
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Beberapa saat kemudian mobil rental sudah datang dan kami segera berangkat ke rumah Khotimah, sengaja kami tidak memberi tahu Khotimah dan Candra. Untuk member kejutan pada mereka, pikirku.
“Ayah Nisa pingin duduk di depan yah “ Rengek Nisa ketika mobil sudah mulai jalan.
Kemudian Nisa pun ikut duduk di depan bersamaku dan pak Sopirnya.
“Putrinya ya pak ?” Tanya pak Sopir kepadaku.
“Iya pak anak ke tiga kami.” Jawabku.
“Berapa tahun pak ?” Tanya nya kemudian.
“Baru lima tahun pak, belum masuk sekolah kok, paling tahun depan baru masuk TK.” Jawabku sambil memangku Nisa.
Sepanjang jalan Nisa selalu saja menanyakan sesuatu yang dia lihat. Dari tempat permainan anak anak di dekat komplek Pemerintah kabupaten Sleman sampai dengan hal kecil yang dia lihat dia tanyakan. Pusing juga menghadapi Nisa anakku ini, batinku. Hingga tanpa terasa sudah hampir memasuki daerahnya Candra. Dan hampir memasuki dusunnya Candra. Tiba tiba Ponsel Fatimah berdering.
“Mas ini Khotimah malah telpon ?” kata Fatimah kepadaku.
“Ya angkat saja, tapi jangan bilang kita menuju ke rumahnya.” Jawabku pada Fatimah.
Kemudian Fatimah mengangkat telpon dari Khotimah, aku gak dengar apa pembicaraan mereka. Hanya sebentar dan telpon segera di tutup lagi.
“Mas Khotimah bilang mau bertemu kita, jadi terpaksa Fatimah bilang kalo kita dalam perjalanan ke rumahnya. Soalnya kalo gak mereka yang akan ke tempat kita. Takut malah selisih jalan ya Fatimah bilang.” Kata Fatimah.
Aku jadi heran, kenapa juga Khotimah ingin bertemu dengan kami, pikirku. Tapi ya gak apalah semua memang sudah di atur oleh Allah. Mungkin memang sudah saatnya kembali bersatu lagi saat ini, batinku.
“Ya gimana lagi dari pada selisih jalan lagian aku hanya gak mau kalo dia jadi repot dengan kedatangan kita kok.” Jawabku pada Fatimah.
Tanpa terasa kami sudah memasuki dusun Candra tinggal menuju ke lokasi rumah Candra di wilayah Sleman barat.
“Nanti ada gang masuk kekiri, kita masuk gang itu pak.” Kataku pada pak Sopir.
Dan beberapa saat kemudian sampailah kami di depan rumah Candra, dan tanpa ku duga ternyata Arum dan Rofiq pun juga ada di sana.
“Assalaamu ‘alaikum….!” Sapaku kepada mereka di ikuti oleh istri dan anak anakku.
Sidiq langsung mendekati Arum ibu kandungnya dan langsung di peluk juga oleh Arum.
“Mah dedek Panji mana ?” Tanya Sidiq.
Kemudian Jafar menyusul Sidiq menyalami Arum dan Rofiq juga kemudian Candra dan Khotimah muncul dari dalam bersama Wisnu anaknya yang langsung menyapa Nisa. Kemudian setelah saling beramah tamah Candra meminta Arum untuk mengajak anak anak semua bermain di halaman rumahnya. Karena ada pembicaraan penting katanya.
Untunglah Arum cukup dekat dengan semua anak anak, hanya Nisa yang kurang dekat dengan Arum entah kenapa. Namun Nisa pun mengikuti karena Wisnu pun ikut bersama rombongan itu. sedangkan Nisa sangat dekat dengan Wisnu sepupunya itu.
“Apa kabar Zain, lama gak ketemu sehat sehat saja kan ?” Tanya Rofiq padaku.
“Alhamdulillah bang, kamu sendiri bagaimana bang sehat sehat juga kan ?” tanyaku balik.
“Alhamdulillah aku juga baik baik saja.” Jawab Rofiq.
“Gini bapaknya Sidiq dan Jafar, semalam Khotimah istriku bilang ke aku kalo habis mimpi di temui Yuyut dan ada pesan buat kamu sekeluarga. Kalo masalah pesan nya bagaimana biar Khotimah sendiri yang Bilang.” Ucap Candra yang bilang.
