
Tata yang kesusahan saat selesai mandi, memanggil Suster Sari dan Mila untuk membantunya. Untung saja handuk yang di letakkan di lemari bisa ia jangkau dengan di atas kursi roda.
Kedua Suster masuk ke dalam kamar mandi saat tubuh polos Tata sudah tertutupi handuk. Mereka berdua membantu Tata keluar dari kamar mandi dan juga membantu Tata berpakaian.
"Maaf ya Sus, sudah merepotkan kalian berdua! "
ucap Tata dengan wajah tidak enak hati.
"Gak usah sungkan Nona, sudah tugas kami membantu Nona apa pun itu! Nona mau pakai baju yang gimana hari ini? " jawab Suster Sari sembari membuka pintu lemari.
Semenjak sudah untuk berjalan sendiri, Dave membelikan lemari khusus untuk pakaian santai Tata yang ia letakkan di kamar mereka, bukan di ruang khusus seperti biasa. Ia tidak mau ada orang lain yang memasuki ruang khusus pakaian mereka kecuali Mbok Nah yang selalu bertugas merapikan pakaian Tata dan Dave setelah di setrika.
Karena itulah setiap selesai membantu Tata mandi, kedua Suster tidak perlu bingung mau mengambilkan pakaian untuk Tata.
"Pakai daster aja Sus, cuaca nya panas gini enakan pakai daster! Adem juga kainnya! " jawab Tata sembari memakai pakaian dalam di bantu Suster Mila.
Suster Sari bergerak cepat mengambil Daster yang di minta Tata dan menutup kembali lemari tersebut.
Untung saja semenjak Tata selalu di kursi roda, Dave tidak pernah lagi meninggalkan jejak petualangan nya di sekujur tubuh Tata.
Setelah memakaikan Tata pakaian, Suster Sari dengan sigap menyisir rambut Tata yang panjang dengan pelan.
"Non, boleh gak saya kasih saran? " tanya Suster Sari agak hati-hati.
"Saran apa Sus? " tanya Tata balik.
"Lebih baik sebelum operasi, rambut panjang Nona di potong pendek aja! Bukan ada maksud lain, hanya saja biar nanti Nona gak kerepotan saat si Baby lahir untuk ikat rambut. Dan juga agar si Baby gak mainin rambut Nona ke dalam mulut nya! Itu hanya saran saya saja Nona, jadi gak perlu di ikuti kalau Nona dan Mister gak suka! " jawab Suster Sari sambil menyisir rambut Tata.
"Bukan nya pamali ya Sus potong rambut saat hamil? Soalnya saya pernah dengar dari orang-orang di sekitar saya dulu? " tanya Tata lagi karena masih ragu.
"Itu hanya mitos Nona! Dalam agama kita diperbolehkan memotong rambut saat hamil asalkan tidak membahayakan kehamilan dan janin! Lagipula, dalam dunia medis juga tidak dilarang dan sebagian memang di anjurkan karena banyak sekali Ibu hamil yang mengalami rambut kering dan rontok akibat pengaruh hormon. Dan jika mengatakan potong rambut bisa bikin anak dalam kandungan cacat itu semua salah besar! Itu hanya omongan segelintir orang di masa lalu yang selalu menyangkut pautkan hal yang di katakan orang sebelum mereka, hingga semua itu terbawa sampai sekarang! Tapi itu tergantung pribadi masing-masing sih Nona, mau tetap percaya mitos jaman dahulu apa percaya dengan ajaran agama kita! " jawab Suster Sari dengan panjang lebar.
"Betul kata Sari Non! Semua itu balik pada diri kita masing-masing, mau percaya atau tidak! Kalau saya pribadi sih saya lebih mempercayai ajaran agama kita dan ahli kesehatan! Bodo amat sama pemikiran orang yang mengatakan inilah, itulah! Hanya saja jika kita tidak sependapat dengan mereka, katakan aja dengan lemah lembut dan secara halus agar tidak membuat mereka sakit hati ataupun emosi! " sahut Suster Mila ikut menambahkan.
