
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Golok Hitam dipatahkan Raja Khodam...
Bersamaan itu, Sidiq dan Jafar juga sedang disibukkan dengan Gagak Seta dan anak buah Ki Ajar Panggiring. Sehingga kedua anak tersebut tidak dapat berbuat apa apa, meski mendengar benturan keras benturan ilmu Yasin Ayahnya dan sosok Ki Ajar Panggiring. Sejauh itu Sidiq dan Jafar belum mengetahui jika sosok Ki Ajar Panggiring hanya dimanfaatkan Jasadnya saja. Karena yang mengendalikan adalah Raja Khodam dalang Anyi Anyi.
“Tampaknya pertempuran Ayah dan Paman Sena melawan Ki Ajar Panggiring sangat seru Mas,” kata Jafar.
“Sayangnya kita juga baru disibukkan dengan urusan kita sendiri. Kita harus cepat menyelesaikan ini Jafar,” jawab Sidiq.
Jafar pun segera meningkatkan permainan jurus jurusnya untuk mempercepat urusan dengan Gagak Seta dan lainnya. Agar dapat segera membantu Yasin Ayahnya, serta Sena Pamannya.
“Kali ini kalian jangan berharap bisa lolos lagi,” ucap Gagak Seta. Meski satu tangannya kurang leluasa bergerak karena terkena senjata dari Kholis dan Farayaka di punggung kirinya.
“Kita lihat saja nanti, siapa yang akan segera terkapar mencium tanah,” ucap Sidiq.
Tanpa disadari oleh Gagak Seta, Sidiq melakukan gerakan cepat memutar dan menyarangkan tendangan tumitnya ke arah dada Gagak Seta. Tumit Sidiq dapat tepat mendarat di ulu hati Gagak Seta. Hingga Gagak Seta pun mendengus menahan sesak dan nyeri yang sangat di dadanya.
Gagak Seta sampai tersurut beberapa langkah ke belakang. Sementara Jafar dengan kesabaran melumpuhkan satu persatu anak buah Ki Ajar Panggiring. Tanpa kesulitan yang berarti, Jafar pun melumpuhkan lawan. Sampai akhirnya Sidiq dan Jafar hanya menghadapi Gagak Seta seorang diri.
“Kalian memang pemuda berbakat, tapi sayang kalian tidak akan berumur lama. Aku akan segera membinasakan kalian,” ucap Gagak Seta.
Gagak Seta melompat mundur ke belakang, kali ini Gagak Seta sudah tidak mempunyai pilihan lain selain menggunakan Ilmu Karang pemberian Ki Munding Suru gurunya.
“Biar aku dulu Jafar, yang menghadapi ilmu karang orang itu,” kata Sidiq.
“Tapi Mas…?” ucap Jafar khawatir. Karena ketika Yasin Ayahnya menghadapi Ilmu karang Ki Munding Suro sampai mengalami luka parah.
“Jangan Khawatir Jafar, lebih baik kamu lihat kondisi Ayah dan Paman Sena saja,” kata Sidiq.
Sidiq sudah bersiap dan penuh keyakinan menghadapi Gagak Seta seorang diri. Sehingga Sidiq meminta Jafar melihat jalannya pertempuran Yasin Ayahnya melawan sosok Ki Ajar Panggiring.
Jafar sedikit ragu, namun masih lebih yakin jika Sidiq akan mampu menghadapi Gagak Seta yang masih terluka. Kemudian Jafar pergi meninggalkan tempat tersebut, untuk melihat bagaimana pertempuran Ayahnya.
“Kita tinggal berdua,satu lawan satu. Sudah cukup adil bukan, saatnya kita selesaikan permasalahan kita sekarang,” kata Sidiq.
“Bersiaplah, hadapi Ilmu Karang,” jawab Gagak Seta.
Sidiq pun segera mempersiapkan jurus dan ilmu Waringin Sungsang. Dua buah Ilmu langka yang siap untuk saling beradu. Ketegangan pun melanda kedua orang yang berhadapan tersebut.
__ADS_1
Keduanya sama sama baru memiliki ilmu tersebut, Sidiq pun baru sekali ini menggunakan Ajian Waringin Sungsang . Meskipun Gagak Seta pun baru sekali ini juga menggunakan Ilmu Karang secara totalitas.
