
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Pancinganku berhasil, orang itu sudah tampak marah sekali dan bersiap untuk melawan aku. Dan aku pun segera mempersiapkan diri, dan Ihsan aku minta minggir dulu untuk mengawasi orang yang lainnya.
Dan di bawah lampu penerangan yang remang aku melawan orang yang dipanggil Bagas itu…!!!
“Kamu sekarang berani terang terangan melawan aku. Apa karena sekarang kamu bawa teman ?” Tanya si Bagas.
“Dari kemarin aku juga berani, memang siapa takut.” Jawabku.
“Jangan bangga dulu, kemarin kamu menang karena licik pura pura gak mau melawan tapi tiba tiba memukul aku.” Kata Bagas.
Aku gak tahu apa maksud dia, yang jelas aku yakin memang Bagas gak bakal menang lawan Jafar adikku. Alasan apapun pasti bagas kalah, batinku.
“Ayo kita mulai sekarang, kamu ngajak berantem apa Cuma ngajak ngobrol bentak ku.
Bagas pun segera ambil ancang ancang dan pasang kuda kuda dengan gaya seperti seorang pendekar Karate. Tapi dari kuda kuda nya yang terlalu lebar jelas gerakan Bagas gak akan cepat dan akurat. Dalam hati aku tertawa saja. Meski tetap waspada, dengan melipat tangan kananku di depan dada dan tangan kiri ku di perut.
Antisipasi serangan bawah ditangkis dengan tangan kiri dan serangan atas dengan tangan kanan. Sambil berputar mengitari Bagas.
Aku melihat sekilas dalam keremangan cahaya lampu, kaki kiri Bagas agak menjejak tanah. “Hmmm… dia langsung mau menendang dengan kaki kanannya.” Batinku.
Dan sekejap kemudian Kaki kananya mulai terangkat dan Bagas langsung menendang ke arahku. Tidak tanggung tanggung langsung menyerang ke kepalaku. “Ini orang diapakan sama Jafar kemarin, kayaknya dendam banget sampai langsung menyerang ke bagan yang lemah, pikirku.
Aku sengaja menguji kekuatan fisik dengan Bagas, tendangan Bagas tidak aku hindari langsung. Tapi aku sambut dengan tinjuku ke arah betis Bagas yang melayang ke arahku. Dan ternyata Bagas langsung kesakitan dan melompat ke belakang sambil terpincang pincang.
“Cuma segitu kemampuan kamu ?” Ledekku ke Bagas.
Bagas hanya menggeram marah dan bersiap kembali menyerang ku dengan Tinjunya. Aku makin penasaran ingin tahu kekuatan fisik Bagas. Tinjunya aku sambut dengan kepalan tanganku juga, sehingga kepalan tanganku beradu dengan kepalan tangan Bagas. Namun posisi tanganku sedikit aku rendahkan sehingga mengenai ruas jari Bagas yang mengepal.
Karena kekuatan kepalan tersentral di tengah jelas Bagas sangat kesakitan, apalagi pukulan ku cukup keras. Lebih keras dari pukulan Bagas. Sehingga jari tangan Bagas agak melesak ke dalam dan menimbulkan bunyi kreekkk seperti ruas jari yang di tarik paksa. Umpatan kasar Bagas pun keluar, samba teriak minta bantuan kawan kawannya. Sementara Bagas mundur dengan terpincang pincang dan tangan yang kesakitan.
Tiga orang kawan Bagas maju hendak mengeroyok aku. Bahkan salah satu diantaranya aku lihat awa senjata. Sehingga Ihsan pun berteriak, “ Curang main keroyokan.” Kata Ihsan sambil melangkah maju mau membantuku. Namun aku cegah Ihsan agar tidak usah turun tangan.
“Biarin saja ketiganya maju, biar cepat selesai. Kamu disitu saja gak usah kesini.” Kataku pada Ihsan.
Kemudian karena aku lihat ada yang membawa senjata Tajam, aku melepas gesper ku ( ikat pinggang dengan kepala dari besi yang besar, biasa digunakan sebagai senjata lentur dan dengan ujung besi ) yang aku incar pertama tentu saja yang membawa senjata belati kecil.
Dengan memutar Gesper aku mengamati ketiganya, namun mereka juga agak ragu untuk memulai menyerang. Mungkin khawatir mengalami seperti Bagas tadi. Atau sedang mencari kelengahan ku, untuk mulai melancarkan serangan.
Saat orang yang membawa belai di samping kiri ku, dengan cepat aku mengayunkan Gesper ku ke tangannya yang memegang belati dengan cepat. Dan orang itu tak dapat menghindar, sehingga kepala Gesper ku yang dari besi menghantam tangannya. Tepat di punggung tepak tangannya yang memegang belai, hingga belatinya lepas dan jatuh.
Dengan cepat pula saat dia kesakitan memegang tangannya aku sarangkan siku ku ke wajahnya sambil menendang elatinya yang Jatuh, dan darah mengucur dari hidungnya. Orang itu kesakitan dan terjatuh, tapi orang yang tadinya di depanku kemudian menyerang aku dengan tinjunya dengan cepat. Sehingga aku harus cepat melompat menghindari serangannya.
Namun belum sempurna menjejakkan kakiku ke tanah orang yang tadinya di samping kananku menendang aku dari belakang dan mengenai punggungku, hingga aku tersungkur hampir jatuh. Untung saja aku segera memperbaiki keseimbangan sehngga tidak sampai jatuh.
Dan ketika orang kedua yang meninju ku tadi hendak menyerang ku, aku sudah berada di posisi siap. Sehingga dapat menangkis pukulanya dan langsung membalas dengan tendangan kaki kananku kea rah iga kirinya. Tendangan ku dengan kekuatan fisik yang penuh membuat orang itu bersimpuh memegangi rusuknya yang sakit, dan sulit bernafas.
