
Tata melajukan kendaraannya ke arah yang sudah di sebutkan Nyonya Retno dalam sambungan telepon beberapa menit yang lalu.
Ia memakai celana jeans hitam yang koyak sikit-sikit di sekitar pahanya, baju kaos hitam bermerek, jaket hitam dengan rambutnya di ikat ekor kuda dan tak lupa pula topi yang menghiasi kepala nya.
20 menit berkendara, Tata akhirnya sampai di sebuah rumah berdinding kayu dengan kebun singkong di sekeliling nya, sungguh sangat sepi sekali. Ia mengernyit keningnya ketika ia melihat di sekelilingnya tidak terdapat mobil yang di gunakan Dika dan komplotan nya itu.
"Kenapa mobil cecunguk itu tidak ada di sini? Rasanya tidak mungkin mereka berjalan kaki ketempat ini? Sepertinya ada yang tidak beres ini, tapi tenang saja Tata, apapun yang di lakukan mereka, bermain-main lah sebentar saja! " Batin Tata dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
Ia lalu mengambil ponselnya dan memberitahu jika ia sudah ada di sini, namun ketika ia masuk ke dalam mobil ia meneteskan beberapa tetes obat mata sebelum membawa keluar tas berisi uang tunai tersebut.
Pintu rumah itu pun terbuka oleh seorang pria yang tidak ia kenal yang mempunyai tato di lengan kirinya.
"He... He.. He... Gak aku sangka, nenek tua itu boleh juga rencananya. Sampai menyewa preman juga dia.. Sepertinya ini semakin seru! " gumam Tata dengan kekehannya begitu preman itu mendekat.
Preman tersebut menampilkan wajah sangarnya yang membuat Tata pura-pura ketakutan dengan memeluk erat tas berisi uang tersebut.
"Ayo jalan! Jangan bertingkah macam-macam, kalau tidak aku patahkan kakimu! " bentak preman tersebut kepada Tata.
"I-iya... " ucap Tata dengan wajah pucat ketakutan.
Tata berjalan di depan preman tersebut dengan langkah pelan sehingga membuat preman tersebut geram dan mendorong Tata dari belakang hingga Tata tersungkur dengan pintu terbuka lebar.
"Wah, wah, wah... Menantu tersayang ku datang juga! Cup... Cup.. Cup... Jangan nangis dong? Ayo tunjukkan wajahmu yang marah ketika memukuli ku dulu! " ucap Nyonya Retno jongkok di hadapan Tata dengan mencengkram erat dagu Tata.
"A-aduh, sa-sakit!! " ucap Tata terbata-bata dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Ayo berdiri! Aku tidak ingin berbasa-basi lagi, serahkan uangnya dan jaminan anakku bebas dari penjara! " ucap Nyonya Retno bangkit berdiri lagi dan duduk di sebuah kursi di sebelah Dika berdiri.
"Di-dimana i-ibu ku! Ka-kalian apakan ibu ku! " teriak Tata sambil memeluk erat tas berisi uang tersebut.
"Heh! Jangan berteriak! Aku tidak tuli! Kalian jangan diam saja! Ambil tas nya dari perempuan sialan itu! " perintah Nyonya Retno dengan kesal.
__ADS_1
Tata beringsut mundur kebelakang seolah-olah tidak rela memberikan uang tersebut kepada mereka sehingga terjadilah adegan tarik menarik antara Tata dengan dua orang preman.
Dika dan Mama nya hanya melihat saja sambil duduk santai, sedangkan Dian berada di sudut gubuk tersebut dengan kaki bersilang menjaga seseorang yang di tutup wajahnya dengan karung yang mereka klaim sebagai ibunya Tata.
Karena jengah dengan Tata yang masih mempertahankan tas tersebut, Nyonya Retno bangkit dari duduknya dan langsung mendorong Tata dengan keras sehingga Tata jatuh tersungkur karena hilang keseimbangan dan keningnya berdarah membentur ujung dinding yang terbuat dari kayu.
"Plak! Plak! Plak... "
"Bugh, bugh, bugh... "
Nyonya Retno menampar pipi Tata berulang kali hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah, kemudian ia berdiri dan menendang Tata yang masih terduduk dengan kakinya berkali-kali hingga badan Tata meringkuk menahan sakit.
