
Reader tercinta
Author coba perbaiki dan kurangi typo.
Mohon koreksinya di kolom komentar.
Terimakasih.
...🙏🙏🙏...
Selamat membaca
...........
Wah itu lebih bagus lagi kita bisa sharing gak hanya ngomong di belakang.” Jawabku pada kedua tamuku itu.
Akan lebih baik jika memang sesuatu itu di bicarakan langsung tidak hanya menyebarkan berita salah yang belum jelas kebenaranya, batinku. Dan kau akan menunggu kedatangan orang itu agar tidak timbul salah paham di kemudian hari.
“Kalo menurut pak Yasin sendiri, tentunya punya dasar untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dunia itu pak. Kalo boleh kami tahu apa dasar hukum atau dalil yang bapak pakai itu ?” Tanya pak Subar.
“Pertama dalam surat Muhammad ayat 19, maka ketahulilah tidak ada tuhan yang pantas di sembah kecuali Allah, dan mohon ampunlah atas dosa mu, dan ( dosa ) orang orang beriman laki laki dan perempuan. Dan allah mengetahui usaha dan tempat tinggalmu.’ Yang kedua adalah ada doa yang sering di panjatkan ketika akhir khutbah jumat, yang artinya ya Allah ampuni (dosa dosa) orang beriman laki laki dan perempuan yang masih hidup dan yang sudah mati. Juga masih banyak lagi kalo disebutkan satu persatu juga gak akan selesai seharian.” Jawabku pada kedua tamuku itu.
“Iya pak, terimakasih atas penjelasanya.” Jawab pak Subar.
“Sama sama pak, pesan saya satu saja jangan terprovokasi dengan semboyan semboyan yang kelihatanya bagus ‘Kembali pada Quran dan hadits’ sementara yang mengajak tidak paham quran dan hadits. Dan yang jelas kita juga gak pernah meninggalkan quran dan hadits, jadi gak perlu kembali karena kita masih tetap berpedoman pada keduanya.” Kataku member penjelasan.
Kemudian kedua tamuku itu pun segera berpamitan, Nampak sudah agak lega karena mendapatkan jawaban atas kegalauanya.
*****
Setelah kedua tamu itu pergi giliran Nisa yang mengejar aku menagih janji untuk berjalan jalan.
“Yah ayuk katanya janji mau ajak jalan jalan…!?!” seru Nisa kepadaku. Anak cewekku ini memang selalu begitu, dia paling berani bersuara kepada ayahnya.
“Iya sayang, kan ayah juga barusan menemui tamu ayah mandi dulu ya ?” jawabku.
“ayah sih, kelamaan ngurusin tamu anak sendiri gak di urusin…!” protes Nisa tanpa beban bilang begitu.
Sampai ibunya memarahi dia.
Nisa gak boleh bilang begitu nak, ayah kan hanya menemui tamu dulu bukan gak ngurusin Nisa.’ Kata Fatimah. Aku hanya tersenyum melihat kelakuan Nisa anakku itu, apakah aku dulu dengan kedua orang tuaku juga seperti itu. sampai di tiru oleh Nisa, memang aku dulu juga paling sering membantah pada kedua orang tuaku. Dan mungkin ini adalah teguran atas kelakuanku dulu ketika membantah kedua orang tuaku.
“Ya nak, bentar lagi ayah mandi sebentar saja ya.’ Jawabku pada Nisa. Sementara Sidiq dan Jafar pun sudah bersiap untuk berangkat.
Setelah selesai mandi aku segera mengajak seluruh keluargaku untuk jalan jalan ke pantai selagi mereka ibur sekolah dan aku juga sedang tidak ada pekerjaan keluar rumah.
Berangkatlah kami ke pantai selatan.
“Mau mampir ke tempat sena dan Nurul gak mas ?” Tanya Fatimah padaku.
“Gak usah lah, nanti kelamaan meninggalkan rumah.” Jawabku dalam perjalanan ke pantai.
“tar gak enak kalo ketahuan kita ke pantai terus gak mampir kesana ?” jawab Fatimah.