Sehingga lawan ku tinggal satu, dan aku jadi agak santai menghadapinya. Orang terakhir yang tadi sempat menendang punggungku itu sepertinya agak ketakutan, melihat teman temanya sudah pada Tumbang kan masih saja berusaha melawan aku.
“Tinggal satu orang, buat mainan dulu saja ah.” Batinku.
Karena tinggal satu lawan satu aku bermaksud adu kecepatan dan adu akurasi pukulan saja. Menunggu da lebih dulu menyerang, dan menghentikan serangan dia dengan gerakan cepat atau menyerang tubuhnya dengan kecepatan dan akurasi biar seranganya mentah.
Dan aku mendekati orang tersebut dalam jangkauan pukuan, untuk adu akurasi dan kecepatan pukulan. Saat kulihat kakinya hendak bergerak, dengan gerakan cepat aku menendang tulang kering orang itu. sehingga meskipun aku tidak full power orang itu kesakitan. Karena kakinya justru terbentur keras karena tenaga yang dia keluarkan sendiri. Sedangkan aku hanya menyerang dengan memperhitungkan kecepatan dan ketepatan sasaran.
Orang itu masih belum mau menyerah, sambil menahan sakit di tulang keringnya. Dia masih berusaha memukul aku dan mengincar wajahku. Dan dengan sedikit bergeser kesamping aku menghantam pangkal lengan yang digunakan untuk menghantam aku.
Pukulannya mengenai angin saja, sementara pukulan ku bisa mengenai pangkal lengannya. Dan diapun kembali kesakitan karena tenaga dia sendiri yang membenturkan pangkal lengannya dengan tinjuku.
Aku masih ingin mempermainkan dia, jadi tidak menggunakan tenaga besar. Hanya memanfaatkan tenaga dia sendiri. Saat badannya terdorong maju karena memukul aku, maka secepatnya aku dahului. Sehingga tenaga dia sendiri yang membuat pukulan ku terasa kuat.
Dan kembali orang itu mau menggunakan Kakinya untuk menendang, namun kembali aku dapat mendahului menendang betisnya sehingga kaki yang menendang ku jadi berbelok arah dan membuatnya terjatuh. Namun sebelum tubuhnya jatuh menimpa tanah, aku segera menyambut dengan sekali tendangan kearh punggungnya. Seperti ketika menendang aku dari belakang tadi.
Sehingga tubuhnya yang hampir jatuh itu, seperti kembali terangkat namun kemudian terpelanting sekitar satu meter di depanku. Dan orang itu pun hanya merintih tidak dapat bangun lagi.
“Lain kali kalau masih mau bikin ulah lagi, maka aku akan bertindak lebih dari ini.” kataku kepada Bagas sebagai pemimpinya.
Bagas yang masih kesakitan itu hanya diam saja, kemudian aku segera menghampiri Ihsan untuk segera melanjutkan perjalanan.
“Ayo kita segera pulang, sudah terlambat nih.” Kataku.
“Tapi aku aja yang di depan, udah gak lewat area hutan ini.” Jawab Ihsan.
“Terserah kamu saja San.” Kataku. Kemudian naik ke motor Ihsan dan duduk di belakang Ihsan yang mengendalikan setang motornya.
“Kamu gila Diq, ngaku ngaku sebagai Jafar adik kamu.” Ucap Ihsan sambil jalan.
“Dia yang mengira aku Jafar kok, bukan aku mengaku sebagai Jafar.” Jawabku sambil tertawa.
“Iya sih, tapi kalau mereka mengira kamu adalah Jafar terus mereka mau balas dendam ke Jafar bagaimana ?” kata Ihsan.
Aku jadi baru terpikir dampak dari aku membiarkan mereka mengira aku adalah Jafar. Tadinya gak berpikir seperti yang dikatakan Ihsan.
“Aduh, kok aku gak kepikiran begitu ya tadi ? Kamu sih gak mengingatkan aku dari tadi ?” kataku ke Ihsan.
“Tadi aku mau mengingatkan, tapi baru ilang Diq,,, kamu sudah menyahut katanya gak papa iar mereka kapok, ya aku jadi diam saja.” Jawa Ihsan .
“Lah kirain tadi kamu mau melarang aku melawan mereka soalnya ?” jawabku ke Ihsan.
“Makanya kalau ada orang ngomong dengerin dulu, kamu nya aja yang sudah gatal pengen berantem. Nanti kamu harus kasih tahu Jafar adik kamu, ar dia tambah waspada, jangan karena ulah kamu adik kamu yang terancam bahaya. Udah gitu malah ilang kalau Nadhiroh maunya sama kamu segala. Kan kasihan Jafar nanti bisa ada berita adik kamu pacaran sama Nadhiroh.” Ucap Ihsan ngomel kayak mak mak.
Tapi ada benarnya juga apa yang dibilang Ihsan, Jafar bisa terancam bahaya tanpa dia sadari. Abah aku memang suka ceroboh dalam bertindak, batinku. Aku harus jelaskan ke Jafar, biar dia nanti gak kaget.
Untung saja Ihsan mengingatkan aku, kalau tidak Jafar bisa tidak menyadari kalau terancam bahaya. Atau jika perlu akan samperin mereka lagi dan mengatakan kalau aku bukan Jafar. Biar mereka tidak melampiaskan ke Jafar nanti. Pantas Bagas tadi bilang kalau sekarang berani terang terangan melawan dia. Pasti Jafar kemarin hanya banyak menghindari serangan si Bagas.
Aah aku kadang suka gemes sama Jafar, sudah tahu musuh mau melukai saja masih berdiam diri hanya menghindar. Yang aku takutkan jika musuhnya berhasil melukai sedang Jafar hanya menghindar terus. Aku jadi makin mengkhawatirkan Jafar adikku. Bukan meremehkan olah kanuragan Jafar tapi sikap dia yang terlalu lembut yang ikin aku khawatir.
