Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
48. Anika di madu


__ADS_3

Dengan penuh semangat, Nyonya Retno datang ke kantor polisi membawa uang jaminan agar Dika bisa bebas.


"Pak, saya ingin anak saya Dika bebas! Berapa uang jaminan yang harus saya bayarkan Pak? " ucap Nyonya Retno ketika menemui Komandan di kantor tersebut.


"Tersangka bisa di bebaskan dengan uang jaminan sebanyak 200 juta, itu pun hanya bebas sementara. Karena kasus ini masih dalam penyelidikan kami, dan sewaktu-waktu saudara Dika bisa di tangkap kembali jika bukti-bukti tersebut bener-benar valid. " jawab Komandan tersebut.


"Astaga! Mahal sekali jaminannya! Kalau tidak aku bayar, Dika tidak akan bisa bebas. Kalau Dika masih di dalam sini, bagaimana kami bisa menculik ibunya si Tata itu? Ya sudahlah, toh kalau Dika bebas, kami bisa mengancam Tata melalui ibunya agar mencabut tuntutan hukum terhadap Dika dan minta ganti rugi uang untuk jaminan Dika tadi. Yah, benar sekali! Tidak apa-apa sekarang hilang uang 200juta, kan nanti bisa kembali lagi dari si Tata itu. Ha... Ha... Ha.. Rencana yang sangat brilian sekali... " Batin Nyonya Retno dengan tertawa dalam hati.


"Baiklah Pak kalau begitu! Tolong urus berkas-berkas pembebasan nya sekarang juga! Dan ini uang jaminan nya 200 juta. Saya ingin anak saya bebas hari ini juga! " jawab Nyonya Retno pasrah dengan uang 200.


Dengan berat hati, ia menyerahkan koper yang berisi uang tunai 200 juta di hadapan Komandan polisi tersebut.


Ia keluar dari ruangan tersebut dengan berbagai macam rencana ketika Dika bebas, dan ia menunggu di ruang tunggu sambil memakan makanan yang sengaja ia bawa untuk mengganjal perutnya.


Setelah menunggu selama setengah hari, Nyonya Retno bernafas lega karena sekarang ini Dika sedang berada di ruangan Komandan untuk tanda tangan syarat bebas sementara.


Dika tersenyum bahagia ketika keluar dari ruangan tersebut dan langsung memeluk Mama nya.


"Akhirnya Dika bebas juga Ma, Dika gak mau lagi masuk ke dalam sini lagi! Pokoknya kita harus bisa bikin Dika bebas selamanya, bukan sementara! " ucap Dika pelan di telinga Mamanya.


"Tenang aja Nak, itu bisa kita atur! Yang penting keluar dulu kita dari sini! " jawab Mama nya dengan tersenyum bahagia.


Mereka pun dengan cepat keluar dari kantor polisi dengan bibir tersenyum lebar.


Seorang pria dengan posisi memunggungi, menelpon seseorang dari tempat sepi mengatakan jika target sudah keluar dari sangkar.


🎍🎍🎍


"Hah! Sepi kali lah rumah ini Tet, gak ada Ibuk, Mak Ijah, Pak Jamal dan Nana ikut-ikutan mau ke villa. " keluh Sandra sambil menghempaskan bokongnya ke sofa.


"Nana butuh refreshing Tot, dan aku juga mau refreshing menyusul mereka kalau urusanku di sini juga sudah selesai! Pengen kali aku jalan-jalan di desa yang gak ada polusi nya. Hah!! Pasti sejuk kali lah udaranya! " ucap Tata sambil merentangkan kedua tangannya membayangkan semua itu.


"Fix, gak mau aku kalok cuma membayangkan! Aku mau ke sana sekarang juga, mumpung masih jam 4 sore! " jawab Sandra bangkit dari posisi santainya dan berlari ke lantai atas.


Tata tersenyum lebar melihat Sandra langsung memutuskan untuk menyusul Nana l refreshing ke villa. Ia sengaja memanas-manasi Sandra berkata seperti itu, karena ia tahu sahabatnya itu paling pantang jika di panasin seperti tadi.


