Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
85. Ngidam ekstrim


__ADS_3

Villa Tata di Bandung...


Subuh-subuh Anika sudah bangun, ia langsung sholat subuh dan keluar dari kamarnya meninggalkan Riko yang masih melakukan sholat subuh.


Anika pergi keluar paviliun untuk mencari angin segar dengan merentangkan kedua tangan seakan-akan seperti lakon adegan kapal Titanic.


"Astaga eneng! Mamang kira siapa atuh, subuh-subuh begini sudah ada di luar rumah! Si eneng mah ngapain? " tanya Mamang yang baru saja keluar dari paviliun kiri.


"He.... He.. He.. Anika lagi kepengen makan kue cucur Mang! Jadinya Anika pagi-pagi bangun, siapa tahu ada yang jual kue cucur kalau Anika bangun lebih pagi! " jawab Anika dengan jujur.


"Ya ampun eneng! Ya gak mungkin juga atuh jam segini ada yang jual kue cucur! Mendingan eneng masuk aja lagi ke dalam rumah, nanti jam tujuh saya ajak eneng pergi ke pasar yang ada di bawah bukit sana yang banyak jual macam-macam kue tradisional. Siapa tahu ada kue cucur? Lagian nanti kasihan eneng nya yang sakit gara-gara kena angin pagi yang dingin begini! " ucap Mamang memberi usul kepada Anika.


"Beneran ya Mang, nanti panggil Anika untuk pergi ke pasar? " ucap Anika dengan wajah sumringah.


"Ya beneran atuh neng! " jawab si Mamang dengan yakin.


Setelah si Mamang berkata yakin, Anika kembali masuk ke dalam paviliun kanan sambil menunggu jam tujuh datang.


"Astaghfirullah hal adzim, sayang! Aku cariin kemana-mana ternyata kamu di sini! Kamu ngapain sih jam 4.30 udah keluyuran kemana-mana? Gak pakai jaket lagi, dingin banget ini loh, sayang! " omel Riko dengan penuh cinta.


"Gak dingin kok, biasa aja! " jawab Anika santai.


"Ya ampun sayang! Dingin banget kayak gini di bilang biasa aja! "ucap Riko dengan heran sambil menggigil kedinginan.


Riko merapatkan lagi jaketnya, ia sudah memakai pakaian yang tebal di balik jaket, tetap saja ia masih terasa sangat dingin hingga menembus ke tulang-tulangnya. Sedang kan Anika hanya menggunakan jaket yang baru saja ia pakaian terlihat biasa saja tanpa merasa kedinginan sedikitpun.


"Tentu saja dia biasa saja, karena suhu tubuh perempuan yang sedang hamil itu berbeda dengan orang biasanya. Makanya ibu-ibu hamil itu gampang sekali merasa gerah dan kepanasan. Itulah yang menyebabkan Anika biasa aja dengan cuaca yang dingin seperti ini! " jawab Suster Sumi yang datang sambil membawa nampan berisi susu putih.


"Sus, maafin Anika yah! Yang dulu jahat sama Suster yang sudah merawat ayah! Anika minta maaf banget! " ucap Anika dengan sangat menyesal dan mata yang berkaca-kaca.


"Sudah saya maafkan sejak lama! Justru saya senang karena kamu sudah berubah menjadi yang lebih baik lagi! Sekarang lupakanlah masa lalu, tatap masa depan dengan keluarga kecil kalian! " jawab Suster Sumi tersenyum ramah.


Anika langsung memeluk Suster Sumi tanpa aba-aba, Suster Sumi yang kaget langsung membalas pelukan Anika dengan hangat sambil mengusap pelan punggung Anika yang bergetar karena menangis.


"Ibu hamil itu tidak boleh menangis! Ia harus bahagia karena semua perasaan itu juga di alami bayi kita! Kalau kamu sedih bayi mu juga ikut sedih! Ayo jangan menangis lagi! Masa sudah mau jadi ibu masih cengeng! " ucap Suster Sumi sedikit menjahili Anika.