Jadi ingat saat masih SD dulu, dia sering di palak padahal mampu melawan ternyata. Karena tiap malam dilatih Yuyut Siti Aminah. Namun begitu Jafar lebih memilih menyerahkan uangnya dari pada harus berantem. Hingga aku yang akhirnya harus bertindak sampai Ayah di panggil pihak sekolah,” aduh Jafar kamu terlalu mengalah.” Kataku dalam hati.
Tanpa terasa aku dan Ihsan sudah sampai di pesantren. Ternyata sudah ditunggu oleh abah guruku dan langsung di interogasi oleh beliau.
“Kalian dari mana ?” tanya aah guruku.
“Dari pesantren Al-Huda jenguk adik Sidiq Bah.” Jawabku tertunduk. Menghadapi beliau aku seperti kehilangan kekuatan, sekedar menatap wajahnya pun tidak berani. Apalagi jika beliau sudah marah, gemetar seluruh tubuh Sidiq kalau dimarahi beliau.
“Sidiq,, kamu bukan anak baru di pesantren harusnya bisa kasih contoh yang baik buat adik adik kamu. Bukan kasih contoh buruk dengan pergi tanpa pamit.” Kata abah guruku.
Kalau sudah begitu habis sudah keberanian Sidiq, hanya pasrah menerima apa saja yang beliau ucapkan atau menerima apapun hukuman yang diberikan.
Cukup banyak Santri putra maupun Putri yang menyaksikan aku dimarahi abah guru. Dan itu juga bukan yang pertama kalinya aku di marahi oleh beliau. Sehingga aku juga tidak terlalu malu karena sudah sering kali dimarahi beliau.
“Kamu siap d Ta’zir Sidiq ?” tanya abah guru. ( Ta’zir \= Hukuman )
Tidak bisa tidak aku harus mengatakan siap.
“Iya bah, Sidiq Siap di Ta’zir.” Jawabku tetap tertunduk.
“Ta’zirnya doble, karena kamu libatkan Ihsan maka ta’zir Ihsan kamu yang jalani.” Kata beliau.
“Iya bah.” Aku hanya dapat mengatakan iya dan siap jika dengan beliau.
“Sekarang kalian Sholat Isyak dulu, setelah itu kamu jalani hukuman sebelum berangkat ke makam.” Kata Abah guru.
“Iya bah.” Jawabku langsung bersiap untuk melaksanakan sholat Isyak.
Dan setelah Sholat Isyak aku segera menghadap abah guru untuk menerima hukuman atas kesalahanku.
b
Kemudian aku diperintah untuk mengepel seluruh lantai Masjid dengan cara khusus. Mengepel lantai dengan dua tangan yang kanan harus bergerak ke kanan dan tangan kiri harus bergerak ke kiri. Dan harus dimulai dengan kedua tangan tepat di tengah tubuh.
Malam yang dingin itu aku harus bermain dengan air, dan ketika air di ember sudah keruh harus diganti dengan yang bening lagi. Hampir dua jam aku aru bisa menyelesaikan pekerjaan yang menjadi hukumanku. Sampai kedua tanganku terasa sangat pegal, karena hampir tidak dikasih waktu untuk jeda sebentar sekalipun.
Sudah begitu aku pun langsung disuruh berangkat ke makam dengan jalan kaki. Serta disuruh memakai bakiak khusus yang hanya menggunakan penjepit di ibu jari tanpa ada talinya. Dengan susah payah aku memakai bakiak khusus itu dan berjalan ke makam seorang diri.
Meski seorang diri tapi aku tidak berani curang melepas bakiak, karena yang sudah sudah kecurangan apapun selalu ketahuan oleh abah guru. Seperti beliau itu ada yang memberi tahu, entah siapa. Namun konon katanya ada santri juga yang dari golongan Jin yang kadang di tugaskan memantau santri nya. Dengan langkah berat karena harus menggunakan tenaga ekstra untuk menjepit tali bakiak dengan ibu jari dan mengangkat kaki untuk melangkah. Mirip latihan kungfu shaolin saja, kataku dalam hati.
Sesampai di makam aku merasa sangat capek, rasanya pegal semua kakiku sampai terasa denyutan denyutan di seputar saraf kakiku. Dan saat mau mulai berdoa di makam, karena lelah aku jadi meras mengantuk. Namun aku berusaha menahan agar tidak disuruh mengulang dari awal lagi.
Dengan berkali kali harus menggelengkan kepala mengusir kantuk, akhirnya aku bisa menyelesaikan baca doa yang diperintahkan abah guru. Namun fisikku sudah sangat lelah juga kurang tidur, sehingga aku tak sanggup lagi menahan kantuk dan tertidur di makam itu.
*****
Flashback perjalanan Jalu
__ADS_1
Author POV
Setelah Jalu menerima saran dan masukan dari Gede Paneluh. Pagi hari setelah terbit matahari Jalu segera berpamitan kepada Gede Paneluh untuk lebih dulu mencari jejak kuburan ayahnya. Sebelum melakukan ritual berendam d tujuh tempuran.
“Kakang Gede Paneluh, hari sudah berganti pagi. Jalu mohon pamit dulu, mau mencari keberadaan kuburan Ayah sebelum melakukan ritual besok malam jumat kliwon.” Kata Jalu.
“Baiklah, kali ini kakang tidak menahan kamu karena saat ini memang waktu yang tepat bagi kamu untuk meninggalkan tempat ini. ingat ciri ciri makam ayah kamu yang aku bilang semalam ?” tanya Gede Paneluh.
“Ingat kakang lokasi dan cirinya Jalu ingat.” Jawa Jalu.
“Bagus, nanti kalau susuk emas itu sudah kamu temukan langsung kamu awa kesini saja. Aku yang akan memasang ditubuh kamu.” Ucap Gede Paneluh.
