Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Sidiq vs Ari yang licik


__ADS_3

Reader Tercinta


tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.


Selamat membaca.


semoga terhibur.


...🙏🙏🙏...


"Gawat Diq, tadi Ari kesini bersama kawan kawan nya dan mencari kamu.” Kata Dina dengan gemetar.


“Mencari aku buat apa lagi ?” tanyaku.


“katanya dia mau bikin perhitungan dengan kamu, karena gara gara kamu kemarin Ari dikeroyok orang.” Kata Dina.


“Udah biarin saja, nanti Sidiq selesaikan sepulang sekolah saja.” Kataku agak emosi.


Inikah yang dimaksud oleh abah guru semalam, bahwa perkelahian kemarin akan menjadi berkepanjangan ???


Kalau dipikir sesuai juga dengan apa yang disampaikan Jafar kemarin. Akankah aku harus mengikuti jejak ayah dahulu bertempur melawan para pelaku kejahatan.


“Gak bisa Diq, kita sudah jadi teman aku gak akan biarkan kamu menghadapi mereka sendiri. Kami memang cinta damai Diq, tapi kadang demi kedamaian harus ada perang.” Tiba tiba Alan ikut bicara.


“Betul Diq, kami gak akan biarkan kamu sendiri salah satu nanti kasih tahu Ihsan teman pesantren Sidiq. Biar kita bisa ramai ramai menolak perlakuan Ari dan anak buahnya secara bersamaan.” Tiba tiba Dina pun ikut bicara. Dan semua ikut meneriakkan yel yel untuk melawan tindak kesewenangan Ari Cs. Aku jadi terharu dengan mereka.


“Baiklah, nanti  kita hadapi bersama dan kalau bisa biar ini aku selesaikan secara pribadi dengan Ari. Yang lain cukup jadi saksi saja.” Ucapku. Aku berharap Ari mau bertindak gentle fight denganku secara Fair.


“Kamu Yakin bisa mengalahkan Ari Diq ? kalau ragu biar kita ramai ramai saja, mereka pasti mikir kalau kita juga kompak. Selama ini mereka kompak tapi kita hanya egois cari selamat sendiri sendiri, jadi kita sama sama terjajah.” Ucap Dina seperti orasi.


“Setuju…. Setuju….!!!” Sahut yang lain kompak. Dan tak lama kemudian guru pelajaran datang karena memang sudah masuk jam pelajaran. Kami pun duduk di bangku masing masing, untuk mengikuti pelajaran.


Aku sangat senang teman satu kelasku terutama tumbuh keberanian untuk memerangi Ari Cs. Namun tetap saja aku berharap agar jika harus ada kontak Fisik cukup perwakilan antara aku dan Ari saja. Biar Ihsan dan teman temanya nanti yang ikut mengawasi,kataku dalam hati.


Aku segera menyimak apa yang dijelaskan oleh guru di depan kelas. Mengikuti penjelasan tentang pelajaran yang di awali dengan sebuah pesan, jika ujian akan segera tiba. Semua harus konsen dengan pelajaran sekolah. Aku jadi tersadar jika tinggal beberapa bulan lagi sekolahku akan segera selesai. Itu berarti aku akan lulus dari sekolah ini dan akan berpisah dengan teman teman sekolah termasuk Riska juga. Ada perasaan sedih juga meski baru membayangkan saja.


*****


Author POV


Suasana pagi hari sebelum jam sekolah di kelas Sidiq yang heboh karena kedatangan Ari di dengar juga oleh Riska dan Lita. Sehingga Riska jadi gelisah ketika mengikuti pelajaran pagi itu. bahkan Riska menjadi tidak konsen dalam mengikuti pelajaran. Sehingga beberapa kali harus ditegur gurunya karena kelihatan bengong seperti melamun.


“Riska, coba kamu ambil kesimpulan dari keterangan yang bapak sampaikan tadi !” perintah Guru Biologi kepada Riska yang sedang melamun.


“Eem.. apa pak ?” tanya Riska gelagapan. Disambut tawa teman satu kelasnya, karena mereka tahu Riska sedang tidak konsen.


“Kamu mikir apa, bapak tadi menerangkan tentang macam macam cara berkembang biak pada tanaman. Coba kamu sebutkan macamnya ?” perintah guru biologi Riska.