"Jujur saja ya.., Saya orang yang lebih mengutamakan ajaran agama dan logika! Apalagi zaman sekarang sudah canggih jika ingin mengetahui informasi, dari situ kita bisa berpikir apakah ini benar atau pun tidak! Hanya saja sekarang ini saya tidak bisa memutuskan nya sendiri karena saya sudah bersuami dan punya keluarga! Saya akan minta izin suami saya dulu untuk memotong rambut, takutnya nanti beliau marah karena saya tidak memberitahu dia kalau akan memotong rambut! " jawab Tata dengan penuh pertimbangan.
"Itu bagus Nona, saya juga setuju! Biarpun hal ini sepele, tapi suami harus tetap tahu karena itu bisa membuatnya menjadi lebih di hargai dan dibutuhkan oleh sang istri! Nah, sekarang sudah siap! Nona mau turun ke bawah atau mau gimana? " ucap Suster Sari membenarkan perkataan Tata sembari bertanya lagi.
"Kita turun aja Sus! " jawab Tata dengan tersenyum manis melihat penampilan nya di cermin.
Baru mau mendorong kursi roda Tata, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Dave masuk ke dalam kamar dengan napas ngos-ngosan akibat berlari.
"Ka.. kalian keluar saja dan tunggu di bawah! Saya mau bicara sebentar dengan istri saya! " perintah Dave dengan menormalkan napasnya yang masih belum stabil.
Tata menganggukkan kepala nya kepada kedua Suster, mereka berdua pun patuh dan keluar dari kamar Tata.
"Ada apa Mas? Kenapa Mas sampai lari-lari gini? " tanya Tata dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Tunggu sebentar sayang... ! " jawab Dave masih dengan dada naik turun.
Tata menunggu suami nya kembali bernapas normal. Dave kemudian berjongkok dengan lutut bertumpu di lantai depan kaki istrinya.
"Sayang... ! Baru saja Tiger memberitahu kalau mereka berhasil menemukan ipar dan keponakan kamu! Mas sudah memerintahkan mereka untuk membawa nya ke apartemen Mas karena sepertinya salah satu kondisi keponakan mu dalam keadaan tidak baik! Nanti akan di periksa oleh dokter terlebih dahulu sebelum kita bawa ke rumah sakit! " ucap Dave dengan menggenggam tangan istrinya.
"MasyaAllah... Alhamdulillah ya Alloh... ! Aku senang banget Mas! Ibu pasti senang menantu sama cucu nya udah diketemukan! " sahut Tata penuh syukur dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa di sadari ia menangis terisak dan Dave langsung mengusap air mata yang terjun bebas di pipi sang istri.
"Apa yang terjadi dengan salah satu keponakan ku Mas? Apa ia sakit atau gimana? " tanya Tata lagi dengan nada sedih.
"Mas juga belum tau sayang! Hanya saja itu yang dikatakan Tiger karena mereka akan memberitahu Mas lagi jika sudah sampai di apartemen! " jawab Dave jujur.
"Katakan pada Tiger untuk memanggil Martin memeriksa keponakan ku Mas! Aku mau ia melihat kondisi keponakan ku sebelum kita ambil tindakan lebih lanjut! " ucap Tata dengan nada memerintah kepada suaminya.
"Oke sayang! Sekarang kamu mau kemana? Biar Mas antar! " jawab Dave patuh seraya mengusap pipi tembem Tata.
"Kebawah aja Mas! Aku mau hirup udara segar sambil duduk di Gazebo samping! " sahut Tata dengan tersenyum bahagia.
"Baik Ibu Ratu! Kita ke bawah sekarang! Cup..! " ucap Dave dengan berdiri sambil mencuri kecupan singkat di bibir istrinya.
