggar judo khusus anak-anak! Adek yakin ayah pasti mendengar kata-kata adek dari atas sana! Adek akan selalu mencintai ayah meskipun raga ayah tidak bersama adek! Adek sayang ayah.. " ucap Tata pelan dengan linangan air mata.
Ia mengusap pelan air mata yang mengalir di pipinya dengan tangan dan berusaha menormalkan detak jantung nya yang berdebar kencang karena sedih teringat akan sosok cinta pertama dalam hidup nya.
"Semoga ayah bahagia di alam sana dan adek tidak akan pernah putus mendoakan ayah dalam sholat adek! " gumam nya lagi dengan wajah tersenyum lirih.
Setengah jam sudah berlalu dan sudah menunjukkan jam 5.30 waktu setempat. Tata menunggu Ibuk dan Mak Ijah kembali dari mushola dengan menonton siaran televisi untuk mengusir jenuh. Jarik yang menutupi tubuh atas nya sudah setengah basah karena rembesan Asi nya yang terus keluar.
Tepat jam 6 lewat akhirnya yang di tunggu pun datang, Tata yang sudah risih meminta untuk mandi sekalian mengganti pembalut nya.
"Buk.. Adek mandi aja dulu ya? Bau banget Buk terkena Asi ! Kain nya juga udah basah juga karena Asi Tata gak berhenti keluar! " ucap Tata yang sudah agak risih.
"Ya udah kalau itu maunya Adek! Ayo Ibuk bantu turun dan ke kamar mandi! " jawab Ibuk nya dengan menghampiri Tata.
Ibuk dengan telaten membantu Tata turun dengan memegang lengan Tata sekuat tenaga agar tidak membuat gerakan yang kasar hingga menyakiti bagian inti Tata yang masih sedikit ngilu karena bekas jahitan sehabis melahirkan.
"Buk, biar Tata jalan sendiri ke kamar mandi! Hitung-hitung latihan biar terbiasa jalan dan gak sakit bila bergerak agak lama! " pinta Tata seraya melepaskan pelan pegangan ibuk pada lengan nya.
"Hati-hati ya dek, jangan sampai ke sandung kalau jalan! " ucap Ibuk mengingatkan Tata.
"Iya Buk.. ! " jawab Tata dengan terus berjalan pelan ke kamar mandi.
Sembari Tata membersihkan diri, Ibuk dengan di bantu Mak Ijah membereskan tempat tidur Tata serta menyiapkan pakaian ganti Tata lengkap dengan handuk kecil yang memang sudah ada untuk menyumpal payu dara Tata saat pasang Bra.
"Jah, tolong jaga Tata ya ? Saya mau beli buah dulu sebentar! Buahnya sudah pada abis, hanya tinggal jeruk dan salak saja! " pinta Ibuk yang sedang bersiap-siap hendak keluar ruangan Tata.
"Aduh Nyah, mau beli di mana?? Emangnya Nyonya tau jalan ke pasar buah?? " ucap Mak Ijah agak keberatan.
"Ya nggak harus ke pasar buah lah Jah! Semalam saya lihat ada yang jual buah pakai mobil depan rumah sakit ini! Siapa tau udah buka jualan nya pagi ini! Saya mau beli melon, anggur dan pepaya Jah! Kamu kan tau kalau itu buah kesukaan Tata! " jawab Ibuk dengan santai.
"Oh gitu.. ! Saya kira Nyonya mau ke pasar buah! Kalau gitu hati-hati ya Nyah! " ucap Mak Ijah mengangguk paham.
"Waalaikumsalam... " jawab Mak Ijah pelan.
Ibuk berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar. Ia berjalan sesuai petunjuk jalan yang mengarahkan nya ke pintu luar rumah sakit. Ia berjalan hingga keluar pagar rumah sakit dan menyeberang jalan menuju penjual buah yang mangkal di mobil depan area rumah sakit.
Ibuk dengan riang gembira membeli beberapa buah melon, anggur, kelengkeng dan pepaya untuk Tata. Ia senang yang jual sudah membuka lapaknya pagi-pagi gini.
"Nyonya, kalau kerepotan bawanya biar saya bantu! " tawar penjual buah saat melihat Ibuk agak kerepotan sedikit membawa buah yang ia beli.
"Gak papa Nak! Saya bisa sendiri kok bawa nya! Lagian gak terlalu banyak juga! " tolak Ibuk dengan tersenyum kecil.
"Ya udah kalau Nyonya gak mau! Saya bantu menyeberang jalan ya Nyah, soalnya pagi-pagi gini jalanan ramai banget orang berangkat kerja! " ucap penjual buah tidak mau di bantah.
"Ya Allah.. Terimakasih banyak ya Nak sudah membantu orang tua ini menyeberang jalan, semoga jualan nya lancar dan banyak pembeli nya! " ucap Ibuk dengan wajah bahagia.
"Iya Nyonya.. Sama-sama! " jawab penjual buah dengan mengangguk ramah dan kembali ke tempat ia berjualan.
Ibuk pun berjalan memasuki halaman rumah sakit dengan menenteng dua buah kantong plastik di tangan kanan kiri nya. Seorang wanita berhijab baru turun dari taksi bersama anak perempuan di atas kursi roda yang juga berjalan memasuki area rumah sakit.
Ibuk yang akan masuk ke dalam lift kesusahan untuk memencet tombol buka pintu nya karena kedua tangan nya sudah penuh bawa plastik berisi buah-buahan.
