
Sekar terbangun dari tidurnya karena ponselnya berdering nyaring tanpa henti. Ia mengucek matanya dan menguap lebar turun dari tempat tidur.
Ia melihat kasur tempat ia tidur dengan pandangan miris karena bagian sebelah kirinya masih rapi, yang artinya suaminya tidak pulang lagi ke rumah.
Ia pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia tidak sadar jika seisi rumahnya sudah heboh dan berisik. Semua pekerja yang di rumah nya sudah pada berisik membicarakan kebobrokan kedua majikan mereka dengan wajah mencemooh.
Tidak hanya itu, keluarga besar Sekar yaitu Keluarga Kusuma Batari shock dan sangat terpukul sekali melihat kelakuan anak dan menantu mereka yang sudah mencoreng nama besar dan nama baik mereka.
Kemuning dan Kinasih sangat shock melihat rekaman video kelakuan adik mereka Sekar dan Galang suaminya. Bersama ayahnya Batari mereka mendatangi rumah Sekar untuk meminta penjelasan atas arang yang ia torehkan di depan nama baik keluarga mereka.
Batari memasuki rumah anaknya dengan wajah merah padam. Wajah tuanya tampak begitu terpukul dengan kelakuan bejat anaknya.
"Sekar.... Sekar.... " teriaknya dengan kencang memanggil anaknya.
Ia berjalan memasuki rumah dengan langkah besar membuat tubuh tua nya agak kepayahan dan napas yang terengah-engah.
"Dimana majikan kalian! " tanyanya dengan berang pada pelayan yang bekerja di rumah tersebut.
"Ma-masih di kamar nya Tu-tuan besar! " jawab pelayan tersebut dengan wajah menunduk ketakutan.
Batari langsung naik ke atas menuju kamar Sekar, Kemuning dan Kinasih yang ketinggalan di belakang berlari mengejar ayahnya yang hendak mengamuk pada adik nya.
"Pak, Bapak... Tunggu Pak... ! " panggil Kemuning dengan napas ngos-ngosan.
"Sekar... ! Keluar kamu! Sekar.... ! " teriak Batari dengan menggedor gedor pintu kamar anaknya.
Sekar yang baru selesai dandan sehabis mandi dan berpakaian mengernyitkan keningnya mendengar suara Bapak nya memanggil nama nya dengan nada marah-marah.
"Kenapa Bapak ke sini? Tumben bener? Suara nya kayak marah-marah! Ada apa ya.. ??? " gumam nya seraya berpikir.
Ia pun berjalan menuju arah pintu dan membukanya. Baru saja hendak membuka mulut mau bertanya, sebuah tamparan melayang di kedua pipinya kiri kanan.
"Plak... ! "
"Plak... ! "
"Anak tidak tahu di untung! Puas kamu sudah mencoreng arang di wajah tua Bapak mu ini, hah.. ! Puas kamu Sekar! Kamu anak kesayangan Bapak, dan kamu pula yang mempermalukan Bapak! Puas kamu Sekar, puas.. !! " teriak Batari dengan wajah merah padam sambil memegang dadanya.
Wajah Sekar kaget mendapat tamparan tiba-tiba dari Bapak nya. Ia terdiam dengan memegang pipinya yang perih dan panas.
"Bapak... ! Ya Allah, Pak.. ! " seru Kemuning dan Kinasih dari belakang.
Mereka berdua memegang lengan Batari dengan wajah khawatir.
"Nyebut Pak, nyebut... ! Nanti darah tinggi Bapak kumat lagi! Nyebut Pak! " ucap Kemuning dengan mengusap punggung Bapak nya.
"Adik kamu itu yang membuat Bapak begini Ning.. ! Ya Tuhan... Apa salah ku sehingga anak kesayangan ku melakukan hal hina seperti ini! Hu.. Hu... Hu.. ! Hancur sudah nama baik Bapak, Ning! Hancur... ! Adikmu melempar kotoran ke wajah Bapak nya sendiri! Hu... Hu... Hu... ! " ucap Batari dengan menangis darah.
