
"Jadi, apa rencana mu sekarang ini Tet? " tanya Sandra lagi sambil duduk kembali.
"Sepertinya aku harus ke Medan, menyelesaikan masalah ini! Aku tidak ingin karyawan ku mendapat tekanan dari pihak mereka dan aku akan membuat mereka membayarnya! " jawab Tata dengan mantap.
"Kapan kau pigi ke sana? " tanya Sandra lagi.
"Pergi kemana klen? " tiba-tiba Susan datang dengan memicingkan matanya.
"Bah, pulang jugak kau rupanya Bon! Ku kira sudah keok kau di Bandung! " ejek Sandra tanpa merasa bersalah.
"Asemm... Gilak bestie kau itu! " tudung Susan dengan kesal dan langsung duduk di tengah-tengah mereka.
"Anjirrr... Sempit lah pauk! " pekik Sandra sambil mendorong tubuh Susan.
"Tau nih anak! Dah tau sempit main duduk aja! " omel Tata juga dengan ikut mendorong tubuh Susan.
Namun usaha mereka tidak membuahkan hasil karena Susan tetap bertahan memberatkan badannya agar tidak tergeser. Alhasil mereka bertiga duduk himpit himpitan di bangku tersebut.
"Belom klen jawab yang aku tanya tadi? " ucap Susan meminta jawaban mereka.
"Ish kau ini! Si Butet mau pigi ke Medan dia, ada karyawan loundry Ibuk di lecehkan pelanggannya! Jadi si Butet harus ke sana menolong karyawan nya! " jawab Sandra bercerita.
"Apa?? Wah, ini gak bisa di biarkan! Kalau saja aku gak lagi ngurusin perceraian Bang Kadir, aku akan ikut kau Tet! Akan aku buat penjahat kelamin itu mendekam lama di balik jeruji! " ucap Susan dengan sangat geram.
"Nah itu dia, kau kasih sama aku Bon teman pengacara mu yang berkualitas menangani masalah seperti ini! " sahut Tata pada Susan.
"Ada teman aku yang juga orang kita Medan, Habibullah Ritonga! Nih, langsung aku kasih kau no WA nya! Bilang saja nanti kau bestie Susan dari kecil! " ucap Susan sambil mengutak-atik ponselnya.
"Tring.... " ponsel Tata berbunyi yang menandakan jika pesan dari Susan sudah masuk.
"Hebat gak teman kau itu Bon, nanti melempem pulak dia menghadapi pihak lawan! " tanya Sandra sedikit ragu.
"Bah, ini anak cari gara-gara dia! Mana pulak aku kasih yang melempem! Ini beneran hebat, gak kaleng-keleng Bontot! " teriak Susan dengan garang.
"Serem kali mukak mu itu Bon! Sepertinya gak cocok kau jadi pengacara perceraian, cocoknya kau jadi tukang tagih utang! " ucap Sandra dengan melihat Susan dari ujung kepala ke ujung kaki.
"Apa kau cakap??? " pekik Susan dengan memeluk leher Sandra dengan tangannya agak kuat.
"Uhuk.... Uhuk... " Sandra sampai terbatuk-batuk karena lehernya kecekik.
Tata geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang selalu berantem kayak anak kecil kalau udah ketemu.
"Ayo kita masuk! Aku pengen golek-golek dulu! Capek kali pinggang ku nyetir mobil ! " ajak Tata dengan berjalan duluan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Susan dan Sandra mengikuti di belakang sambil saling gendong gendongan kayak anak kecil.
πΏπΏπΏ
Ajeng marah-marah di dalam kamar nya setelah mendapat kabar dari orang bayarannya yang memata-matai kediaman Ryder dengan orangnya berpura-pura mendekati salah satu pekerja di sana untuk mendapatkan informasi tentang keluarga tersebut.