Tata tersenyum lebar menerima perlakuan suaminya yang selalu tiba-tiba itu, dan ia sangat menyukai semua perlakuan romantis sang suami.
🌿🌿🌿
Empat orang pria berbadan kekar berdiri di depan sebuah gubuk dengan muka tanpa senyum.
__ADS_1
"Geledah gubuk reot ini dan cari mereka sampai ketemu! Ingat untuk tidak melakukan dengan kekerasan karena Datuk pasti akan marah jika kita menyakiti mereka! Ayo cepat lakukan! " perintah salah satu dari mereka dengan suara keras.
"Baik Bos! " jawab yang lainnya dengan kompak.
Mereka langsung menerobos masuk ke gubuk tersebut tanpa memikirkan kalau suara mereka membuat beberapa orang yang lewat dengan pandangan heran dan bertanya-tanya.
Seorang yang memberi perintah tadi masuk paling belakangan dan mereka semua tidak menemukan seorang pun di dalam gubuk reot tersebut.
"Sepertinya mereka sudah kabur Bos! Aroma manusia masih tercium di hidungku! Dan kemungkinan nya mereka pergi sebelum kita sampai di sini! " lapor salah satu dari anak buahnya dengan begitu yakin.
"Brengsek... ! Sialan... ! Arrrggghhh... ! " teriak yang di panggil Bos dengan wajah kesal dan geram.
Ia memporak-porandakan semua yang ada di dalam gubuk tersebut hingga semuanya hancur seperti di hantam badai. Bayangan ia menerima uang terakhirnya seketika menghilang dari pikiran nya karena kesialan yang ia dapatkan saat ini.
Ia benar-benar marah dan tidak terima kalau mereka gagal menemukan orang yang selama ini mereka cari.
Flashback 15 menit sebelum mereka datang...
Nada dan anak-anak nya pulang dari Puskesmas dengan di antar mobil ambulan karena petugas Puskesmas kasihan melihat Aqila tidak mempunyai kursi roda.
Steven dan temannya mengikuti dari jarak yang tidak terlalu jauh ataupun terlalu dekat . Mereka mengemudikan mobil pelan-pelan sambil menunggu Tiger datang ke lokasi mereka saat ini.
Setelah petugas Puskesmas pulang, Steven dan temannya masih mengawasi di dalam mobil. 10 menit berselang, sebuah mobil van berwarna hitam berhenti di depan mobil yang di huni oleh Steven.
Steven tersenyum senang saat melihat Tiger keluar bersama dengan Angel mendekati mobilnya.
"Gimana? Kau gak bohong kan kalau alat pendeteksi mu itu berhasil? Aku gak mau memberi harapan palsu untuk Bos Besar! " tanya Angel muka sedikit kurang yakin.
"Yakin banget lah.... Kalau ayang beb gak percaya, ayang beb cek aja nanti gambar mereka di komputer ayang beb! Oh ya, ngomong-ngomong Bos cantik sudah ayang beb kasih tau ya? " jawab Steven dengan begitu yakin dan tersenyum lebar.
"Belom... Tapi udah di kasih tau Oppa sama kakak ipar! " jawab Angel sambil mengikat rambutnya dengan ekor kuda.
"Ayang beb... Jangan di ikat rambut nya kayak gitu? Aku gak mau nanti semua laki-laki melihat leher putih mulus mu itu dengan tatapan serigala lapar! " seru Steven dengan suara lantang.
"Bodo amat... ! Siapa elu ngatur-ngatur gue! " jawab Angel acuh.
"Calon imam kamu dan calon ayah dari anak-anak kamu, ayang beb! " sahut Steven dengan menaikturunkan alisnya.
"Ogah... ! " jawab Angel seraya melenggang pergi.
Steven ikut berjalan dengan wajah cemberut di belakang mereka. Pasalnya Angel berjalan bersama Tiger dan dua orang anak buahnya.
