
Mohon dukungannya reader tercinta
banyak komen dan like sangat menyemangati Author dalam update.
...🙏🙏🙏...
...Selamat mengikuti alur ceritanya...
...........
...Sidiq dan Jafar kejar Farayaka...
“Di…Dia kabur, membawa pedang dan senjata,” ucap Utari ketakutan.
“Celaka, ternyata benar Ki Ajar Panggiring mulai beraksi lagi,” kata Yasin dalam hati.
“Ke arah mana Perginya?” tanya Yasin.
“Ke arah timur Laut Bi,”jawab Utari.
“Itu arah bekas markas Ki Marto Sentono dan Ki Munding Suro. Apa mungkin dia kesana, apakah Ajar Panggiring bersatu dengan murid murid Ki Marto Sentono yang berhasil kabur?” Yasin jadi berpikir ke arah kemungkinan kemungkinan yang terjadi.
“Ada apa Abi?” Wisnu membuyarkan lamunan Yasin.
“Tidak, tidak apa apa. Kamu hubungi Sidiq dan Jafar saja, katakan apa yang terjadi dengan Farayaka,” Jawab Yasin.
Yasin pun segera meninggalkan anak anak asuhnya, kemudian menemui Fatimah istrinya. Ditemani Farhan dan Sufi juga.
“Fat, tampaknya firasatku benar. Ajar Panggiring telah kembali muncul dan melakukan Aksinya,” ucap Yasin.
“Lalu kita harus bagaimana sekarang?” tanya Fatimah.
“Farhan, jaga Sufi dengan baik. Kita harus kembali mengadakan Mujahadah Khusus seperti dahulu lagi,” jawab Yasin.
“Terus Farayaka tadi bagaimana?” tanya Farhan.
“Aku minta Wisnu hubungi Sidiq dan Jafar. Mereka lebih muda dan lebih gesit dari kita,” jawab Yasin.
Fatimah melihat ada sedikit perasaan sedih pada diri suaminya. Mungkin merasa kurang berguna saat ini, tidak seperti dahulu lagi. Sehingga Fatimah mencari cara untuk menghibur suaminya tersebut.
“Iya lah Mas, gantian yang muda. Kamu dulu sudah sering ninggalin aku untuk berjuang, sekarang biar anak anak yang meneruskan,” hibur Fatimah pada Yasin.
Farhan dan Sufi memilih diam, tahu apa yang dirasakan Yasin dan Fatimah.
“Mas Yasin mau minum kopi atau apa? Biar Sufi buatkan, sekalian mbak Fatimah dan Mas Farhan,” kata Sufi mengalihkan perhatian.
“Iya boleh, sekalian kalau udah bisa hubungi Sidiq dan Jafar, Wisnu disuruh kemari,” kata Yasin.
“Siap Mas, nanti Sufi suruh kemari anaknya,” jawab Sufi.
Untunglah Yasin dikelilingi orang orang yang perhatian, sehingga tidak terlalu merasakan sedih. Karena sudah tidak seperti dahulu lagi. Tak berselang lama, Sufi datang membawa Kopi bersama Wisnu.
“Ini Mas, Kopi buat Mas Yasin,” ucap Sufi.meletakkan minuman untuk semuanya.
“Ya, makasih. Gimana Wisnu sudah terhubung ke Sidiq dan Jafar?” tanya Yasin.
“Belum Abi, tidak aktif nomornya. Tapi sudah aku kirim pesan kalau nanti nomornya aktif biar telpon balik,” jawab Wisnu.
“Kenap juga nomor keduanya tidak aktif?” ucap Yasin.
“Sabar Mas, barangkali juga habis baterai atau baru ada kegiatan terus dimatiin,” sahut Fatimah.
“Coba tanya Isna atau Utari, ada yang punya nomor Riska atau Lita tidak. Kalau ada hubungi mereka minta tolong sambungkan ke Sidiq dan Jafar,” kata Yasin pada Wisnu.
“Iya Bi, Wisnu tanya Mbak Isna dan Mbak Utari,” Jawab Wisnu sambil melangkah ke tempat Isna dan Utari.
Wisnu menanyakan pada keduanya, namun keduanya tidak ada yang memiliki nomor Lita ataupun Riska. Tiba-tiba Isna menawari nomor Vina adik Lita yang ngaji di tempat Abahnya Isna.
Wisnu pun meminta Isna menyampaikan kepada Vina agar disampaikan ke Jafar. Kemudian Wisnu melapor kepada Yasin. Sehingga Yasin merasa sedikit lega.
…..
…..
…..
Di rumah Riska, Sidiq sedang belajar kelompok dengan Lita juga Ihsan dan Dina. Mereka sedang fokus pada pelajaran sekolah karena sedang menghadapi Ujian Akhir kelulusan.
“Diq, kamu mau pulang bareng apa Gak?” tanya Ihsan pada Sidiq.