Sekar yang masih bingung hanya diam saja melihat Bapak nya menangis dengan memukul mukul lantai sambil meraung-raung memarahi Sekar.
Kinasih menatap kakaknya dengan pandangan kecewa dan masih tidak percaya jika kakaknya melakukan hal yang demikian.
"Apakah Mbak puas melakukan hal yang menjijikkan seperti itu?? Mbak puas sudah membuat Bapak menjadi seperti ini? Gara-gara perbuatan Mbak, Bapak tidak akan bisa lagi mengangkat wajahnya di depan semua orang! Inikah yang Mbak inginkan??? " ucap Kinasih dengan menangis dan sangat kecewa.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih Asih! Mbak gak ngerti! Kamu dan Bapak datang pagi-pagi gini dengan marah-marah! Maksud kamu apa sih?? Emangnya Mbak buat apa?? " sahut Sekar dengan kening berkerut.
"Mbak lihat saja sendiri apa yang Mbak perbuat! Ayo ikut aku! " ucap Kinasih ketus dan menarik tangan Sekar menuju ruang santai.
"Nyalakan televisi nya sekarang! Biarkan majikan kalian lihat apa yang sudah ia perbuat! " perintah Kinasih pada pelayan Sekar yang menundukkan kepala nya.
"Ba-baik Nyonya.. ! " jawab salah satu dari mereka patuh.
Ia pun menyalakan televisi dan terlihat rekaman atau lebih jelasnya siaran langsung yang memutar video tentang pesta Sekar bersama pria gigolo dan teman-teman sosialita nya di sebuah rumah.
Sekar sangat kaget dan terkejut melihat video nya beredar di televisi.
"Gak... Ini semua gak mungkin! Ini bohong! Semua ini bohong! Ini gak mungkin... ! Gak... !!! " pekik Sekar dengan histeris dan menutup kedua telinga nya.
"Mbak, orang bodoh pun tau jika itu adalah Mbak! Gak ada orang yang sama persis wajahnya Mbak! Apalagi gambar Mbak terlihat jelas di video ini! Aku gak nyangka Mbak bisa melakukan hal yang serendah itu! " sahut Kinasih dengan geleng-geleng kepala dan sangat kecewa.
"Itu semua bohong... ! Itu bukan aku.. ! Bukan aku.. ! " teriak Sekar histeris dan berlari mengambil vas bunga dan melemparnya ke arah televisi layar 43 inc.
"Pyaaar.... Prang.... ! " suara vas pecah dan air di dalamnya tergenang di lantai.
Karena televisinya masih menyala meskipun layarnya retak, ia berlari mencabut saklar yang tersambung di colokan listrik hingga televisi nya pun mati.
"Percuma Mbak matikan TV nya atau Mbak hancurin TV nya sekalian pun sudah gak ada gunanya! Semua orang di Jakarta sudah melihat video tersebut karena siaran itu di putar jam 7 tadi ! Jadi gak ada lagi gunanya Mbak melakukan semua itu karena Mbak sudah di lihat oleh semua orang! " ucap Kinasih dengan nada kecewa.
Sekar kemudian berlari mendekati Bapak nya dan bersimpuh di depan bapaknya dengan berurai air mata.
"Pak... Maafin Sekar, Pak.. ! Maafin Sekar udah bikin Bapak malu! Sekar benar-benar minta maaf! Hu... Hu... Hu... Maafin Sekar Pak.. ! Sekar benar-benar bersalah sama Bapak! Maafin Sekar... ! Hu... Hu.. Hu... ! " ucap Sekar dengan meraih tangan Bapak nya.
"Maaf Pak... Maaf... ! Sekar minta maaf... Hu.. Hu.. Hu.. ! " ucap nya lagi dengan raut wajah penyesalan.