"Ah, Suster mah gak asyik! " jawab Anika dengan cemberut sambil melepaskan pelukannya.


"Ada apa ini! Kok pagi-pagi udah pada pelukan! " tegur ayah Jamal yang datang dengan menjalankan kursi rodanya sendiri.


"Ini loh, Yah! Suster ayah ini rese, masa Anika di bilang cengeng! " adu Anika dengan wajah sebel.


"Emangnya princess nya ayah gak cengeng? " tanya ayah Jamal balik.


"Ya nggak lah! Mana ada Anika cengeng! Anika kan cuma terhura aja! Makanya air mata nya ikutan keluar! " jawab Anika mengelak.


"Iya, iya... Ayah percaya! Itu minuman apa? " tunjuk ayah Jamal pada nampan yang tergeletak di atas meja.


"Susu untuk Anika! Susu kambing etawa yang sangat bagus untuk ibu hamil, yang di ambil langsung dari kambingnya dan di masak agar bisa di konsumsi! "jawab Suster Sumi panjang lebar.


Anika mengambil gelas yang berisi susu kambing tersebut, ia menciumnya dan ia mencoba meminumnya sedikit memakai sendok.


"Kok baunya beda dengan susu hamil yang di buatkan Mas Riko semalam! Susu yang di buatkan Mas Riko semalam bau tengik, mau muntah Anika di buatnya, bikin Anika mual! "ucap Anika agak bingung.


"Tentu saja beda, karena ini susu asli yang di masak sendiri! " jawab Suster Sumi dengan ramah.


Anika meminum susu kambing tersebut hingga habis dan tidak menyisakan setetes pun. Semuanya yang ada di sana tersenyum bahagia melihat Anika meminum susu tersebut tanpa banyak drama queen nya.


Tepat jam 7 pagi, Mamang Kosim yang subuh tadi berbincang dengan Anika datang memanggil Anika dan mengajaknya ke pasar seperti janjinya tadi subuh.


"Punten Tuan, mau ngajak Non Anika ke pasar? " ucap Mang Kosim meminta izin ayah Jamal.


"Mau ng-ngapain kamu ke pasar, Nak? Lu-lumayan jauh loh? " tanya Ayah Jamal sedikit memperingatkan.


"Nika mau beli kue cucur yah di pasar! " jawab Anika dengan wajah bahagia.


"Aku ikut dong! " pinta Riko tidak mau ketinggalan.


"Boleh gak Mang? " Anika meminta pendapat Mang Kosim.

__ADS_1


"Ya pasti boleh atuh, Neng! Masa mau ke pasar aja di larang! Ayo kita pergi, mumpung masih pagi ! " jawab Mang Kosim sambil berjalan terlebih dahulu.


"Hati-hati... " teriak Ayah Jamal dengan sedikit keras meskipun tidak terlalu keras di dengar telinga.


Mereka bertiga berjalan kaki pergi ke pasar melewati perbukitan yang memanjakan mata di sepanjang jalan. Terkadang mereka berpapasan dengan beberapa penduduk lokal yang juga berjalan kaki dengan membawa sayuran, ada yang sambil mengembala kambing, bahkan ada juga yang sambil menjajakan dagangan dengan tampah di atas kepala.


Mereka saling menyapa meskipun tidak saling mengenal seperti sekarang ini, mereka dengan ramah menyapa Anika yang tampak bahagia pergi walaupun dengan berjalan kaki.


Dari kejauhan, Anika sudah kegirangan melihat penampakan pasar yang menjadi tujuan mereka. Ia bahkan setengah berlari agar segera sampai yang mana membuat Riko dengan sabar memegang tangannya agar tidak sembarangan berlarian.


"Mas, kue cucur! " pekik Anika dengan wajah sumringah.