“Iya kakang, nanti Jalu akan langsung ke sini jika sudah mendapatkan susuk emas sebagai syarat sempurnanya ilmu ‘Giling wesi’.” Kata Jalu.
“Berangkatlah sekarang juga, dan langsung mencari kuburan ayah kamu saja baru nanti pulang ker
tumah. Tapi jangan lupa sebelum sampai rumah mandi keramas dulu, agar tidak terkena sawan kuburan.” Kata Gede Paneluh.
“Iya kakang.” Jawab Jalu sambil melangkah pergi. Dan segera mencari kuburan Ayahnya di wilayah kaki merapi sisi barat Daya atau di sekitar bukit Turgo. Tempat dimana dulu Yasin menyelesaikan tugasnya memberantas praktik perdukunan yang menumbalkan anak anak Gadis.
Singkat cerita setelah menempuh perjalanan panjang, Jalu sampai di lokasi yang dimaksud, meskipun harus ditempuh dengan berjalan kaki beberapa kilometer. Karena mobil hanya bisa sampai di pemukiman warga, dan harus naik turun bukit yang cukup tinggi dan menuruni lembah yang curam juga.
Jalu berputar mengitari tempat dimana dulu ayahnya Maheso Suro dikalahkan oleh Yasin disitu. Dan atas bimbingan Gede Paneluh Jalu pun dapat menerawang beberapa kejadian yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Dengan khodam jin yang dierikan Gede Paneluh Jalu melihat proses terbunuhnya Maheso Suro Ayahnya yang dibenturkan kepalanya dengan kawanya yang sama sama menyerang seseorang ( Yasin ). Namun Jalu tidak mampu menembus seperti apa Wajah Yasin. Hanya mampu menembus wajah teman ayahnya yang bertempur melawan Yasin. Yang tidak lain adalah Mentorogo, yang wajahnya hancur karena terbakar saat mau menyatroni rumah Yasin.
“Wajah ayah mengerikan, apalagi wajah teman ayah apa yang terjadi sebenarnya waktu itu ?” tanya Jalu dalam hati.
Jalu berusaha mencari tahu apa yang terjadi dahulu, namun kemampuan Jalu dalam menerawang masih terbatas sehingga sulit untuk menembus apa yang terjadi dengan ayahnya itu. meski berkali kali Jalu mencoba namun selalu gagal.
Akhirnya Jalu pun menyerah, kali ini yang paling penting sudah tahu kuburan ayahnya. Dan segera menyiapkan diri untuk berendam di tujuh tempuran. Sebagai sarat untuk mengambil susuk emas yang ada di jasad Ayahnya. Meski sekarang sudah menjadi tanah, namun yang di butuhkan adalah susuk emasnya itu.
Jalu segera beranjak pergi dan meninggalkan bukit Turgo, tujuannya adalah ke rumah Ari yang sanggup mencari tahu siapakah Sidiq sebenarnya.
Dengan dorongan ingin balas dendam yang membara, Jalu seperti tidak mengenal lelah. Dia langsung meluncur ke rumah Ari sebelum pulang ke rumahnya. Dan sesampai di rumah Ari, Jalu pun minta izin untuk mandi keramas dulu.
“Bagaimana, sudah dapat info nama ayahnya Sidiq itu siapa ?” Tanya Jalu.
“ Sudah bang, tapi nama Ayah Sidiq adalah Ahmad Sidiq bukan Yasin.” Kata Ari dengan sedikit kecewa.
“Tidak apa apa, berarti untuk sementara persoalan dengan Sidiq kita tunda dulu. Karena bang Jalu juga mau menyempurnakan ilmu warisan leluhur Jalu.” Kata Jalu.
“Iya bang, sementara ini kami berpura pura damai dengan Sidiq kok.” Kata Ari.
“Syukurlah, soalnya aku baru sibuk dalam beberapa hari ini, bahkan bisa sebulan lebih aku tidak bisa menggunakan kekerasan, sampai tujuanku tercapai.” Kata Jalu.
Kemudian Jalu pun berpamitan mau langsung ke rumahnya untuk beristirahat. Sementara Ari member kabar kepada teman temanya jika Jalu akan menyempurnakan ilmunya dulu untuk menghadapi Sidiq. Padahal Jalu mempersiapkan untuk melawan Yasin. Namun Ari sengaja membuat berita palsu agar teman temannya semua percaya padanya.
Dan demi kelancaran misi, ari minta teman temanya untuk sementara mengalah dulu pada Sidiq. Karena Jalu baru melakukan penyempurnaan ilmunya. Dan semua teman temanya pun hanya mengiyakan apa yang diucapkan Ari.
*****
Kembali ke Sidiq yang tertidur di makam
Sidiq terbangun saat mendengar adzan subuh pertama ( satu jam sebelum waktu subuh ).
“astaghfirullah… aku sampai tertidur karena lelah.” Ucap Sidiq saat bangun dan Hendak bangkit untuk pulang ke pesantren.
Sidiq terlebih dahulu duduk sebentar, melihat bintang untuk mengetahui itu adzan pertama atau adzan kedua.
“Owh baru adzan pertama, jadi aku gak akan terlambat jamaah subuh. aku lelap sekali tidurnya karena lelah. Tapi apakah aku semalam bermimpi ataukah nyata ?” kata Sidiq dalam hati.
Kemudian Sidiq meraba tubuhnya dan merogoh saku celananya.
“Aku semalam habis berdoa langsung tertidur, berarti itu hanya mimpi. Tapi kenapa benda ini nyata ada di sini sekarang ?” kata Sidiq dalam hati yang heran menemukan sebuah Tasbih dari kayu cendana. Apa tadi malam aku tidak sekedar mimpi…???
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reders...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Reader Tercinta
tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.
Selamat membaca.
semoga terhibur.