Kemuning yang melihat keadaan Sekar ikut menangis, ia juga kecewa dengan perbuatan adiknya, tapi ia merasa jika Sekar punya alasan melakukan perbuatan bejat tersebut. Terlebih lagi mereka juga melihat perbuatan kriminal Galang di layar televisi yang membuatnya yakin jika sang adik melakukan semua ini karena sebagai pelampiasan saja.
Batari sudah mati rasa dengan permintaan maaf anaknya Sekar. Rasa malu dan kecewa yang ia rasakan membuat perasaan sayang nya sudah terkikis dengan perbuatan anaknya yang menyalahkan norma adat dan norma agama. Apalagi menantunya juga melakukan tindakan kriminal yang sangat mencengangkan, benar-benar sangat sulit di percaya.
Ajeng yang mendengar suara ribut-ribut keluar dari kamarnya. Ia mengintip saat melihat para pelayan berbisik-bisik dengan wajah sinis menonton televisi dengan menyebut-nyebut nama kedua orang tuanya.
Karena penasaran ia kembali ke kamar dan menyalakan televisi yang ada di dalam kamar nya. Saat televisi sudah menyala, ia langsung terduduk di lantai dengan remot televisi yang juga ikut jatuh ke lantai.
"Papa.... Mama.... I-ini semua nya bohong kan? Papa gak mungkin melakukan hal sejahat itu?? Dan Mama juga tidak mungkin berbuat yang menjijikkan seperti itu??? I-ini pasti bohong! " ucap Ajeng dengan tangan gemetaran.
Wajah nya shock dan pucat pasi seperti mayat hidup melihat kenyataan tentang orang tua kandungnya. Ia memeluk lutut nya dengan tangan gemetaran dan bibir yang selalu bergumam jika semua nya bohong.
Ia menangis histeris sambil berteriak-teriak dengan menjambak jambak rambutnya dan memukul mukul dadanya yang sesak. Sungguh ia sangat malu dengan kejahatan kedua orang tuanya dan terlebih lagi ia begitu jijik dengan kelakuan Mama nya yang bermain bersama laki-laki muda yang pantas menjadi anaknya itu dengan tanpa tahu malu.
Ia bangkit berdiri menuju meja riasnya dan prang.. pyaar... prang.... Semua barang pecah belah dan benda-benda yang ada di meja riasnya hancur berkeping-keping di lantai kamarnya.
Kinasih yang mendengar suara sesuatu yang pecah di dalam kamar Ajeng menjadi panik.
"Ajeng.... Ya Tuhan Ajeng... Mbak... Mbak Ning, Ajeng Mbak... ! " teriak Kinasih menuju kamar Ajeng sambil berteriak memanggil nama kakaknya.
Ia menggedor gedor kamar Ajeng seraya memanggil nama keponakan nya itu takut Ajeng melakukan hal yang berbahaya.
Sekar yang terkejut juga berlari ke kamar Ajeng, begitu juga dengan Kemuning dan Batari yang juga ke kamar Ajeng.
__ADS_1
Ajeng yang mengamuk di kamarnya tidak memperdulikan teriakan dan panggilan dari Mama dan Bulek nya serta Bude nya.
"Kau... ! Kenapa diam saja?? Ambil kunci cadangan nya sialan... ! " tunjuk Sekar memaki pelayannya yang hanya berdiri diam tidak membantu mereka.
"I-ya... Nyonya... ! " jawab pelayannya kaget dan berlari mengambil kunci cadangan.
Batari dan anak-anaknya terus memanggil Ajeng sambil menggedor pintu kamarnya agar Ajeng mau membukakan pintu.
"I-ini Nyonya ku-kuncinya.. ! " ucap pelayan Sekar memberikan kunci cadangan dengan tangan gemetaran.
Sekar mengambilnya dengan kasar seraya mendengus kesal dan langsung membuka pintu kamar Ajeng. Begitu pintu terbuka mereka mendapat sambutan lemparan kosmetik dari Ajeng hingga mengenai pelipis Kemuning dan sedikit mengeluarkan darah.
"Ya Allah Mbak.... Kepala mu berdarah.. ! " pekik Kinasih panik melihat darah di pelipis Kemuning.
