
Ketika Tata dan teman-temannya memasuki mobil, sepasang mata menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
"Itu, beneran Tata kan? Kenapa ia bisa naik mobil mewah? Mana gayanya juga elegan lagi, kayak orang-orang kaya? Kayaknya itu beneran Tata, gak mungkin ada orang lain yang sama persis wajahnya dengan Tata. Mudah-mudahan Tata gak liat aku yang berdiri di sini, aku malu kalau bertemu dengannya. Selama ini aku ikut-ikutan mendukung perbuatan Dika karena bujukan Mama. Tapi sekarang nasip ku sama persis dengan Tata yang di selingkuhin pasangannya. Masih untung Tata gak punya anak seperti aku, kalau tidak aku akan merasa bersalah seumur hidupku. " gumam Kadir dengan lirih dan tatapan sendu.
Yah, Kadir lah yang tadi memperhatikan Tata dan teman-temannya dari kejauhan. Saat itu ia baru saja mengantar langganan ojeknya ke kawasan tersebut. Ia sekilas melihat Tata, namun karena takut salah lihat, ia mengamati Tata dari jarak tidak terlalu jauh agar ia bisa memastikan jika itu benar-benar Tata.
Setelah memastikan tentang penglihatannya, Kadir kembali lagi ke pangkalan tempat ia mencari nafkah untuk ia dan anak-anak nya.
Keesokan harinya, Tata sudah bersiap-siap untuk berangkat ke restoran bersama Sandra dan Tegar. Susan sedang ada sidang di pengadilan, jadi ia hanya mengucapkan semoga berhasil di WA.
Sedangkan Dika sudah pergi ke restoran pagi-pagi sekali, karena ia berencana akan melihat perumahan yang akan ia beli, meskipun dengan cara kredit.
Ia lagi menghitung uang yang akan ia berikan sebagai DP atau uang muka untuk membeli perumahan tersebut.
"Akhirnya, sebentar lagi aku akan punya rumah sendiri. Walaupun dengan cara mencicil, aku tidak masalah. Yang penting rumah itu menjadi milik ku dan tidak akan ada yang bisa mengusir ku lagi dari rumah tersebut. " ucap Dika tersenyum bahagia.
Ia memasukkan uang tersebut ke dalam amplop coklat yang sudah ia persiapkan. Ia hanya menunggu waktu saja untuk pergi ke agen pemasaran perumahan tersebut.
Di sebuah cafe, Tata dan Sandra menunggu pihak kepolisian yang bergerak memproses laporan yang Tata buat kemarin. Baru beberapa menit menunggu, ponsel Tata sudah di hubungi pihak kepolisian karena mereka sudah bergerak untuk menangkap pelaku pencurian dan pemalsuan data di restoran yang sekarang ini di klaim Dika.
"Gimana Tet? Apa kata Pak polisi itu? " tanya Sandra penasaran.
"Mereka sudah bergerak, sekarang giliran kita yang bergerak ke sana! " jawab Tata sembari merapikan pakaian nya.
"Mantap kali itu! Sudah gak sabar aku lihat wajahnya itu ketika di tangkap polisi, " seringai Sandra di sudut bibirnya.
"Ayo Gar! Kita berangkat sekarang! " ajak Sandra dengan penuh semangat.
Tata hanya geleng-geleng kepala melihat Sandra yang sangat antusias melihat polisi menangkap Dika. Mereka pun segera berangkat agar tidak keduluan pihak kepolisian.
__ADS_1
"Tok.. Tok.. Pak Dika! Pak Dika! " teriak seseorang di balik pintu dengan mengetuk daun pintu dengan kencang.
"Ada apa? " jawab Dika kesal ketika membuka pintu.
"Anu Pak, itu.. Anu Pak.. I-itu... " ucap nya dengan gugup dan tangan berkeringat.
"Anu apa Lia? Anu apa? Ngomong dong yang benar? Bikin kesal aja! " hardik Dika dengan keras.
"Anu Pak, itu ada polisi datang! Katanya mau ketemu Pak Dika! " ucap Rosalia dengan wajah ketakutan.
"Apa?? Polisi?? " sahut Dika dengan heran.