“Ya kalo ketahuan nanti mampir tapi kalo gak ya gak usah. Takutnya malah bikin repot atau mereka juga baru ada acara. Lain kali saja kita kesana kalo pas ada waktu longgar lagi.” Kataku pada Fatimah.
Sidiq dan Nisa namak ceria dalam perjalanan berbeda dengan jafar yang justru tampak termenung. Mungkin masih terbayang dengan pengalaman mimpi yang sama dengan Sidiq semalam, batinku. Dan memang itulah tujuanku mengajak mereka ke pantai agar bisa leluasa bicara dengan Jafar selama sidiq dan Nisa bermain ombak di laut dalam pengawasan bundanya.
Sesampai di pantai kami pun segera mencari tempat yang cukup teduh untuk menggelar tikar, namun Nisa dan Sidiq sudah tidak sabar untuk segera mendekat ke bibir pantai melihat dan merasakan ombak secara langsung. Kemudian Fatimah aku minta mengawasi keduanya.
Sedang Jafar malah bantuin aku menggelar tikar dan menyiapkan bekal dari rumah untuk bersantai, kebetulan hanya berdua dengan Jafar, batinku.
Dan setelah selesai justru Jafar yang memulai pembicaraan denganku.
“Yah soal mimpi Jafar semalam dan malam malam sebelumnya itu apakah beneran terjadi ?” Tanya Jafar.
‘iya nak, memang itu bukan sekedar mimpi biasa. Kamu sudah dipilih oleh Yuyut untuk mewarisi ilmu Yuyut Siti Aminah.’ Jawabku.
“Tapi kenapa harus Jafar ayah, kan mas Sidiq lebih berminat dengan itu.” sahut Jafar.
“Suatu saat kamu akan tahu nak, karena saat ini kamu masih anak anak jadi ikuti sja dan berlakulah seperti anak anak yang lain. Bermain dan bercanda dengan teman teman sebaya kamu.” Jawabku pada jafar.
Sepintas ku lihat orang orang yang pada datang ke pantai semakin banyak secara rombongan dari berbagai kalangan. Dan ada satu rombongan yang menarik perhatianku ketika mereka juga ikut menggelar tikar di dekat aku menggelar tikar. Karena tempatnya memang cukup nyaman.
“Assalaamu ‘alaikum…1” sapa salah satu orang dari mereka.
“Wa’alaikummussalam..1” Jawabku.
“Boleh kami ikut berteduh disini ?” Tanya nya.
“Owh silahkan ini tempat umum silahkan digunakan sja.” Jawabku.
Dari pakaian yang digunakan aku menduga jika mereka adalah orang orang yang berfaham khusus seperti yang dibicarakan pak subar dan pak surat tadi pagi, pikirku. Namun aku juga tidak berani memastikan hanya dari segi penampilan saja. Yang jelas pembicaraanku dengan jafar jadi terhenti karena kehadiran orang orang itu.
“Nak kamu ikut bunda mu jagain nisa sana biar ayah disini saja. Kamu harus senang senang hari ini !” perintahku pada jafar. Kemudian jafar pun segera menyusul bundanya ikut bermain bersama sidiq dan Nisa di tepian pantai.
“Putranya ya pak ?” sapa orang yang tadi menyapaku.
__ADS_1
“Iya pak, anak kedua saya yang dua lagi baru bermain di pantai sama bundanya ?” jawabku.
“Owh panggilnya bunda sama ayah ya pak ?” Tanya orang itu.
‘iya pak, dari kecil sudah biasa dengan sebutan itu.” jawabku.
“kok gak diajarkan dengan panggilan abi dan umi saja pak ?” Tanya orang itu.
“Aah yang penting kan maksutnya sama juga pak, bapak ibu, ayah bunda abi dan umi kan sama saja.” Kataku mulai menduga arah pembicaraaanya.
“Tapi bapak kan muslim, jadi sudah seharusnya mendidik anak secara islami.” Kata orang itu.
Nah kan, arahnya sudah pasti kesitu, batinku.
“Mendidik secara islami itu yang seperti apa ya pak ?” tanyaku memancing.
“Ya salah satunya dari cara menyebut orang tuanya pak, dengan sebutan abi dan umi.” Jawab orang itu.