"Perempuan sialan.... Aku tidak akan membiarkanmu mengambil milikku!! Kang Mas Davin itu milik ku?? Milik Ajeng seorang! Aku akan membunuh mu sialan!! Mati kau! Mati kau! Matiiii!!! " teriak Ajeng dengan melempari apa yang ada di dalam kamarnya.
Sekar yang hendak turun ke bawah mengurungkan niatnya untuk turun karena melihat beberapa pelayannya berdiri di depan kamar Putri bungsu nya Ajeng.
"Ada apa ini?? " tanya Sekarang begitu mendekati pelayan tersebut.
"Itu Nyonya, Anu... Anu... " ucap seorang pelayan dengan wajah ketakutan.
"Hei... Katakan ada apa? Kenapa kalian berdiri di sini? " tanya Sekar lagi dengan wajah kesal.
"Anu Nyonya, Nona Ajeng marah-marah di dalam! " jawab seseorang lagi dengan menundukkan kepalanya.
"Prang.... Prang.... " terdengar bunyi pecahan yang sangat nyaring.
Belum juga Sekar bertanya lagi, suara pecahan terdengar kembali sehingga membuat Sekar nekat masuk ke kamar Ajeng.
Begitu membuka pintu kamar Ajeng, Sekar sangat terkejut melihat keadaan kamar Ajeng yang seperti di sapu badai angin ****** beliung.
Ajeng yang sedang terduduk di lantai langsung bangkit dan menoleh ke arah Mama nya. Sekar kaget melihat bagaimana rupa Ajeng yang terlihat begitu berantakan.
"Astaga Ajeng!! Apa yang terjadi dengan mu Nak? Kenapa wajahmu jadi seperti ini? " pekik Sekar dengan begitu terkejut.
Mata yang hitam merah dan sembab, pipi hitam karena bekas luntur maskara yang terkena air mata sehingga muka Ajeng seperti dandanan hantu yang sedang syuting.
"Hu.... Hu.... Hu.... Ini tidak adil Mama?? Aku tidak terima di perlakukan seperti ini oleh mereka! Aku tidak rela jika Kang Mas Davin menikah dengan perempuan itu! Hanya Ajeng Ma, hanya Ajeng lah yang pantas menikah dengan Kang Mas Davin! Bukan perempuan yang tidak tahu asal usul nya itu! " curhat Ajeng dengan menangis pilu memeluk tubuh Sekar.
"Apa maksud mu berkata begitu Ajeng? Siapa yang akan menikah dengan Putranya Mbak Ayu itu? Perasaan gak ada kabar dari para tetua! " tanya Sekar dengan heran kepada Ajeng tanpa melepaskan pelukannya.
"Ajeng tahu tadi orang suruhan Ajeng Ma! Mereka mendapatkan informasi dari pelayan di sana kalau Kang Mas Davin pergi ke Bandung bersama Pakde dan Bude Ayu melamar perempuan itu untuk Kang Mas Davin! Hu... Hu.... Hu.... Ajeng gak terima Ma, Ajeng gak terima! " jawab Ajeng sambil merengek kepada Mamanya.
"Ya ampun.... Cup... Cup.. Cup... Sayang! Udah dong nangis nya, nanti tambah jelek itu muka! Lihat lah kamu jadi mengerikan seperti ini ! " ucap Sekar dengan mengelap wajah Ajeng dengan tisu basah.
"Gimana dong Ma, Ajeng gak mau perempuan itu menjadi istri Kang Mas Davin! Mama bantu Ajeng dong Ma? Biar perempuan itu gagal menikah dengan Kang Mas Davin! " rengek Ajeng lagi kepada Sekar.
"Kamu tenang dong sayang! Mama dan Papa pasti akan bantuin kamu! Sekarang kamu tenang dulu, lebih baik sekarang kamu mandi gih! Bersihin badan kamu agar kamu segaran lagi dan bisa berpikir jernih merencanakan sesuatu untuk perempuan itu! " ucap Sekar membangkitkan semangat Ajeng.
