Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Sidiq dihadang Bagas dikira Jafar


__ADS_3

Reader Tercinta


tak lupa selalu mohon dukungannya, saat ini memasuki konflik eksternal ketiga anak Yasin.


Selamat membaca.


semoga terhibur.


...🙏🙏🙏...


Sidiq menitipkan HP milik Yuni dulu ke Lita agar diberikan ke Vina adiknya untuk diserahkan pemiliknya. Sementara Sidiq dan Ihsan segera masuk untuk menemui Jafar…!!!


Di ruang tamu abah gurunya Jafar, Sidiq dan Ihsan pun sudah ditunggu oleh Jafar dan Abah gurunya.


“Assalaamu’alaikum bah…!” Salam Sidiq diikuti Ihsan.


“Wa’alaikummussalaam warahmatullahi,,, masuklah bagaimana kabar guru kalian ?” Tanya abah gurunya Jafar.


“Alhamdulillah bah, abah guru juga Sehat.” Jawab Sidiq.


“Syukurlah, aku juga sudah lama tidak bertemu. Kalau dengan ayahmu beberapa hari lalu aku ketemu. Alhamdulillah ayah kamu juga sehat sekarang.” Kata abah gurunya Jafar.


Jafar agak kaget mendengar ucapan abah gurunya, karena tidak merasa Ayahnya habis mengunjunginya. Namun Jafar tidak berani menanyakan perihal itu kepada abah Gurunya. Karena kadang ucapan abah gurunya hanya bermakna ‘konotasi’ bukan makna denotasi.


Sesaat kemudian abah gurunya Jafar memanggil Nia diminta menghadirkan Nisa agar bertemu Sidiq kakaknya juga.


“Nia,,, kamu panggil Nisa suruh kesini. Ada kakaknya kesini.” Perintah Abah gurunya  Jafar.


Nia pun menghadap ke Abinya, dan sempat kaget melihat  Sidiq yang duduk bersama Jafar.


“Iya bi, sekarang panggilnya ?” Jawab Nia sambil melirik Jafar dan Sidiq. “Mirip banget itu kakak adik.” Batin Nia.


“Iya Sekarang, jangan lama lama.” Kata abinya Nia.


Nia pun segera mencari Nisa ke kamarnya, dan tak lama Nia sudah kembali bersama Nisa.


“Ini bi Nisa “ Kata Nia.


“Ya sudah kamu masuk lagi sana !” kata abinya.


Nia pun masuk sementara Nisa bersalaman dengan Sidiq dan Jafar kakaknya. Meskipun dengan Jafar tinggal di pesantren yang sama namun tidak pasti tiap hari dapat ngobrol, karena Nisa tinggal di komplek santri putri.


“Dengarkan kalian semuanya, baik semua anak anak Yasin maupun kamu teman santri Sidiq. Aku sudah mendengar apa yang terjadi kepada Sidiq dari Jafar tadi. Memang ayah kamu dulu mempunyai banyak musuh yang ternyata menimbulkan dendam bagi keturunannya.” Kata kata abah guru Jafar pun berhenti sejenak. Mempersilahkan minuman yang disajikan oleh santri kepada tamu tamunya.


“Nah orang yang kemarin mendatangi kamu itu adalah salah satu keturunan musuh ayahmu yang akan menuntut balas pada Ayahmu. Tentu sebagai anak kamu tidak akan berdiam diri, hanya saja untuk saat ini kalian harus lebih giat dalam mengaji dan mengasah diri.” Kembali abah gurunya Jafar berhenti sambil menatap Sidiq dan Jafar juga Nisa. Sedang kepada Ihsan abah gurunya Jafar hanya melihat sekilas saja.


Dan sebelum abah gurunya Jafar melanjutkan, Sidiq memberanikan diri untuk bertanya.


“Maaf bah, apa masih ada orang lain lagi yang akan menuntut balas kepada ayah kami ?” Tanya Sidiq.


“Itu yang akan aku katakan pada kalian, karena memang tidak hanya satu orang yang akan mencari ayah kamu untuk menuntut balas. Bahkan tidak hanya dari golongan manusia saja.” Jawab abah gurunya Jafar.


“Tidak hanya dari golongan manusia saja ?” tanya Sidiq kaget.


“Jadi ceritanya dulu, Ayah kamu memenjarakan Jin yang menguasai banyak khodam jahat. Seiring berjalanya waktu Jin itu akan lepas dari penjaranya. Dan akan menuntut balas kepada Yasin dan semua keturunannya, termasuk kalian.” Jawab Abah gurunya Jafar.


