
Tata dan rombongan lainnya pergi menggunakan mobil. Mereka langsung berangkat begitu keluar dari stasiun kereta api. Sedangkan Sandra dan rombongan nya masih menunggu di stasiun, menunggu kereta api datang. Setelah hampir tiga puluh menit menunggu, akhirnya kereta api yang akan ke Bandung datang. Sandra dan rombongan nya langsung naik menuju gerbong yang sesuai dengan tiket mereka. Anak-anak begitu senang sekali naik kereta api, bahkan mereka langsung mengambil tempat duduk di dekat jendela.
"Mama, Ila mau naik kereta api setiap hari! " ucap Kayla dengan begitu semangatnya.
"Jangan setiap hari dong sayang, pas kita mau pergi jauh aja! Gak mungkin dong kita ke Bandung setiap hari naik kereta api! " jawab Sandra dengan lembut.
"Yah.... Emang gak bisa ya Ila ke sekolah naik kereta api? " ucap nya dengan bibir manyun ke depan.
"Ha... Ha... Ha... Gak bisa dong sayang! Emangnya sekolah Ila ada jalur kereta api nya? Kereta api itu hanya untuk perjalanan jauh seperti sekarang ini? Ke rumah Tante Tata aja gak ada kereta apinya.. " jawab Sandra dengan tertawa kecil melihat kepolosan Kayla.
"Iya sayang.. Yang Mama kamu katakan memang benar! Kereta api hanya untuk perjalanan jauh seperti sekarang ini! " sahut Kadir ikut menjelaskan kepada Kayla.
Kayla masih saja menampilkan wajah kecewanya dan semua itu membuat Sandra gemes dan mencubit pipi tembemnya. Sedangkan Kana asyik melihat pemandangan di luar jendela bersama Bi Sum dan Kania. Susan mengatur bangku yang ditempati semua rombongan nya agar sesuai dengan tiket mereka. Begitu juga dengan Anika dan Riko yang sedang membantu Anika mengatur semua belanjaan nya di tempat barang-barang di atas kursi mereka. Kemarin sore Anika ngotot ingin berbelanja membeli oleh-oleh untuk di bawa ke Bandung.
Alhasil Nana, Sandra dan anak-anak ikut Anika berbelanja di Mall sambil mengajak anak-anak bermain di playground yang ada di Mall. Nana, Sandra dan Anika berbelanja, sedangkan Kadir dan Riko menjaga anak-anak di arena permainan sambil menunggu para wanita berbelanja.
πΏπΏπΏ
Di tempat lain, Dave sedang berbahagia karena saat ini ia sedang berbalas pesan dengan Tata di ponselnya.
"Sayang... Kamu beneran kan udah pulang ke Bandung? "
"Udah dong Mas, sekarang aku udah di jalan nih! "
"Kamu nyetir sendiri ya sayang? Aduhh, jangan dong! Aku gak mau kamu kebut-kebutan kayak dulu! Aku gak mau kamu sampai lecet se inci pun! "
"Astaga Mas??? Siapa yang kebut-kebutan? Orang aku di supirin kok, dan jalannya juga gak ngebut! "
"Syukur deh kalau bukan kamu yang bawa mobilnya! Aku gak mau bidadari ku terluka seujung rambut pun dan aku gak mau kamu kenapa-napa! "
"Iya deh Mas, iya! Segitunya khawatir sama aku! Lagian in Shaa Allah aku gak apa-apa kok Mas, ada Allah yang akan selalu menjaga ku! "
"Alhamdulillah kalau gitu! Aku sangat mencintaimu sayang! Dan aku gak mau kamu sampai kenapa-napa, rasanya aku bisa gila jika kamu kenapa-napa sayang! Aku sayang mencintai mu, sangat... Sangat... Sangat... "
"Ih, gombal! Pasti Mas sering gombalin ciwi-ciwi dulu dengan rayuan maut Mas! "
"Siapa bilang Mas sering gombalin ciwi-ciwi yang kamu maksud? Orang Mas aja seumur hidup cuma jatuh cinta sama kamu, bidadari pujaan seorang Davindra Ryder. Cuma kamu perempuan Satu-satunya yang aku cintai di dunia ini dan di akhirat nanti. Cuma kamu yang ada di hati aku, dan cuma kamu yang bertahta di hati seorang Davindra Ryder. "
"Thalita Ruby Sinaga hanya milik seorang Davindra Ryder dan Davindra Ryder hanya milik Thalita Ruby Sinaga! Tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan kita bahkan kematian pun tidak akan bisa memisahkan aku dan kamu karena di akhirat nanti pun kita akan selalu bersama! "
"Mas, bisa aja merayu nya! "πππ
"Mas gak merayu sayang? Mas bicara fakta! " π³π³