__ADS_1
“Bareng sajalah, kayaknya ada firasat gak enak nih,” jawab Sidiq spontan.
“Firasat apa Diq?” tanya Lita.
Sidiq merasa keceplosan, sehingga harus menutupi perasaanya dengan candaan.
“Firasat males jalan sendiri,” jawab Sidiq asal.
“Dasar, kamu tuh gak ada seriusnya,” gerutu Lita.
“Kayaknya ada yang dipikirin tuh, dari tadi gak jenak di sini,” sahut Riska.
“Apaan sih Riska, gak ada kok. Jujur saja deh, gak tahu kenapa aku agak gelisah hari ini,” jawab Sidiq.
“Karena di rumah ada yang nunggu kan?” ucap Riska.
“Bukan Riska, jangan begitu dong. Malah bikin aku salah tingkah di hadapan kamu,” jawab Sidiq.
“Serius? Gak nyesel, tadi lihat fotonya saja udah cantik banget begitu kok,” kata Riska.
“Jangan salah sangka, foto itu aku simpan karena Abah guruku minta. Nanti kalau udah aku tunjukin aku hapus lagi,” jawab Sidiq.
“Udah udah, kok malah pada berantem begitu, Riska kamu gak usah khawatir. Sidiq dalam pengawasanku kok,” Ucap Ihsan.
“Iya nih, kenapa hari ini kok jadi beda ya suasananya?” sahut Dina.
“Iya maaf teman teman mungkin karena Riska ya?” ucap Riska.
“Bukan, ini yang aku khawatirkan sebenarnya. seperti ada yang sengaja membuat persahabatan kita pecah,” ucap Sidiq dengan wajah serius.
Semua jadi agak tegang, mendengar Sidiq tiba tiba berbicara serius.
“Kamu gak lagi bercanda kan Diq?” tanya Lita.
“Tidak Lita, sebenarnya itu maksud kata kataku tadi, hanya gak enak membuat kalian jadi ketakutan. Makanya aku alihkan dengan candaan,” jawab Sidiq.
Belum sempat Lita menjawab lagi, tiba tiba Ponsel Lita berbunyi. Lita pun buru buru melihat siapa yang menghubungi.
“Vina adikku, aku angkat sebentar ya?” ucap Lita langsung mengangkat telpon dari Vina teman sekolah Jafar.
Kemudian Lita agak menjauh, takut jika Vina bicara masalah keluarga. Yang lain kembali duduk terdiam. Menunggu kabar dari Lita, Sidiq dan Riska hanya saling lirik saja. Riska masih ada perasaan cemburu, karena di rumah Sidiq ada Farayaka. Sementara Sidiq mencoba berpikir ada apa sebenarnya.
“Diq, barusan Vina telpon, kamu dan Jafar dihubungi adik kamu Wisnu gak bisa semuanya. Katanya Farayaka kabur dari rumah kamu, seperti orang linglung, bukan kemauan sendiri,” kata Lita.
“Jafar juga gak bisa di hubungi? Kalau batreiku kan drop dari tadi, semalam lupa gak di cas,” jawab Sidiq.
“Menurut Vina begitu,” jawab Lita.
“Jafar belum sampai ke pesantren?” tanya Sidiq.
“Belum kata Vina,” jawab Lita.
“Ihsan, kita cari Jafar kita urutkan dari arah Jafar pulang sekolah,” kata Sidiq.
“Maaf, aku pulang duluan ya, sori banget gak bisa ikut menemani kalian. Soalnya dirumah juga baru ada acara,” ucap Dina berpamitan.
Sehingga tinggal Sidiq dan Ihsan juga Lita dan Riska yang ada di situ.
“Bagaimana kalau kita ikut mencari, boleh tidak Diq,” tanya Lita.
“Kamu sama Riska?” tanya Sidiq.
“Iya, mau kan Ris?” tanya Lita ke Riska.
“Boleh gak, nanti takutnya ganggu saja,” jawab Riska.
Sidiq sebenarnya agak keberatan tapi demi menjaga perasaan Riska. Akhirnya Sidiq mengijinkan.
“Gapapa kok, kebetulan Ponselku gak bisa dipakai, nanti jika perlu pinjam punya kalian untuk menghubungi keluargaku di rumah. Aku hafa nomor Ayah bundaku kok,” jawab Sidiq.
“Serius, gak ganggu kamu?” tanya Riska.
“Iya, kebetulan malah kalau kamu mau ikut,” jawab Sidiq sedikit berdusta.
Mereka pun akhirnya ikut Ihsan dan Sidiq mencar Jafar yang belum sampai ke pesantren. Padahal biasanya selalu bersama Vina pulangnya.
…..
Semmentara Jafar sendiri sedang mengamati seseorang yang dicurigai.
