Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh

Pembalasan Istri Yang Di Anggap Bodoh
80. Nana syok


__ADS_3

Dave tersenyum geli melihat wajah Tata bersemu merah karena malu dari arah samping.


Tanpa banyak bicara, Dave berjalan ke arah Tata dan meraih jemari tangan Tata kemudian menggenggam nya dengan erat tanpa melihat kanan kiri. Ia pun membawa Tata pergi tanpa memperdulikan wajah Tata yang malu.


Entah kenapa Tata diam saja ketika Dave menautkan jari mereka hingga mereka berpegangan erat seperti truk gandeng.


Tata hanya manut saja ketika Dave membawa nya ke dalam restoran yang ada di Mall ini.


Dave memesan makanan tanpa melepaskan tautan tangan mereka.


Para pengunjung dan karyawan restoran senyum-senyum melihat kemesraan mereka berdua yang mana membuat Tata sedikit risih.


Tata berusaha melepaskan tautan jemari mereka, namun tidak membuahkan hasil. Pegangan tangan Dave sangat kuat dan erat tapi tidak membuat tangannya sakit ataupun panas.


"Ayo sayang, dimakan dulu makanannya! " ucap Dave ketika pramusaji selesai menyajikan pesanan mereka.


"Gimana aku mau makan kalau tangan aku di pegangin terus kayak gini! " jawab Tata dengan ketus.


"He... He... He.... Maaf! Ayo makan, biar cepat besar! " ucap Dave dengan cengengesan.


"Dikiranya aku anak kecil apa, makan biar cepat besar! " omel Tata dengan kesal.


"Loh, kan emang kecil! Tinggi kamu aja cuma sampai dada aku! Gimana gak kecil itu? "jawab Dave dengan santai.


"Itu bukan aku nya yang kecil, badan mu aja yang kayak raksasa! " sahut Tata dengan ketus.


Dave tergelak kencang mendengar ucapan Tata yang mengatakan dirinya raksasa. Apa yang di katakan Dave memang benar, setinggi apapun Tata jika bersama Dave ia masih terlihat kecil dan mungil.


Tata memakan makanan nya dengan hati yang dongkol dan dia tidak menghiraukan Dave yang menatapnya dengan penuh cinta.


Sebenarnya Tata grogi di tatap seperti itu oleh Dave, namun ia menutupinya dengan berpura-pura acuh dan cuek.


🌿🌿🌿


Kadir sudah menelpon Nana untuk mengajaknya bertemu dengan dirinya dan Anika. Mereka janjian bertemu di taman jam sepuluh pagi. Karena itu hari minggu, Nana menyanggupi nya.


Tepat pukul 10, Kadir, Anika dan anak-anak sudah menunggu Nana di taman sambil menemani anak-anak bermain di area permainan anak-anak.


"Abang, Nika! " teriak Nana dari jauh sambil melambaikan tangan.


Kadir dan Anika membalas melambaikan tangan nya ke arah Nana yang sedang memarkirkan motor matic nya.


"Aduh, Nana senang banget waktu abang telpon Nana, soalnya waktu itu Nana lupa minta nomor telpon Abang karena buru-buru! " cerocos Nana sambil menyalami Kadir dan cipika-cipiki dengan Anika.


Setelah cipika-cipiki, Nana duduk di bangku samping Anika. Tidak lama kemudian, Kayla datang dengan menggandeng tangan Kana menghampiri mereka.


"Loh, anak-anak? Kok kalian ada di sini? " ucap Nana dengan wajah terkejut.


"Kamu udah kenal Na, dengan anak-anak Abang? "tanya Kadir dengan heran.


"Ja-jadi Ila dan Ana ini anaknya Abang? " tanya Nana balik dengan rasa tidak percaya.


Kadir menganggukkan kepalanya yang mana membuat Nana langsung tepok jidat.


"Ila dan Ana waktu itu main di rumah yang Nana tempati dengan Kak Sandra! Ya ampun, pantasan waktu aku lihat mereka seperti tidak asing lagi. Rupanya mereka anak-anak Abang. Tapi kenapa bisa bersama Kak Sandra? " ucap Nana sambil bertanya kembali.


"Kakak kenal juga dengan kak Sandra? " tanya Anika dengan wajah kepo.


"Jelas aja kenal, orang kita tinggal satu rumah! " jawab Nana dengan berbagai pertanyaan dan rencana di kepala nya.


"Benarkah?? " tanya Anika dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Astaga, kalau gak salah Kak Sandra bilang kalau ayah nya anak-anak itu duda! Yang benar itu Bang? Kok bisa? " pekik Nana penasaran.


"Itu memang benar, Na! Abang dan Mama nya anak-anak sudah berpisah. Sekarang ini Abang akan memasukkan gugatan ke pengadilan. " jawab Kadir membenarkan ucapan Nana.


"Kok bisa sih Bang? Gimana ceritanya? " tanya Nana dengan heran.