Mendengar ucapan Mamanya itu, Ajeng kembali bersemangat dan bangkit dari duduknya di lantai lalu masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Perempuan sialan! Kau terlalu meremehkan seorang Ajeng keturunan darah Biru! Kau akan aku buat pergi sendiri dari sisi Kang Mas dan aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Laki-laki yang aku incar selama ini! " batin Ajeng dengan menyeringai sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Ajeng masuk ke dalam kamar mandi, Sekar memanggil pelayan yang masih berdiri di depan pintu untuk membereskan kekacauan yang di buat oleh Ajeng, putri nya yang begitu keras kepala.
Sekar lalu menghubungi keluarga nya membicarakan tentang keinginan Ajeng menjadikan Davindra sebagai suaminya. Ia juga mengabarkan kepada suami nya Gilang yang sedang berada di luar kota.
πΏπΏπΏ
Mami Sita mondar mandir di kamarnya dengan raut muka gelisah dan gusar. Papi Dayton yang keluar dari kamar mandi melihat istrinya itu dengan pandangan heran.
"Ada apa honey? " tanya Papi Dayton dengan logat Bule nya.
"Pi, kok perasaan Mami gak enak gini ya? Kayak akan ada sesuatu masalah, tapi Mami gak tau masalah apa? " ucap Mami Sita dengan sangat khawatir.
"Don't worry honey... Itu hanya perasaan mu saja! " jawab Papi Dayton mencoba menghibur istrinya.
"Mudah-mudahan hanya perasaan Mami aja kayak dugaan Papi! " ucap Mami Sita mencoba menepis perasaan nya itu.
"Yes, mulai sekarang Mami pikir yang bagus-bagus aja! Gak usah mikirin yang jelek-jelek! " hibur Papi Dayton dengan mencubit pipi Mami Sita.
"Aduh, sakit Papi!!! " teriak Mami Sita kesal.
Papi Dayton hanya ketawa melihat istrinya kesal karena ulahnya itu. Setidaknya istrinya tidak gelisah dan khawatir seperti tadi.
πΏπΏπΏ
Jauh di sudut belahan kota Yogyakarta, seorang pria sepuh baru saja mendapat panggilan telepon dari beberapa kerabat nya dengan wajah yang begitu malas dan enggan.
"Ada apa sih Pak? Kenapa menghela napas kasar begitu dan terlihat sangat malas? " tanya istrinya dengan logat Jawa halus.
"Gimana Bapak gak malas Buk, si Batari mendesak Bapak supaya bicara tegas dengan Ayu agar mau menjodohkan Davin dengan cucu nya si Ajeng itu! " jawab Pria sepuh tersebut dengan kesal.
"Ngeyel tenan rupanya mereka Pak! Kan dari dulu kita sudah bilang jika kita tidak akan ikut campur dengan pilihan anak dan cucu kita! Seperti nya kali ini Bapak harus tegas dengan Batari agar mereka tidak merongrong Ayu untuk menjodohkan Davin dengan cucunya si Batari! " sahut Istrinya juga ikutan kesal.
Pria sepuh tadi adalah orang tua dari Mami Sita yaitu Raden Wijaya Nata Kusuma dan istrinya Ratna Galuh Prameswari. Sedangkan Batari yang di sebutkan tadi adalah ayah dari Sekar Batari Mama nya Ajeng yang masih keluarga dari pihak orang tua ibunya Raden Wijaya Nata Kusuma alias keluarga dari nenek nya Mami Sita.
"Besok kita harus ke Jakarta Buk, Bapak harus membicarakan ini dengan Ayu dan anak-anak kita yang lain! Ibuk hubungi anak-anak kita yang lain agar berkumpul di rumah nya Ayu ketika kita sudah sampai di Jakarta! " ucap Raden Wijaya Nata Kusuma kepada istrinya.
"Baik Pak! Akan ibuk hubungi anak-anak besok! Sekarang ayo kita makan siang dulu! " jawab Istrinya dengan menarik tangan nya ke meja makan.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan ππ..