"Iya deh iya.... Maaf kalau bikin Mas tersinggung! " ππ
"Mas gak tersinggung kok sayang... Rasanya Mas udah gak sabar lagi pengen halalin kamu, sayang! "
"Kenapa Mas? πβ"
"Kamu selalu bikin Mas gregetan! Oh ya, dapat salam nih dari Grandfa! "
"Grandfa???? "
"Iya, Grandfa Mas yang dari Inggris! Mereka baru datang kemarin bersama Aunty adiknya Papi! Grandfa titip salam sama kamu sayang, dan pengen banget kenalan sama kamu! "
__ADS_1
"Salam balik ya Mas! Aku jadi deg-degan nih kalau ketemu Grandfa nya Mas! Takut mereka gak suka sama aku dan sama status aku! "
"Gak usah insecure sayang! Percaya sama diri kamu sendiri! Lagian Grandfa bukan orang yang seperti itu, yang memandang seseorang dari status dan jabatannya! Aku ingin kamu menjadi dirimu sendiri apa adanya di hadapan Grandfa! "
"Oke deh! Terimakasih ya Mas udah kasih aku semangat! Udah ya ngantuk nih! π₯±π₯±
"Ya udah.... Tidur gih! Kalau sudah sampai kasih tau Mas ya Sayang! Bye....Bye....See you... I love you.... ππ"
"I love you too π₯°π₯°"
Tata senyum-senyum sendiri setelah berbalas chat di WA dengan Dave. Begitu juga dengan Dave yang menciumi ponselnya bertubi-tubi setelah mendapat balasan emoticon cinta dari Tata.
Tata langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya dan menyandarkan diri sambil memejamkan matanya yang memang sudah sangat mengantuk.
Dave masih guling-guling di tempat tidurnya sambil menatap ponselnya melihat isi chat ia dengan Tata sambil senyum-senyum sendiri.
"Bos, ini file hasil meeting tadi! Silahkan di cek! " ucap Arkan yang baru datang ke kamar Dave setelah ia mengetuk pintu.
"Kamu taruh aja di atas meja! Nanti saya lihat! Saya lagi sibuk! " jawab Dave tanpa melihat ke arah Arkan.
Arkan mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Dave yang membuatnya semakin tidak mengerti dengan kelakuan Bos nya sekarang ini. Ia berjalan mendekati Dave dan menyentuh kening Dave dengan santainya.
"Gak panas! " ucap Arkan dengan heran.
"Kau ngapain sih! Gaje banget! " ucap Dave menepis tangan Arkan.
"Bos yang gaje! Lihat ponsel senyum-senyum aja kayak wong edan! " jawab Arkan dengan gamblang.
"Kau yang edan! Suka-suka aku lah! Ngiri ya?? " ucap Dave sambil meledek Arkan.
"Dasar semprul! " teriak Dave dengan melempar punggung Arkan dengan bantal.
Arkan melenggang dengan santai keluar dari kamar Dave sambil tersenyum miring karena berhasil menjahili Bos sekalian sahabatnya itu.
"Dasar asisten laknat! Untung sahabat! Kalau gak, udah aku sunat sampai habis tuh anak! " ucap Dave mendumel kesal setelah Arkan pergi dari kamar nya.
πΏπΏπΏ
Sekar pulang ke rumah nya setelah pergi selama dua hari bersama teman-teman nya bersenang-senang dengan daun muda.
Tapi Gilang tidak pulang karena ia sudah mengirim pesan kepada Sekar jika ia akan pulang besok pagi.
"Huft.... Untung aja Mas Gilang pulang besok! Bisa gawat kalau ia pulang aku juga belum pulang! Lain kali aku harus pastiin jika Mas Gilang pergi nya yang lama, biar gak kayak gini! Jadinya kan aku buru-buru pulang, mana belum puas lagi main-mainnya! "gumam Sekar pelan sambil menghempaskan bokongnya di atas sofa ruang keluarga.
Ia memejamkan matanya sejenak setelah melemparkan tas nya ke sofa dekat ia duduk.
"Kenapa rumah sepi sekali ya? Jam 10 gini biasanya kan Ajeng baru mau pergi ke Mall ataupun kemana saja bersama teman-teman nya? Tapi Kenapa hari ini tampak sepi? " ucap Sekar dengan membuka matanya dan melihat suasana rumah nya yang sepi seperti kuburan.
Ia kemudian berdiri dan berteriak-teriak sambil berjalan memanggil para pelayannya.
"Bibik.... Bibik....!!! Kemana sih semua orang?? Inah.... Inah.... Bibik... !! " teriak Sekar dengan nada jengkel.
"Iya Nyah, " terdengar teriakan dari arah belakang rumah.