__ADS_1
“Untung tadi gak bareng Vina pulangnya, jadi bisa mengikuti orang itu. Kalau tidak salah itu Farayaka. Tapi kenapa jalan sendirian memasuki area perkebunan begitu,” kata Jafar dalam hati.
Jafar mengambil ponselnya dari dalam saku, bermaksud menghubungi Sidiq Kakaknya. Tapi ternyata tidak ada sinyal di tempat Jafar berdiri. Sehingga harus mencari tempat yang sekiranya ada Sinyal, sambil tetap mengawasi sosok Farayaka.
Pas di tempat yang ada Sinyal, masuklah Chat dari Wisnu.
“Wah ada pesan dari Wisnu, tumben ada apa nih?” kata Jafar. Kemudian membuka Chat dai Wisnu tersebut.
Jafar terkejut membaca Chat dari wisnu yang mengatakan jika Farayaka kabur seperti terkena ajian Panggiring Sukma. Jafar pun hendak menelpon balik Wisnu. Namun belum sempat melakukan itu. HP Jafar kembali berdering, kali ini dari nomor Riska.
“Mbak Riska? Ada apa lagi ini,” ucap Jafar bingung, mau angkat atau tetep mau hubungi wisnu. Jafar pun akhirnya memilih mengangkat telpon Riska dahulu.
“Assalaamu’alaikum Mbak Riska, ada apa ya?” sapa Jafar.
“Wa’alaikummussalaam… ini aku Sidiq. HPku drop, kamu dimana?” ternyata Sidiq yang menelpon Jafar dengan Ponsel Riska.
Kemudian Jafar pun menjelaskan jika dirinya sedang memantau Farayaka yang seperti orang linglung dan berjalan menuju ke suatu tempat. Sidiq pun meminta Lokasi Jafar dan akan menyusul Jafar. Karena Lokasi Sidiq sudah tidak terlalu jauh dengan Jafar.
Singkat cerita, Sidiq berhasil menemui Jafar. Berikut Ihsan Riska dan Lita.
“Di mana Farayaka sekarang?” tanya Sidiq.
“Itu sedang berjalan, tadi sudah dekat tapi aku harus cari sinyal dulu. Jadi sekarang sudah agak jauh,” jawab Jafar.
“Hmm…kita dekati pelan pelan, semuanya ikutan yuk biar jadi saksi kalau ada apa apa,” ucap Sidiq.
Riska, Lita dan Ihsan pun mengikuti langkah Jafar dan Sidiq. Mereka bergerak mendekat farayaka yang berjalan seperti orang linglung. Setiap beberapa langkah selalu berhenti dan menunggu petunjuk langkah.
Jarak mereka pun semakin dekat dengan Farayaka. Sehingga nampak jelas badan dan wajah Farayaka.
“Benar, ternyata Farayaka, apa perlu kita sapa Jafar?” tanya Sidiq.
“Jangan, kayaknya dia dalam pengaruh gaib,” jawab Jafar.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Sidiq.
“Kita harus kerjasama Mas,” jawab Jafar.
“Kerjasama bagaimana?” tanya Sidiq.
“Mas sidiq, tangkap Farayaka dari belakang kemudian Farayaka nati aku totok biar gak bisa gerak,” ucap Jafar.
Sidiq jadi bingung, artinya dia harus memeluk Farayaka dengan kuat agar tidak melawan, sambil nunggu Jafar menotok Farayaka.
“Waduh, gak ada cara lain?” tanya Sidiq.
“Gak nemu Mas, cara itu dulu juga yang dipakai Bunda saat Bibi Khotimah kena ajian itu,” jawab Jafar.
“Udah gak papa, aku gak cemburu kok kalau tujuannya seperti itu,” ucap Riska.
Jafar pun baru paham alasan keberatan Sidiq.”Kesempatan buat ngerjain Mas Sidiq nanti, akan ku buat Mbak Riska cemburu,” kata Jafar dalam hati sambil tersenyum.
“Ngapain kamu senyum senyum?” bentak Sidiq.
“Gak kok, lucu saja ternyata Mas Sidiq tadi takut Mbak Riska cemburu, bilang dong,” Goda Jafar.
“Awas kalau kamu macam macam, jadi gak nih?” ancam Sidiq.
“Iya jadi lah, Mas Sidiq duluan dekati Farayaka, nanti aku akan susul segera setelah Mas Sidiq berhasil menangkap Farayaka.” Jawab Jafar.
Sidiq pun terpaksa mengikuti rencana Jafar. Pelan pelan Sidiq mendekati Farayaka diikuti oleh Jafar di belakang Sidiq. Setelah merasa dalam jangkauan lompatan Sidiq pun melompat ke arah Farayaka untuk menangkap Farayaka…!
...Bersambung...
...Mohon dukungannya Reader...
...Like Komen dan vote...
...agar semangat up...
...Terimakasih...
...🙏🙏...
Rekomendasi Novel
Â
__ADS_1
Â