"Maaf atuh Neng! Kue cucur nya sudah habis! Ini buat Bapak-bapak yang di sana itu! Sudah pesanan beliau! " tunjuk nya kearah seorang pria dewasa yang sedang membeli sarapan.


"Apa?? Jadi kue cucur nya sudah habis?? " ucap Anika dengan mata yang sudah berkaca-kaca hendak menangis.


Pedagang tersebut menganggukkan kepalanya sambil meminta maaf kepada Anika. Tanpa bersuara, Anika menangis terisak-isak dengan bahunya yang bergetar karena menangis dalam diam.


"Punten Teh, bisa gak bikinin lagi kue cucur nya! Kasihan si eneng yang sudah kepengen dari subuh tadi? Apalagi si eneng juga sedang hamil? Bisa gak Teh, kasihan lihat nya Teh! " tanya Mang Kosim dengan agak memelas kepada penjual cucur.


"Bisa atuh Mang! Tapi bikinnya di rumah saya aja! Soalnya semua bahan-bahannya ada di rumah! Kalau eneng nya mau, silahkan atuh nanti ikut saya pulang! " jawab si Teteh nya dengan ramah.


Anika berhenti menangis dan tersenyum senang karena penjualnya yang akan membuatkan untuk nya. Penjual tersebut langsung berkemas karena dagangannya sudah habis dan bersiap untuk pulang.


"Mari Neng, Mang, Akang! " ajaknya dengan sopan.


Anika, Riko dan Mang Kosim mengikuti Teteh penjual kue cucur pulang ke rumah nya. Mereka berjalan melewati rumah-rumah penduduk yang terlihat sangat asri dan teduh dengan di hiasi berbagai macam tanaman, baik bunga-bunga maupun tanaman buah-buahan.


Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang memiliki pekarangan yang sangat luas, banyak pepohonan yang tumbuh dan di sampingnya ada beberapa macam pot yang berisi bunga dengan berbagai macam warna.


"Mari Neng, semuanya masuk ke dalam! Maklum rumah orang kampung, jadi begini lah keadaannya! " ucap nya dengan merendah.


"Rumahnya bagus banget, Teh! Nyaman, sejuk dan enak di lihat lagi! Anika suka suasana seperti ini! "komentar Anika dengan jujur.


"Terimakasih pujiannya atuh Neng! Silahkan duduk semuanya, saya mau ke belakang dulu mau bikin adonannya! " jawabnya tersenyum simpul sambil mempersilahkan mereka duduk.


"Anika boleh ikut gak, Teh! " tanya Anika dengan wajah memelas.


Anika pun mengikuti Teteh penjual kue cucur ke dapurnya untuk melihat pembuatan kue cucur yang sangat ia inginkan.


"Teh, boleh tanya gak? " tanya Anika sambil duduk di bangku yang ada di dapur.


"Tanya aja Neng! " jawab si Teteh ramah.


"Teteh kan orang Sunda, kok bisa bikin kue cucur yang notabene kuenya orang Betawi? " tanya Anika dengan heran.


Si teteh tertawa kecil mendengar pertanyaan Anika, yang mana membuat Anika bertambah bingung.


"Abah saya aslinya orang Betawi atuh, Neng! Nikah dengan Ambu saya yang orang Sunda. Kakak dan adik saya pada tinggal di Jakarta, Neng! Cuma saya yang tinggal di sini karena punya suami orang kampung ini! Lagian saya udah cinta mati dengan kampung ini, jadinya saya berat mau pergi dari sini. Di tambah lagi di sini tempat tinggal nenek saya dari almarhumah Ambu saya. Rasanya berat mau meninggalkan kampung yang banyak kenangan saya waktu kecil, soalnya saya lama tinggal di sini bersama Nenek saya, Neng! " jawab Si teteh panjang lebar.


"Saya suka makan kue cucur karena kalau saya ke rumah nini saya dari Abah, selalu di bikinin kue cucur. Pokoknya setiap hari pasti ada kue cucur yang membuat kakak-kakak saya pada protes karena mereka sudah bosan. Tapi saya tidak pernah bosan sama sekali, sampai sekarang. Makanya saya punya ide untuk jualan kue cucur yang tidak ada di kampung ini. " sambungnya lagi dengan sangat antusias.