...🙏🙏🙏...
Pancinganku berhasil, orang itu sudah tampak marah sekali dan bersiap untuk melawan aku. Dan aku pun segera mempersiapkan diri, dan Ihsan aku minta minggir dulu untuk mengawasi orang yang lainnya.
Dan di bawah lampu penerangan yang remang aku melawan orang yang dipanggil Bagas itu…!!!
“Kamu sekarang berani terang terangan melawan aku. Apa karena sekarang kamu bawa teman ?” Tanya si Bagas.
“Dari kemarin aku juga berani, memang siapa takut.” Jawabku.
“Jangan bangga dulu, kemarin kamu menang karena licik pura pura gak mau melawan tapi tiba tiba memukul aku.” Kata Bagas.
Aku gak tahu apa maksud dia, yang jelas aku yakin memang Bagas gak bakal menang lawan Jafar adikku. Alasan apapun pasti bagas kalah, batinku.
“Ayo kita mulai sekarang, kamu ngajak berantem apa Cuma ngajak ngobrol bentak ku.
Bagas pun segera ambil ancang ancang dan pasang kuda kuda dengan gaya seperti seorang pendekar Karate. Tapi dari kuda kuda nya yang terlalu lebar jelas gerakan Bagas gak akan cepat dan akurat. Dalam hati aku tertawa saja. Meski tetap waspada, dengan melipat tangan kananku di depan dada dan tangan kiri ku di perut.
Antisipasi serangan bawah ditangkis dengan tangan kiri dan serangan atas dengan tangan kanan. Sambil berputar mengitari Bagas.
Aku melihat sekilas dalam keremangan cahaya lampu, kaki kiri Bagas agak menjejak tanah. “Hmmm… dia langsung mau menendang dengan kaki kanannya.” Batinku.
Dan sekejap kemudian Kaki kananya mulai terangkat dan Bagas langsung menendang ke arahku. Tidak tanggung tanggung langsung menyerang ke kepalaku. “Ini orang diapakan sama Jafar kemarin, kayaknya dendam banget sampai langsung menyerang ke bagan yang lemah, pikirku.
Aku sengaja menguji kekuatan fisik dengan Bagas, tendangan Bagas tidak aku hindari langsung. Tapi aku sambut dengan tinjuku ke arah betis Bagas yang melayang ke arahku. Dan ternyata Bagas langsung kesakitan dan melompat ke belakang sambil terpincang pincang.
“Cuma segitu kemampuan kamu ?” Ledekku ke Bagas.
Bagas hanya menggeram marah dan bersiap kembali menyerang ku dengan Tinjunya. Aku makin penasaran ingin tahu kekuatan fisik Bagas. Tinjunya aku sambut dengan kepalan tanganku juga, sehingga kepalan tanganku beradu dengan kepalan tangan Bagas. Namun posisi tanganku sedikit aku rendahkan sehingga mengenai ruas jari Bagas yang mengepal.
Karena kekuatan kepalan tersentral di tengah jelas Bagas sangat kesakitan, apalagi pukulan ku cukup keras. Lebih keras dari pukulan Bagas. Sehingga jari tangan Bagas agak melesak ke dalam dan menimbulkan bunyi kreekkk seperti ruas jari yang di tarik paksa. Umpatan kasar Bagas pun keluar, samba teriak minta bantuan kawan kawannya. Sementara Bagas mundur dengan terpincang pincang dan tangan yang kesakitan.
Tiga orang kawan Bagas maju hendak mengeroyok aku. Bahkan salah satu diantaranya aku lihat awa senjata. Sehingga Ihsan pun berteriak, “ Curang main keroyokan.” Kata Ihsan sambil melangkah maju mau membantuku. Namun aku cegah Ihsan agar tidak usah turun tangan.
“Biarin saja ketiganya maju, biar cepat selesai. Kamu disitu saja gak usah kesini.” Kataku pada Ihsan.
Kemudian karena aku lihat ada yang membawa senjata Tajam, aku melepas gesper ku ( ikat pinggang dengan kepala dari besi yang besar, biasa digunakan sebagai senjata lentur dan dengan ujung besi ) yang aku incar pertama tentu saja yang membawa senjata belati kecil.
Dengan memutar Gesper aku mengamati ketiganya, namun mereka juga agak ragu untuk memulai menyerang. Mungkin khawatir mengalami seperti Bagas tadi. Atau sedang mencari kelengahan ku, untuk mulai melancarkan serangan.
Saat orang yang membawa belai di samping kiri ku, dengan cepat aku mengayunkan Gesper ku ke tangannya yang memegang belati dengan cepat. Dan orang itu tak dapat menghindar, sehingga kepala Gesper ku yang dari besi menghantam tangannya. Tepat di punggung tepak tangannya yang memegang belai, hingga belatinya lepas dan jatuh.
Dengan cepat pula saat dia kesakitan memegang tangannya aku sarangkan siku ku ke wajahnya sambil menendang elatinya yang Jatuh, dan darah mengucur dari hidungnya. Orang itu kesakitan dan terjatuh, tapi orang yang tadinya di depanku kemudian menyerang aku dengan tinjunya dengan cepat. Sehingga aku harus cepat melompat menghindari serangannya.
Namun belum sempurna menjejakkan kakiku ke tanah orang yang tadinya di samping kananku menendang aku dari belakang dan mengenai punggungku, hingga aku tersungkur hampir jatuh. Untung saja aku segera memperbaiki keseimbangan sehngga tidak sampai jatuh.
Dan ketika orang kedua yang meninju ku tadi hendak menyerang ku, aku sudah berada di posisi siap. Sehingga dapat menangkis pukulanya dan langsung membalas dengan tendangan kaki kananku kea rah iga kirinya. Tendangan ku dengan kekuatan fisik yang penuh membuat orang itu bersimpuh memegangi rusuknya yang sakit, dan sulit bernafas.
