Pewaris Stambul Al-Quran

Pewaris Stambul Al-Quran
Penyelamatan Nisa 4


__ADS_3

Mohon dukungannya reader tercinta


banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.


...🙏🙏🙏...


...Selamat mengikuti alur ceritanya...


...........


...Penyelamatan Nisa 4...


Dengan mengendap endap Sidiq berhasil melewati beberpa tenda kecil, tanpa diketahui. Namun saat hendak memanjat sebuah bukit kecil, Sidiq terkejut. Ada sebuah tangan yang memegang pundaknya, dan menyuruh Sidiq tidak bergerak.


“Jangan bergerak, kalau kamu ingin adik dan ayahmu selamat?” kata orang tersebut…?


Sidiq sangat terkejut, namun sebelum Sidiq menoleh orang itu melanjutkan bicara.


“Tidak usah naik. Diatas bukit kecil itu banyak sekali Jin utusan dalamg Anyi Anyi yang menjaga Nisa Adikmu, tunggulah sampai matahari terbit,” kata orang tersebut.


“Abah Syuhada,kok sudah sampai di sini? Tanya Sidiq, tidak menduga Kyai Syuhada, Abah gurunya Jafar suah sampai di tempat tersebut.


“Tidak usah banyak tanya, Ayahmu dimana, ada yang harus aku sampaikan pada ayahmu,” kta Kyai Syuhada.


“Mari saya antar ke tempat Ayah Bah,” ucap Sidiq.


Kemudian Sidiq mengantar Kyai Syuhada ke tempat Yasin sembunyi. Dengan mengendap endap Sidiq membawa Kyai Syuhada kembali ke tempat dia bersama ayahnya tadi.


Sidiq merasa aneh, ketika melihat beberapa penjaga yang berdiri di depan tenda tenda kecil. Mereka seakan tidak melihat saat Kyai Syuhada dan Sidiq melintas. Sidiq yang hendak berhenti nenghundari pandangan penjaga. Justru didorong Kyai Syhada untuk tetap berjalan. Namun para Penjaga sama sekali tidak bereaksi, padahal jarak Sidiq dengan mereka tak lebih dari sepuluh meter saja.


“Gak usah banyak berpikir, ini bukan saatnya untuk berpikir,” kata Kyai Syuhada ketika melihat Sidiq kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Kyai Syuhada melewati tenda tenda penjaga namun tak seorangpun yang melihat Kyai Syuhada dan Sidiq. Hingga akhirnya Sidiq dan Kyai Syuhada sampai di tempat Yasin.


“Assalaamu’alaikum…!” Yasin lebih dahulu memberi salam saat Kyai Syuhada dan Sidiq datang. Sebuah kaidah yang jumlahnya sedikit lebih dulu memberi salam kepada yang jumlahnya lebih banyak.


“Wa’alaikummussalaam,,, Kang Nurudin belum sampai di sini Kang?” tanya Kyai Syuhada.


“Maaf, sedikit terlambat,” sebelum Yasin menjawab terdengar suara Kyai Nurudin yang datang bersama Kholis murid Kyai Syuhada.


“Apa kamu gak langsung ke Al-Hikmah tadi Kholis, kok baru sampai sini?” Kyai Syuhada malah kangsung bertanya pada Kholis.


“Langsung kok Bah,” jawab Kholis.


“Bukan salah Muridmu Kang, aku yang harus persiapan dahulu,” jawab Kyai Nurudin.


Sidiq dan Kholis merasa heran dengan para Kyai tersebut. di lokasi markas musuh berbicara santai dan suara cuku keras. Sama sekali tidak menunjukkan rasa khawatir di dengar musuh.


“Sudah lah Kang, jangan bikin anak-anak bingung dengan kemampuan kalian,” ucap Yasin yang tahu kedua seniornya itu menggunakan ilmu khusus, agar suaranya tidak terdengar musuh meski tertawa lepas.


“Apakah Sidiq anakmu juga tidak kamu kasi tahu Kang?” tanya Kyai Syuhada.