Semua jadi merinding mendengarkan penjelasan abah gurunya Jafar tersebut. tidak menyangka apa bila musuh Ayahnya dulu tidak hanya dari golongan manusia saja. Bahkan Nisa agak ketakutan mendengarnya, naluri gadisnya tidak dapat dibohongi jika takut dengan sosok makhluk Astral.


Dalam pembicaraan tersebut hanya Sidiq yang berani bertanya banyak. Jafar sebagai santri langsung agak sungkan untuk bertanya, apalagi Nisa. Sementara Ihsan hanya memposisikan sebagai pendengar saja. Sehingga mau gak mau Sidiq lah yang harus banyak bertanya.


“Bagaimana ceritanya Jin itu akan bisa lepas dari penjara ayah Bah ?” tanya Sidiq.


Kemudian abah gurunya Jafar pun menceritakan dari awal. Saat ayahnya memenjarakan Jin itu membuat sebuah sumpah. Jika dia bersedia di penjarakan akan tetapi akan keluar suatu saat apabila dia ( Jin itu ) sudah berhasil mengumpulkan kembali seluruh pengikutnya. Yang ditandai dengan maraknya orang berbuat maksiat tanpa rasa malu lagi. Bahkan puncaknya orang yang tidak mau berbuat maksiat justru akan dikucilkan dianggap tidak mengikuti arus perkembangan. Dan saat itulah Jin tersebut akan kembali muncul dan membuat kekacauan yang akan memakan banyak korban.


“Pertanda pertama sudah terjadi pada saat Paman kamu terbunuh, dan pada saat itu Ayah kamu pun sempat terluka parah cukup lama. Sampai beberapa lama ayahmu pincang tidak bisa jalan tegak.” Kata Abah gurunya Jafar.


Sidiq dan Jafar masih ingat jelas peristiwa itu, karena waktu itu bahkan keduanya sempat akan dianiaya oleh beberapa anak buah musuh ayahnya. Pada saat Zulfan paman mereka meninggal dunia, dan ayahnya waktu berhadapan dengan salah satu pentolan Bhairawa Tantra yang sangat sakti mandraguna. Hingga ayahnya sempat tidak bisa jalan dan jalan dengan kaki pincang cukup lama.


Bahkan Nisa pun cukup ingat waktu itu, meski tidak se detail kakak kakaknya, karena masih terlalu kecil. Hal itu membuat Sidiq dan Jafar merasa haru, ingat perjuangan berat ayahnya dahulu. Belum lagi beberapa waktu lalu ayah bundanya diterpa masalah finansial yang cukup berat. Sehingga Sidiq dan Jafar pun tidak terasa meneteskan air matanya. Dan tiba tiba pembicaraan terhenti karena ada santri yang menghadap dan melaporkan bahwa akan ada tamu yang hendak  menginap di pesantren. Dan itu tidak lain adalah Lita dan Riska.


“Suruh kesini dulu saja, bukankah teman teman mereka ada di sini.” Kata abah gurunya Jafar. Membuat Sidiq jadi tertunduk malu, karena abah gurunya Jafar tahu jika yang datang adalah Lita dan Riska pacarnya. Dan Sidiq pun hanya tertunduk tidak berani menatap abah gurunya Jafar tersebut.


Jafar paham apa yang dirasakan Sidiq, namun Jafar pura pura gak tahu saja. Demikian juga dengan Ihsan, yang justru menahan tawa melihat reaksi Sidiq. Hanya Nisa yang gak paham apa yang terjadi dengan kakaknya Sidiq itu.


Beberapa saat kemudian, Lita dan Riska dihadapkan ke abah Gurunya Jafar didampingi oleh Vina adik Lita. Lita dan Vina masih Nampak berkaca kaca seperti habis menangis, karena mereka memang saling rindu beberapa tahun tidak bertemu.


“Assalaamu’alaikum abah, maaf ini kakaknya Vina dan temannya mau menginap disini nanti malam. Apa diizinkan bah ?” Tanya Vina kepada abah gurunya. Vina tidak menyangka jika Jafar pun ada disitu juga, sehingga sedikit kaget.


“Duduk dulu kalian, ceritakan dulu maksud dan tujuan kalian. Kalau soal mau menginap jangankan semalam sekalian mau ikut ngaji disini juga boleh kok.” Ucap abah gurunya Jafar dan Vina.


