
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Sidiq dan Jafar merusak markas Ki Marto...
Dua orang kakak beradik itu pun segera pergi ke hutan Bukit Kemuning di wilayah lereng Merapi. Mereka berniat membuat kekacauan di markas musuh, untuk membalas kelicikan kelicikan yang mereka lakukan pada keluarganya. Terlebih kepada Jalu yang berani menyamar sebagai ayahnya dan mencoba masuk ke rumahnya !!!
“Mas Sidiq sudah persiapkan rencana apa buat kasih pelajaran pada mereka ?” Tanya Jafar.
“Belum ada Rencana Khusus, Jafar sendiri sudah ada ide apa ?” Tanya balik Sidiq.
“Jafar mau buat pemilik aji halimun kelabakan.” Jawab Jafar.
“Bagaimana caranya ?” Tanya Sidiq.
“Belu ketemu ide sih, tapi pengen aja buat mereka nanti bingung sendiri dengan aji halimun mereka.” Jawab Jafar.
“Hmm aku ada ide, bagaimana kalau kita bikin mereka terpaksa menunjukkan wujud mereka saat pakai Aji Halimun.” Kata Sidiq.
“Tapi dengan apa mas ?” tanya Jafar.
Kemudian Sidiq pun membisikan suatu rencana untuk membuat Jera Jaka dan Bayu Aji juga Jalu, saat memakai aji halimun. Jafar setuju dengan ide yang disampaikan Sidiq, dan dengan mantap dua anak tersebut segera mempercepat langkahnya menuju ke tempat persembunyian kelompok Ki Marto Sentono.
Sambil jalan mereka pun mencari sesuatu untuk mempersiapkan saat penyerangan ke markas musuh nanti.
…..
…..
…..
Sementara Yasin di rumahnya sudah mulai merasakan segar meski masih agak lemah akibat pertempuran semalam.
“Bagaimana jalannya pertarungan kamu semalam Yasin, kenapa bisa berhadapan dengan Ki Munding Suro ?” Tanya Tohari.
“Ternyata Jalu itu sengaja memancing aku untuk dibawa ke tempat Ki Munding Suro. Dan disana juga ada Gede Paneluh.” Jawab Yasin.
“Ada Gede Paneluh ? Tapi semalam aku tidak melihatnya, di sana hanya Ki Munding Suro dan kamu yang sedang beradu ilmu.” Tanya Tohari.
“Saat aku beradu ilmu itu Gede Paneluh Pingsan terkena Jurus suci Hijaiyah. Sementara Ki Munding Suro hanya tersurut mundur saja.” Jawab Yasin.
“Bagaimana mungkin Ki Munding suro hanya tersurut mundur saja ?” Tanya Tohari kemudian.
“Saat aku menggunakan jurus ‘Ya’ aku baru saja terkena pukulan Jari Iblis milik Ki Munding Suro. Jadi tidak bisa maksimal menggunakan kekuatan.” Jawab Yasin.
“Ilmu Jari Iblis ?” Tanya Sena Kaget.
“Iya, telapak tangan Ki Munding merah membara kemudian mengumpul pada dua jarinya dan melesat sinar merah menghantam dadaku yang hendak menyerang Jalu.” Kata Yasin.
“Kenapa Mas yasin malah menyerang jalu lebih dulu ?” Tanya Sena.
“Karena dia bilang mau ke rumah ini dan menyamar sebagai diriku.” Jawab yasin.
“Owh jadi begitu ceritanya Jalu semalam sampai ke rumah ini.” Sahut Farhan.
“Jadi Jalu semalam beneran sampai ke rumah ini ?” Tanya Yasin.
“Betul, untung ketahuan karena ditanya wisnu kok gak bilang salam dia kebingungan.” Jawab Farhan.
“Selanjutnya bagaimana ?” Tanya Yasin.
“Dia terus menggunakan aji halimun, jadi aku langsung bacakan ayat penangkal Khodam Jahat. Dan Wisnu lah yang bisa membuat jadi kelihatan.” Jawab Farhan yang ikut serta dalam peristiwa tersebut.
“Wisnu ? Dengan apa Wisnu membuat Jalu jadi kelihatan ?” Tanya Yasin.
“Nah itu yang bikin Farhan kaget, hanya dengan menaburkan tepung terigu. Butiran yang lembut itu menempel pada tubuh Jalu hingga bisa terdeteksi.” Jawab Farhan.