"Akhirnya aku bisa menjalankan semua rencana ku dengan lancar tanpa takut ketahuan dengan orang terdekat ku. " gumam Tata pelan sambil duduk santai menonton televisi.


"Butet, aku pergi sekarang! Dah gak sabar aku pengen cepat sampai! " teriak Sandra dengan menggendong tas ranselnya.

__ADS_1


"Kau serius mau pigi sekarang? Terus cemana dengan restoran? " tanya Tata pura-pura kaget.


"Bah, serius lah! Kau handle saja lah dulu restoran, lagi pula gak ada pun yang berani macam-macam di restoran kalau kau juga gak ngontrol! " jawab Sandra dengan yakin.


"Pigi dulu aku ya Tet! Cepat lah kau selesai kan urusan mu dengan cecunguk itu! Biar kita refreshing sejenak sama-sama, ajak juga di Boneka itu! Biar gak gilak dia karena pengadilan aja yang dia datangi setiap hari! " ucap nya lagi sambil bersenandung berjalan keluar rumah.


Setelah memastikan Sandra benar-benar pergi dengan di antar supir kepercayaan Tata, Ia pun segera memasuki ruang kerjanya. Tata duduk di kursinya dan menekan sebuah tombol di bawah pegangan kursi bagian dalam dan meja yang ada di hadapan Tata terbelah secara otomatis menjadi dua bagian. Lalu muncul lah sebuah layar seperti layar komputer yang memintanya untuk memasukkan kode retina mata.


Tata melakukan pemindaian retina mata, dan ketika terdengar jawaban sukses tiba-tiba suara bergemuruh bergema dengan bunyi kltak-kltak seperti bunyi sebuah brangkas dan Tata segera menggeser kan sofa di ruangan tersebut ke pinggir.


Dan wow, lantai tempat sofa tadi secara perlahan membentuk sebuah tangga yang mengarah ke bawah, dan otomatis muncul lampu dari balik dinding yang menerangi tangga tersebut.


Tata langsung menuruni tangga tersebut dan sebelum itu, ia memencet beberapa angka dan tangga tadi kembali ke bentuknya semula menjadi sebuah lantai jika di lihat dari atas.


Tata berada di sebuah ruangan yang amat luas dengan sebuah bilik berupa tempat tidur yang lengkap dengan kamar mandi.


Berjalan beberapa langkah ke belakang bilik tersebut, terdapat sebuah layar raksasa yang menampilkan berbagai denah dan lokasi secara detail.


Tata duduk di sebuah kursi yang di depannya terdapat meja panjang dengan berbagai macam keyboard dan tombol yang tampak begitu memusingkan untuk yang baru memasuki ruangan tersebut, tapi tidak dengan Tata.


Ia begitu lihai memainkan jari jemarinya di atas keyboard tersebut dan langsung di layar menampilkan gambar keadaan villa secara jelas dan gambar dari berbagai sisi villa secara keseluruhan.


Tata berpindah ke keyboard yang lain dan jemarinya menari indah di atas keyboard, dan di layar raksasa menampilkan suasana beberapa restoran yang ia miliki secara keseluruhan.


Layar raksasa tersebut seperti layar besar CCTV yang selalu mengawasi dan merekam kegiatan yang terjadi di tempat tersebut tanpa terkecuali termasuk kamar pribadi sekali pun.


Ketika ia asyik memantau semua tempat usahanya itu, tiba-tiba terdengar panggilan di ponsel nya.


Tata pun memasang handsfree di telinga kanan nya dan duduk di kursinya dengan kaki di atas meja menerima panggilan tersebut.


[Ya, hallo?? Ada laporan apa?? ]


[Tetap kalian awasi calon mantan suamiku dan ibunya itu! Laporkan segera tindak tanduk mereka sekecil apapun. ]


[Bagaimana dengan permintaan ku kemarin? Kapan kau bawa wanita yang sesuai dengan ciri-ciri yang aku katakan tempo hari?]


[Oke! Aku tunggu wanita itu datang ke rumah utama besok pagi jam 7.]