Sehingga lawan ku tinggal satu, dan aku jadi agak santai menghadapinya. Orang terakhir yang tadi sempat menendang punggungku itu sepertinya agak ketakutan, melihat teman temanya sudah pada Tumbang kan masih saja berusaha melawan aku.
“Tinggal satu orang, buat mainan dulu saja ah.” Batinku.
Karena tinggal satu lawan satu aku bermaksud adu kecepatan dan adu akurasi pukulan saja. Menunggu da lebih dulu menyerang, dan menghentikan serangan dia dengan gerakan cepat atau menyerang tubuhnya dengan kecepatan dan akurasi biar seranganya mentah.
Dan aku mendekati orang tersebut dalam jangkauan pukuan, untuk adu akurasi dan kecepatan pukulan. Saat kulihat kakinya hendak bergerak, dengan gerakan cepat aku menendang tulang kering orang itu. sehingga meskipun aku tidak full power orang itu kesakitan. Karena kakinya justru terbentur keras karena tenaga yang dia keluarkan sendiri. Sedangkan aku hanya menyerang dengan memperhitungkan kecepatan dan ketepatan sasaran.
Orang itu masih belum mau menyerah, sambil menahan sakit di tulang keringnya. Dia masih berusaha memukul aku dan mengincar wajahku. Dan dengan sedikit bergeser kesamping aku menghantam pangkal lengan yang digunakan untuk menghantam aku.
Pukulannya mengenai angin saja, sementara pukulan ku bisa mengenai pangkal lengannya. Dan diapun kembali kesakitan karena tenaga dia sendiri yang membenturkan pangkal lengannya dengan tinjuku.
Aku masih ingin mempermainkan dia, jadi tidak menggunakan tenaga besar. Hanya memanfaatkan tenaga dia sendiri. Saat badannya terdorong maju karena memukul aku, maka secepatnya aku dahului. Sehingga tenaga dia sendiri yang membuat pukulan ku terasa kuat.
Dan kembali orang itu mau menggunakan Kakinya untuk menendang, namun kembali aku dapat mendahului menendang betisnya sehingga kaki yang menendang ku jadi berbelok arah dan membuatnya terjatuh. Namun sebelum tubuhnya jatuh menimpa tanah, aku segera menyambut dengan sekali tendangan kearh punggungnya. Seperti ketika menendang aku dari belakang tadi.
Sehingga tubuhnya yang hampir jatuh itu, seperti kembali terangkat namun kemudian terpelanting sekitar satu meter di depanku. Dan orang itu pun hanya merintih tidak dapat bangun lagi.
“Lain kali kalau masih mau bikin ulah lagi, maka aku akan bertindak lebih dari ini.” kataku kepada Bagas sebagai pemimpinya.
__ADS_1
Bagas yang masih kesakitan itu hanya diam saja, kemudian aku segera menghampiri Ihsan untuk segera melanjutkan perjalanan.
“Ayo kita segera pulang, sudah terlambat nih.” Kataku.
“Tapi aku aja yang di depan, udah gak lewat area hutan ini.” Jawab Ihsan.
“Terserah kamu saja San.” Kataku. Kemudian naik ke motor Ihsan dan duduk di belakang Ihsan yang mengendalikan setang motornya.
“Kamu gila Diq, ngaku ngaku sebagai Jafar adik kamu.” Ucap Ihsan sambil jalan.
“Dia yang mengira aku Jafar kok, bukan aku mengaku sebagai Jafar.” Jawabku sambil tertawa.
“Iya sih, tapi kalau mereka mengira kamu adalah Jafar terus mereka mau balas dendam ke Jafar bagaimana ?” kata Ihsan.
Aku jadi baru terpikir dampak dari aku membiarkan mereka mengira aku adalah Jafar. Tadinya gak berpikir seperti yang dikatakan Ihsan.
“Aduh, kok aku gak kepikiran begitu ya tadi ? Kamu sih gak mengingatkan aku dari tadi ?” kataku ke Ihsan.
“Tadi aku mau mengingatkan, tapi baru ilang Diq,,, kamu sudah menyahut katanya gak papa iar mereka kapok, ya aku jadi diam saja.” Jawa Ihsan .
“Lah kirain tadi kamu mau melarang aku melawan mereka soalnya ?” jawabku ke Ihsan.
“Makanya kalau ada orang ngomong dengerin dulu, kamu nya aja yang sudah gatal pengen berantem. Nanti kamu harus kasih tahu Jafar adik kamu, ar dia tambah waspada, jangan karena ulah kamu adik kamu yang terancam bahaya. Udah gitu malah ilang kalau Nadhiroh maunya sama kamu segala. Kan kasihan Jafar nanti bisa ada berita adik kamu pacaran sama Nadhiroh.” Ucap Ihsan ngomel kayak mak mak.
Tapi ada benarnya juga apa yang dibilang Ihsan, Jafar bisa terancam bahaya tanpa dia sadari. Abah aku memang suka ceroboh dalam bertindak, batinku. Aku harus jelaskan ke Jafar, biar dia nanti gak kaget.
Untung saja Ihsan mengingatkan aku, kalau tidak Jafar bisa tidak menyadari kalau terancam bahaya. Atau jika perlu akan samperin mereka lagi dan mengatakan kalau aku bukan Jafar. Biar mereka tidak melampiaskan ke Jafar nanti. Pantas Bagas tadi bilang kalau sekarang berani terang terangan melawan dia. Pasti Jafar kemarin hanya banyak menghindari serangan si Bagas.
Aah aku kadang suka gemes sama Jafar, sudah tahu musuh mau melukai saja masih berdiam diri hanya menghindar. Yang aku takutkan jika musuhnya berhasil melukai sedang Jafar hanya menghindar terus. Aku jadi makin mengkhawatirkan Jafar adikku. Bukan meremehkan olah kanuragan Jafar tapi sikap dia yang terlalu lembut yang ikin aku khawatir.