“Ada dua cara pak, Vegetatif dan generatif.” Jawab Riska. Untung saja Riska cukup cerdas dan rajin belajar meski jawabannya kurang sempurna tidak sesuai dengan maksud gurunya.


“Itu garis besarnya, maksud bapak contoh pengembang biakan yang vegetatif itu apa saja ?” ucap guru biologi.


“Maaf pak, Riska lupa….!” Jawab Riska agak malu.


“Ya sudah, kamu yang konsen dengan pelajaran ingat sebentar lagi ujian. Jangan mikir yang lain lain dulu. Bapak lihat kemarin kamu pulang sekolah nongkrong dulu di sekolah, ada cowoknya lagi. Apa lagi ada masalah ?” tanya gurunya.


“Gak kok pak, kemarin sama Lita saja.” Jawab Riska.


“Owh kalau sama Lita pasti cowoknya si itu tuh….!?!” Goda teman sekelas Riska. Sehingga suasana kelas jadi gaduh.


“Sudah gak usah gaduh, bapak hanya mengingatkan kalau kalian sudah mau ujian kelulusan jadi rajin belajar dan konsentrasi agar nilai kalian bagus.” Ucap guru biologi tersebut kemudian melanjutkan ke pelajaran hingga jam istirahat pun terdengar.


Dan begitu jam Istirahat Riska langsung mengajak Lita untuk menemui Sidiq memastikan bagaimana keadaan Sidiq.


“Lita temenin aku yuk…!” kata Riska.


“Pasti ke kelas IPA satu !” sahut Lita.


“Ssst jangan keras keras, Riska khawatir tahu Lit…!” jawab Riska berbisik.


“Eheem ada yang lagi falling in love rupanya.” Goda teman Riska.


“Biasa aja keles, kayak kamu gak pernah aja.” Gerutu Riska.


“Santuy Ris, kita Cuma bercanda kok sudah sana temui sekalian kasih tahu teman dia kemarin bilang kalau Arjuna mu dalam bahaya biar semua ikut membantu.” Ucap Nita teman sekelas Riska.


“Kamu juga sudah dengar itu Nita ?” tanya Riska.


“Satu sekolah sudah hampir semua tahu, kayak gak ngerti ulah si Ari saja. Aku juga dukung kamu kok Ris, tapi salam saja buat Ihsan ya.” Ucap Nita sambil senyum.


“Owh jadi kamu suka sama Ihsan ? iya deh nanti Riska sampaikan tapi jangan patah hati kalau Ihsan juga sudah ada gebetan lain.” Goda Riska.


“Serius kamu Ris ?” tanya Nita.


Riska jadi agak bingung, karena pertanyaan Nita, yang Riska dengar kemarin memang Sidiq menyebut nama gadis yang dikejar kejar Ihsan. Tapi lupa namanya, yang pasti dia bukan anak satu sekolah dengan mereka. Tapi satu pesantren dengan Sidiq dan Ihsan.

__ADS_1


“Gak tahu juga, hanya barangkali saja…!” jawab Riska.


“Mungkin kita sama Nita, terlahir untuk jadi Jomblo agak lama.” Sahut Lita.


“Gak dong, kamu mending pernah deket sama Haris kan. Sudah sana keburu anaknya pergi duluan nanti.” Ucap Nita. Dan Riska ditemani Lita segera menuju ke kelas Sidiq.


*****


Di kelas Sidiq, Sidiq yang baru saja mau berjalan ke kantin untuk menemui Riska sudah keduluan didatangi Riska dan Lita.


“Diq, tunggu bentar…!” seru Lita memanggil Sidiq.


Sidiq menoleh ke  arah Lita dan Riska.


“Kirain kalian sudah di kantin, aku baru mau menyusul ke sana.” Ucap Sidiq yang kebetulan kelasnya lebih dekat ke kantin daripada kelas Riska dan Lita.


“Gak lah, kan kamu yang lebih dekat ke kantin.” Jawab Lita.


“Ayo kita bareng saja ke kantin.” Ajak Sidiq.


“Mas Riska mau bicara sebentar sebelum ke kantin, kayaknya di taman saja biar gak banyak orang yang dengar.” Ucap Riska.


Sidiq jadi agak gemetar mendengar Riska mengajak ke Taman sekolah, selama ini dia hanya menemui Riska di kantin dan saat berangkat dan pulang sekolah saja. Ada suasana lain jika di taman bagi Sidiq, karena teman sekolah memang biasa digunakan nongkrong siswa siswi berpasangan.