"Lumayan aman Bos, karena tempat mereka tinggal jauh dari perumahan penduduk! Tuh, masuk jalan kecil di sana kalau kita mau ke tempat mereka tinggal! " jawab Albi dengan wajah datar.
Memang mereka tadi hanya di mobil saja, karena mobil Puskesmas yang mengantar Nada dan anak-anak nya hanya berhenti di pinggir jalan saja. Selebihnya mereka berjalan kaki memasuki lorong kecil yang tadi sempat di ikuti Albi secara diam-diam. Sedangkan Steven hanya menunggu di dalam mobil seraya melihat keadaan di sekitar mobil mereka yang terparkir.
"Baiklah kalau begitu, kita harus bergerak cepat sebelum keduluan orang lain! Ayo bergerak dan bersikap lah seperti orang biasa saja, dan jangan mencolok! " ucap Tiger lagi seraya memandangi anak buahnya satu persatu.
"Yang ada Oppa tuh yang mencolok! Siang-siang gini pakai pakaian item semua dari ujung rambut sampai ujung kaki! " cibir Angel sambil berjalan santai.
"Iya si Bos... Kayak mau pergi ke pemakaman aja! Iya kali ke pemakaman tiap hari! " sahut Steven ikutan komen.
Tiger tidak memperdulikan ucapan mereka dan tetap berjalan dengan muka datar dan dinginnya.
Mereka semua memasuki lorong yang di tunjuk oleh Albi tadi dan mereka semua kaget kecuali Tiger dan Albi yang bermuka datar saat memasuki lorong dan melihat penampakan gubuk tempat Nada dan anak-anak nya berteduh dari panas dan hujan.
"Ya Tuhan... ! Ini rumah apa kandang ayam?? Udah mau roboh gini! Jangan kan manusia, kambing aja ogah tinggal di tempat yang kayak gini! " ucap Angel dengan wajah shock.
Steven dan yang lainnya ikut shock dan tampak miris melihat gubuk yang tidak layak untuk di katakan sebagai rumah.
Untung saja jarak mereka semua dari gubuk Nada masih beberapa meter sehingga ucapan Angel tidak ada yang mendengar nya kecuali mereka yang ada di situ.
"Kalian semuanya berjaga-jaga di sini! Kami berdua akan masuk ke sana! " perintah Tiger sembari menunjuk dirinya dan Angel yang akan masuk ke dalam gubuk Nada.
Anak buahnya mengangguk patuh termasuk Albi dan Steven. Tiger dan Angel berjalan mendekati gubuk Nada dan mengetuk bagian yang tampak seperti pintu.
"Assalamualaikum... Permisi! " panggil Angel dengan suara sedikit kuat.
Nada yang hendak bersiap-siap bekerja melihat ke arah Amirah dengan wajah heran. Terdengar lagi ketukan dan ucapan salam dari luar rumah mereka.
"Siapa ya Mah? Apa petugas Puskesmas tadi ya Mah balik lagi ke sini? " tanya Amirah dengan heran.
"Entahlah Kak, Mamah juga gak tau! Kamu tunggu sama Aqila di sini, biar Mamah aja yang nemuin nya! " jawab Nada sembari berjalan menuju pintu.
Entah kenapa jantung nya berdebar kencang dan tangannya gemetar tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Ya Allah... Mudah-mudahan hanya tetangga sekitar! Kenapa aku tiba-tiba takut untuk membuka pintu ya? Ya Allah... Lindungilah kami sekeluarga! " gumam Nada sembari berjalan dengan memegang dadanya yang berdegup kencang.
Masih terdengar suara salam dan ketukan pintu, dengan tangan gemetar Nada meraih pengait pintu dan membukanya dengan perlahan.
Ia mengernyit dahinya saat melihat seorang perempuan cantik yang tersenyum lebar dengan memperlihatkan giginya yang putih dan rapi, lalu seorang laki-laki tanpa ekspresi yang memakai pakaian serba hitam, beberapa orang yang Nada lihat tampak berdiri dari kejauhan seperti sedang menjaga seseorang.