“Kelak juga bakalan tahu sendiri Kang, ada yang lebih penting dari itu,” jawab Yasin.


“Pantas, tadi bingung saat melewati beberpa penjaga,” Kata Kyai Syuhada.


“Belum saatnya Sidiq tahu apalagi bisa seperti itu Kang. Biar perdalam Syariat dahulu, agar tidak menjadi sombong,” jawab Yasin.


“Jadi bagaimana rencana kita sekarang?” sahut Kyai Nurudin.


“Kalau itu tanya saja pada Kang Yasin,” jawab Kyai Syuhada.


“Besok pagi, Jafar akan datang bersama pasukan Lady Ninja. Mereka akan masu melalui jalur bukit terjal. Harus ada yang memberikan rencana kita pada mereka,” kata Yasin.


“Apakah Jafar tidak sekalian menjelaskan kepada mereka?’ tanya Kyai Syuhada.


“Sudah, tapi baru garis besarnya saja. Secara detailnya masih perlu di jelaskan lagi.” jawab Yasin.

__ADS_1


“Lalu siapa yang akan menghadang mereka?” tanya Kyai Nurudin.


“Aku minta Kholis saja Kang yang menunggu Jafar disana,” kata Yasin.


“Kenapa Kholis?” tanya Kyai Syuhada.


“Karena Sidiq harus berperan menjadi Jafar, membawaku ke Ki Ajar Panggiring,” kata Yasin.


Semua terdiam sejenak, ada perasasaan tidak tega kepada Yasin yang akan menggantikan posisi Nisa sebagai tawanan. Bahkan harus bersiap dengan resiko terbesar dibakar hidup hidup.


“Tidak ada cara lain kah Ayah?” tanya Sidiq yang khawatir.


“Apa kamu ragu dengan kekuasaan Allah, dengan didatangkannya Abah Gurumu dan Abah gurunya Jafar. Semua sudah Ayah perhitungkan masak masak, bukan sekedar yakin tanpa perhitungan, kalau seperti itu konyol namanya,” jawab Yasin.


“Jangan dimarahi, anakmu begitu kan karena sayang sama kamu Kang Yasin,” kata Kyai Syuhada.


“Gapapa menurutku, agar Sidiq juga punya Aqidah yang benar. Bahwa semua yang terjadi itu atas kehendak Allah. Meski manusia boleh punya rencana, boleh punya perhitungan,” sahut Kyai Nurudin.


Begitulah gambaran ketika orang orang berilmu agama bertemu. Akan selalu ada perbedaan pandangan dalam pendapat, namun semua selalu merujuk pada kaidah ilmu. Bukan mengedepankan kepentingan apalagi tujuan tersembunyi. Sehingga sebesar apapun perbedaan, akan selalu berakhir dengan damai..


“Sudahlah, mari kita bahas rencana kita saja, Semoga Allah meridhoi rencana kita, agar bisa berjalan lancar,” kata Yasin.


Kemudian Yasin pun kembali menyampaikan rencana akhir. Sesuai dengan kiondisi di lapangan, serta menyesuakan kekuatan lawan dan kekuatan mereka sendiri.


Saat Yasin dipertemukan dengan Ki Ajar Panggiring, dan Nisa dilepaskan saat itu harus ada pengalihan perhatian. Agar Nisa dapat dibawa kabur oleh Sidiq. Sementara Yasin mencoba menahan Ki Ajar Panggiring dan anak buahnya sambil menunggu bantuan yang lain.


Setelah Nisa di rasa aman bersama Kyai Syuhada, Sidiq secepatnya membantu Yasin menghadapi kelompok Ki Ajar Panggiring.


“Bagaimana dengan Gagak seta dan Jaladara Yah?” tanya Sidiq.


“Itu yang belum selesai kita selidiki malam ini, apakah ucapan Jaladara itu benar adanya atau sekedar muslihatnya saja,” jawab Yasin.