“Mas candra sekalian yang bilang juga gak papa kok.” Jawabku.
“Gak biar Khotimah saja, soalnya aku gak paham dengan pesan yang disampaikan Yuyut takutnya salah bicara.” Kata Candra.
“Owh begitu, kita tunggu saja Khotimah biar dia bicara langsung.” Kataku kemudian.
“Bilangin ke Khotimah mas, gak usah repot repot suruh langsung bicara saja.” Ucap Fatimah istriku.
“Gak kok,,, wah aku mau bilang mbakyu susah mau bilang adik kakaknya istriku. Agak susah juga panggilnya.” Jawab Candra.
“Panggil saja bundanya Jafar, kalo panggil aku ayahnya Sidiq.” Kataku.
__ADS_1
“Mas, nanti kalo Nisa denger bisa ngamuk kalo gak disebut.” Protes Fatimah.
“iya juga ya, mana sifat Nisa begitu lagi.” Kataku dalam hati.
“Yaudah panggil kamu bundanya Jafar dan Nisa saja. Kalo Sidiq insya Allah sudah paham gak akan protes.” Jawabku.
Kemudian tampak Khotimah datang membawa nampan berisi minuman.
“Nah ini buat kakak ku tersayang mas Yasin, kopi hitam tanpa gula. Khotimah masih ingat kok kesukaan kakak ku ini.” jawab Khotimah yang sekarang makin anggun mengenakan Jilbab.
“Eeh ternyata adikku pengertian juga, makin cakep lagi pakai jilbab begitu Khot ?” Godaku pada Khotimah.
“Udah dari dulu kali Khotimah Cakep mas, kan adiknya mbak Fatimah. Kalo mbak Fatimah Cakep adiknya juga pasti cakep dong !” ucap Khotimah. Yang kemudian duduk disamping Candra suaminya.
“Alhamdulillah aku ikut bahagia kalian hidup rukun begitu Khot. Mas Candra sering di ajak berantem gak sama Khotimah ?” tanyaku pada Candra.
“Enak aja, emang Khotimah apaan ngajak berantem suami ?” sahut Khotimah.
“Kirain saja suka ngajak berantem ?” godaku pada Candra dan Khotimah.
“Lo kali Zain yang masih suka berantem !” sahut Rofiq tiba tiba.
“Eeh gue jadi suka berantem juga gara gara lo kali bang…!” jawabku pada Rofiq.
“Wah kok malah jadi pada ribut begitu. Jadi mau dengerin pesan Yuyut ke Khotimah gak ?” sahut Fatimah.
“Iya lah, kan memang itu tujuan kita kumpul saat ini. soal bercanda dikit gak papa kali. Kan mumpung bertemu dan kumpul bersama begini.” Jawabku.
“Yaudah diem dulu biar Khotimah bicara.” Ucap Fatimah yang sudah tidak sabar. Mungkin Fatimah menduga ini ada kaitannya dengan Jafar yang mengalami kejadian aneh setiap malam, batinku.
“Udah Khot kamu bicara sekarang !” pintaku pada Khotimah.
“Baiklah, ini kaitannya dengan keluarga besar kita khususnya. Dan lebih luasnya demi untuk kemaslahatan masyarakat luas disekitar kita.” Ucap Khotimah membuka pembicaraan.
“Iya apa maksutnya Khot ?” Tanya Fatimah sudah makin penasaran. Jiwa kepo wanita nya keluar seakan sudah ingin segera mendengar berita yang menyangkut Jafar khususnya.
“Yuyut mengatakan bahwa saat anak anak kita nanti tumbuh dewasa, akan ada tantangan besar yang harus mereka hadapi. Sehingga harus di persiapkan mulai sekarang juga, dan nantinya anak anak kita harus menguasai ilmu agama yang bermacam macam. Sehingga masing masing harus memiliki keahlian di bidang tertentu dan saling mendukung.” Lanut Khotimah.
“Maksutnya keahlian bagaimana Khot ?” tanyaku kurang paham.
“Ada yang harus memperdalam Fiqih, dan ini harus orang yang berani dan Tegas. Kemudian harus ada yang memperdalam Ilmu Hikmah ini harus yang berkarakter lembut uga ada yang harus mempelajari hafalan Al quran uga Tahsin Al-Quran, ini yang suaranya bagus dan daya ingatnya kuat. Dan sebagainya.” Lanut Khotimah.
