
Setelah selesai Sholat Asar, eyang kakung dan eyang putri memanggil anak dan menantunya untuk berkumpul di ruang keluarga bersama-sama karena ada hal penting yang akan mereka bicarakan.
Satu persatu anak dan menantunya datang dan duduk bersama mereka di ruang keluarga termasuk Mami Sita dan Papi Dayton.
Setelah semuanya berkumpul, Raden Wijaya Nata Kusuma mengatakan maksud ia mengumpulkan anak dan menantunya itu.
"Bapak sengaja datang ke Jakarta karena ada hal penting yang Bapak omongin kepada kalian semua, terutama kepada kamu Nduk! " ucap Eyang kakung menunjuk Mami Sita.
"Kok Ayu Pak? Emangnya ada hal penting apa menyangkut Ayu? " tanya Mami Sita dengan heran.
"Apa benar Davin sudah melamar seseorang untuk di jadikan istrinya? " tanya Eyang kakung lagi.
"Dari mana Bapak tau? Iku memang benar Pak! Beberapa minggu yang lalu Ayu dan keluarga pergi ke Bandung melamar Tata untuk Dave pada ibunya secara pribadi. Ayu ingin mengatakan semuanya nanti sama keluarga besar setelah Tata menjawab lamaran Dave. Karena Tata meminta waktu untuk shalat Istikharah, jadi Ayu urung mengatakan semua itu sama keluarga besar kita! " jawab Mami Sita dengan jujur.
"Tata yang waktu itu koe kenalin sama Kang Mas dan Mbak itu yo Yu? Yang datang waktu acara ulang tahun Abeth? " tanya Bude Galuh membenarkan dugaannya.
"Iyo Mbak yu! Iku memang anak e! " jawab Mami Sita mengangguk.
"Kalau itu Kakang setuju Yu! " celutuk Pakde Toto ikut menimpali.
"Mbak setuju juga loh Yu! Anak e cakep, santun, ramah lagi! " Bude Galuh ikut setuju sambil memuji Tata.
"Bapak jadi penasaran koyo ngono wong e ! " sahut Eyang kakung lagi.
"Jadi, sebelum Bapak datang kesini, Bapak di telpon sama Batari yang marah-marah dan memaksa Bapak untuk menikahkan Cucu nya dengan Davin! Kalian tahu sendiri bagaimana mulut Pak lek Batari jika bicara yang seenaknya saja tanpa memikirkan orang lain yang tersinggung apa tidak! Makanya Bapak dan Ibuk sengaja datang kesini mengumpulkan kalian semuanya untuk mengambil keputusan menghadapi orang yang keras kepala seperti Batari! Jujur saja, Bapak itu sudah gak tau lagi mau bagaimana lagi ngomong sama si Batari jika Bapak tidak mau menjodohkan anak dan cucu hanya karena gelar Ningrat atau bangsawan! Kalau saja Bapak bisa memilih, Bapak lebih baik jadi wong biasa wae yang hidup nya aman dan tentram meskipun hidup seadanya, dari pada menjadi pejabat atau bangsawan yang hidupnya selalu di rong-rong dengan aturan yang mengekang dan membuat hati nurani kita jadi hilang kepekaan nya karena sifat sombong mempunyai darah bangsawan! " ucap Eyang kakung lagi panjang lebar.
"Kalau pendapat Ditha, lebih baik gak usah lagi lah kita bicara panjang lebar dengan orang yang susah di bilangin kayak Pak lek Batari! Buang-buang waktu dan tenaga saja! Dari dulu ia sudah tahu bahwa dalam keluarga Kusuma tidak ada yang namanya perjodohan dengan sesama berdarah biru, kalau pun ada yang berjodoh sesama Ningrat itu murni karena sudah jodoh dari Tuhan, bukan karena perjodohan orang tua! Seharusnya Pak lek Batari itu sudah tahu jika keluarga Kusuma tidak satu pun mempunyai menantu dari kalangan Ningrat asli, tapi ya kok ngotot banget maksa buat jodohin cucunya dengan Davin! " sahut Bude Ditha dengan geram.
"Iya, Rini juga setuju dengan pendapat Mbak Ditha! Gak udah kita perduli lagi dengan desakan dan paksaan Pak lek Batari itu! Lagi pula cucu nya yang mana sih yang mau ia jodohkan dengan Davin? " ucap Bude Rini dengan bertanya lagi.
"Iku loh Rin, yang jenenge Ajeng! Anak e yang gak punya sopan santun karo wong tuo! Masuk rumah gak ngucapin salam, main nyelonong aja waktu ulang tahun nya Abeth! Bikin Mbak geram mau tak cubit ginjalnya itu! Wajahnya itu loh Rin, sombong banget ! Ih bikin Mbak geram kalau ingat kelakuannya waktu ulang tahun Abeth! " jawab Bude Galuh dengan wajah gemes pengen nimpuk.
"Dih, kalau anaknya koyo ngono, wes ora usah lah! Ibuk ora setuju kamu ambil dia jadi mantu! " celutuk Eyang Putri ikut bersuara.