Kyai Syuhada mendengarkan percakapan Yasin dan Sidiq dengan serius. Kemudian ikut berbicara mengomentari Gagak Seta dan Jaladara.


“Apakah dua orang itu yang dimaksud masih ada garis keturunan dari kerabat Begawan Sanjaya?” tanya Kyai Syuhada.


“Dua orang tersebut, bisa diibaratkan Rahwana dan Wibisana dalam cerita Ramayana,” kata Kyai Syuhada.


“Apakah harus seperti itu Kang?” tanya Kyai Nurudin.


“Kemungkinan terbesarnya seperti itu, menurut  hasil pengamatan yang aku terima,” jawab Kyai Syuhada.


Bagi Sidiq dan Kholis mereka tidak paham dengan apa yang dibicarakan Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin. Rahwana adalah simbol angkaramurka, sedangkan Wibisana adalah saudara Rahwana yang melambangkan kebijakan. Dua saudara yang akan saling berhadapan menjadi musuh yang saling ingin menghancurkan.


“Lalu siapa yang akan berlaku sebagai Wibisana dan siapa yang akan berlaku sebagai Rahwana?” tanya Yasin.


“Wibisana adalah adik dari Rahwana, mungkin juga yang akan menjadi Wibisana adalah adiknya sedang kakaknya adalah simbol dari Rahwana itu,” jawab Kyai Syuhada.


Yasin agak sedikit lega, mendengar ucapan Kyai Syuhada. Setidaknya makin besar kemungkinan jika Jaladara memang tidak berbohong, untuk  tidak melawan Yasin dan keluarganya. Meskipun belum tentu dengan Gagak Seta sendiri.


“Lanjut pada rencana kita Kang,” kata Yasin melanjutkan rencananya dalam penyelamatan Nisa anak Gadisnya. Yasin pun jadi ingat cerita penyelamatan Dewi Shinta saat diculik oleh Rahwana. Bagaimanapun, modus kejahatan sepertinya akan selalu berulang dan berulang. Mungkin hanya bentuk dan cara yang mengalami perubahan sesuai zaman masing masing. Seperti kisah Ken Arok yang merebut tahta Tunggul Ametung dan seterusnya. Akan selalu terjadi penggulingan Raja, demi Harta, Tahta dan Wanita akan selalu ada pertumpahan darah.


“Jadi besok, Kholis harus menyampaikan  kepada Jafar. Saat Nisa sudah dilepaskan, pasukan Lady Ninja harus cepat bergerak membuat kekacauan,” ucap Yasin.


Kemudian Yasin pun memberikan gambaran titik-titik yang harus dihancurkan. Agar efektif serta menjadi jalan pembuka bagi penyelamatan Nisa. Setelah itu barulah fokus pada penyerangan dan penangkapan Ki Ajar Panggiring hidup atau mati.


Kemudian Yasin juga mengatur penempatan Personil yang ada. Termasuk juga di mana Kyai Syuhada harus bersiap menunggu Nisa. Kyai Nurudin mengawasi gerakan Sidiq, serta mencegah jika ada orang yang hendak mengejarnya. Sampai dengan Kholis dimana harus menunggu Jafar dan pasukan Lady Ninjanya.


“Pertempuran kali ini mungkin tidak bisa singkat, karena aku tidak ingin melihat Ki Ajar Panggiring dan tokoh tokoh lain lepas begitu saja. Tak satupun boleh lepas agar tak lagi menjadi masalah di kemudian hari,” kata Yasin.


“Kalau begitu, biar Sidiq yang menunjukkan di mana Kang Kholis harus menunggu Jafar. Karena Sidiq sudah lihat tebing tersebut, dan bisa menduga dimana Jafar dan Lady Nija tersebut akan muncul,” kata Sidiq.


“Kalau begitu, segera tunjukkan tempatnya. Besok habis subuh semua sudah harus bersiap di posisi masing masing,” kata Yasin.


“Bagaimana Kang Kholis? Siap untuk melihat lokasinya sekarang juga?” tanya Sidiq.