Yasin tersenyum bangga dengan Wisnu keponakannya. “ Anak itu menyimpan sesuatu seperti Jafar, bahkan cenderung mengidolakan Jafar.” Kata Yasin dalam hati.
“Terus siapa yang bisa memukul mundur Jalu, bukankah dia mewarisi aji gilingwesi ayahnya ?” Tanya Yasin lagi.
“Wisnu juga, dengan lebur saketi.” Jawab Farhan.
Yasin jadi terbelalak mendengar Wisnu juga memiliki aji lebur saketi.
“Jadi Wisnu juga mewarisi Lebur Saketi ? Alhamdulillah berarti di rumah ini ada yang bisa menjaga keamanan rumah.” Ucap Yasin.
__ADS_1
Kemudian Yasin memanggil wisnu, dan memeluk Wisnu keponakan tersebut.
“Luar biasa kamu nak, Abi Yasin bangga dan mama papamu pasti juga bangga sama kamu.” Ucap Yasin.
“Terimakasih Abi, Wisnu hanya meniru Abi dari cerita mama kok.” Jawab Wisnu.
“Jadi bagaimana sebaiknya untuk kasus di wilayah Sena ?” Tanya Tohari.
“Untuk beberapa hari ini mungkin mereka juga tidak akan banyak beraksi. Karena aksi mereka dibawah kendali dari Ki Munding Suro. Sementara Ki Munding Suro sendiri saat ini juga sedang terluka.” Kata Yasin.
“Tapi anak buah Ki Munding Suro kan masih berkeliaran Mas.” Kata Yasin.
“Anak buah Ki Munding tak sehebat gurunya, jadi mungkin bisa ditangani orang orang Padepokan Pak Suhadi.” Jawab Yasin.
“Tapi kemarin kan waktu Ki Munding Suro berada di markas juga mereka beraksi Mas ?” Tanya Sena.
“Kamu perlu tahu jika kemarin aksi anak buahnya didukung Ki Munding Suro dari jauh.” Jawab Yasin.
“Maksudnya Mas ?” Tanya Sena penasaran.
“Ajaran mereka dalam hal berbuat kejahatan ada tiga macam. Satu Santet membunuh dari jauh, kedua Pelet gendam dari jauh. Yang ketiga Ngepet mencuri dari jauh. Itu yang kemarin dilakukan ki Munding Suro.” Jawab Yasin.
“Ngeri juga ya kalau begitu Mas ?” Kata Sena.
“Aku kira ajaran itu sudah musnah, ternyata masih ada juga saat ini.” Kata Tohari.
“Namanya kejahatan tidak akan punah Kang Tohari. Mungkin hanya berubah bentuk kejahatannya saja.” Kata Yasin.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, jelas kondisimu masih lemah begitu ?” Tanya Tohari pada Yasin.
“Aku mau coba hubungi sahabatku Tabib Ali, jika dia belum kembali ke Mesir. Mungkin dia bisa membantu memulihkan kondisi ku.” Jawab Yasin.
“Ya udah kamu hubungi saja secepatnya.” Kata Tohari kemudian.
“Sebenarnya Aku mau sekalian menemui Kang Syuhada Gurunya Jafar. Karena dia dulu ada di sana, siapa tahu masih belum meninggalkan pondok.” Kata Yasin.
“Yasudah kita ke sana saja sebentar lagi, jangan sampai menunda nunda.” Kata Tohari.
Setelah selesai berembuk mereka pun segera berangkat ke Pondok Pesantren Al Huda. Tanpa mereka ketahui jika saat itu Jafar sedang menemui Sidiq untuk mendatangi markas Ki Marto Sentono.
…..
…..
…..
“Ini sudah memasuki Bukti Kemuning, kita harus hati hati jangan sampai ketahuan sebelum waktunya.” Kata Sidiq.
“Iya mas, kita cari tempat yang tinggi dulu untuk melihat keberadaan markas mereka.” Jawab Sidiq.
Sidiq dan Jafar pun mencari tempat yang tinggi, dan di tempat itu mereka memanjat pohon untuk mencari keberadaan markas Ki Marto.
“Mas, sepertinya di sana itu ada sebuah bangunan dan lahan yang cukup Luas. Mungkin itulah tempat mereka bersembunyi.” Kata Jafar.
Kemudian Sidiq pun ikut melihat ke arah yang ditunjukkan Jafar.