Membuat Lita dan Riska jadi tersenyum tidak menduga jika kiai yang dia temui juga bisa bercanda. Sehingga sedikit merubah paradigma Lita dan Riska pada sosok seorang kyai. Dimana mereka dulu menganggap kiai itu galak dan sukanya membentak saja.


“Terimakasih pak Kyai saya dan teman saya diizinkan menginap di sini. Soalnya saya kangen banget dengan Vina adik saya ini.” Kata Lita.


“Gak usah berterima kasih,,, kalau kamu punya adik di sini gak mau jenguk itu malah kamu gak tau terimakasih namanya.” Jawab Abah gurunya Jafar dengan candaan ke Lita.


Sehingga semua hanya tertawa kecil mendengar jawaban abah gurunya Jafar tersebut.


“Iya maaf pak kiai saya baru tahu kalau Vina adik saya itu mondok di sini.” Jawab Lita setengah membela diri.


“Wah kalau itu justru kebangetan, adik kamu disini hampir empat tahun masak kamu baru tahu sekarang ?” jawab abah gurunya Jafar.


Lita hanya tertawa kecil tidak menyangka mendapat jawaban seperti itu, meskipun Lita juga tahu bahwa abah gurunya Jafar tersebut tidak serius.


“Soalnya adik saya gak pernah bilang pak Kiai, jadi saya baru tahu sekarang ini.” Jawab Lita masih berusaha membela diri meski tahu abah guru Jafar hanya bercanda.


“Ya karena adik kamu takut, karena kamu jadi kakak galak kan ?” ucap abah gurunya Jafar.


LIta jadi kaget, “darimana pak kiai tahu kalau aku suka galak sama Vina.” Tanya Lita dalam hati.

__ADS_1


Lita jadi berpikir, gak mungkin kalau Vina adiknya cerita sampai sejauh itu tentang Lita pada kiainya. Melihat tadi para santri yang begitu hormat, jangankan ngobrol atau ngerumpi sama kiainya berucap saja mereka bisa dihitung jari.


Lita kemudian diam saja, seperti sedang mendapat pencerahan sesuatu tentang sosok seorang kiai. Sehingga Lita memilih untuk diam saja, “daripada makin terbongkar jati diri Lita, lebih baik diam saja lah.” Kata Lita dalam hati.


“Tapi kak Dina baik kok bah sama Vina meski galak juga.” Ucap Vina membela kakaknya yang jadi malu tersebut.


“Loh jadi beneran kakak kamu galak ? aku kan hanya menduga tadi, ‘barang kali’ karena dia galak kamu gak berani ngomong.” Jawab abah gurunya tersebut.


Semua yang mendengar jadi tertawa, tak terkecuali Lita dan Riska. Suasana pun jadi cukup cair mereka tidak lagi takut untuk bertanya kepada abah gurunya Jafar tentang segala hal.


Dan beberapa saat kemudian Sidiq dan Ihsan berpamitan untuk pulang ke pesantrennya. Dan abah gurunya Jafar mengijinkan Sidiq dan Ihsan pulang.


“Ya sudah titip salam saja buat abah guru kalian, jangan tidak disampaikan. Dan kamu Vina ajak kakak kamu ke kamar, tapi kalau mau melepas kepulangan teman temanya biarkan saja dulu. Biar abah gak dikatakan gak tahu urusan anak muda.” Kata abah gurunya Jafar. Sekali lagi Sidiq merasa seperti sedang digojlok oleh abah gurunya Jafar, termasuk Riska pun menjadi malu.


Semua akhirnya melepas kepergian Ihsan dan Sidiq sampai gerbang pesantren, bahkan Vina pun ikut dalam rombongan itu.


“Mas Sidiq, kenalin dong teman mas Sidiq ke Nisa kalau gak Nisa bilangin ayah bunda nanti.” Goda Nisa ke Sidiq.


Kemudian Riska yang lantas mendekati Nisa dan memeluk Nisa dengan Hangat.


“Owh jadi kamu yang namanya Nisa adiknya mas Sidiq ya ? kamu cantik banget Nisa !” kata Riska yang baru tahu jika gadis itu Nisa adiknya Sidiq. Karena tadi di dalam tidak di perkenalkan.


“Owh Lita juga baru tahu kamu adiknya Sidiq dan Jafar, tapi kayaknya kamu lebih mirip kakak kamu Sidiq deh.” Kata Lita.


“Apanya kak yang lebih mirip, bukannya wajah Jafar dan kakaknya juga mirip ?” tanya Vina.


