
Setelah mendengar instruksi dari Dave yang di sampai kan Tiger, Martin mendatangi apartemen yang di tempati Nada dan anak-anak nya pagi-pagi sekali.
Ia datang dengan membawa kursi roda memasuki lift apartemen seorang diri. Amirah yang membuka pintu apartemen melihat Martin dengan pandangan heran.
"Ibu dan adik kamu sudah siap belum? " tanya Martin begitu melihat Amirah berdiri di depan pintu.
"Maaf, Om ini siapa ya? Kenapa tanyain Mamah dan adik aku? " tanya Amirah memicing kan matanya dengan kedua tangan terlipat di dadanya.
"Kenapa kamu bertanya begitu? Emangnya kamu gak ingat siapa Om? Om yang memeriksa adik kamu kemaren saat kalian pertama datang! " jawab Martin dengan membalikkan pertanyaan nya.
"Benarkah? Kenapa penampilan Om beda jauh dari yang kemaren? Om gak bohong kan??" sahut Amirah masih belum percaya.
"Yang berdiri ini beneran anak kecil bukan sih? Kok lagak nya seperti orang dewasa aja sama orang baru! Tatapan mata nya tajam banget kayak mau makan orang! " batin Martin dengan mendengus kesal.
"Mana mungkin lah saya bohong, yang ada nanti saya di kuliti hidup-hidup sama Tante kamu! Buruan panggil Mama mu karena kita harus cepat periksa adik kamu ke rumah sakit! " jawab Martin dengan agak ketus.
"Iya.. Kenapa Om yang marah-marah? " sungut Amirah dengan setengah gondok kembali masuk ke dalam.
Ia berjalan dengan menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal, sedangkan Martin hanya terkekeh melihat wajah merenggut anak kecil berusia 8 tahun tersebut.
"Wajah yang imut dan gemesin gitu kok bisa jadi kayak orang dewasa kalau ngomong.. Ckckck.. Anak jaman sekarang emang beda! " ucap Martin dengan terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
Nada yang sedang memakaikan Aqila baju mengernyitkan dahinya melihat anak sulung nya masuk ke dalam kamar dengan wajah cemberut.
"Kenapa dengan muka mu Kak? Kamu masih ngambek gak di ajak ikut ke rumah sakit? " tanya Nada dengan lembut.
__ADS_1
"Gak Mah.. Mirah kesal aja sama Om-om yang barusan datang! " jawab Amirah seraya naik ke atas tempat tidur.
"Siapa yang datang pagi-pagi gini Kak? Bukan orang jahat kan? " tanya Nada langsung berhenti dan agak ketakutan.
"Bukan Mah, tapi dokter yang kemarin datang memeriksa Aqila waktu kita sampai di sini! " jawab Amirah dengan ketus.
"Oh Pak Dokter itu! Ya udah, kamu suruh masuk aja Kak! Bilang kalau Mamah sebentar lagi ke sana bawa Aqila! " ucap Nada kembali memakaikan Aqila pakaian yang lengkap.
Amirah mencebik kesal dan matanya melotot melihat pakaian yang di pakai adiknya yang baru kali ini ia lihat.
"Aqila baju baru Mah? Kok Mirah baru lihat? Perasaan Mamah gak pernah beli baju baru sampai sekarang ini untuk kita? " tanya Amirah dengan pandangan heran.
Mendengar perkataan putri sulung nya, Nada tersenyum getir akan kehidupan mereka beberapa tahun ini begitu lepas dari rumah yang seperti neraka baginya. Ia tidak pernah mampu membelikan anak-anak nya pakaian baru karena uang yang ia hasilkan hanya cukup untuk makan saja.
Itu saja Nada sudah bersyukur anak-anak nya masih bisa ia beri makan walaupun dengan lauk ala kadarnya. Baju-baju yang mereka miliki adalah pemberian para tetangga yang masih peduli dengan keadaan mereka. Hal itulah yang membuat Amirah heran dari mana Mamah nya bisa beli baju baru untuk Aqila.