“Sepertinya memang itu tempatnya, sayang masih cukup jauh jadi tidak kelihatan aktivitas di sana.” Kata Sidiq.
“Kita mendekat pelan pelan saja Mas.” Kata Jafar.
Mereka berdua pun berjalan mendekat ke tempat yang mereka lihat dari atas pohon sebelumnya.
“Jangan sampai lupa barang barang yang sudah kita siapkan tadi.” Kata Sidiq.
“Sudah Mas, semua sudah Jafar masukkan ke kantong Plastik.” Jawab Jafar.
Sidiq dan Jafar pun semakin dekat dengan markas Ki Marto. Mereka berlindung di balik gerumbul semak yang cukup tinggi. Terlihat beberapa orang yang masih terlelap dan berbaring di sembarang tempat dalam kondisi mabuk berat.
“Itu orang pada hidup gak sih, kok pada tiduran begitu ?” Tanya Jafar.
“Hidup lah, masih pada gerak gerak begitu.” Jawab Sidiq.
“Apa kita mendekat sekarang saja Mas ?” Tanya Jafar.
“Tunggu ada yang keluar dari dalam bangunan.” Ucap Sidiq.
“Iya mas ada dua orang yang keluar, siapa dia ya ko belum pernah bertemu sebelumnya. Beberapa dari mereka kan kita pernah berhadapan ?” Tanya Jafar.
“Kita harus hati hati, jangan jangan dua orang itu orang dekat Ki Munding Suro.” Kata Sidiq.
“Iya Mas, kayaknya cukup berilmu tinggi juga dua orang itu.” Kata Jafar.
“Kita dekati saja, kita dengar pembicaraan mereka.” Kata Sidiq.
__ADS_1
Sidiq dan Jafar pun mengendap mendekati dua orang yang dilihatnya keluar dari bangunan tersebut.
…..
“Ternyata orang yang bernama Yasin memang bukan orang sembarangan. Ilmu Karang Guru kita saja bisa dilawan.” Kata Gagak Seta.
“Iya Kakang Seta, lalu bagaimana kita sekarang ?” Tanya Jaladara adik Gagak Seta.
“Mau gak mau kita harus pulang dulu menjemput kakang Wiratmojo. Hanya dia yang bisa membantu tugas Guru nanti saat melawan Yasin.” Kata Gagak Seta.
“Tapi kakang Seta Yakin kalau Ki Marto dan anak buahnya bisa dipercaya merawat Guru ?” Tanya Jaladara.
“Aku sudah sampaikan jika kita besok sudah sampai di sini lagi. Jika ada apa apa dengan Guru Ki Marto dia yang akan bertanggung Jawab.” Jawab Gagak Seta.
“Kalau begitu aku lega meninggalkan guru, tapi kalau tidak salah satu dari kita harus tetap di sini kakang.” Kala Jaladara.
“Baiklah, ayo kita segera berangkat sekarang. Jangan sampai kemalaman sampai Padepokan, biar besok pagi kita bisa langsung berangkat kesini.” Kata Gagak Seta. Dan keduanya pun berjalan meninggalkan tempat tersebut.
…..
“Huft… untung dua orang itu pergi, kalau tidak dua orang itu bisa merepotkan Kita.” Kata Sidiq setelah Gagak seta dan Jaladara jauh.
“Iya mas, kalau kita melawan dua orang itu mungkin imbang. Tapi kalau ditambah yang lain kita bisa kalah. Dari dengus nafasnya Jafar tahu dua orang itu ilmunya tinggi.” Kata Jafar.
“Apa kita serbu sekarang saja ?” Tanya Sidiq.
“Jangan, biar dua orang itu makin jauh dulu. Jangan sampai mereka dengar keributan yang terjadi. “ Jawab Jafar.
“Iya betul, untung saja kita gak gegabah masuk tadi.” Kata Sidiq.
“Kita memang harus mengakui kalau kita kurang berhati hati Mas. Beda dengan Ayah, karena sudah banyak pengalaman beliau selalu penuh perhitungan.” Kata Jafar.
Setelah dirasa Gagak Seta dan Jaladara cukup jauh, dan tidak mungkin mendengar keributan yang bakal terjadi maka Sidiq pun mulai beraksi.
“Kamu siap Jafar, aku yang akan masuk duluan. Kamu awasi dari sini saja, jika ada pembokong gunakan ilmu totok jarak jauhmu, aku mengandalkan kamu.” Kata Sidiq.