“Kenapa aku melihat ada keraguan pada Gagak Seta, apakah itu muslihatnya saja” kata Sidiq dalam hati.
Tidak ingin tertipu dengan Muslihat lawan, Sidiq berkonsentrasi penuh untuk menghadapi Ilmu Karang Gagak Seta. Tentu saja Sidiq tidak ingin konyol terkena Ilmu Karang yang terkenal itu. Sehingga Sidiq pun memperkuat dirinya secara Lahir dan Batinnya.
Beberapa saat kemudian tubuh Gagak Seta memerah seperti Bara api. Menunjukkan dirinya sudah menerapkan Ilmu Karang. Apapun yang dia sentuh akan menjadi abu atau mencair seperti es batu yang meleleh. Gagak Seta segera melompat untuk menyerang Sidiq. Sidiq menyambut serangan GAGAK Seta dengan Ilmu Waringin Sungsang.
Dampaknya sungguh diluar dugaan, Tubuh Gagak Seta yang terpental jauh. Tubuhnya yang membara bagai api, membakar apapun yang diterjangnya. Sementara Sidiq tidak begitu terpengaruh, masih berada di tempatnya. Meski agak gemetar setelah terjadi benturan dengan Gagak Seta.
Sidiq merasakan telapak tangannya tadi bagai menyentuh besi panas yang membara Panas yang luar biasa. Sidiq terpaksa beristirahat untuk mengurangi rasa sakit di tangannya. Panas yang dirasakan cukup membuat tangan Sidiq seperti Kebas dan mati rasa.
*****
Tidak jauh berbeda dengan keadaan yang terjadi dengan Farayaka dan pasukan Lady Ninjanya. Mereka juga harus berjibaku melawan anak buah Ki Ajar Panggiring yang sudah dihinggapi khodam khodam jahat. Membuat mereka anak buah Ki Ajar bertarung tidak kenal lelah dan takut.
Hal itu juga merepotkan pasukan Lady Ninja dibawah Pimpinan Farayaka.
“Mereka seperti tidak kenal rasa takut dan lelah,” ucap Kano.
“Mereka dikendalikan kekuatan luar. Yang mempengaruhi kesadarannya. Aku pernah merasakan itu,” jawab Farayaka.
“Apa kita perlu meminta bantuan Sidiq dan Jafar?” sahut Akino.
“Sepertinya saat ini semua sedang bertempur, kita harus bisa atasi ini semua,” jawab Farayaka.
Farayaka mengeluarkan bom asap kemudian dilemparkan ke arah anak buah Ki Ajar Panggiring. Anehnya, asap yang ditimbulkan dari bola bola kecil tersebut mampu membuat anak buah Ki Ajar Panggiring menjadi pingsan.
Hal itu kemudian diikuti oleh semua anak buah Farayaka. Serempak mereka melemparkan bola bola kecil, yang menghasilkan asap dengan bau menyengat dan membuat semua anak buah Ki Ajar pingsan.
“Kita lihat kondisi adiknya Sidiq dan Jafar sekarang,” kata Farayaka, setelah berhasil melumpuhkan semua musuh musuhnya. Semua pun mengikuti langkah Farayaka yang berlari menuju ke tempat Nisa yang sedang berjibaku juga dengan beberapa sosok makhluk Astral. Makhluk Astral bawaan Dalang Anyi Anyi yang jumlahnya sangat banyak.
Nisa, Kholis dan Ihsan yang cukup kerepotan menghadapi serangan berbahaya makhluk astral anak buah Raja Khodam dalang Anyi Anyi. Farayaka dan pasukan Lady Ninja mendekati lokasi pertempuran mereka.
“Mundur sebentar, biar aku lempar mereka dengan bom asap,” teriak Farayaka.
Farayaka dan beberapa anak buahnya kemudian melempar bom asap seperti saat menghadapi musuh mereka tadi. Namun kali ini yang dia lempar bukanlah manusia, sehingga bom asap itu tidak berpengaruh kepada mereka.
“Kenapa tidak berpengaruh pada mereka?” tanya Farayaka.
“Mereka bukan manusia, biar kami yang mengatasi mereka,” jawab Kholis.
Kemudian Kholis mengajak Ihsan dan Nisa membacakan tiga surat terakhir dalam kitab suci Al-Quran beberapa kali. Kemudian meniupkan ke tanah sebagai media dan menyebarkan ke arah makhluk astral tersebut. Makhluk Makhluk Astral tersebut pun menjerit kesakitan dan hilang dari pandangan mata.