"Yo Ayu moh Buk jadiin perempuan koyo ngono menantu Ayu! Meskipun semua perempuan di dunia ini hilang, dan tinggal si Ajeng doang yang ada, Ayu moh jadiin dia menantu Ayu! Lebih baik Dave gak nikah seumur hidup kalau punya istri si Ajeng itu! " jawab Mami Sita dengan ketus.
"Bagus loh Yu, Mbak setuju! " cetus Bude Ditha dengan memberikan jempol nya.
"Wes... Wes... Wes... Jadi gimana cara nya ngadapin orang seperti Pak lek Batari itu! " lerai Eyang kakung dengan melihat menantu-menantu nya.
__ADS_1
"Em... Kalau saran Vian sih Pak! Lebih baik kita jawab dengan tegas saja jika Pak lek Batari masih ngotot mau menjodohkan cucunya dengan Davin lagi! Bapak gak usah takut karena kami semua mendukung Bapak jika ia sampai mengancam akan berbicara dengan para tetua yang lain! Kita tidak akan tinggal diam jika ia dengan sengaja mengganggu kita! " ucap Pak de Vian suaminya Bude Ditha.
"Iya Pak, Hasan juga setuju dengan saran Mas Vian! Lagi pula Dave kan sudah punya calon sendiri yang pasti lebih unggul dari siapa tadi nama nya itu! " sahut Pak de Hasan sambil melihat ke arah istrinya.
"Ajeng iku jenenge Mas! " jawab Bude Rini kepada suaminya.
"Ya, itu dia! Pokoknya jika ia menghubungi Bapak lagi, Bapak langsung bilang sama kita semua! Biar kita yang menghubungi nya lagi dan menjawab dengan tegas jika kita menolak perjodohan tersebut tanpa merasa gak enakan atau sebagai nya! " sahut Pak de Hasan kembali.
"Iyo Pak, Toto juga setuju dengan pendapat ne Vian dan Hasan! Kalau perlu Bapak bilang untuk bicara langsung dengan Toto kalau Pak lek Batari menelpon Bapak lagi! " ucap Pak de Toto ikut bicara.
"Yo wes kalau gitu! Sekarang ini kembali tentang lamaran Davin! Kapan calon nya Davin menjawab lamaran nya itu? " tanya Eyang kakung sambil menatap Mami Sita.
"Kalau gak ada halangan sih minggu iki Pak! Soale anaknya lagi pergi ke Medan mengurus usaha yang di sana sebentar karena ada sedikit masalah! " jawab Mami Sita.
"Ish, kelewatan banget calon makmum! Masa pergi ke Medan bilang nya sama Mami! Gak bilang langsung sama calon suami! " gerutu Dave dalam hati dengan wajah cemberut mendengar jawaban sang Mami.
Dave mengintip rapat tersebut di balik lemari ketika ia bosan di ruang kerja. Ia begitu bahagia sekali ketika para Bude nya menyetujui ia menikah dengan Tata. Hanya saja ia kesal karena Tata pergi ke medan bukan pamit padanya tetapi pada Mami nya.
"Kalau gitu, jika nanti calonnya Davin menerima lamaran Davin, kamu Nduk harus langsung kasih tau Bapak dan Ibuk! Biar kita bisa mempersiapkan acara lamaran Davin secara resmi dan membuat semua orang tahu jika Davin sudah mempunyai calon istri lagi! Mudah-mudahan nanti cucu nya Batari tidak mengganggu Davin lagi jika ia tahu bahwa semua orang sudah tahu bahwa calonnya Davin itu bukan dia! " ucap Eyang kakung kepada Mami Sita.
"iya Pak! InsyaAllah begitu Tata ngasih jawabannya, Ayu akan memberitahukan Bapak dan Ibuk langsung! " jawab Mami Sita dengan mengangguk bahagia.
Mami Sita dengan semangat 45 menceritakan semuanya tentang Tata, kepribadian nya, kisah hidupnya yang sama-sama gagal seperti Davin, dan juga pekerjaannya, bahkan juga tentang pendidikan nya kepada ibu nya dan kakak-kakak nya.
Dave langsung pergi ke atas ketika Mami nya dengan antusias ngegibahin calon menantunya kepada pihak keluarga.
πΏπΏπΏ
Di Medan...
Tata semalaman berbicara banyak dengan Kania tentang semua kejadian yang menimpa nya itu. Ia langsung menghubungi pengacara yang di rekomendasi kan Susan padanya waktu itu. Mereka pun janjian akan bertemu di cafe Tata pas waktu makan siang.
"Kania, nanti siang kamu ikut saya untuk bertemu pengacara yang akan membela kau nanti menghadapi bajingan yang seperti itu! Kita beri mereka pelajaran yang gak bisa mereka bayangkan selama ini! Dan juga kita beri pelajaran kepada kedua orang tua mu yang bodoh dan tolol hanya karena di uang yang nilainya tidak seberapa itu! " ucap Tata dengan tegas kepada Kania ketika mereka sedang sarapan.