Kadir pun menceritakan tentang rumah tangganya yang hancur dan membuat ia memutuskan untuk merawat anak-anak nya seorang diri hingga saat ini.


Tidak hanya Kadir, Anika juga menceritakan kenapa di rumah sakit ia tidak bersama Riko suaminya.


Nana menangis sedih mendengar cerita Kadir dan Anika yang juga mengatakan kalau Mama mereka saat ini di tahan di kantor polisi karena bertindak kriminal dengan mencoba menculik Ibunya Tata.


"Ya Allah, Nana gak tahu kalau Mama dalam penjara. Begitu juga dengan Kak Dika. Nana malu mau bertemu dengan Kak Tata, Bang! Apalagi saat ini ayah sudah mulai membaik karena jasa Kak Tata. " ucap Nana dengan menangis kesegukan.


"Apa maksud perkataan mu, Na? " tanya Kadir bingung.


Nana pun akhirnya menceritakan di mana dia dan ayah tinggal selama ini kepada Kadir dan Anika. Ia juga menceritakan tentang pengobatan yang di jalani ayahnya sehingga bisa berbicara walaupun putus-putus dan sudah bisa menggerakkan tangan dan kaki nya.


"Subhanallah... Abang jadi malu kalau ketemu Tata! Seandainya dulu abang mencegah Dika melakukan hal yang bodoh seperti itu, mungkin saat ini mereka sedang berbahagia dengan keluarga kecil mereka. Rasanya Abang tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan Tata! " ucap Kadir dengan linangan air mata.


"Iya, Bang! Aku juga malu bertemu dengan Kak Tata! Aku udah ikut-ikutan Mama mendukung Kak Dika! " sahut Anika dengan menangis kesegukan.


Mereka bertiga menangis sambil berpelukan dengan Kayla dan Kana yang menatap mereka bertiga dengan wajah bingung.


"Jadi, sekarang ayah Jamal di Bandung? " tanya Kadir sekali lagi.


"Iya Bang, bersama Ibunya Kak Tata dan beberapa orang lain nya yang membantu mengurus Ibunya Kak Tata dan ayah kita.. " jawab Nana sambil menghapus air matanya.


"Tante cantik kenapa nangis? Papa sama Tante Ika juga kenapa nangis? Ada yang jahatin Papa sama Tante ya? Kenapa gak bilang sama Ila, biar nanti Ila pukul pakai sandal Ila kalau jahat-jahat! " ucap Kayla dengan mengangkat sandalnya tinggi-tinggi.


"Papa sama Tante gak papa sayang! Oya, ini Tante Nana adiknya Papa selain Tante Ika! Ayo salam, Nak! " jawab Kadir sambil memperkenalkan Nana dengan Kayla dan Kana.


"Ila kenal kok dengan Tante cantik, Ila pernah makan di rumah Tante cantik sama Tante cantik yang satu nya lagi, juga sama Mama, Pa! " sahut Kayla dengan wajah polosnya.


Nana menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Kayla. Ia lalu meraih Kana yang merengek ingin duduk di pangkuannya sambil menjawab pertanyaan Kayla tentang Mama Sandra.


"Ayo kita pulang! Sekalian Abang akan mengantar Anika pulang ke rumah kontrakannya dengan Riko! " ajak Kadir sambil berdiri dan menggendong Kana.


"Ayo Bang! Ila sama Tante Nana ya ? Kita naik motor nya berdua aja, Ila mau gak? " tanya Nana kepada Kayla.


"Mau, mau, mau!! Ila mau naik motor dengan Tante Nana! " pekik Kayla kegirangan.


Mereka pun pergi ke rumah kontrakan Anika dengan menggunakan dua motor karena Nana juga ingin ikut mengantar Anika pulang ke rumah suaminya.


Sesampainya di sana, Anika yang belum turun dari motor langsung di sambut Riko yang kebetulan sedang membuka pintu dengan isakan tangis.


Riko bahkan menggendong Anika agar turun dari motor dan menciumi wajah Anika bertubi-tubi sambil menangis bahagia.


Bi Sur yang mendengar kehebohan langsung ke luar rumah untuk melihat apa yang terjadi, ia menangis haru melihat Anika akhirnya kembali lagi ke rumah ini dalam keadaan sehat walafiat.


Nana menangis haru melihat pertemuan suami istri yang terpisah karena kesalahan orang lain.


Tapi semua itu tidak berlangsung lama, karena Kadir mendapat panggilan di ponselnya yang langsung membuat ekspresi wajah nya menjadi panik dan bingung.


"Kenapa Bang? Ada berita apa? Kenapa wajah Abang seperti itu setelah menerima panggilan? " tanya Nana dengan beruntun.


Mendengar suara Nana yang menanyakan ada hal apa kepada Kadir, membuat Anika dan Riko menyudahi acara temu kangen mereka dan berjalan mendekati Kadir dan Nana.


"Ada apa Bang? " tanya Anika penasaran.