“Penting banget kah ?” tanya Sidiq.


“Iya, penting banget.” Jawab Riska. Kemudian segera berjalan menuju ke taman sekolah, ada beberapa pasang anak yang juga nongkrong di sana.


“Aku haus, aku mau beli minuman dulu nanti aku nyusul kalian berdua dulu ya. Nanti kalau ada setan datang bilang saja kalau kalian bertiga dengan manusia, biar setan nya gak jadi menemani kalian.” Ucap Lita menggoda Sidiq dan Riska. Kemudian Lita berbelok arah member kesempatan Riska dan Sidiq untuk ngobrol berdua.


“Jangan lama lama, aku dibeliin sekalian juga boleh kok.” Ucap Sidiq.


“Iya tenang saja, masak iya gue seegois itu beli buat diri sendiri.” Jawab Lita.


Sidiq kemudian duduk di bangk taman bersama Riska, mereka mengambil jarak agak berjauhan. Riska tahu jika Sidiq sangat menjaga kehormatan wanita dan kehormatan dirinya sebagai seorang Muslim. Sehingga Riska menyesuaikan diri dengan itu, meskipun kadang juga ingin seperti anak lain yang berpacaran. Yang kalo duduk berdampingan dan kadang jalan pun bergandengan tanpa malu. Namun Riska lebih memilih Sidiq karena sikap Sidiq yang sangat menghargai dan menghormati wanita.


“Kok diam saja, katanya mau ngajak bicara masalah penting ?” kata Sidiq.


“Riska jadi bingung mas, mau mulai bicara dari mana. Soalnya Riska takut malah mas Sidiq tersinggung nanti.” Ucap Riska.


“Soal apa memangnya Ris ?” tanya Sidiq.


“Mas pasti sudah dengar kalau Ari tadi mendatangi kelas mas Sidiq dan mengancam mas SIdiq. Jadi maksut Riska, bagaimana jika hal itu kita laporkan saja ke pihak sekolah biar mereka ditindak pihak sekolah.” Ucap Riska.


“Terus rencana mas Sidiq bagaimana ?” tanya Riska.


“Mau tidak mau harus diselesaikan sesuai keinginan mereka.” Jawab Sidiq.


“Maksudnya dengan berkelahi ?” desak Riska.


“Sepertinya memang harus begitu Ris.” Ucap Sidiq.


“Riska tahu mas Sidiq memang berani dan bisa beladiri, tapi tetap saja Riska khawatir mas. Karena mereka sangat licik, kalau mereka kalah berhadapan mereka akan mem bokong nanti saat mas Sidiq lengah. Itu sudah sering mereka lakukan.” Ucap Riska.


“Aku gak ada pilihan lain Ris, dan sepertinya memang harus seperti itu. mau gak mau aku harus hadapi mereka sekaligus menghentikan tindakan mereka yang tidak benar.” Jawab Sidiq.


Riska hampir saja keceplosan menceritakan tentang Arina yang ada kemungkinan bahwa dia diperalat oleh kelompok Ari untuk memisahkan mereka. Untung saja Riska masih ingat, jika itu justru akan membuat Sidiq makin emosi. Sehingga Riska mengurungkan niatnya untuk mengatakan itu.


“Sebenarnya… ?” ucapan Riska terhenti.


“Sebenarnya apa Ris ?” tanya Sidiq.


“Sebenarnya mereka itu jahat banget mas, bisa menggunakan cara apapun untuk melampiaskan dendam mereka nanti.” Ucap Riska, yang hampir saja keceplosan tadi.


“Kalau soal itu aku sudah tahu Ris, makanya harus dihentikan agar mereka tidak semena mena nanti.” Jawab Sidiq.


Tiba tiba Lita datang bersama dengan Ihsan juga.


“Kamu gak sendiri Diq, kamu jangan egois kenapa gak bilang sama aku…!” seru Ihsan mengejutkan Sidiq dan Riska.


“Lah kok kamu bisa kesini San ?” Tanya Sidiq.


“Kenapa memangnya, apa kami mengganggu ? Iya deh kalian pacaran disitu biar aku mojok di sana sama Lita.” Goda Ihsan.


“Enak saja, memang gue mau lo jadiin yang ke berapa San ?” gerutu Lita.