Wah bener nih, dari kubu sebelah, gak papa sih yang dia terapkan memang bagus. Hanya saja kadan terkesan memaksakan dan suka menyalahkan orang. Itu saja yang buat aku kurang simpatik.
“Kalo sekedar sebutan sih bagi saya gak terlalu penting pak, yang penting itu adalah adab dan akhlaq anak tersebut. bukan sekedar mengganti panggilan ayah jadi abi, ibu jadi umi kamu jadi antum atau saudara jadi Akhi.’ Jawabku sengaja memancing respon orang tersebut.
“Lah itu bapa sudah tahu kalo bahasa arabnya bapak ibu bahkan sampai ke saudara juga sudah tahu.” Kata orang itu.
“Lah kalo itu anak anak TK di pesantren juga sudah tahu semua pak bahkan lebih dari itu juga mereka tahu. Karena anak anak di pesantren di ajarkan Nahwu Shorof dan ilmu lain juga.” Jawabku.
Orang itu termenung sejenak, entah apa yang sedang di pikirkan.
“Owh jadi bapak ini juga dulunya seorang santri ?” Tanya orang itu.
“Gak hanya dulu pak, sekarangpun masih santri statusnya.” Jawabku.
“Afwan pak, banyak santri itu yang hanya ikut ikutan dengan kata kata kyainya saja tanpa tahu dalil hadits ataupun Qur'an nya dalam beribadah.” Kata orang itu yang membuat aku jadi sedikit kaget hampir terpancing emosinya. Namun aku tetap berusaha menahan diri dari pada ribut dengan orang yang gak begitu penting masalahnya.
“Wajar lah pak kalo santri ikut kata kyainya, masak mau ikutan kata orang lain dari pada ikut kata kyainya.” Jawabku.
“Tapi itu kan namanya Taklid buta pak kalo gak ngerti dasar hukumnya.” Kata orang itu setengah ngotot. Dalam hatiku tertawa, kepancing dah kamu.
“Kadang memang bagi orang tertentu yang ilmunya terbatas taqlid buta sudah cukup pak !” jawabku.
“gak bisa begitu dong pak, dalam beribadah harus tahu dasar hukumnya…!” kata orang itu makin naik intonasinya.
“Owh begitu ya pak ?” tanyaku kemudian.
“Iya harus begitu pak, kalo hanya taqlid buta itu gak sah ibadahnya.” Kata orang itu bersemangat.
Orang itu tampak ragu ragu untuk menjawab.
“Itu dhorurot pak namanya. Kalo masih muda dan mamou belajar ya harus mempelajari semua pak.” Katanya.
“Owh begitu ya pak, kalo waktu dhuhur itu kapan pak, kan sebentar lagi sudah hampir masuk waktu dhuhur ?” tanyaku.
“Kalo itu sih gampang pak tinggal nunggu adzan tanda waktu dhuhur saja.” Jawabnya sambil tertawa.
“apa yang begitu gak disebut taqlid pak / kan Cuma ikut ikutan juga gak tahu dasarnya ?” tanyaku.
“Itu kan hanya masalah waktu sekarang sudah banyak jam dan banyak masjid yang menyuarakan adzan kenapa harus repot nyari dasar hukumnya.” Jawab orang itu makin emosi.
“kan sama saja, tadi bapak bilang harus tahu dasar hukumnya kok sekarang bilang beda lagi yang bener yang mana ?” tanyaku pada orang itu.
“Lah memang kalao bapak tahu dasar hukumnya waktu masuknya sholat dhuhur ?” Tanya orang itu.
“Kalo menurut imam Syafi’I ya ketika Zawalu Syamsy pak.” Jawabku singkat.
“Apa itu zawalu syamsyi ?” Tanya orang itu.
Dalam hati aku berkata, beneran ternyata orang ini hanya bangga dengan sebutan Abi, umi dan semacamnya tapi sebenarnya…..???”
“Tergelincirnya matahari tidak lagi tepat diatas kita tapi bergeser dikit ke barat pak.” Jawabku datar.
“Aah tapi itu kan kata imam Syafii yang juga bisa saja salah kan, karena gak maksum seperti rasulullah.” Kilahnya.
Dasar orang gak berakhlaq, imam syafii saja di kritisi begitu, pikirku.