“Iya sih, tapi maksudku sifatnya kalau Jafar kan agak Pendiam jarang ngomong. Sedangkan Nisa pinter bicara begitu pasti Niru Sidiq.” Kata Lita.


Jafar hanya tersenyum dan mengejek ke Nisa, sementara Nisa senyum malu malu digoda teman teman Sidiq tersebut.


“Nanti Nisa ikut ke kamar mbak Vina dulu ya, biar bisa lebih dekat sama mbak Dina atau mbak Lita dan mbak Riska.” Ucap Vina ke Nisa.


Tiba tiba Ihsan menyahut.


“Juga sama mbak Vina lah biar dekat juga, siapa tahu nanti…!” sahut Ihsan.


“Nanti apa mas ?” tanya Vina polos.


“Nanti jadi dekat saja maksudnya.” Jawab Ihsan.


“Owh kalau itu sih udah dekat kok Vina sama Nisa.” Jawab Vina.


“Ya sudah kami pulang dulu ya, assalaamu ‘alaikum semuanya…!” ucap Ihsan langsung tancap gas.


Ihsan dan Sidiq pun pergi meninggalkan Lita dan Riska, tanpa mereka sadari jika banyak mata mengawasi mereka saat di gerbang pesantren tadi. Dari yang penasaran dengan Sidiq maupun yang penasaran dengan kakaknya Vina dan temannya. Ada juga yang berspekulasi salah satu darinya adalah pacar Sidiq.


*****


Flashback saat Lita dan Riska di kamar Vina


Vina yang tidak menduga akan kedatangan Lita langsung menangis dan memeluk Lita. Lita pun ikut terharu dan larut dalam tangis juga.


“Vina,,, kenapa kamu gak bilang kalau kamu tinggal di sini ? Kakak kangen banget tau Vin. Kakak kira kamu ikut mamah ke luar negeri.” Kata Lita.


“Kenapa Vina, apa yang kamu takutkan ?” tanya lita.


“Gak ada sih kak, maaf Vina takut kalau kakak marah sama Vina dan bentak Vina kak, sebenarnya Vina pun kangen sama kakak.” Ucap Vina.


“Ya ampun Vina,,, kakak bentak kamu bukan karena benci tapi pengen kamu jadi nurut saja sama papi Vina.” Kata Lita.


Dua kakak beradik itu pun saling melepas rindu, namun suara tangis Vina tadi cukup mengejutkan beberapa santriwati yang kamarnya berdekatan. Dan mereka jadi penasaran, lantaran tidak biasanya Vina sampai nangis dan mengeluarkan suara. Seandainya nangis pun paling hanya air matanya saja yang keluar, itu juga kalau baru kangen dengan orang tuanya saja. Seperti ketika lebaran dan jauh dari kedua orang tuanya, sehingga hanya tinggal di kamar pesantren saja.


Suara tangis Vina pun terdengar oleh Yuni dan Santi, mereka kemudian menghampiri Vina ke kamarnya. Namun alangkah kagetnya mereka melihat ada Riska dan Lita di situ.


“Loh kakak ini kan yang kemarin ketemu di counternya kakaknya Jafar ?” tanya Santi. Sementar Yuni tidak berucap apapun, masih merasa malu karena kemarin menggoda Sidiq.


“Iya, katanya kemarin HPnya ada yang ketinggalan jadi kami bawa kesini sekalian jenguk Vina adik temanku ini.” Jawab Riska.


“Owh maaf ya kak, itu HP saya dan maaf juga kemarin saya iseng godain begitu. Kakak ini pasti pacarnya kakaknya Jafar ya ?” kata Yuni dengan gugup.


“Iya gapapa kok, santai saja mbak.” Jawab Riska.


“He he… maaf kak, saya hanya pengen membuktikan kakaknya Jafar benar mirip Jafar apa gak kok.” Kata Yuni.


“Sudah gak jadi masalah kok. Kenalkan nama saya Riska.” Kata Riska mengajak kenalan dengan Yuni.


“Saya Yuni.” Jawab Yuni.


“Dan saya Santi kak.” Sahut santi.


“Owh mbak Yuni dan mbak Santi, kalau teman saya ini nama panggilan nya kalau di sekolah Lita kalau di rumahnya Dina, nama panjangnya Dina Arlita.” Jelas Riska.


“Owh nama belakangnya sama dengan Vina juga ya !” ucap Santi.