Jadi ingat saat masih SD dulu, dia sering di palak padahal mampu melawan ternyata. Karena tiap malam dilatih Yuyut Siti Aminah. Namun begitu Jafar lebih memilih menyerahkan uangnya dari pada harus berantem. Hingga aku yang akhirnya harus bertindak sampai Ayah di panggil pihak sekolah,” aduh Jafar kamu terlalu mengalah.” Kataku dalam hati.
Tanpa terasa aku dan Ihsan sudah sampai di pesantren. Ternyata sudah ditunggu oleh abah guruku dan langsung di interogasi oleh beliau.
“Kalian dari mana ?” tanya aah guruku.
“Dari pesantren Al-Huda jenguk adik Sidiq Bah.” Jawabku tertunduk. Menghadapi beliau aku seperti kehilangan kekuatan, sekedar menatap wajahnya pun tidak berani. Apalagi jika beliau sudah marah, gemetar seluruh tubuh Sidiq kalau dimarahi beliau.
“Sidiq,, kamu bukan anak baru di pesantren harusnya bisa kasih contoh yang baik buat adik adik kamu. Bukan kasih contoh buruk dengan pergi tanpa pamit.” Kata abah guruku.
Kalau sudah begitu habis sudah keberanian Sidiq, hanya pasrah menerima apa saja yang beliau ucapkan atau menerima apapun hukuman yang diberikan.
Cukup banyak Santri putra maupun Putri yang menyaksikan aku dimarahi abah guru. Dan itu juga bukan yang pertama kalinya aku di marahi oleh beliau. Sehingga aku juga tidak terlalu malu karena sudah sering kali dimarahi beliau.
“Kamu siap d Ta’zir Sidiq ?” tanya abah guru. ( Ta’zir \= Hukuman )
Tidak bisa tidak aku harus mengatakan siap.
“Iya bah, Sidiq Siap di Ta’zir.” Jawabku tetap tertunduk.
“Ta’zirnya doble, karena kamu libatkan Ihsan maka ta’zir Ihsan kamu yang jalani.” Kata beliau.
“Iya bah.” Aku hanya dapat mengatakan iya dan siap jika dengan beliau.
“Sekarang kalian Sholat Isyak dulu, setelah itu kamu jalani hukuman sebelum berangkat ke makam.” Kata Abah guru.
“Iya bah.” Jawabku langsung bersiap untuk melaksanakan sholat Isyak.
Dan setelah Sholat Isyak aku segera menghadap abah guru untuk menerima hukuman atas kesalahanku.
b
Kemudian aku diperintah untuk mengepel seluruh lantai Masjid dengan cara khusus. Mengepel lantai dengan dua tangan yang kanan harus bergerak ke kanan dan tangan kiri harus bergerak ke kiri. Dan harus dimulai dengan kedua tangan tepat di tengah tubuh.
Malam yang dingin itu aku harus bermain dengan air, dan ketika air di ember sudah keruh harus diganti dengan yang bening lagi. Hampir dua jam aku aru bisa menyelesaikan pekerjaan yang menjadi hukumanku. Sampai kedua tanganku terasa sangat pegal, karena hampir tidak dikasih waktu untuk jeda sebentar sekalipun.
Sudah begitu aku pun langsung disuruh berangkat ke makam dengan jalan kaki. Serta disuruh memakai bakiak khusus yang hanya menggunakan penjepit di ibu jari tanpa ada talinya. Dengan susah payah aku memakai bakiak khusus itu dan berjalan ke makam seorang diri.
Meski seorang diri tapi aku tidak berani curang melepas bakiak, karena yang sudah sudah kecurangan apapun selalu ketahuan oleh abah guru. Seperti beliau itu ada yang memberi tahu, entah siapa. Namun konon katanya ada santri juga yang dari golongan Jin yang kadang di tugaskan memantau santri nya. Dengan langkah berat karena harus menggunakan tenaga ekstra untuk menjepit tali bakiak dengan ibu jari dan mengangkat kaki untuk melangkah. Mirip latihan kungfu shaolin saja, kataku dalam hati.
Sesampai di makam aku merasa sangat capek, rasanya pegal semua kakiku sampai terasa denyutan denyutan di seputar saraf kakiku. Dan saat mau mulai berdoa di makam, karena lelah aku jadi meras mengantuk. Namun aku berusaha menahan agar tidak disuruh mengulang dari awal lagi.
Dengan berkali kali harus menggelengkan kepala mengusir kantuk, akhirnya aku bisa menyelesaikan baca doa yang diperintahkan abah guru. Namun fisikku sudah sangat lelah juga kurang tidur, sehingga aku tak sanggup lagi menahan kantuk dan tertidur di makam itu.
*****
Flashback perjalanan Jalu
Author POV
Setelah Jalu menerima saran dan masukan dari Gede Paneluh. Pagi hari setelah terbit matahari Jalu segera berpamitan kepada Gede Paneluh untuk lebih dulu mencari jejak kuburan ayahnya. Sebelum melakukan ritual berendam d tujuh tempuran.
“Kakang Gede Paneluh, hari sudah berganti pagi. Jalu mohon pamit dulu, mau mencari keberadaan kuburan Ayah sebelum melakukan ritual besok malam jumat kliwon.” Kata Jalu.
“Baiklah, kali ini kakang tidak menahan kamu karena saat ini memang waktu yang tepat bagi kamu untuk meninggalkan tempat ini. ingat ciri ciri makam ayah kamu yang aku bilang semalam ?” tanya Gede Paneluh.
“Ingat kakang lokasi dan cirinya Jalu ingat.” Jawa Jalu.
“Bagus, nanti kalau susuk emas itu sudah kamu temukan langsung kamu awa kesini saja. Aku yang akan memasang ditubuh kamu.” Ucap Gede Paneluh.