Seorang art paruh baya dengan setengah berlari ke depan menemui majikannya dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
"Kemana saja sih Bibik! Di panggil-panggil lama banget jawabnya! Dimana Ajeng? Mengapa rumah sepi sekali! " bentak Sekar dengan tangan melipat di dada.
"Maaf Nyah, saya lagi jemur pakaian di belakang! " jawab Bibik dengan takut-takut.
"Loh, emangnya si Inah kemana? Kenapa Bibik yang jemur pakaian? Itukan bukan tugas Bibik! Tugas Bibik itu di dapur menyiapkan makan saya, Mas Gilang dan juga Ajeng! Bukan yang lainnya! " cerca Sekar dengan wajah kesal.
"Maaf Nyah, Inah lagi sakit! Kemarin ia terkena lemparan vas bunga dari Non Ajeng! Pelipis nya mengalami tiga jahitan dan sekarang Inah lagi istirahat di kamarnya karena semalam ia demam! " jawab Bibik dengan jujur.
"Apa??? Kenapa Ajeng bisa melemparkan vas kepada Inah? Sekarang Ajeng nya mana! " ucap Sekar kaget dan malah menanyakan keberadaan Ajeng.
"Non Ajeng masih di kamarnya Nyah! Dari semalam tidak mau keluar kamar setelah kami membersihkan kamar Non Ajeng yang hancur berantakan! " jawab Bibik dengan wajah masih menunduk.
"Ya sudah, saya mau ke kamar Ajeng dulu! Buatkan saya juice mangga seperti biasanya! " ucap Sekar lagi sambil berjalan menuju tangga ke lantai atas.
Bibik langsung ke dapur setelah Sekar naik ke lantai atas ke kamar putrinya. Sekar ngoceh-ngoceh sambil berjalan ke kamar Ajeng.
"Kenapa lagi sih itu anak? Makin lama semakin bikin kepala pusing aja! Baru di tinggal dua hari saja, sudah membuat ulah! " keluh Sekar ngoceh-ngoceh kesal kepada anaknya sendiri.
"Ajeng.... Ajeng.... Kamu di dalam nak? Ajeng.... Ini Mama, Ajeng! Buka pintu nya! " teriak Sekar memanggil Ajeng sembari mengetuk pintu kamar Ajeng.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Ajeng membuat Sekar mengernyitkan keningnya dengan heran. Ia memanggil lagi anaknya dengan suara lebih keras lagi, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari Ajeng.
"Ya ampung Ajeng! Cepetan buka pintunya! Kalau gak kamu buka Mama dobrak nih pintu kamar kamu! " teriak Sekar lagi dengan mengancam Ajeng dengan mendobrak pintu kamarnya.
Lagi-lagi hanya hening jawaban dari kamar Ajeng yang membuat Sekar geram dan ia berteriak memanggil pelayan nya yang laki-laki.
"Kusno.... Parmin... !! Kusno... !! Parmin... !! " pekik Sekar dari atas dekat tangga.
Terdengar suara langkah kaki yang kencang dari lantai bawah menuju ke lantai atas.
"Iya Nyah!! Ada apa Nyah... " jawab Kusno dan Parmin dengan datang tergopoh-gopoh.
"Lama banget sih datang nya??? Cepetan kalian dobrak pintu ini! " bentak Sekar dengan ketus kepada pelayannya tersebut.
"Maaf Nyah! Iya Nyah, " jawab mereka serempak dengan mengangguk patuh.
"Maaf, maaf, maaf aja dari tadi! " ketus Sekar lagi dengan wajah kesal.
Kusno dan Parmin berusaha mendobrak pintu kamar Ajeng dengan sangat keras. Sekali, dua kali dan yang ketiga kalinya barulah pintu tersebut berhasil mereka dobrak dan terbuka.
Mereka membiarkan Sekar masuk sendiri karena takut Ajeng marah jika mereka juga ikut masuk ke kamar itu.
Sekar berteriak memanggil Ajeng dan mengernyitkan keningnya dengan heran ketika melihat kamar Ajeng kosong.
Sekar mendadak khawatir karena Ajeng tidak ada dalam kamar nya. Ia pun berinisiatif berjalan ke kamar mandi dan ketika ia membuka pintu kamar mandi, ia menjerit dengan kencang histeris melihat Ajeng tergeletak di dalam bathup dengan mata tertutup dan pergelangan tangan penuh dengan darah.
"Ajeng??????? Tolong?????? Tolong?????? Ajeng???? " pekik Sekar histeris seraya meminta pertolongan.
Bersambung.....
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya...
Maaf baru Up karena gak sempat untuk menulis dan pegang HP karena si sulung sakit dan baru saja sembuh...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...
__ADS_1