Perasaan Nada semakin tidak enak dan itu terlihat dari raut wajahnya yang tiba-tiba pucat. Angel yang menyadari raut wajah Nada langsung berkata dengan nada sopan dan ramah.
"Kami bukan orang jahat kok Bu... Boleh kah kami berdua masuk ke dalam? Ada yang ingin kami bicara kan sama Ibu mengenai hal pribadi! Dan mereka semua akan menjaga kita dari luar jika ada pengganggu yang datang! " ucap Angel dan senyum yang masih menghiasi wajah cantik nya.
Mendengar nada ramah perempuan cantik di depannya membuat Nada menganggukkan kepala nya. Ia memberi jalan agar dua tamu nya masuk ke dalam gubuk nya.
Angel tampak miris melihat keadaan gubuk yang hampir roboh itu dari dalam. Namun ia cepat-cepat mengganti ekspresi wajah nya agar tidak di lihat Nada karena tidak ingin perempuan itu tersinggung.
Angel dan Tiger melihat dua orang anak perempuan yang satu terbaring di kasur tipis, dan yang satunya lagi duduk di dekat sang adik dengan memegang tangan nya seakan-akan ingin melindungi adiknya dari orang yang berniat jahat.
Nada langsung mendekati Amirah dan Aqila dengan cepat.
"Silahkan duduk.. ! Maaf jika duduk di lantai! " ucap Nada dengan suara tidak enakan.
"Gak papa kok Bu... ! Oh ya, perkenalkan saya Angel dan ini kakak saya ! Maaf jika kedatangan kami ini mengejutkan Ibu dan anak-anak! Kami ingin membawa Ibu dan anak-anak pergi dari sini sebelum orang-orang yang mencari Ibu dari Johor sampai ke sini menemukan kalian semua! " jawab Angel langsung mengutarakan maksudnya.
"Kenapa kalian ingin membawa kami? Siapa kalian sebenarnya? Saya tidak mau kembali lagi ke tempat terkutuk itu! Lebih baik saya mati dari pada kembali ke sana! " tanya Nada dengan suara tercekat dan mata berkata-kata.
"Mah... Mirah gak mau kembali ke sana? Mirah takut Mah? Gimana kalau Pak cik itu membawa Mamah pergi lagi? Mirah gak mau Mah? " ucap Amirah dengan wajah ketakutan.
"Gak Nak... ! Mamah gak akan biarin mereka membawa kita ke tempat itu lagi? Mamah gak akan biarkan mereka menyentuh kalian berdua! Mereka harus melangkahi mayat Mamah dulu kalau mau menyentuh kalian berdua! " jawab Nada menangis dan memeluk Amirah dengan erat.
"Maaf kalau saya membuat kalian semua takut! Saya dan kakak saya adalah orang suruhan adik ipar Ibu, yang tidak lain adalah adik dari suami Ibu sendiri Pak Sandi Adijaya. Beliau yang menyuruh kami untuk mencari keberadaan Ibu dan anak-anak Ibu! " ucap Angel terus terang agar Nada dan anak-anak nya tidak ketakutan padanya dan Tiger.
"Apa??? Ka-kalian orang suruhan Bang Sandi? " tanya Nada dengan wajah kaget.
"Bukan... ! Adik ipar anda yang menyuruh kami! Bukan suami anda, karena suami anda masih buronan kami dan orang-orang dari Johor! Lebih baik anda bersiap-siap bersama anak-anak, karena kita tidak tau kapan mereka bisa menemukan anda dan kita pergi secepatnya dari sini! Jangan sampai terlambat karena kami tidak bisa menjamin jika mereka mau melepaskan anda dan anak-anak jika tertangkap! " jawab Tiger dengan nada tegas tanpa tersenyum.
