Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Penyelamatan Nisa 3


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Penyelamatan Nisa 3...


Sidiq kembali kagum dengan siasat Ayahnya tersebut, semakin mengakui jika masih harus banyak belajar kepada ayahnya. Kemudian mereka pun berpisah, Yasin dan Sidiq menyusup ke Markas musuh. Sedangkan Jafar dan Kholis kembali ke Pesantren dan Jafar langsung ke tempat Farayaka. Sementara, Kholis menghubungi pihak Pesantren Al-Hikmah juga.


Mereka berjanji bertemu di satu tempat, untuk mematangkan rencana. Sedangkan Jafar diberi tugas memberi penjelasan kepada Farayaka dan anak buahnya, tentang rencana dan siasat Yasin.


Yasin mengajak Sidiq, untuk mendekat ke markas Ki Ajar Panggiring.


“Sidiq, nanti ketika hari mulai gelap, kamu masuk lihat di mana Nisa di sekap,” kata Yasin.


“Iya Yah, bagaimana cara aman agar bisa mendekati tempat Nisa disekap?” tanya Sidiq.


“Amati pergerakan rutin yang mengawasi Nisa, cari jeda waktu yang tepat. Agar bisa mendekat ke tempat Nisa,” jawab Yasin.


“Berarti harus menghitung kekuatan penjaga juga yah?” tanya Sidiq.


“Iya, kewaspadaan harus dijaga, misi kita malam ini sekedar mengawasi Nisa dan Jaladara,” ucap Yasin.


“Jika ada kesempatan apa tidak sekalian selamatkan Nisa, Yah ?” tanya Sidiq.


“Tidak, Nisa Insya Allah akan selamat. Saat ini Nisa akan memancing kehadiran Raja Khodam dalang Anyi Anyi,” jawab Yasin.


“Maksudnya Yah?” tanya Sidiq.


Kemudian Yasin menjelaskan, jika Nisa memang mempunyai ciri khusus sebagai keturunan Begawan Sanjaya. Dan hal tersebut membuat Raja Khodam Dalang Anyi Anyi akan hadir, karena tanda khusus pada Nisa diketahui oleh Dalang Anyi Anyi tersebut.


Raja Khodam tersebut akan menganggap Nisa sebagai “Titisan” dari Begawan Sanjaya. Yasin juga menyampaikan jika Sidiq dan Jafar lah yang nanti harus melawan Raja Khodam tersebut. Tentu saja dengan dibantu juga oleh Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin.


“Jadi begitu Yah, apakah Ayah juga sudah menduga jika Nisa kan mengalami hal seperti ini?” tanya Sidiq.


“Berdasarkan apa yang Ayah rasakan, dan juga pengalaman para ‘Alim yang tertulis dalam kitab-kitab Al Falaq. Ayah menduga seperti itu, Sidiq,” jawab Yasin.


“Kenapa Ayah tidak mengajari Sidiq dan Jafar Kitab tersebut?” tanay Sidiq.


“Belum saatnya, karena jika belum kuat betul Iman dan tegak syariatnya, bisa malah mengarah jadi ilmu perdukunan. Jadi Ayah tidak mau hal itu terjadi,” jawab Yasin.


“Mengarah ke ilmu perdukunan bagaimana Ayah?” tanya Sidiq bingung.


“Karena dalam Kitab tersebut, bahkan bisa memperkirakan Jatuhnya daun itu kapan dilihat dari tumbuhnya tunas itu kapan. Namun semua itu tidak bernilai mutlak benar, hanya mendekati kebenaran. Atau sekitar tujuh puluh sampai dengan Delapan Puluh persen kebenaranya,” jawab Yasin.


“Apa ilmu itu juga yang sering dipakai oleh para Dukun, Yah?” Sidiq kembali bertanya.


“Bisa iya, bisa tidak karena ada juga ilmu Titen yang lain yang dicatat oleh orang orang kuno zaman dahulu. Kemudian dijadikan dasar bagi seseorang untuk menebak apa yang akan terjadi, bahkan bisa dipakai untuk memprediksi meninggalnya seseorang. Itulah bahayanya, kalau salah penerapan, bisa mendahului kehendak Allah. Padahal itu hanya perhitungan saja, bukan  kepastian,” jawab Yasin.


Sidiq mendengarkan dengan penuh serius, sebuah ilmu baru yang diterima Sidiq. Yasin pun membuka tentang ilmu Titen dari berbagai Sumber dan referensi secara garis besar. Dari mulai perhitungan menurut Primbon Jawa yang bermacam macam judul dan buku pedoman. Sampai dengan ilmu Titen hasil tulisan para Ulama, dalam bahasa sekarang mungkin berdasar Statistik sebuah kejadian.


Namun Yasin tetap berpesan kepada Sidiq, bahwa tidak boleh menganggap itu sebagai sebuah kebenaran seratus persen. Karena sehebat apapun Ilmu manusia, tidak akan bisa mengalahkan Kehendak Allah. Jadi semua ilmu perhitungan tidak ada yang akurat seratus persen. Begitulah nasehat Yasin kepada Sidiq, dari keterangan tersebut membuat Sidiq lebih tertarik lagi mempelajari Ilmu Hikmah.