[Jika ada yang mencurigakan, kalian tau kan mesti lakukan apa? ]

__ADS_1


[Baiklah! Aku tunggu kabar baiknya! ]


Tata pun melepaskan handsfree di telinganya setelah panggilan itu terputus.


"Dika dan Retno... Rasanya aku sudah tidak sabar lagi melihat kalian masuk dalam jebakan ku? Ha... Ha... Ha... Sudah lama sekali aku tidak melakukannya lagi... " ucap Tata dengan tertawa mengerikan.


🎍🎍🎍


Di sebuah rumah kontrakan yang lumayan bagus, seorang wanita muda menghancurkan semua isi rumahnya karena marah dan sakit hati.


"Prang!! "


"Prang!! "


"Brak... Brak... Brak... "


"Sialan kau Riko!! Laki-laki brengsek!! Aku benci padamu Riko!! Aku benci!!! Hu... Hu... Hu... Kenapa kau tega melakukan ini padaku?? Kenapa?? Apa salahku?? " teriak wanita itu meraung-raung sambil melemparkan semua barang hingga keadaan rumah tersebut hancur berantakan seperti kapal pecah di timpa angin kencang ****** beliung.


Wanita muda tersebut adalah Anika, adik bungsu Dika yang baru saja mengetahui jika Riko suaminya menikah lagi dengan wanita pilihan orang tuanya karena orang tua Riko terlilit hutang.


"Astaga Nyonya muda!! Istighfar, istighfar.. Jangan seperti ini?? Ayo kita duduk dulu di sana!! Hati-hati Nyonya, jangan sampai pecahan beling itu melukai kaki Nyonya! " ucap seorang asisten rumah tangga dengan wajah kaget dan langsung membopong Anika ke tempat yang tidak ada pecahan kaca.


"Hidup Anika hancur Bi Sur, hancur berkeping-keping seperti pecahan ini? Anika hancur?? Hu... Hu... Hu... " ucap nya dengan menangis pilu.


"Ya Allah Nyonya!! Jangan berkata seperti itu! Hidup Nyonya tidak hancur!! Nyonya harus kuat dan sabar! Jangan buat mereka semakin merendahkan dan menginjak Nyonya kalau Nyonya bersikap seperti ini! " sahut Bi Sur menguatkan Anika.


"Jangan perlihatkan kelemahan Nyonya di hadapan orang-orang itu! Hapus air mata Nyonya, dan mulai sekarang jangan pernah lagi menangisi hal yang seperti ini! Nyonya harus kuat menghadapi kenyataan ini! " ucap Bi Sur lagi dengan menghapus lelehan air mata di pipi chubby Anika.


"Iya Bi, Bibi benar! Anika harus kuat, Anika gak boleh cengeng! Ketika Riko pulang, Anika akan minta cerai! Anika gak sudi di madu! Lebih baik menjanda daripada berbagi suami! " jawab Anika dengan penuh amarah dan kecewa.


"Alhamdulillah kalau Nyonya mengerti! Walaupun poligami tidak di larang, tapi jika menyakiti salah satunya, lebih baik berpisah saja dari pada nanti menimbulkan perpecahan dan pertengkaran di antara keduanya. Perceraian memang di benci oleh Allah, tapi halal jika di lakukan. " ucap Bi Sur dengan mengusap punggung tangan Anika.


"Iya Bi, Anika sudah mantap untuk bercerai! Anika ingin hidup tenang walaupun harus sendiri! " jawabnya dengan mantap.


"Lebih baik Nyonya mandi dulu! Biar agak segeran dan Bibi akan menyiapkan makan malam. " sahut Bi Sur sembari menuntun Anika ke kamarnya.


Setelah Bi Sur mengantarnya ke kamar, Anika pun segera mandi dan mengguyur kepalanya dengan air dingin agar ia bisa berpikir dengan kepala dingin dan hati yang tenang.


"Aku tidak terima di perlakukan seperti ini Mas, kita lihat saja nanti! Aku akan menuntut cerai, dan aku tidak mau di madu sampai kapanpun! " ucap Anika penuh dendam dan amarah ketika berkaca di cermin besar kamarnya.

__ADS_1


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beristirahat readers semuanya...


__ADS_2