“Bercanda Keles, lagian aku juga gak terlalu suka gadis jutek macam kamu kok.” Jawab Ihsan sambil ngakak. Spontan Lita marah dan memukul lengan Ihsan, meski gak terlalu serius.


“Sialan lo San, lo kira gue juga suka sama lo…!” ucap Lita.


“Sudah kok malah pada ribut, mau Sidiq jodohkan saja kalian ?” ucap Sidiq.


“Ogah…!” jawab keduanya serempak.


“Keburu masuk sekolah lagi nih, apa dong solusinya ?” Protes Riska yang merasa pembicaraan jadi melebar jauh.

__ADS_1


“Tenang, semua anak kompak mau menolak tindakan Ari Cs, nanti kita temui saja mereka dan minta hentikan tindakan premanisme di sekolah ini.” Ucap Ihsan.


“Betul, aku dan Ihsan sudah bertanya ke semua anak, mereka semua setuju menolak tindakan premanisme di sekolah ini.” Sahut Lita.


“Ok, kalau begitu nanti pulang sekolah kita temui mereka, beberapa perwakilan anak anak nanti juga akan ikut menemui mereka dan menyatakan keberatan atas semua tindakan mereka selama ini.” Ucap Ihsan.


Kemudian mereka melanjutkan ngobrol berempat di taman itu sampai terdengar bel tanda jam istirahat sudah habis. Dan mereka kembali ke kelas masing masing, untuk mengikuti pelajaran.


*****


Usai jam pelajaran Sekolah


Beberapa anak yang cukup punya nyali dibawah komando Ihsan akhirnya berkumpul dan mencari Sidiq di kelas Sidiq untuk bersama sama menemui Ari Cs. Dan ternyata Ari dan kawan kawannya pun melakukan hal yang sama. Mereka mengumpulkan anggota geng nya untuk menemui Sidiq.


Sehingga suasana di depan kelas Sidiq menjadi ramai oleh Siswa siswa yang berkerumun.


“Owh ternyata Sidiq itu memang pengecut, harus mengumpulkan banyak orang begini.” Ucap Herman saat datang dan melihat banyak anak yang berdiri di belakang Sidiq. Ihsan yang mendengar Sidiq dibilang pengecut justru tidak terima, karena Ihsan tahu betul bagaimana Sidiq.


“Nah itu contoh dari orang yang tidak pernah bercermin. Dirinya yang pengecut malah menuduh orang lain pengecut.” Ucap Ihsan menunjuk muka Herman langsung.


“Lo gak usah ikut ikutan ini urusan kami dengan Sidiq…!” bentak Ari kepada Ihsan.


Sementara Sidiq masih diam saja, menunggu perkembangan situasi.


“Enak di lo gak enak di Sidiq kalau begitu, kalian ramai ramai tapi melarang kami membantu Sidiq.” Balas Ihsan.


“Jadi kalian ngajak tawuran ramai ramai, Ok kita tentukan tempatnya sekarang juga dimana ?” bentak Ari yang hobi tawuran ramai ramai.


“Gak perlu…!” Sahut Sidiq.


“Tuh kan, kalian dengar sendiri kalau Sidiq itu ternyata penakut.” Kata Ari. Membuat Herman dan lainya merasa bangga dengan Ari yang mengira Sidiq takut dengan Ari.


“Bukan begitu maksudku, jangan ramai ramai kalau mau bertanding jurus. Perwakilan saja, Aku siap menghadapi salah satu dari kalian dengan lebih dulu kita tanda tangan surat pernyataan. Setelah perkelahian selesai tidak boleh diperpanjang. cukup sampai di sini saja permusuhan ini. apa kalian sanggup ?” jawab Sidiq dengan kalem.


“Kalau kamu takut dengan SIdiq, aku juga siap melayani kamu.” Ucap Ihsan menunjuk wajah Ari.


Siswa siswi yang lain pendukung SIdiq bertepuk tangan, mendengar Ihsan. Sementara pendukung Ari jadi agak ciut nyalinya, karena tidak menyangka akan mendapat perlawanan seperti itu.


“Kenapa kamu ikut campur dalam urusan ini San, urusanku dengan Sidiq bukan dengan kamu.” Jawab Ari.


“Terserah kamu saja, asal kamu fair dalam bertarung dengan Sidiq maka aku dan yang lain tidak akan ikut campur. Tapi jika teman kamu ikut campur maka kami juga tidak akan tinggal diam. Berani gak kamu sparing partner dengan Sidiq, biar yang lain mengawasi nanti ?” tanya Ihsan. Yang sudah mengatur strategi agar terjadi fight antara Sidiq dan Ari saja agar yang lain cukup nonton.