“Sekarang kita bantu Kyai Syuhada dan Kyai Nurudin,” ajak Kholis.
Kemudian pasukan Lady Ninja dibagi dua, sebagian ikut Kholis dan Nisa membantu Kyai Syuhada. Sebagian lagi membantu Kyai Nurudin bersama Ihsan.
__ADS_1
Hampir bersamaan dengan itu, Jafar pun sudah berhasil mendekati lokasi pertempuran Paman dan Ayahnya. Tepat saat Yasin mau bangkit lagi setelah terlempar sebelumnya. Saat itu pula, Sena juga sedang memapah Yasin untuk bangkit.
“Ayah dan Paman tidak apa apa?” tanya Jafar, sedikit khawatir melihat Ayahnya harus dipapah oleh Sena.
“Untunglah, kamu cepat datangi Jafar. Ayahmu baru saja beradu dengan Raja Khodam yang sembunyi dibali sosok Ki Ajar Panggiring itu,” kata Sena.
“Jafar, Sidiq mana?” tany Yasin.
“Mas Sidiq, masih melawan Gagak Seta tadi Yah,” jawab Jafar.
“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…rupanya Anak dan Bapak datang mau menyerahkan Nyawa, Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…!” teriak Dalang Anyi Anyi.
“Akulah musuhmu saat ini, bukan Ayah dan Pamanku lagi,” ucap Jafar.
“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…anak kecil, bisa apa kamu. Sedang Bapakmu saja tidak akan mampu melawanku. Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…” Raja Khodam Jin tersebut tertawa keras. Sampai menggema ketika gelombang suaranya menabrak tebing tebing di sekitarnya.
“Cabut Golok Hitamnya Jafar…!” perintah Yasin.
Jafar pun segera mencabut Golok Hitamnya, Aura mistis yang keluar dari golok hitam tersebut menambah suasana menjadi semakin tegang. Sosok Dalang Anyi Anyi sendiri kaget melihat Golok Hitam di tangan Jafar.”Hanya keturunan Sanjaya yang mampu memegang Golok itu dalam waktu lama. Apakah anak ini juga keturunan Sanjaya?” ucap Dalang Anyi
“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…siapa kamu bocah, tidak mungkin kamu mampu membawa Golok itu lama lama. Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…?” kata Dalang Anyi Anyi.
“Kita Buktikan saja nanti, apakah aku akan kuat memegang Golok Hitam ini atau tidak,” jawab Jafar.
Dalang Anyi Anyi menjadi semakin murka, kemudian kembali mengumpulkan energi membentuk kilatan kilatan kecil yang semakin lama semakin banyak. Kemudian mengumpul di antara kedua telapak tangannya. Ajian Gundolo Sosro kembali dipergunakan oleh Dlang Anyi Anyi.
Dalam satu hentakan, dalang Anyi Anyi menyerang Jafar dengan Gundolo Sosro. Selarik cahaya menghantam ke arah Jafar. Membuat Yasin dan Sena menahan nafas, keduanya mengkhawatirkan Jafar. Kilat yang menyambar Jafar pun ditangkis oleh Jafar menggunakan Golok Hitamnya. Ledakan dahsyat kembali terdengar, kilatan cahaya yang menghantam Golok Jafar membias ke arah lain dan membakar hangus beberapa pohon yang terkena. Bahan Golok Hitam di tangan Jafar sampai patah jadi dua.
“Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…Golok itu tidak berarti bagiku. Karena aku lah yang ikut menciptakan Golok itu. Ayyyiii…Ayyyiii…Ayyyiii…” kata Dalang Anyi Anyi.
“Jangan senang dulu, aku sengaja memusnahkan Golok tersebut. daripada jatuh ke orang orang yang memujamu,” jawab Jafar.
Yasin dan Sena sedikit lega, karena Jafar tidak mengalami cedera akibat benturan keras tersebut. Namun saat ini Jafar tak lagi memegang Golok Hitam. Padahal untuk menghadapi Dalang Anyi Anyi Jafar harus bersama dengan Sidiq, tidak boleh sendirian. Namun Sidiq belum juga muncul, sehingga Yasin kembali merasa was was.
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1