“Iya ini kakak Vina jadi nama belakangnya sama dengan Vina.” Ucap Vina.


“Jadi kalian ini teman Vina adikku juga ?” tanya Lita.


“Iya mbak, teman satu pesantren tapi Vina adik kelas saya satu sekolah kalau yang satu kelas dengan Vina Jafar mbak.” Kata Santi, sedangkan Yuni masih agak kaku karena peristiwa kemarin.


Kemudian Lita dan  Riska menyerahkan HP Yuni yang kemarin ketinggalan di counter Sidiq. Bermula dari ketidaksengajaan Nadhiroh yang melihat Sidiq dikira Jafar akhirnya santri teman teman Jafar jadi mengenal Sidiq dan teman temannya.


“Kak Dina bermalam di sini kan ?” Tanya Vina.


“Rencananya begitu soalnya takut pulang kemalaman, tadinya mau bertiga saja tapi Sidiq gak mau kalau berdua saja dengan Riska. Katanya takut berduaan, jadi ngajak Ihsan biar Riska ikut bermalam disini saja.” Kata Lita.


“Owh boleh mbak Riska, nanti biar di temani Nisa adiknya Jafar saja. Di sana hanya bertiga kok, jadi masih cukup tempat.” Kata Vina.


Yuni dan Santi kaget mendengar Sidiq ikut ke situ, namun tak berani bertanya lebih jauh karena ada Riska pacarnya Sidiq.

__ADS_1


“Di kamar saya juga boleh kok mbak kami hanya berdua malah saat ini. karena teman kami yang satu baru pulang.” Kata Yuni.


“Riska dimana saja gak masalah kok, yang penting bisa numpang istirahat.” Jawab Riska.


“Kalau begitu biar Vina lapor ke pengurus kalau kakak berdua mau bermalam disini.” Kata Vina.


Kemudian Vina melapor pengurus wanita dan diminta menghadap abah gurunya di ruang tamu. Dan di sana bertemu dengan Sidiq, Jafar, Ihsan juga Nisa.


Sementara Yuni dan santi pamit kembali ke kamar, namun sebelum ke kamar mereka memberitahu teman temannya jika Sidiq sedang berada di pesantren itu. sehingga beberapa santriwati yang penasaran dengan Sidiq mengintip dan menunggu mereka keluar dari ruang tamu. Sampai akhirnya mereka mengintip saat Sidiq hendak pergi dan berbincang sebentar di pintu gerbang.


“Owh itu kakaknya Jafar, memang mirip ya. Dan cewek yang dua itu salah satunya pasti pacarnya.” Kata salah seorang santriwati.


“Kalau yang satu itu kakaknya Vina, pacarnya Sidiq yang rambutnya sebahu itu namanya Riska. Yang satu namanya Lita kakaknya Vina.” Jelas Yuni.


“Kok kamu tahu Yun ?” tanya yang lainya.


“Tadi kan Yuni sempat ngobrol sama mereka di kamar Vina.” Jawab Yuni.


Para Santriwati yang bergerombol itu diperhatikan oleh seorang santri putra, yang gak begitu suka dengan kehadiran Sidiq.


“Kemarin pada heboh karena Jafar, sekarang heboh karena kakaknya Jafar. Sehebat apa sih mereka itu, kayak yang paling jantan saja.” Gerutu Muksin santri yang kurang menyukai Jafar karena merasa mendapat saingan mendekati Nia.


Muksin pun berjalan mendekati ke tempat Sidiq dan kawan kawanya, tapi tetap mengambil jarak agar tidak diketahui oleh mereka. Namun para Santriwati justru melihat Muksin yang sedang mengawasi Sidiq dan lainya.


“Mau ngapain tuh si Muksin, kayaknya ada niat gak baik dia.” Ucap Santi yang melihat Muksin mengendap dan memperhatikan Sidiq dan kawan kawan.


“Udah biarin saja, memang dia agak dengki anaknya. Jafar diminta tinggal di ndalem saja dia uring uringan sendiri. Padahal yang menyuruh juga abah guru sendiri.” Ucap yang lain.


“Iya biarin saja, kalau gak terima biar protes sendiri nanti. Gak mungkin juga dia berani melawan Jafar atau kakaknya Jafar.” Ucap Santi.


Mereka pun akhirnya membiarkan Muksin mengawasi Sidiq bersama teman dan adik adiknya.


*****


Sidiq POV


“Agak cepat San, aku nanti malam masih harus ziarah lagi soalnya.” Kataku ke Ihsan.