Dian yang duduk santai terkekeh melihat Nyonya Retno dengan semangat menghajar Tata, sedangkan Dika hanya diam saja berdiri tanpa mau membela Tata dari keganasan Mama nya.
Nyonya Retno kemudian membalikkan diri setelah puas melampiaskan kekesalan nya tempo hari kepada Tata, tanpa tahu jika Tata tersenyum miring menyeringai dengan memencet tombol di jam tangan yang ia pakai.
"Kau tidak mau memberi pelajaran kepada istri sialan mu itu? " tanya Nyonya Retno kepada Dika sambil meneguk air mineral.
"Jangan lembek jadi laki-laki! Jika kau masih seperti ini, semua wanita pasti akan selalu menginjak-injak harga dirimu! " ucap Nyonya Retno meremehkan sikap anaknya.
"Terserah Mama lah mau ngomong apa? Untuk apa lagi aku ikut-ikutan memukuli nya kalau ia sudah tidak berdaya seperti itu! " jawab Dika dengan malas.
Ia pun duduk di kursi samping Mama nya duduk dengan mengunyah beberapa cemilan ringan yang mereka beli sebelum ke tempat ini.
"Dian! Berikan tua bangka itu kepada anak nya! " perintah Nyonya Retno sambil duduk dengan angkuh.
Dian pun melakukan perintah Nyonya Retno dengan menarik paksa wanita yang mereka kira ibunya Tata dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur di samping Tata.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar gubuk yang membuat Nyonya Retno memerintahkan dua premannya untuk melihat apa yang terjadi.
Kedua preman tersebut keluar dan tak lama kemudian mereka kembali masuk dengan kedua tangan mengangkat ke atas tanda menyerah.
__ADS_1
"Siapa kalian? Mau apa kalian datang kemari! " ucap Nyonya Retno berang melihat dua premannya di todong dari belakang dengan menggunakan pistol.
"Aduh... Capek juga rupanya pura-pura kayak gini! " ucap Tata berdiri seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Ia mengibaskan celana dan baju nya dengan kedua tangan seperti ada debu yang menempel hingga harus di bersihkan.
Nyonya Retno, Dika dan Dian terbelalak kaget melihat Tata yang bangun dari meringkuk tadi seperti biasa, dan tidak mengeluh kesakitan.
"Ka-kau!! Ba-bagaimana bisa kau berdiri lagi dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa?? " ucap Nyonya Retno terbata-bata dengan menunjuk Tata.
"Cuih!! " Tata meludah ke samping sambil mengusap pelan sudut bibirnya.
"Kau pikir, dengan menampar dan menendang ku bisa membuat aku berteriak-teriak kesakitan?? Apa yang kau lakukan tidak berpengaruh sama sekali kepada ku! Kau, dan kalian semua bukan tandingan ku! "jawab Tata santai menunjuk mereka semua dengan menyeringai.
"Ka-kau iblis! Benar-benar jelmaan iblis! Tidak sudi aku mempunyai menantu jelmaan iblis seperti mu! " teriak Nyonya Retno dengan lantang dan tangan gemeteran.
"Oh Mama mertuaku sayang?? Kenapa kau tega sekali mengatakan aku iblis? Kenapa kau jahat sekali pada ku? Aku ingin sekali menyayangi mu seperti Ibuku sendiri? " ucap Tata tiba-tiba dengan wajah sedih.
"Gila kau!! Pergi kau dari sini!! Pergi!! Ayo Dika, usir perempuan gila ini dari sini! " bentak Nyonya Retno dengan wajah pucat ketakutan sambil menunjuk-nunjuk Tata dengan jari telunjuk nya.
"Ha.... Ha.... Ha.... Ha.... " Tata tertawa melihat wajah Nyonya Retno berubah putih pucat seperti kapas karena ketakutan.
"Dasar gila kau!! Psikopat!! Pergi kau dari sini!! " teriak nya lagi ketika Tata tertawa terbahak-bahak.
Bersambung...
Aduh... Susah banget rupanya jadi psikopat kayak gini, setiap ngetik harus di baca berulang kali takut ada yang salah tulis.
Jika ada yang salah tulis, atau tidak sesuai mohon di maklumin ya readers... Soalnya ini pengalaman pertama othor bikin adegan seperti ini 😁😁😁
Selamat membaca dan selamat beristirahat ya readers.... Soalnya sudah malam...
__ADS_1