"Terimakasih banyak Nona! Saya benar-benar putus asa jika tidak ada Nona yang membantu saya! " jawab Kania dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah kewajiban saya untuk membantu semua karyawan saya yang di dzalimi oleh orang lain! Kamu juga harus segera berkemas karena kamu akan saya bawa ke Jakarta! Saya tidak ingin kamu di rong-rong lagi oleh keluarga tiri mu itu! Saya tidak mau kamu menjadi sapi perah untuk Bapak mu yang gobloknya gak ketulungan itu! " jawab Tata lagi dengan tegas.
"Baik Nona, tapi saya takut jika Bapak saya tahu saya pergi dan tidak mengirimkan ia uang lagi, Bapak saya akan datang kesini dan membuat keributan di sini! " jawab Kania dengan agak ragu.
__ADS_1
"Kamu gak perlu khawatir tentang itu, karena akan ada orang-orang saya yang akan menjaga loundry ini dan saya pastikan Bapak kamu tidak akan berani mengganggu kamu lagi! " jawab Tata lagi dengan santai.
"Terimakasih banyak Nona, kalau gitu saya permisi dulu mau berkemas sambil bersiap-siap! " pamit Kania undur diri kembali ke kamarnya.
Tata mengangguk dan mempersilahkan Kania pergi dari hadapan nya dan ia kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda karena mengobrol.
Tepat jam 9.30 Wib, Tata dan Kania pergi ke cafe milik Tata untuk bertemu dengan pengacara temannya Susan. Seorang pria duduk di sebuah kursi cafe sambil meminum kopi memainkan ponsel nya. Ia berdiri ketika melihat Tata datang mendekatinya bersama seorang perempuan muda yang ia tebak adalah korban.
"Selamat pagi menjelang siang Ibu Thalitha! " sapa pengacara tersebut sambil berdiri dan mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Tata.
"Selamat pagi menjelang siang juga Bang Ritonga! Panggil Tata aja Bang biar akrab, Berasa kayak inang-inang saya kalau di panggil Ibu sama Abang! " jawab Tata bercanda sambil berjabat tangan.
"Ha... Ha... Ha... Paten kali lah kau bercandanya! " ucap Bang Ritonga tertawa ringan.
"Ayo silahkan duduk! " ajaknya ramah kepada Tata dan Kania.
Tanpa basa basi, Tata langsung mengatakan permasalahan yang di hadapi Kania kepada Bang Ritonga. Ia juga memberikan bukti kuat berupa rekaman CCTV yang tidak di ketahui polisi karena CCTV tersebut sengaja di tempat kan di tempat rahasia, dan itu hanya Tata yang mengetahui nya. Tata sudah melihat rekaman CCTV itu secara keseluruhan dan ia benar-benar miris dan kasihan dengan apa yang menimpa Kania. Ia bertekad akan membuat pelaku dan pelindungnya membayar semua itu dengan mahal.
"Kau tenang saja! Kita sekarang punya bukti kuat untuk menjebloskan pelaku ke penjara dengan waktu yang lama! Yang penting sekarang ini, kau harus siap mental jika nanti pihak penyidik meminta keterangan dari kau ! " ucap Bang Ritonga kepada Kania.
"Terimakasih Pak, InsyaAllah saya kuat! Saya tidak rela jika laki-laki bajingan itu bebas berkeliaran dan bertindak seenaknya saja hanya karena saya orang miskin! " jawab Kania tegar dengan suara serak habis menangis.
"Kau tenang saja Nia, aku gak akan biarkan bajingan itu bisa bebas! Kita lihat saja nanti, berapa banyak mereka mengeluarkan uang untuk membebaskan anak mereka itu! Kita akan lihat juga, apakah mereka masih menghasut ayahmu yang bodoh itu apa tidak karena hal itu bisa kita jadikan senjata memberikan uang tutup mulut kepada keluarga korban! " ucap Tata memberikan Kania semangat.
"Terimakasih banyak Nona! Saya akan berjuang sampai saya di perlakukan adil! " jawab Kania dengan penuh keyakinan.
"Good.... Itu yang di perlukan! Semangat yang tinggi untuk menghukum bajingan seperti itu! Jangan merasa rendah diri hanya karena kekurangan mu, jadikan kekurangan mu itu sebagai motivasi untuk kembali memperjuangkan hak mu sebagai seorang wanita yang mempunyai martabat yang tinggi. Jangan putus asa, masa depanmu masih panjang, jangan takut dengan jodoh karena setiap manusia itu sudah di tentukan jodohnya oleh Tuhan. Sekarang fokus saja mendekatkan diri dengan Tuhan dan mencintai diri sendiri. " ucap Bang Ritonga memberikan api semangat untuk Kania.
"Siap Pak, saya akan selalu merekam nasihat Bapak di memori otak saya! " jawab Kania mantap.
"Bagus Kania, saya suka semangat kau! " uca Tata tersenyum bangga.
Bersambung...
Selamat membaca dan selamat beraktivitas kembali reader's semuanya setelah berakhir pekan...
Semoga hari kalian menyenangkan ππ...
Maaf baru bisa up karena dia hari yang lalu mempersiapkan acara 100 hari almarhum suami...
__ADS_1