“Matahari hampir tenggelam, kita cari tempat untuk sholat maghrib. Setelah itu baru kita memanfaatkan gelapnya malam untuk menyusup ke markas mereka,” kata Yasin.


“Iya Yah,” jawab Sidiq Singkat.


Ayah dan anak itu pun segera mencari tempat untuk menjalankan sholat Maghrib.

__ADS_1


“Kita tidak bisa jamaah, pertama tempat terlalu sempit. Yang kedua salah satu harus mengawasi agar tidak dilihat musuh. Anggap saja ini kondisi darurat seperti saat zaman Rasulullah dulu berperang,” kata Yasin.


Sidiq pun menurut apa kata Yasin, Sidiq mempersilahkan Yasin sholat lebih dahulu, baru kemudian gantian dengan Sidiq.


*****


*****


*****


Sementara Jafar dan Kholis sudah sampai di Pesantren Al-Huda. Jafar dan Kholis sudah menyampaikan apa yang diamanahkan Yasin.


“Kalau begitu, nanti selepas Maghrib Kholis ke Al-Hikmah, kasih tau juga Kang Nurudin. Sementara Jafar langsung ke tempat markas Lady Ninja,” kata Kyai Syuhada memberi arahan kepada Jafar dan Kholis.


“Iya Bah, saya siap menemui para Lady Ninja tersebut,” jawab Jafar.


Kholis pun menyatakan siap untuk menemui Kyai Nurudin di Pesantren Al-Hikmah. Kehadiran mereka semua sangat diharapkan oleh Yasin, selain untuk menyelamatkan Nisa Anaknya juga untuk menangkap kembali kehadiran Raja Khodam Dalang Anyi Anyi. Jafar dan Kholis pun segera menjalankan tugas masing masing. Sementara Kyai Syuhada diam diam setelah sholat Isya langsung menuju ke tempat Yasin dan Sidiq mengintai markas musuh. Karena setelah mereka menangkap Nisa, justru Kyai Syuhada bisa menangkap Sinyal keberadaan tempat tersebut.


Penculikan terhadap Nisa, justru menjadi bumerang bagi Ki Ajar dan lainnya. Karena dengan keberadaan Nisa disana justru Kyai Syuhada mampu menembus pagar Gaib yang selama ini dihalangi oleh Raja Khodam Dalang Anyi Anyi.


“Secara lahiriyah, kamu berhasil menangkap santriku. Tapi sejatinya akulah yang berhasil membuka tabir kamu selama ini Ajar Panggiring,” kata Kyai Syuhada dalam hati.


Dengan sembunyi sembunyi Kyai Syuhada meninggalkan Pesantren menuju ke lokasi tempat Ki Ajar Panggiring menahan Nisa.


*****


Di Pesantren Al Hikmah pun Kyai Nurudin menanggapi berita dari Kholis yang menyampaikan amanah dari Yasin.


“Baiklah, malam ini juga kamu ikut aku ke tempat tersebut,” jawab Kyai Nurudin.


“Apa tidak besok pagi saja Bah Din, takutnya saya dimarahi Abah guru Syuhada,” jawab Kholis.


“Tidak, bahkan gurumu juga sudah berangkat ke sana malam ini,” jawab Kyai Nurudin.


“Lalu bagaimana dengan Jafar Bah?” tanya Kholis.


“Jafar biar besok pagi bersama para Lady Ninja masuk melalui bukit dengan peralatan yang mereka punya,” jawab Kyai Nurudin.


“Tapi, ada perjanjian jika Abi Yasin harus diserahkan oleh Jafar sebagai pengganti Nisa Bah?” ucap Kholis.


“Di sana ada Sidiq, mereka tidak akan bisa membedakan Jafar dan Sidiq,” jawab Kyai Nurudin.


“Iya juga ya, secara wajah keduanya memang sangat mirip,” kata Kholis dalam hati.


Satu hal yang tidak terpikirkan oleh Kholis, hampir saja Kholis menilai Yasin salah perhitungan meminta Jafar yang pergi dari lokasi. Namun dengan keterangan Kyai Nurudin, Kholis baru sadar jika Yasin juga sudah memperhitungkan hal tersebut. Sehingga semua bisa terkontrol dengan baik.


*****


Perjalanan Jafar ke tempat Farayaka tidak mengalami hambatan apapun. Meski Jafar harus menempuh medan yang sulit, naik turun bukit untuk mencapai markas Farayaka. Namun dengan bekal tekad dan latihan yang selama ini Jafar lakukan semua itu tidaklah memberatkan Jafar. Sehingga Jafar sudah berhasil mencapai tempat Farayaka dalam waktu singkat.


“Selamat malam…!” ucap Jafar pada penjaga markas Farayaka.


Namun Jafar kaget, karena bukan jawaban yang dia terima melainkan dua penjaga tersebut justru mengancam Jafar dengan dua bilah pedang terhunus. Sehingga membuat Jafar tidak bisa berkutik, tidak menduga mendapat sambutan seperti itu.