"Gak ada orang yang di minta tolong! Ya udah lah, aku tarok dulu buahnya di sini! " gumam Ibuk pelan.
Ia lalu menurunkan plastik buahnya yang di tangan kanan dan memencet tombol lift hingga pintu terbuka. Karena ia mesti mengambil kembali plastik buah yang ia tarok di lantai, pintu lift kembali tertutup dan ia telat masuk ke dalam nya.
__ADS_1
"Ya Allah... Belum juga lima menit udah main tutup aja tuh pintu! " keluh Ibuk dengan menghela napas nya.
Perempuan yang mendorong kursi roda anaknya mendekati Ibuk karena mereka juga akan naik ke lantai atas dengan menggunakan lift.
"Mari Bu saya bantu! Saya dan anak saya juga mau ke lantai atas! " ajak perempuan itu dengan tersenyum ramah.
"Alhamdulillah ya Allah.. ! Engkau kirimkan penyelamat untuk membantu ku! Terimakasih ya nak! " sahut Ibuk dengan tersenyum lega.
Saat matanya berpapasan dengan mata anak perempuan yang duduk di kursi roda, jantung Ibuk berdetak dengan kencang yang membuat nya menjadi terpaku dengan mata dan wajah anak perempuan tersebut.
Mata Ibuk tiba-tiba mengembun secara tidak sengaja yang membuat hatinya merasa tidak nyaman saat melihat mata gadis kecil tersebut. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke samping dan menahan sekuat hati agar air matanya tidak jatuh keluar.
"Ya Allah... Kenapa hatiku tiba-tiba sakit dan tidak nyaman melihat mata gadis kecil itu?? Kenapa aku merasa pernah bertemu dengan nya?? Padahal ini pertama kali aku melihat nya dan mengapa hatiku merasa jika ia bukan orang asing yang baru bertemu! " ucap Ibuk dengan lirih dalam hatinya.
"Ibu mau ke lantai berapa? Soalnya kami mau ke lantai 4 ke ruang ortopedi! " tanya Nada dengan ramah pada Ibu yang berdiri di samping nya.
"Saya mau ke lantai 5 nak! Anak mu sakit apa?? " jawab Ibuk juga sambil bertanya.
"Ternyata hanya beda satu lantai saja! Anak saya kecelakaan Bu, sekarang mau kontrol dulu sebelum mendapat tindakan lebih lanjut! " jawab Nada dengan tersenyum ramah.
"Innalillahi.. ! Yang kuat ya sayang, In Syaa Allah kamu nanti akan berjalan lagi seperti dulu! Nama nya siapa cantik? " ucap Ibuk dengan wajah prihatin sembari bertanya pada gadis kecil tersebut.
"Aqila nek.. ! " jawab nya dengan senyum terbaik yang ia punya.
"Subhanallah.. Nama yang cantik seperti orang nya! " sahut Ibuk dengan mata berbinar.
Entah kenapa ia merasa begitu dekat dengan gadis kecil tersebut padahal mereka baru pertama kali bertemu.
Yah, perempuan itu memang Nada dan anaknya bungsunya Aqila. Pagi ini Aqila akan kontrol dan mereka berdua berangkat pagi-pagi sekali dengan menggunakan taksi, karena Martin tidak bisa ikut ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal.
"Oh iya Ngomong-ngomong Ibu mau jenguk siapa di lantai lima?? " tanya Nada meneruskan obrolan mereka dalam lift.
"Cucu saya baru saja lahir semalam nak! Lantai 5 kamar perawatan anak perempuan saya! " jawab Ibuk dengan wajah bahagia.
"Wah, selamat ya Bu udah jadi nenek! " ucap Nada dengan tulus.
"Terimakasih banyak nak! Oh ya, siapa nama kamu? Kita belum kenalan! Nama saya Hafsah Jauhari, panggil saja Ibuk atau Ibuk Isah! " jawab Ibuk dengan mengulurkan tangan nya.
"Saya Nada Buk! " sahut Nada dengan menerima uluran tangan Ibuk dan menciumnya dengan santun.
Deg
Hati Ibuk berdesir dan jantung nya berdebar dengan kencang saat Nada menyentuh punggung tangan nya dengan begitu santun dan hormat.
"Ya Allah... Ada apa ini?? Kenapa aku tiba-tiba sedih dan hatiku berdesir hebat?? " batin Ibuk dengan menatap Nada begitu lekat.
"Ada apa Buk? Apa ada yang salah? Maaf kalau saya lancang mencium tangan Ibuk! " tanya Nada dengan rendah seakan-akan ia takut jika Ibuk marah atas kelancangan nya.
"Ti-tidak apa-apa Nak! Saya hanya kaget saja! " jawab Ibuk dengan gugup dan tangan gemetar.
Ting
Bunyi lift terbuka di lantai 4 dan membuat mereka berpisah. Nada keluar duluan dengan mendorong kursi roda anaknya dan Aqila melambaikan tangan nya kepada Ibuk sebelum pintu lift tertutup kembali.
Sepanjang jalan keluar dari lift hati Ibuk semakin gelisah dan berat berpisah dengan Nada dan anak nya itu. Ia bahkan berjalan ke kamar Tata sambil melamun hingga terdengar suara seseorang yang memanggilnya membuat ia tersadar dari lamunan.
__ADS_1
"Ibuk... ! "
Bersambung...