"Iya Pak, polisi! Mereka ada di depan, dan... " ucapan Rosalia terputus karena polisi yang di maksud sudah menyapa Dika.
"Permisi! Apa benar anda saudara Dika? " tanya polisi tersebut dengan tegas.
"Iya Pak, saya Dika! Ada apa ya Bapak-bapak sekalian ? " jawab Dika dengan bingung.
"Apa? Atas dasar apa Bapak mau menangkap saya? Memangnya saya salah apa? Jangan ngawur deh Pak! " jawab Dika kaget dan langsung emosi.
"Barani sekali anda meragukan surat perintah penangkapan ini! " bentak salah satu polisi dengan wajah marah.
Dika langsung menciut mendengar bentakan polisi tersebut dan ia masih berpikir siapa yang sudah berani melaporkannya ke polisi.
"Bripka Doni dan Briptu Restu! Silahkan bawa saudara Dika ke kantor! " perintah salah satu polisi yang menjadi atasan dua polisi tersebut.
"Hei! Apa apaan kalian ini! Lepaskan! Lepas! Saya tidak bersalah! Lepasin " teriak Dika berontak ketika tangannya langsung di borgol Bripka Doni tanpa aba-aba.
"Jangan bergerak! Ayo jalan! Lebih baik anda diam sebelum kami melakukan hal yang lebih menyakiti anda lagi! " hardik atasan kedua polisi yang mengiring Dika keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Begitu Dika keluar dari ruangan tersebut, para karyawan dan pengunjung tanpa berbisik-bisik melihat Dika yang di giring dan di borgol tangannya keluar dari restoran.
Begitu sampai di luar, Dika terkejut melihat Tata dan Sandra berdiri dengan santai di dekat mobil patroli dengan tersenyum mengejek.
"Gimana rasanya? Udah kapok belum? Malu gak di lihat orang banyak?Atau masih kesal di tangkap di hadapan semua orang? Ckck... Kasihan? " ucap Sandra dengan nada mengejek.
"Bontot, orang macam ini gak bakalan kapok dia! Yang ada dia tambah menjadi-jadi. Sudah di kasih hati masih minta jantung! Serakah kali kau jadi orang! Pencuri seperti mu tidak pantas masuk kantor polisi, tapi pantas nya tanganmu itu di potong biar tidak mencuri milik orang lagi! " sahut Tata dengan seringai nya.
"Kurang ajar! Dasar istri durhaka kau! "pekik Dika marah sambil meronta-ronta.
"Ha... Ha... Ha... Kalau aku istri durhaka, kau juga suami durhaka dong? Tidak pernah menafkahi istrinya, selingkuh dengan perempuan lain di rumah milik istrinya dan bahkan mencuri sertifikat milik istrinya! " ucap Tata dengan tertawa mengejek.
Wajah Dika langsung pucat mendengar apa yang di ucap kan Tata. Bisik-bisik pengunjung restoran mulai terdengar menghakimi dan menghina Dika yang tidak tahu di untung.
"*Dasar suami tidak tahu di untung! Kalau aku yang jadi istrinya, sudah aku potong kecil-kecil senjata nya itu! Dan ku kasih untuk lauk makan bleki anjing tetangga depan! "
"Huh! Suami parasit seperti itu, buang ke laut aja! Biar di makan ikan paus sekalian! "
"Suami durjana! Sampah ya seperti itu! Kasihan sekali yang jadi istrinya! Makan ati! "
"Bawa saja Pak polisi! Suami minim akhlak kayak gitu jangan di kasih ampun! Hajar saja sampai mampus*! "
Begitulah bisikan orang-orang penuh dengan hujatan kepada Dika. Karena tidak ingin ada kejadian main hakim sendiri, polisi langsung memasukkan Dika ke dalam mobil patroli.
"Satu sudah selesai! Tinggal satu lagi yang belum kita eksekusi Tet! Mertua lampir mu itu! " ucap Sandra dengan seringai liciknya itu.
"Kau benar Tot! Tidak lama lagi perempuan tua itu pasti akan datang ke sini menemui kita begitu tahu anaknya masuk kantor polisi! " jawab Tata dengan seringai yang menakutkan.
Bersambung..
__ADS_1
Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semuanya..