"Tapi, kalian tidak bohong dan menipu kami kan? Saya takut di bohongi seperti dulu! " sahut Nada dengan masih belum percaya.
"Tidak kok Bu.... Ayo Bu kita bereskan barang-barang Ibu dan anak-anak! Lebih baik kita pergi cepat sebelum mereka berhasil menemukan kalian! Nona Tata sedang hamil besar sehingga ia tidak bisa menjemput langsung Ibu dan anak-anak! " jawab Angel dengan muka serius.
Mendengar jawaban Angel dan wajah serius nya, Nada bernafas lega, ia langsung meraih kresek plastik yang terselip di dinding untuk membawa pakaian nya dan pakaian anak-anak nya.
"Mah, kita mau pergi ke mana? Aqila takut Mah! " tanya Aqila dengan memegang tangan Amirah kencang.
"Kita mau ke tempat Makcik kalian! Qila jangan takut ya? InsyaAllah Om dan Tante ini orang baik! Ayo Mirah bantu adik kamu duduk! " jawab Nada dengan jongkok di dekat Aqila.
"Biar saya yang gendong! " ucap Tiger dengan sigap menundukkan dirinya dan dengan sekali angkat, Aqila berhasil ia gendong seperti anak bayi.
"Apa barang-barang nya sudah semua Bu? " tanya Angel dengan raut muka heran melihat Nada hanya menenteng satu plastik kresek.
"***Iya Mbak, saya dan anak-anak tidak punya barang berharga. Ini pakaian kami semua yang hanya saya bawa pakai kantong aja. " jawab Nada dengan muka menunduk malu.
"Maaf ya Bu jika pertanyaan saya membuat Ibu jadi tidak enak! Ayo Bu, Dek kita pergi dari sini! " sahut Angel dengan wajah menyesal pada Nada sembari mengajak Amirah dan Nada pergi.
Tiger ternyata sudah keluar duluan dengan mengendong Aqila berjalan menuju mobil mereka. Albi dengan sigap mengikuti dari belakang dan berlari-lari kecil membuka kan pintu mobil agar Tiger mudah memasukkan anak kecil itu ke dalam mobil.
"Kalian berdua awasi rumah ini dari jauh dan laporkan jika ada yang datang ke rumah ini pada ku langsung! " perintah Tiger pada dua orang anak buahnya sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Baik ketua! " jawab mereka mengangguk patuh.
Dua orang anak buahnya lagi ikut masuk ke mobil Steven dan Albi, sedangkan Nada dan anak-anak nya satu mobil dengan Angel dan Tiger.
"Kalian langsung pulang ke Markas! " ucap Tiger sebelum ia berlalu dengan membawa mobil tersebut.
Nada dan anak-anak nya yang duduk di bangku belakang hanya diam saja sembari mengusap lengan Aqila yang memeluknya dengan erat.
Tiger tiba-tiba mendapat panggilan telepon dan ia berbicara sesaat sebelum panggilan tersebut di putuskan yang nelpon.
"Hubungi Martin agar segera datang ke apartemen yang akan kita tuju, minta dia untuk datang cepat! " ucap Tiger dengan nada datar pada Angel.
"Oke... " jawab Angel patuh.
Ia lalu mengutak-atik ponsel nya dan menelpon Martin sesuai perintah Tiger. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan hanya terdengar suara ocehan radio yang sengaja di hidupkan Angel agar tidak terlalu sepi seperti di kuburan.
15 menit perjalanan, sebuah rekaman video masuk ke dalam ponsel Tiger dan saat Tiger meminta Angel membukanya, mata Angel melotot kaget melihat isi rekaman tersebut.
"Lihat Bu, belum ada setengah jam kita pergi ternyata mereka sudah menemukan rumah kalian! " ucap Angel seraya memperlihatkan rekaman video yang di kirim anak buah Tiger pada Nada.
__ADS_1
"Astaghfirullahalazim.... " gumam Nada dengan wajah shock dan pucat***.
Bersambung....