“Ada satu hal lagi yang sifatnya Khusus mbak.” Jawab Khotimah.
Aku membiarkan Fatimah lebih dulu bertanya kepada Khotimah, meski aku juga menahan pertanyaan kepada Khotimah.
“Apa itu Khot, soalnya mbak juga punya pertanyaan yang belum terpecahkan.” Kata Fatimah.
“Soal Jafar ya mbak ?” sahut Khotimah.
“kok Khotimah sudah tahu ?” Tanya Khotimah.
“Itu yang Khotimah maksud ada satu hal lagi yang sifatnya khusus.” Jawab Khotimah.
“Apa pesan Yuyut tentang Jafar Khot ?” Tanya Fatimah.
Khotimah diam sesaat seperti memikirkan sesuatu yang berat, sehingga membuat kau pun jadi penasaran.
“Jafar itu mempunyai structure tulang yang berbeda dari pada umumnya orang. Dan itu cukup langka, sehingga banyak di sukai oleh makhluk Astral. Bahkan bau darah Jafar pun beda dengan yang lain. Dan Yuyut berpesan agar Mas Yasin dan mbak Fatim hati hati mendidik Jafar.” Kata Khotimah.
“Maksutnya hati hati bagaimana Khot ?” Tanya Fatimah penasaran.
“Nanti akan ada yang mengincar Jafar, dan Jafar akan mengalami cobaan yang cukup berat. Makanya saat ini dalam pengawasan Yuyut juga.” Lanjut Khotimah.
“Maksut kamu Yuyut mengawasi Jafar, kenapa Khot ?” desak Fatimah.
“Kalo itu Khotimah gak tahu mbak Yuyut hanya bilang begitu saja.” Jawab khotimah.
“Sudah nanti juga kita akan tahu maksutnya Fat, terus kenapa semua dikumpulkan sekarang Khot “ tanyaku ke Khotimah.
“Kata Yuyut mas yasin harus segera memulai menjalankan perintah eyang nya segera. Karena itu berkaitan erat dengan lancarnya semua ini.” jawab Khotimah.
“Aku kayaknya belum siap saat ini, tapi aku coba pikirkan nanti Khot.” Jawabku pada Khotimah.
“Di perintah mengajar ngaji buat anak anak muda.” Jawabku pada Fatimah.
“Kan tinggal melanjutkan saja mas, apa yang dulu pernah kita lakukan. Dulu terhenti saat ada masalah itu, tapi kan sekarang sudah sudah aman.” Kata Fatimah.
__ADS_1
“Gak semudah itu juga Fat, ada beberapa Hal yang jadi pertimbanganku.” Jawabku.
“Pasti soal pendatang baru yang pingin naik panggung itu ya ?” kata Fatimah.
“Dia sangat ingin di hargai Fat, pingin eksis dan sebagainya. Jadi aku gak mau dikira mau menyaingi.” Jawabku.
“Yaudah nanti kita bicarakan di rumah saja, saat ini kita fokus ke Jafar saja dulu.” Kata Fatimah.
“Gak bisa mbak Fatim, itu satu paket dengan tugas yang harus mas Yasin jalankan dari Eyangnya.” Kata Khotimah membuat aku penasaran, satu paket gimana maksutnya.
“Maksutnya bagaimana Khot ?” Tanya Fatimah mewakili pertanyaanku juga.
“Antara mengawal Jafar secara ekstra dan mas Yasin mengajak anak anak muda haru berjalan bersama. Karena tugas yang harus mas Yasin jalankan merupakan benteng bagi Jafar dan lainya juga.” Jawab Khotimah.
“Begini saja, untuk pesan eyang Mustolih aku bisa jalankan tapi dengan caraku sendiri supaya tidak dianggap menyaingi sekaligus merekrut anak anak muda yang belum terjamah.” Jawabku.
“Berarti mas Yasin sudah sanggup ?” Tanya Khotimah.
“Iya, tapi dengan cara atau metodeku dalam pendekatan ke mereka. Jangan sampai nanti ada salah pemahaman.” Jawabku.