"Barusan pihak kepolisian menelpon, katanya Mama lagi di rumah sakit. Katanya Mama habis berkelahi dengan sesama narapidana, dan teman berkelahi Mama di larikan di rumah sakit karena mengalami patah tulang. Dan Mama juga di larikan ke rumah sakit karena mengamuk dan membuatnya kalap hingga penjaga mau tidak mau melumpuhkan Mama dengan timah panas di kakinya. " jawab Kadir dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal adzim, Mama! " ucap Nana, Anika dan Riko berbarengan.


"Abang mau ke rumah sakit tempat Mama di rawat, Kalian mau ikut apa tidak? " tanya Kadir kepada Nana dan Anika.


"Aku mau ikut, Bang! " jawab Nana dan Anika berbarengan.


"Aku juga ikut kamu, sayang! " sahut Riko ikut berpendapat.


"Kalau begitu, abang titip anak-anak dengan Bi Sur saja, gimana? " tanya Kadir kepada Riko.


"Ide bagus, Bang! Bi, Bibi! Sini sebentar! " jawab Riko sambil memanggil Bi Sur.


Bi Sur datang mendekati mereka, Riko pun meminta kesediaan Bi Sur untuk menjaga Kayla dan Kana ketika mereka pergi ke rumah sakit. Bi Sur menyanggupi nya dengan tersenyum senang karena pada dasarnya Bi Sur sangat menyukai anak-anak, apalagi anak yang penurut seperti Kayla dan Kana.


Mereka semua pergi ke rumah sakit tempat Nyonya Retno di rawat menggunakan kendaraan masing-masing.


Sesampainya di sana, ternyata Tata sudah ada di sana bersama dengan Dave yang juga ikut bersama Tata.


"Tata/Kak Tata... " ucap Kadir, Nana dan Anika berbarengan.


Tata hanya tersenyum manis membalas sapaan Kadir dan adik-adik nya.


"Aku tidak tahu kalau pihak kepolisian menghubungi kalian, jadi aku ke sini setelah mereka menghubungi aku. " ucap Tata ketika berjalan bersama memasuki ruang tempat Nyonya Retno di rawat.


"Maaf ya, Ta! Sudah ngerepotin... " jawab Kadir sedikit sungkan.


"Gak papa kok Bang, santai aja! " ucap Tata dengan cueknya.


"Maaf, yang tidak berkepentingan di larang masuk! " kata polisi yang menjaga kamar rawat Nyonya Retno.


"Tapi Pak, kami ini anak-anak nya narapidana yang ada dalam ruangan ini! " jawab Nana keberatan.


"Baiklah kalau begitu! Kalian saya izinkan menemui nya dalam waktu 10 menit. " jawab nya lagi memberikan izin.


Kadir dan adik-adik nya memasuki ruangan Nyonya Retno, namun begitu sampai di dalam mereka di usir Nyonya Retno keluar.


"Mau apa kalian datang ke sini! Mau menertawakan aku? Iya? " ucap nya dengan sinis.


"Astaghfirullah hal adzim Mama! Kami datang karena ingin menjenguk Mama, kami sedih melihat Mama seperti ini! " jawab Nana dengan geleng-geleng kepala.


"Gak usah sok peduli kamu! Aku tidak butuh simpati kalian semua! Kalau kalian kasihan dengan ku, kalian pasti sudah mengeluarkan aku dari tempat terkutuk ini! " jawab nya lagi dengan ketus.


"Ya ampun Mama! Anika pikir Mama akan introspeksi diri atas semua kesalahan Mama, tapi nyata nya Mama tidak berubah sama sekali. Tetap saja angkuh, sombong dan tidak menghargai orang lain. " Ucap Anika dengan wajah kecewa.


"Tidak usah banyak omong! Silahkan kalian pergi dari sini! Keluar kalian dari ruangan ini! " teriak Nyonya Retno dengan kencang.


"Istighfar Ma, istighfar... " ucap Nana mengingatkan Nyonya Retno.


"Jangan panggil aku Mama, karena aku bukan Mama mu! Dan tutup mulut manis mu itu, aku tidak butuh ceramah dari anak bau kencur seperti mu! " hardik Nyonya Retno dengan kencang.


Bagai di sambar petir di siang bolong, Nana syok ketika orang yang selama ini ia panggil Mama mengatakan ia bukan Mama nya.


Tanpa di sadari buliran air mata terjun di pipi mulus Nana karena perkataan Nyonya Retno yang sukses membuat hatinya sakit.


"A-apa ma-maksud perkataan Mama? A-apa benar aku bukan anak Mama? " ucap Nana terbata-bata sambil menangis menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Aku rasa kau tidak tuli! " jawab Nyonya Retno ketus tanpa tersentuh sedikitpun dengan tangisan Nana.


Bersambung...


Selamat membaca dan selamat beraktivitas readers semua nya..

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ’•πŸ˜...


__ADS_2