“Iya kakang, nanti Jalu akan langsung ke sini jika sudah mendapatkan susuk emas sebagai syarat sempurnanya ilmu ‘Giling wesi’.” Kata Jalu.
“Berangkatlah sekarang juga, dan langsung mencari kuburan ayah kamu saja baru nanti pulang ker
tumah. Tapi jangan lupa sebelum sampai rumah mandi keramas dulu, agar tidak terkena sawan kuburan.” Kata Gede Paneluh.
“Iya kakang.” Jawab Jalu sambil melangkah pergi. Dan segera mencari kuburan Ayahnya di wilayah kaki merapi sisi barat Daya atau di sekitar bukit Turgo. Tempat dimana dulu Yasin menyelesaikan tugasnya memberantas praktik perdukunan yang menumbalkan anak anak Gadis.
Singkat cerita setelah menempuh perjalanan panjang, Jalu sampai di lokasi yang dimaksud, meskipun harus ditempuh dengan berjalan kaki beberapa kilometer. Karena mobil hanya bisa sampai di pemukiman warga, dan harus naik turun bukit yang cukup tinggi dan menuruni lembah yang curam juga.
Jalu berputar mengitari tempat dimana dulu ayahnya Maheso Suro dikalahkan oleh Yasin disitu. Dan atas bimbingan Gede Paneluh Jalu pun dapat menerawang beberapa kejadian yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Dengan khodam jin yang dierikan Gede Paneluh Jalu melihat proses terbunuhnya Maheso Suro Ayahnya yang dibenturkan kepalanya dengan kawanya yang sama sama menyerang seseorang ( Yasin ). Namun Jalu tidak mampu menembus seperti apa Wajah Yasin. Hanya mampu menembus wajah teman ayahnya yang bertempur melawan Yasin. Yang tidak lain adalah Mentorogo, yang wajahnya hancur karena terbakar saat mau menyatroni rumah Yasin.
“Wajah ayah mengerikan, apalagi wajah teman ayah apa yang terjadi sebenarnya waktu itu ?” tanya Jalu dalam hati.
Jalu berusaha mencari tahu apa yang terjadi dahulu, namun kemampuan Jalu dalam menerawang masih terbatas sehingga sulit untuk menembus apa yang terjadi dengan ayahnya itu. meski berkali kali Jalu mencoba namun selalu gagal.
Akhirnya Jalu pun menyerah, kali ini yang paling penting sudah tahu kuburan ayahnya. Dan segera menyiapkan diri untuk berendam di tujuh tempuran. Sebagai sarat untuk mengambil susuk emas yang ada di jasad Ayahnya. Meski sekarang sudah menjadi tanah, namun yang di butuhkan adalah susuk emasnya itu.
Jalu segera beranjak pergi dan meninggalkan bukit Turgo, tujuannya adalah ke rumah Ari yang sanggup mencari tahu siapakah Sidiq sebenarnya.
Dengan dorongan ingin balas dendam yang membara, Jalu seperti tidak mengenal lelah. Dia langsung meluncur ke rumah Ari sebelum pulang ke rumahnya. Dan sesampai di rumah Ari, Jalu pun minta izin untuk mandi keramas dulu.
“Bagaimana, sudah dapat info nama ayahnya Sidiq itu siapa ?” Tanya Jalu.
“ Sudah bang, tapi nama Ayah Sidiq adalah Ahmad Sidiq bukan Yasin.” Kata Ari dengan sedikit kecewa.
“Tidak apa apa, berarti untuk sementara persoalan dengan Sidiq kita tunda dulu. Karena bang Jalu juga mau menyempurnakan ilmu warisan leluhur Jalu.” Kata Jalu.
“Iya bang, sementara ini kami berpura pura damai dengan Sidiq kok.” Kata Ari.
“Syukurlah, soalnya aku baru sibuk dalam beberapa hari ini, bahkan bisa sebulan lebih aku tidak bisa menggunakan kekerasan, sampai tujuanku tercapai.” Kata Jalu.
Kemudian Jalu pun berpamitan mau langsung ke rumahnya untuk beristirahat. Sementara Ari member kabar kepada teman temanya jika Jalu akan menyempurnakan ilmunya dulu untuk menghadapi Sidiq. Padahal Jalu mempersiapkan untuk melawan Yasin. Namun Ari sengaja membuat berita palsu agar teman temannya semua percaya padanya.
Dan demi kelancaran misi, ari minta teman temanya untuk sementara mengalah dulu pada Sidiq. Karena Jalu baru melakukan penyempurnaan ilmunya. Dan semua teman temanya pun hanya mengiyakan apa yang diucapkan Ari.
*****
Kembali ke Sidiq yang tertidur di makam
Sidiq terbangun saat mendengar adzan subuh pertama ( satu jam sebelum waktu subuh ).
“astaghfirullah… aku sampai tertidur karena lelah.” Ucap Sidiq saat bangun dan Hendak bangkit untuk pulang ke pesantren.
Sidiq terlebih dahulu duduk sebentar, melihat bintang untuk mengetahui itu adzan pertama atau adzan kedua.
“Owh baru adzan pertama, jadi aku gak akan terlambat jamaah subuh. aku lelap sekali tidurnya karena lelah. Tapi apakah aku semalam bermimpi ataukah nyata ?” kata Sidiq dalam hati.
Kemudian Sidiq meraba tubuhnya dan merogoh saku celananya.
“Aku semalam habis berdoa langsung tertidur, berarti itu hanya mimpi. Tapi kenapa benda ini nyata ada di sini sekarang ?” kata Sidiq dalam hati yang heran menemukan sebuah Tasbih dari kayu cendana. Apa tadi malam aku tidak sekedar mimpi…???
...Bersambung....
...Mohon dukungannya Reders...
...Like Komen dan vote nya...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...