"Pergi kalian semua pergi.. ! Aku benci kalian... ! Aku benci.. ! " teriak Ajeng histeris sambil melempari mereka dengan apapun yang ada di dekatnya.
"Ajeng sayang... Ini Mama, Nak.. ! Jangan bersikap begini, sayang.. ! " ucap Sekar lembut berusaha mendekat.
"Pergi Mama, pergi... ! Aku benci Mama! Aku benci.. ! Aku malu punya Mama yang seperti itu! Pergi... !!! " teriak Ajeng semakin menjadi-jadi.
Sekar terluka dan menangis dengan penolakan anaknya sendiri, ia sungguh menyesal karena hanya demi kesenangan sendiri ia di benci anak-anaknya. Ia menangis melihat Ajeng terus menerus menyuruhnya pergi dan hatinya terasa dihimpit batu yang besar yang membuatnya sesak tidak bisa bernapas.
Di tempat yang berbeda..
Galang yang masih tidur, terbangun karena panggilan Bima. Ia tidur di markas rahasia nya yang menjadi tempat ia menimbun harta kekayaan hasil usaha ilegalnya selama ini.
"Tuan.. Tuan... ! Bangun Tuan.. ! Ini benar-benar gawat.. ! Bangun Tuan... ! " panggil Bima dengan menggedor pintu ruangan Galang.
"Ish... Ganggu orang tidur saja! Iya... Ada apa?? " ucap Galang kesal sambil berteriak dari dalam.
Ia lalu turun dari kasur dan membuka pintu ruangan tersebut.
Bima masuk dengan wajah panik dan ketakutan, ia langsung menghidupkan layar televisi yang ada di ruangan itu.
Begitu televisi menyala, Galang melotot melihat video yang di tayangkan dalam televisi itu. Ia berpegangan pada lengan kursi untuk menopang bobot tubuhnya dan langsung luruh seketika di lantai dengan wajah shock.
"I-ini tidak mungkin terjadi! Bagaimana bisa ada video ini?? Sedangkan ruangan itu tidak ada kamera CCTV?? Ini pasti rekayasa ! Ini fitnah.. ! Itu tidak mungkin aku.. ! Ini semua bohong, rekayasa! " teriaknya dengan wajah memerah dan tangan terkepal.
Ia semakin shock saat melihat video tentang istrinya Sekar yang bermain gila dengan pria muda bersama teman-teman nya. Darahnya mendidih melihat semua itu dan ia juga kembali kaget melihat semua transaksi yang selama ini ia lakukan terekam dengan jelas pada video tersebut.
"Aaaarrrrgggg.... Brengsek kau Sekar... ! Bisa-bisanya kau melakukan hal yang menjijikkan seperti itu! Sialan.. ! Brengsek.. ! " teriak nya dengan kencang dan menghempaskan televisi 21 inc ke lantai hingga hancur.
"Bima... Cepat cari siapa yang merekam kegiatan kita dan siapa yang menayangkannya di stasiun televisi! Cepat... ! " teriak Galang dengan wajah frustasi dan marah.
Bima langsung berlari keluar dan melakukan perintah Tuan nya. Sedangkan Galang melampiaskan kemarahannya dan kesialan nya dengan memukuli tembok dengan tangan nya hingga berdarah.
"Aku tidak mau di penjara dan aku tidak mau bangkrut.. ! Aku harus kabur ! Jangan sampai aku tertangkap! Yah, aku harus kabur bagaimanapun caranya! Aku harus selamatkan harta-harta ku! " ucapnya lagi dengan bergegas berlari ke tempat penyimpanan hartanya.
Bersambung...
Yaelah... Udah keadaan genting kayak gono masih sempat-sempatnya mikirin harta tuh Bapak-bapak.. π€¨π€¨
Sekar... sekar... yang nama nya penyesalan ya pasti belakangan ππkalau duluan itu nama nya pendaftaran πππ..
__ADS_1