“Memang tidak maksum seperti rasulullah, tapi apakah kalo bapak maksum sehingga selalu benar ?” jawabku sedikit menaikan intonasi bicaraku.
“Ya gak gitu, maksut saya kita harus menggunakan Logika kita agar tidka hany ikut ikutan kata kyai kata syaikh dan lain sebagainya.” Jawabnya tak kalah sengit. Sementara anggota keluarganya sudah pada bermain di pantai orang ini masih saja mengajak debat denganku. Sebenarnya aku juga risih, tapi gal papa lah buat menjajaki dia, pikirku.
“saya setuju dengan itu pak, tapi kalo saya harus memilih dua pendapat yang saya sendiri tidak tahu kebenarannya. Saya memilih pendapat imam syafii dari pada pendapat bapak.” Jawabku sedikit emosi. Bahkan hampir saja terucap mengatakan jika dia zawalu Syamsyi saja gak ngerti mau menyaahkan pendapat Imam syafii. Untung aku masih bisa mengerem emosiku waktu itu.
Cukup lama kami berdebat karena orang itu pembicaraanya selalu berganti topic setiap terpojok. Dan akhirnya pergi meninggalkan aku. Dan akupun segera menyusul anak dan istriku yang tengah Asik bermain di pantai.
Dalam keramaian orang orang yang berlibur di pantai terdapat rombongan pemuda yang agak kurang ajar. Aku mengamati dari kejauhan saja rombongan anak anak muda yang sepertinya rombongan anak anak seusia smp hingga SMA.
Namun tak aku duga keusilan mereka juga sampai merembet ke keluargaku, sidiq Nisa dan juga jafar yang sedang bermain dengan ibunya turut mereka gangguin juga, sambil mengeluarkan kata kata yang tidak senonoh. Bahkan nisa anak gadis ku yang paling kecil pun mereka bikin nangis.
Aku jadi bingung mau melayani mereka masih anak anak, tapi kalo tidak juga sudah keterlaluan. Sementara Fatimah berusaha menenangkan Nisa. Sidiq dengan segala emosinya membentak anak anak muda itu serta nekat melawan mereka. Bahkan Jafar pun ikut pula mendampingi sidiq.
__ADS_1
Jadi secara spontan jafar dan sidiq berhadapan dengan tiga orang remaja yang usianya jauh diatas mereka.
Aku mengamati dulu dari jarak yang cukup, sekiranya tidak membahayakan maka akan aku biarkan saja. Sambil mengamati sampai mana ilmu olah kanuragan sidiq dan jafar, batinku.
“Kenapa kalian mengganggu kami, dan membuat adikku menangis !?!” bentak Sidiq di samping Jafar. Kali ini aku melihat Jafar meski tidak ikut membentak namun melihat sorot mata Jafar pun seperti marah pada anak anak muda tersebut.
Apakah Jafar juga akan ikut melawan mereka bersama sidiq, batinku. Akhirnya aku kembali memperhatikan sambil mengawasi keadaan jika ada kemungkinan buruk yang terjadi baru turun tangan, pikirku.
Anak anak muda itu malah pada tertawa dan hendak memukul Sidik meski juga tidak serius memukul.
Namun begitu Sidiq mengelak dan balas menendang anak muda itu pun marah beneran dan hendak menampar Sidiq dengan serius. Sehingga Jafar dengan kakinya menyiramkan pasir ke wajah anak muda itu hingga matanya kemasukan pasir dan menjerit kesakitan. Saat kedua temannya hendak ikut campur maka aku pun mendekat dan melerai mereka.
“Sudah hentikan….!!! Masak sama anak kecil saja mau menggunakan kekerasan !” bentakku pada dua anak muda yang lainya.
“Tapi mereka yang memulai teman kami sampai matanya kemasukan pasir.” Jawab salah seorang pemuda itu.
“Dia yang nakal duluan yah, de Nisa tadi di bikin nangis.” Jawab Sidiq.
Sementara Jafar hanya diam saja. Bahkan aku mendengar salah satu anak muda itu berbisik.
“Dia ayahnya, kita laporkan ke boss saja.” Bisik anak muda itu pada kedua temannya.