Sebenarnya Ari agak ciut nyali jika harus berhadapan satu lawan satu dengan Sidiq. Karena maunya Ari Sidiq akan dikeroyok karena tidak menyangka jika Sidiq sekarang banyak pendukungnya.


“Hadapi saja bos, masak saudara bang Jalu diremehkan sama anak begitu.” Ucap Herman memberi semangat kepada Ari. Sementara Ari berpikir bagaimana dapat berbuat licik agar bisa mengalahkan Sidiq.


“Baiklah, sekarang kita cari lokasi buat fight.” Ucap Ari demi gengsi akhirnya menerima tantangan tersebut. Mereka Pun akhirnya mencari tanah pekarangan kosong yang jauh dari pemukiman agar bisa fight secara bebas, tidak takut dibubarkan warga.


Sampailah mereka ke sebuah pekarangan kosong yang cukup jauh dari pemukiman warga.


“Mana air cabai yang sudah kita siapkan tadi, buat jaga jaga kalau terdesak.” Bisik Ari pada Herman.


Herman pun kemudian menyerahkan air cabai yang sudah disiapkan dengan pura pura membawakan tas Ari sambil menyerahkan air cabai tersebut.


Kemudian Ar dan Sidiq pun sudah salin berhadap hadapan untuk melakukan Fight. Riska dan Lita juga ikut hadir disitu, meski Riska tidak berani melihat secara dekat. Namun dia juga tidak tega Sidiq bertempur sementara dia tidak memberi support.


“Aku harap kamu berpikir lagi, jangan sampai kamu malu untuk yang kedua kalinya Ari.” Ucap Sidiq.


“Kamu pikir aku takut dengan kamu, kemarin kalau aku tidak dikeroyok maka kamu yang akan habis.” Bentak Ari.


“Baiklah kalau kamu memang maunya seperti itu.” jawab Sidiq sambil melepaskan tas sekolahnya dan menyerahkan kepada Ihsan. Namun tanpa di duga oleh Sidiq, saat Sidiq membalikkan badan menyerahkan tas kepada Ihsan tiba tiba Ari sudah melancarkan tendangan ke  arah Sidiq. Sehingga Sidiq tidak dapat menghindar sempurna karena jarak yang sangat dekat dan gerakan Ari juga cukup cepat. Sidiq terkena tendangan Ari di bagian punggungnya,kelicikan pertama Ari.


Untunglah Sidiq cepat bangun dan segera bersiap menahan serang Ari yang berikutnya. Meskipun merasakan sedikit nyeri dan memar di punggungnya kena tendangan Ari yang memakai sepatu khusus.


Dan sesaat berikutnya  kembali Ari memukul wajah Sidiq yang baru bangkit dari jatuh. Namun Sidiq yang sudah terlatih itu dengan mudah menangkap pergelangan tangan Ari dan menarik badan Ari hingga terhuyung. Dan itu dimanfaatkan sidiq untuk membalas menendang Ari lebih keras dari tendangan Ari sendiri. Sehingga Ari pun jatuh terpental jauh dan hampir menatap sebuah pohon besar.


Rupanya kemarahan Sidiq sudah tidak terbendung, karena merasa dicurangi Ari yang menyerang sebelum waktunya tadi.


Namun Ari pun sangat marah karena merasa dipecundangi Sidiq, harga dirinya atau gengsinya terasa jatuh. Karena di depan banyak orang dirinya yang terkenal jagoan itu dengan mudah dijatuhkan Sidiq. Diam diam Ari pun menyiapkan air cabai dalam plastik dan bersiap melemparkan ke  arah wajah Sidiq agar matanya kesakitan. Sambil merangkak bangun diam diam Ari mengambil Air cabai yang disimpannya di dalam tas pinggangnya. Di samping itu pun tanpa diketahui yang lain Ari juga menyiapkan sebilah belati kecil, kemarahannya sudah menggelapkan mata tidak peduli lagi dengan komitmen awal yang dibuat tadi. Yang ada di pikirannya hanya ingin balas dendam dengan Sidiq…???


...Bersambung...


Tetap mohon dukungannya


like


komen


dan


Vote nya ya Reader tercinta.


...🙏🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2