“Iya Mas, tapi tetap harus Hati hati.” Kata Jafar.
Kemudian Sidiq pun keluar dari persembunyian dan mendekati markas Ki Marto. Setelah dekat dengan markas tersebut Sidiq pun berteriak memanggil Jalu. Yang semalam berusaha memasuki rumah Yasin ayahnya Sidiq.
“Keluar kamu Jalu, jangan sembunyi saja. Aku tahu kamu berada di dalam.” Teriak Sidiq.
Namun yang keluar bukannya Jalu, melainkan rombongan Kala Srenggi, Otang, Lembayung, Ki Bujang dan Jaka serta Bayu. “rupanya yang lain sedang merawat Ki Munding Suro.” Kata Sidiq dalam hati.
“Bocah tengik, datang kesini mengantarkan nyawa rupanya.” Kata Kala Srenggi.
“Wkakaka… bagaimana rasanya terkena ajian sengatan tawon, orang tua ?” tanya Sidiq.
“Tunggu saja sebentar lagi aku akan panggan kamu hidup hidup.” Kata Kala Srenggi.
Sidiq pu sudah siap menghadapi Gumbolo Geni milik Kala Srenggi. Namun Ki Bujang justru mencegah Kala Srenggi.
“Biar aku yang Hancurkan bocah itu dengan Gundolo Sosro. Biar memancing kedatangan saudaranya yang memiliki Lebur Saketi itu.” Kata Ki Bujang dan langsung menyiapkan ajian Gundolo Sosro untuk menyerang Sidiq.
Jafar yang memantau di tempat persembunyiannya tidak membiarkan Sidiq terkena ilmu Gundolo Sosro milik Ki Bujang. Dengan gerakan cepat Jafar melemparkan batu kerikil ke arah Ki Bujang. Dengan dilapisi tenaga dalam Jafar menotok Ki Bujang. Sehingga gerakan Ki Bujang jadi terhenti karena ditotok Jafar dari jarak Jauh tanpa ada yang mengetahui.
“Ayo cepat keluarkan Gundolo Sosro milikmu kenapa berhenti ?” Kata Sidiq yang tahu jika Ki Bujang sudah kena Totokan Jafar.
Namun yang Lain jadi bingung ada apa dengan Ki Bujang yang tiba tiba diam tidak bergerak.
“Ki Bujang kenapa Ki ?” Tanya Jaka Santosa.
“Wkakaka… itu baru terkena ajian pembeku darah milikku. Dan kalian akan terkena satu persatu seperti Ki Bujang. Jika tidak mau menyerahkan Jalu sekarang juga.” Kata sidiq mengarang cerita menakut nakuti musuhnya.
Jaka dan Bayu langsung menerapkan Aji Welut Putihnya agar tidak terlihat oleh Sidiq. Sementara yang lain mempersiapkan ajian masing masing. Rupanya bualan Sidiq dipercaya dan mengira Ki Bujang benar benar terkena ajian Sidiq.
Sidiq segera mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan disebarkan ke sekitar tempat dia berdiri secara memutar. Sementara itu Jafar dengan sembunyi sembunyi melemparkan batu kerikil untuk menotok awan lawan sidiq yang tampak Mata. Agar sidiq bisa konsentrasi mengawasi Jaka dan Bayu yang menggunakan Ajian Welut putih.
Jaka dan Bayu yang tidak mengerti apa yang terjadi dengan teman temannya berusaha menyerang Sidiq. Namun saat mendekati Sidiq terkena sesuatu yang ditaburkan Sidiq. Sehingga Jaka dan Bayu harus berhenti mendekati Sidiq. Karena seluruh tubuhnya terasa gatal dan panas, sehingga Jaka dan Bayu harus menggaruk garuk seluruh badanya tidak bisa menyerang Sidiq. Bahkan saking gatal dan Panas nya Jaka dan Bayu pun sampai teriak.
Dan Sidiq yang mendengar teriakan tersebut langsung menyerang ke arah Jaka dan Bayu. Sampai keduanya terjatuh. Sementar yang lain sudah terkena totokan Jafar, sehingga hanya bisa mendengar teriakan Jaka dan Bayu tanpa bisa bergerak.
Kemudian Sidiq yang melihat sebuah patung Berhala untuk pemujaan segera menghancurkan patung tersebut. Patung yang sedianya akan digunakan untuk acara Pancamakarapuja.!!!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...