“Sudahlah kalian pergi saja sana jangan ganggu keluargaku, dari tadi aku sebenarnya sudah melihat tingkah kalian !” kataku pada mereka. Kemudian kau mengajak keluargaku untuk segera pulang saja, karena sudah mendengar anak muda itu berbisik mau melaporkan pada boss nya. Yang mungkin juga orang yang sudah dewasa. Jadi lebih baik menghindari keributan saja, pikirku.
Maka kami pun segera berkemas mau pulang ke rumah.
Namun lagi lagi harus menemui masalah karena saat sampai di parkiran dan hendak masuk ke mobil tiba tiba terdengar teriakan.
“Itu mereka mau kabur…!” teriak seorang anak muda yang tadi hampir memukul sidiq.
“Fat, ajak Nisa masuk ke mobil…!” perintahku pada Fatimah.
Sementara sidiq dan Jafar aku biarkan di luar, aku juga penasaran sampai dimana ilmu kanuragan kedua anakku itu. meski aku juga tidak akan membiarkan mereka terlibat terlalu jauh.
Setelah nisa diajak masuk ke mobil, maka aku suruh mengunci semua pintu dan candela.
“Owh jadi ini orang yang melukai anak buahku !” ucap orang yang di anggap boss oleh anak muda itu.
“Gak juga, justru anak buahmu yang gangguin keluargaku.” Jawabku.
“Mau kamu apa sekarang kalo keluargamu aku ganggu ?” Tanya orang itu meremehkan aku.
“Terserah kamu maunya apa sekarang ?” tanyaku balik.
Orang orang disekitar tapak panik melihat keributan yang terjadi, bahkan ada yang hendak melapor ke petugas keamanan pun di cegah oleh salah satu anak buah orang itu.
Wah kayaknya aku masih harus menggunakan kekerasan juga saat ini, batinku.
Tapi sebelumnya aku melirik ke Sidiq dan Jafar lebih dahulu, tak kulihat sedikitpun rasa takut pada diri kedua anakku itu.
“wah wah wah… hebat juga, tapi sayang kamu gak bisa berharap dapat bantuan, karena orang disini sudah kuancam gak boleh lapor petugas keamanan.” Kata orang itu sambil tepuk tangan.
“Baguslah kalo begitu, jadi aku juga akan puas menghajar kamu sesuka hatiku.” Jawabku. Membuat orang itu naik pitam dan langsung menyerang aku. Kali ini aku harus menggunakan cara kekerasan demi menjaga martabat keluargaku.
Maka serangan orang itu pun langsung aku hindari dan tangan kananku langsung menyerang kea rah pelipsnya agar segera selesai pikirku. Namun orang itu hanya terjatuh kemudian bangkit lagi, dan mau menyerang aku lagi. Dan kau pun hanya mengimbangi serangan dari orang itu sebatas mengelak dan membalas seperlunya saja. Kemudian orang itu bersiul keras memberi kode khusu ke anak buahnya, entah apa maksutnya.
*****
Author POV
Saat pemimpin anak anak berandalan itu member siulan kode untuk mengeroyok Yasin, Sidiq hendak membantu ayahnya, namun di tahan oleh Jafar.
“Gak usah mas, ayah pasti bisa atasi mereka.” Kata Jafar.
Namun tanpa sepengetahuan Sidiq Jafar menjentikan kerikil kerikil kecil yang sudah dia siapkan untuk menyerang orang yang akan membokong ayahnya. Tanpa diketahui oleh orang lain, dan akibatnya anak anak muda yang hendak menyerang Yasin secara keroyokan itupun jatuh satu persatu. Dan akhirnya pemimpin mereka pun melarikan diri.
Yasin sendiri tidak tahu persis apa yang terjadi, dan tidak mau berpikir apa apa lagi selain mengajak keluarganya segera pulang ke rumahnya.
Namun mereka tidak sadar jika ada sepasang mata yang mengawasii gerak gerik mereka dan melihat apa yang di lakukan Jafar pada pengeroyok ayahnya….?
...Bersambung...
Jangan lupa mohon dukungan
Like
Komentar
Vote
dan lainya.
Akan masuk awal Konflik.
...🙏🙏🙏...
__ADS_1