Untunglah Farayaka kemudian datang dan meminta anak buahnya membebaskan Jafar.


“Maaf, mereka baru saja  sampai di sini. Jadi belum kenal dengan kamu,” ucap Farayaka.


“Gak papa, tapi sekarang kamu sudah makin lancar berbahasa Indonesia,” ucap Jafar.


Farayaka yang memakai baju panjang hingga sebatas tumit, namun rambutnya tergerai indah menambah kecantikan Farayaka. Jafar sedikit kagum dengan kecantikan Farayaka,”Cantik banget sayang beda keyakinan,” batin Jafar.


“Kano dan Akino kemarilah,” ucap Farayaka memanggil dua pengawal khususnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian munculah Kano dan Akino dua saudara yang menjadi pengawal khusus Farayaka.


“Bukankah anda Tuan Jafar” ucap Akino.


“Jangan Panggil Tuan, panggil saya Jafar saja. Saya kesini hendak meminta tolong kepada kalian,” ucap Jafar masuk kepada tujuannya mencari Farayaka.


“Katakan saja, tentu kami sangat senang bisa membantu kalian. Sebelum kami semua kembali ke tanah leluhur kami,” kali ini Kano yang berbicara.


“Jadi kalian akan kembali ke Jepang?” tanya Jafar.


“Iya Jafar, kami semua akan kembali ke tanah kelahiran kami, karena tidak ada lagi yang kami kerjakan disini,” jawab Farayaka.


“Kenapa harus pulang ke Jepang? Apa tidak cari tempat di Indonesia saja?” tanya Jafar.


“Bisa saja, jika salah satu dari kamu atau Sidiq mau mengadopsi aku jadi saudaramu. Atau menjadikan aku sebagai anggota keluarga kamu,” jawab Farayaka.


“Owh begitu, bisa tidak aku minta tolong dahulu sebelum kalian pergi?” tanya Jafar.


“Bisa, katakanlah,” ucap Farayaka.


Kemudian Jafar menceritakan, jika Nisa adik gadisnya saat ini sedang ditawan musuh. Kemudian meminta tolong Farayaka dan anak buahnya untuk membantu membebaskan Nisa adiknya.  Serta Jafar mengungkapkan siasat Yasin Ayahnya, agar para Lady Ninja menyerang di saat yang tepat secara serempak dari berbagai arah. Agar pasukan Ki Ajar Panggiring kacau, dan momentum itu akan digunakan untuk membebaskan Nisa. Selebihnya nanti pasukan dari dua Pesantren yang akan membantu keluarga Yasin melawan sisa sisa musuh yang ada.


Farayaka mendengarkan penjelasan Jafar, Kano dan Akino ikut memberikan tanggapan penjelasan Jafar.


“Siasat Ayah kamu, menarik sekali. Ingin rasanya aku belajar kepada Tuan Yasin,” ucap Kano.


“Iya saya setuju, karena waktu mendesak kita berangkat malam ini saja. Semua anggota ikut, Kano dan Akino perintahkan semua mengikuti Jafar, termasuk aku juga akan ikut.” Kata Farayaka.


Kano dan Akino pun tidak berani membantah ucapan Farayaka, mereka menyuruh semua anggota Klan untuk ikut pergi bersama Jafar dan Farayaka.


*****


Malam sudah cukup Larut, dinginnya udara pegunungan terasa menusuk tulang. Namun hal itu tidak dirasakan oleh Sidiq dan Yasin, keinginan untuk menyelamatkan Nisa mengalahkan sekedar rasa dingin yang ada. Meski Yasin terkadang harus terbatuk kecil menahan dingin.


“Yah, ayah kedinginan. Cari tempat hangat saja, biar Sidiq yang mencari dan mengamati Nisa,” ucap Sidiq.


“Tidak, Ayah gapapa keselamatan Nisa jauh lebih penting. Ayah bisa tahan ini semua, kamu coba pelan pelan jalan ke dekat gua kecil itu. Ayah punya feeling Nisa di sekap di dalam gua itu,” kata Yasin.


“Kalau tadi siang sih di tempat yang sedikit lapang itu yah,” jawab Sidiq.


“Tidak mungkin kalau malam hari, itu bisa membuat Nisa Hipotermia nanti,” ucap Yasin.


Sidiq pun mengikuti kata Ayahnya, bergerak pelan menuju ke sebuah gua kecil, yang dimungkinkan jadi tempat Nisa disekap. Sidiq berjalan hati hati, sambil tetap memperhatikan kanan kiri. Melihat tenda tenda kecil jangan sampai ada yang melihatnya.


Dengan mengendap endap Sidiq berhasil melewati beberapa tenda kecil, tanpa diketahui. Namun saat hendak memanjat sebuah bukit kecil, Sidiq terkejut. Ada sebuah tangan yang memegang pundaknya, dan menyuruh Sidiq tidak bergerak.


“Jangan bergerak, kalau kamu ingin adik dan ayahmu selamat?” kata orang tersebut…?


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2