"Oh gitu ya Teh, ngomong-ngomong kok sepi rumah Teteh? Pada kemana anak-anak Teteh? " tanya Anika sambil melihat kanan kiri.


Belum sempat si Teteh nya menjawab, terdengar teriakan dari arah luar rumah.


"Assalamualaikum Ambu!! Aa pulang ini!! " teriak seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia delapan tahun yang datang dengan membawa seekor ular piton yang melingkar di pinggang dan leher nya.


"Astaghfirullah hal adzim Amran!!! Sudah berapa kali atuh Ambu bilangin, kalau main itu si Asep jangan di bawa-bawa? Kalau dia nanti makan ayam tetangga kan bisa barabe Amran!! " pekik si Teteh dengan wajah kesal.


"Wah, ada ular! Ya ampun cantik banget ularnya! Boleh gak saya gendong? " pinta Anika dengan wajah kegirangan.


"Jangan !!!! " teriak Riko dan Mang Kosim bersamaan ikut masuk ke dapur.


Anika merengut kesal karena di larang suami nya, ia langsung memasang wajah jutek dan berpaling membelakangi Riko yang berusaha mendekatinya dengan lembut.


"Sayangku, cintaku, kekasih halal ku! Itu bukan mainan, itu binatang yang berbahaya, apalagi binatang itu tidak terbiasa dengan kita, nanti malah ada apa-apa lagi kalau kita nekad menyentuhnya. " ucap Riko dengan penuh kasih sayang.


Anika makin cemberut dan tidak menanggapi ucapan suaminya. Entah kenapa ia begitu kesal tidak diperbolehkan menggendong ular piton tersebut. Rasanya ia ingin meluapkan kemarahannya yang semakin besar untuk suaminya yang selalu melarangnya walaupun ia tahu semua itu untuk kebaikan nya.

__ADS_1


Hatinya begitu sakit mendengar suaminya melarang ia menggendong binatang melata itu.


"Pergi jauh-jauh! Aku gak mau lagi lihat wajah, Mas! Aku benci! " pekik Anika dengan wajah marah.


"Iya sayang! Aku tahu kok kalau kamu benar-benar cinta sama aku! " jawab Riko santai.


"Aku benci tau sama Mas! Benci! " teriak Anika sambil merengut kesal.


"Iya, sayang! Aku sangat tahu itu! Aku juga benci sama kamu, benar-benar cinta! " jawab Riko semakin melantur.


Si Teteh dan Mang Kosim malah tertawa geli melihat Anika yang merajuk dan Riko yang semakin melantur menjawab kemarahan istrinya.


"Emangnya Tante berani pegang si Asep? Soalnya si Asep teh badannya gede! " tanya anak laki-laki si Teteh dengan santainya.


"Berani lah! Lah, kamu aja bisa gendong kenapa saya gak bisa? " tanya Anika heran.


"Soalnya Aa kan udah bersama si Asep dari kecil atuh Tante! Aa gak mau nanti Tante teriak-teriak ketakutan karena akan membuat si Asep marah! " jawab Amran dengan serius.


"Tapi aku pengen gendong nya? Masa gak boleh? " pinta Anika dengan mata berkaca-kaca hendak menangis.


"Biarkan aja atuh Aa Tante nya gendong sebentar! Tapi Aa yang awasin nya langsung dan jangan jauh-jauh dari si Asep. Kasihan atuh Tante nya! " ucap Si teteh ikut memohon.


"Oke deh kalau begitu! Ayo Tante ke sini! "jawab Amran mengalah.


Anika begitu bahagia karena keinginannya menggendong ular piton tersebut di kabulkan. Amran memberikan si Asep ke tangan Anika tanpa melepaskannya secara utuh karena ia berjaga-jaga kalau nanti si Asep nya berontak karena di gendong orang asing.