“Lo pakai cara apa Zain ? aku mau kok bantuin kamu kan rumahku gak deket sama rumah kamu.” Kata Rofiq.
Sebagai jebolan pesantren juga memang Rofiq perlu dilibatkan juga, pikirku.
“Baguslah kalo kamu mau bantu bang, nanti bisa kita atur waktunya.” Jawabku pada Rofiq.
“Aku juga mau menitipkan Wisnu anakku ke kamu kalo bisa ?” kata Candra.
“Nah itu ide bagus, sekalian aku juga nitip anakku Panji ya Zain.” Kata Rofiq.
“Wah Fatimah seneng kalo rumah Fatimah banyak orang lagi, sekalian anak Isti saja mas Rofiq biar tambah meriah.” Ucap Fatimah.
Aku berpikir sejenak, harus mencari cara mengumpulkan anak anak muda seperti dulu. Biarlah aku meniru metode Abah Thoha saja dalam mendekati anak anak muda agar mereka mau mengaji dan menjalankan perintah Agama, batinku.
Tapi tentu saja akan sedikit menimbulkan gejolak kalo aku menggunakan metode Abah guru Thoha. Karena akan dianggap aneh bahkan mungkin juga akan mengundang Fitnah. Kenapa aku harus mikirin pendapat minir orang lain juga, yang penting kan niat dan tujuan serta caranya gak menyalahi aturan Syariat, kataku dalam hati.
Kemudian Fatimah gentian menyampaikan niat kami kesitu untuk meminta bantuan Khotimah dan juga Candra untuk menjaga rumah dan anak anakku selama kami ziarah ke makam Yuyut.
Khotimah dan Candra pun tidak keberatan bahkan Rofiq juga akan mengajak Arum untuk ikut menjaga rumah dan anak anakku. Setelah selesai pembicaraan kami pun segera pamit pulang, karena waktu sudah sore juga kasihan sopirnya nunggu kelamaan. Dan setelah sholat asar kami pun segera pulang ke rumah.
Sidiq tampak sedih berpisah dengan Arum begitu juga sebaliknya.
“Mas, bolehkah Sidiq ikut Arum mala mini saja.” Tanya Arum sambil berkaca kaca.
“Jangan sekarang besuk dia masih sekolah, kalo malam minggu saja kamu ajak gak papa.” Jawabku.
“Iya Rum, besuk juga kita bakalan tinggal di rumah Zain nungguin mau di tinggal ziarah ke Yuyut.” Kata Rofiq.
Akhirnya arum pun bisa mengerti dan mau berpisah sementara dengan Sidiq anaknya. Meski Sidiq juga Nampak sedih namun hanya sebentar saja, karena di dalam mobil sudah kembali ceria bercanda dengan Nisa.
*****
Dan sesampai dirumah akupun langsung mengajak Sidiq keluar mencari Gitar untuk belajar Sidiq sekalian mengajak teman temanya untuk sekedar kumpul biar gak main yang aneh aneh dan bisa di arahkan hal yang positif dari kecil.
Fatimah gak paham dengan maksutku, namun juga gak melarang aku bermain gitar sambil ngajarin Sidiq.
Namun justru beberapa tetangga yang mulai usil karena hampir tiap sore pada bermain gitar. Bahkan gak hanya temen Sidiq, bahkan para remaja pun akhirnya banyak yang ikut gabung bahkan sampai ada yang mengusulkan membuat grub band. Sekilas terlihat kontras, ketika sore pada anak anak pada ngaji dan malamnya ada yang main gitar. Dan efeknya ada yang mendatangi aku dan menuduhku mengajarkan sesuatu yang sesat.
“Maaf pak, bapak jangan mengajarkan kesesatan masak anak anak sore pada ngaji. Malam harinya pemuda bahkan yang suka mabuk pada gitaran disini. Itu namanya mencampur kebaikan dengan kebathilan….!!!” Ucap seorang Tokoh masyarakat yang memarahi aku atas tindakanku yang memang member ijin para pemuda bermain di belakang rumahku pada nyanyi dan main gitar.
Namun itu hanya kesalah pahaman saja menurutku, karena belum paham maksut dan tujuanku.
“Maaf pak, salah saya dimana ya ?” tanyaku pada tokoh masyarakat itu.
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Akan masuk awal Konflik.
__ADS_1
...🙏🙏🙏...