“Gelap banget Diq, gak berani ngebut Ihsan agak ngeri lewat hutan begini.” Kata Ihsan.


“Biar aku di depan yang lebih tahu medan San !” kata Sidiq.


“Ok, tapi aku agak menahan hasrat mau ke kamar mandi nih nanti cari terminal atau POM Diq.” Kata Ihsan.


“Ok, di depan ada terminal tapi kalau malam sepi kita istirahat sekalian maghrib disana nanti.” Jawabku.


“Ikut saja lah, mau pipis di sini takut kesambet nanti, hehehe…!” kata Ihsan.


“Jangan lah, kata Ayah makhluk gaib itu suka ada di pohon pohon takutnya nanti kamu kancing dia. Kalau dia marah punya kamu diambil gimana ?” kata Sidiq sambil tertawa.


“Sialan kamu malah bikin takut saja. Eeh cerita tentang ayah kamu dong Diq.” Pinta Ihsan.


“Nanti saja Sidiq baru konsen bawa motor takut kamu sampai ngompol.” Kataku menggoda Ihsan.


Dan Aku pun segera melajukan motor agar sampai di terminal kecil atau orang menyebut sebagai taman parker karena dipakai mangkal angkutan dan Ojek manual. Dan sampailah kami di taman parker tersebut, yang sudah cukup gelap, hanya dua penerangan di mushola dan pos retribusi yang sudah kosong kalau malam.


Aku dan ihsan segera menuju ke kamar kecil dan segera mencari tempat wudhu untuk sholat maghrib. Dan kami berdua menjalankan sholat maghrib berdua. Suasana sepi hanya beberapa orang yang nongkrong sambil main kartu. Meski waktu maghrib masih ada saja yang main kartu, batinku.


“Saat hendak melanjutkan perjalanan tiba tiba aku dihentikan seseorang dan langsung memegang stang motor Ihsan.


“Berhenti dulu, kamu pikir bisa seenaknya pergi begitu saja…!” bentak orang itu.


Aku jadi kaget, setahuku di sini gak ada pemalakan biasanya. Tapi kenapa aku di hentikan dan dia bilang seperti itu.


“Owh Maaf, apa kami harus bayar parker bang ?” Tanyaku pada orang itu. karena sedang buru buru agar tidak terlambat sampai pesantren.


“Jangan berlagak bodoh kamu, kamu pikir aku akan diam saja atas perlakuan kamu kemarin yang membuat aku malu di depan orang banyak ?” Kata orang itu yang membuat aku dan Ihsan jadi semakin bingung.


“Maksudnya bagaimana ya, saya benar benar gak ngerti ?” tanyaku.


“Ban***t lo sudah bikin teman gue bonyok masih pura pura gak ngerti.” Tiba tiba aku dan Ihsan sudah dikepung beberapa orang.


“Bener itu anaknya Bagas ?” tanya yang lain.


“Iya gak salah lagi, dia yang sudah mengambil Nadhiroh dariku dan malah kemarin memukul aku sampai dadaku sesak.” Ucap orang yang dipanggil Bagas itu.


Aku baru paham jika orang itu mengira aku adalah Jafar, berarti kemarin Jafar sempat berantem dengan orang ini, batinku. Pikiran isengku muncul dan aku panas panasin saja sekalian, eeh bukanya Nadhiroh itu yang ngira kau Jafar juga, pikirku.


“Owh soal itu ya, kalau misalnya Nadhiroh memilih aku memang apa salahnya. Mungkin karena lihat wajah kamu saja Nadhiroh udah ketakutan ?” jawabku.


“Diq…!” tiba tiba Ihsan memperingatkan aku.


“Tenang saja, kita kasih sedikit pelajaran saja biar dia kapok.” Bisikku pada Ihsan.


“Ngapain bisik bisik, mau melawan kami ?” bentak orang yang bernama Bagas itu.


“Mau satu lawan satu atau mau keroyokan nih…!” tanyaku balik kepada orang itu.


Pancinganku berhasil, orang itu sudah tampak marah sekali dan bersiap untuk melawan aku. Dan aku pun segera mempersiapkan diri, dan Ihsan aku minta minggir dulu untuk mengawasi orang yang lainnya.


Dan di bawah lampu penerangan yang remang aku melawan orang yang dipanggil Bagas itu…!!!


...Bersambung....


...Mohon dukungannya Reders...


...Like Komen dan vote nya...


...agar semangat up...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2