Riko dan Mang Kosim ketar ketir melihat Anika dengan santainya menggendong ular piton tersebut dengan entengnya seperti menggendong kucing, bahkan ia bermain-main dengan hewan tersebut tanpa rasa takut.


"Aduh, Mang! Saya jadi was-was nih sama jenis kelamin anak kami nanti! Jangan-jangan laki-laki nanti dia lahir? Lihat saja emaknya mainin ular itu tanpa rasa takut! " bisik Riko dengan risau.


"Loh, Akang teh gak mau punya anak laki-laki? " tanya Mang Kosim penasaran.


"Siapa bilang gak mau atuh Mang! Bagi saya apapun jenis kelaminnya gak masalah, yang penting bayi dan emaknya sehat! Tapi kalau boleh memilih, saya mau nya anak pertama saya perempuan, Mang! " jawab Riko panjang lebar.


"Owalah... Saya kira teh Akang gak mau punya anak laki-laki! Tapi seperti saya sangsi Kang, kalau anak Akang nanti perempuan! Tuh, lihat saja si eneng mainin ular itu kayak mainin ular mainan! " ucap Mang Kosim sambil menunjuk ke arah Anika.


Amran sudah sepenuhnya melepaskan Asep ke tangan Anika karena ia sedikit kaget melihat si Asep anteng-anteng saja ketika berada di tangan Anika. Bahkan Anika dengan santainya menggendong Asep sambil makan kue cucur buatan Ambu nya.


"Mang, Akang! Kesini atuh! Ayo cicipin kue cucur nya! " panggil si Teteh dengan keras.


Riko dan Mang Kosim pun berjalan mendekati mereka yang sedang melihat Anika bermain dengan si Asep sambil memakan kue cucur.


"Mas, mau gendong gak? Lucu banget kan Mas! Anika jadi kepengen punya sendiri satu! " ucapnya asal tanpa berpikir.


"Apa??? " pekik Riko dengan kaget.


"Gak, gak, gak! Kalau mau pelihara, pelihara yang lain aja! Kucing, Hamster, ayam, bebek atau burung aja ! Jangan ular, bahaya! " tolak Riko dengan keras.


"Iya Tante! Si Asep ini sudah jinak karena Amran pelihara dari kecil. Kalau sudah besar gini kita pelihara, bahaya Tante! " ucap Amran membenarkan ucapan Riko.


"Yah, jadi gak bisa dong aku pelihara ular kayak si Asep? " tanya Anika dengan wajah kecewa.


Semua yang ada di sana serempak menganggukkan kepala mereka mengatakan iya atas pertanyaan Anika.


"Tapi bisa kan aku bermain dengan si Asep selama tinggal di sini? " tanya nya lagi dengan penuh harapan.


"Bisa dong Tante! Nanti aku akan bawa si Asep ke rumah Tante! Tante tinggal dimana? " jawab Amran dengan ramah.


"Yey!! Gak papa sih gak punya sendiri! Yang penting masih bisa bermain dengan si Asep! " ucap Anika dengan wajah gembira.


"Biar Mamang aja nanti yang datang kesini jemput Aa dan si Asep! Jadi Aa dan si Asep gak kecapekan jalan kaki ke villa yang di atas bukit itu! " sahut Mang Kosim sambil menunjuk ke arah utara.


"Baik atuh Mang! Kapan Mamang jemput Aa teh siap! " jawab Amran dengan mantap.


"Mas, ayo pulang! Anika ngantuk, capek juga! " ucap nya dengan wajah tampak sayu.


"Tunggu di sini dulu ya, Mamang cari kendaraan dulu untuk ke villa! Kasihan si Eneng kalau jalan kaki sampai ke villa! " ucap Mang Kosim sambil berjalan keluar rumah Teteh penjual kue cucur.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...


Semoga hari kalian menyenangkan 💕😍...


__ADS_2