"Tante baik ya Mah.. Aqila suka baju nya, lembut dan bagus warna nya. Aqila suka.. ! " ucap Aqila dengan mata berbinar bahagia.
"Kalau Tante baik kenapa gak dari dulu bantuin kita dan kenapa baru sekarang peduli nya? " tanya Amirah dengan wajah ketus.
Nada tersentak mendengar ucapan yang keluar dari putri sulung nya. Ia tidak menyangka jika respon si sulung seperti ini akan niat baik adik iparnya.
"Kakak, kenapa kakak bicara seperti itu? Gak baik berburuk sangka sama Tante sendiri, apa lagi dia adalah satu-satunya keluarga yang kita miliki saat ini! Kalau saja selama ini Mamah tau di mana alamat Tante kalian, mungkin kita gak akan hidup seperti ini Nak! Seharusnya kita bersyukur karena Tante kalian ternyata masih mencari keberadaan kita dan atas izin Allah kita di pertemukan walaupun belum bisa bertatap muka. " tegur Nada dengan mata berkaca-kaca hendak menangis.
Amirah terdiam sambil melihat kearah Mamah nya yang hendak menangis. Ia hanya sedikit kecewa karena mereka masih punya keluarga lain dan baru bertemu sekarang. Terlebih lagi karena Tata belum menemui mereka membuat Amirah merasa jika Tante mereka tidak begitu peduli dengan keadaan mereka.
__ADS_1
"Terus kenapa kita di sini dan gak di rumah Tante aja kalau ia memang peduli? " tanya Amirah lagi pada Nada.
"I-itu karena... "
"Karena Tante kamu sudah menikah dan tinggal di rumah mertua nya! Gak mungkin Tante kamu dengan lancang membawa kamu dan Mamah kamu tinggal bersama di rumah suaminya! " jawab Martin yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat pintu dengan membawa kursi roda.
"Maaf jika aku langsung masuk ke sini! " ucapnya lagi ketika melihat Nada hendak membuka mulutnya.
Nada mengangguk pelan mendengar permintaan maaf Martin.
Ia berjalan mendekati Amirah dan mensejajarkan diri nya dengan tinggi Amirah dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Amirah sayang.. ! Dengar kan Mamah ya Nak! Tante kamu saat ini sedang hamil besar, ia tidak bisa leluasa menemui kita di sini. Tapi bukan berarti ia tidak peduli dengan kita, hanya saja waktu nya tidak tepat untuk bertemu. Sekarang kita fokus untuk kesembuhan adik kamu dulu Nak! Mamah janji, jika adik kamu sudah mulai sembuh dan bisa berjalan lagi, Mamah akan pertemukan kamu dengan Tante dan nenek kamu! Sekarang ini Mamah butuh doa Amirah agar Aqila bisa sembuh dan berjalan lagi seperti dulu! Amirah mau kan Aqila bisa jalan lagi? " ucap Nada dengan membelai rambut panjang Amirah.
"Mau Mah... ! Jadi Amirah punya nenek? " jawab Amirah sambil bertanya.
Nada mengangguk dan Amirah langsung memeluk Nada dengan begitu erat.
"Amirah akan selalu berdoa agar adik cepat sembuh dan Amirah bisa bertemu dengan Tante dan juga nenek, Mah! " ucap Amirah dengan suara yang tertutup perut Nada.
"Alhamdulillah, Mamah senang dengar nya! Sekarang, Amirah di rumah dulu ya Nak! Jangan buka pintu nya kalau ada yang datang! Mamah mau bawa adik ke rumah sakit dulu! " sahut Nada dengan tersenyum bahagia.
Martin tersenyum sekilas melihat kelembutan Nada dalam memberikan pengertian kepada anaknya. Ia langsung mendekati Aqila yang masih duduk di atas kasur dengan mendorong kursi roda.
"Ayo cantik.. Kita periksa dulu kaki mu ke rumah sakit! " ucap Martin dengan mengangkat Aqila ke kursi roda.
__ADS_1
"Oke Om ganteng! " jawab Aqila dengan tersenyum lebar.
Bersambung...