“Siap Kang, lebih cepat lebih baik,” jawab Kholis.

__ADS_1


“Ada baiknya, jika kamu juga menghubungi orang mencari tambhana kekuatan Kang Yasin,” sahut Kyai Syuhada.


“Waktu sudah sangat mepet kang, tinggal hitungan jam dari waktu yang ditentukan,” jawab Yasin.


“Astaghfirrullah…apakah kamu melupakan satu hal Kang. Jika kamu memiliki saudara yang sangat dekat secara batin?” kata Kyai Syuhada.


“Sena?” gumam Yasin.


“Nah, itu ingat. Sudah berapa kali kalian selalu mendapat Isyaroh secara bersamaan? Itu adalah ikatan batin yang tidak bisa dipungkiri, tinggal kamu kontak batin dengannya,” kata Kyai Syuhada.


“Astaghfirrullah…tapi bagaimana Sena bisa tau tempat ini Kang?” tanya Yasin kemudian.


“Sena bukan anak bodoh, tentu dia akan mencari kamu ke Al-Huda dan Al-Hikmah,” jawab Kyai Syuhada.


“Iya, tapi apakah ada yang sudah tahu tempat ini juga?” tanya Yasin.


“Ada Yah, Ihsan juga pernah lihat tempat ini meski dari kejauhan,” jawab Sidiq.


“Alhamdulillah, sepertiya Allah memberi banyak kemudahan. Semoga saja ini adalah pertanda baik,” kata Yasin.


“Ya sudah mari kita berdoa bersama, agar Sena bisa datang membantu. Syukur syukur bisa mebgajak saudara yang lain,” kata Kyai Syuhada..


“Bagaimana dengan Sidiq dan Kang Kholis Bah?” tanya Sidiq.


“Kalian berdua, tetap pada rencana semula. Tunjukkan Kholis pada tempat yang dimaksud, biar kami yang tua tua ini berusaha secara batiniyah,” jawab Kyai Syuhada.


Sidiq dan Kholis pun segera berangkat ke pinggir jurang, untuk menunjukkan kepada Kholis di mana harus menunggu Jafar.


*****


Sidiq berjalan mengitari markas Ki Ajar Panggiring, menuju ke lokasi yang diperkirakan Jafar dan para Lady Ninja muncul. Keduanya berjalan secara hati-hati, mengingat masih ada beberapa penjaga yang berjaga di sekitar tempat tersebut.


“Kang, sepertinya kita harus sedikit memutar. Ada orang yang berdiri di depan kita,” kata Sidiq pada Kholis.


“Apa tidak kita coba lumpuhkan saja Kang Sidiq. Kayaknya hanya satu orang?” jawab Kholis.


“Dalam keremangan, tidak tahu siapa dia. Takutnya adalah salah satu tokoh yang berilmu tinggi juga Kang,” jawab Sidiq.


“Benar juga ya, kalau begitu lebih baik menghindari saja,” kata Kholis.


Sidiq dan Kholis pun terpaksa menghindari seseorang yang berdiri di hadapan mereka tersebut. Mereka berbelok arah mencari jalan lain menuju ke tebing. Namun beberapa puluh meter mereka memutar, kembali sosok yang tadi tau tau sudah di hadapan mereka lagi.


“Wah kayaknya, dia yahu kehadira kita Kang Kholis. Kalau begini mau gak mau kita harus menghadapinya,” kata Sidiq.


“Ya sudah bagaimana lagi, sudah tida ada cara lain,” jawab Kholis.


Sidiq dan Kholis pun mendekati sosok tersebut, Sidiq langsung menghardik orang tersebut.


“Apa maumu sebenarnya, aku tahu kamu mengawasi kami dari tadi?” tanya Sidiq.


Namun sosok tersebut tidak bergeming, bahkan tetap membelakangi Sidiq dan Kholis.


...Bersambung...


...Mohon dukungannya Reader...


...Like Komen dan vote...


...agar semangat up...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2